DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
32. Flashback bg.9


__ADS_3

Untuk pertama kalinya Stevan berdiri langsung di hadapan the real Big Boss-nya, sehingga membuatnya menjadi canggung.


"Selamat pagi.. Perkenalkan nama saya Stevan. Saya sebagai freelancer organisasi BOS, kebetulan bertanggung jawab pada divisi private..." Stevan memperkenalkan dirinya dengan gestur tubuh yang sangat kaku, mirip seperti robot. Membuat Via terkekeh geli.


Tosan seperti memikirkan sesuatu, lalu seakan langsung teringat pada informasi bahwa orang yang bernama Stevan lah yang menemani putrinya saat berhadapan dengan mafia kemarin.


"Oiya..ya... kamu orang yang bersama Via..." manut-manut sambil berjalan bolak balik kayak setrikaan.


Tosan ini lagi aksi apa sih? Via berbicara di dalam hatinya, mengikuti langkah ayahnya yang selalu saja bergerak ke sana ke mari.


"Terima kasih sudah membantu menjaga anak saya, meski tetap saja dia sampai babak belur seperti ini.."


Seketika, detak jantung Stevan berdenyut semakin cepat, menyimak ucapan sang big boss dengan sangat hati-hati.


"Tetapi saya bisa memahami hal itu semua. Kondisi kemarin terjadi di luar dugaan kita semua. Polisi, TNI dan pasukan BOS terlalu lambat sampai di lokasi. Saya sangat berterima kasih atas usahamu untuk menjaga anak kami selama ini."


Stevan masih dalam mode robot, tersenyum canggung mendapat pujian dari orang nomor satu pada organisasi BOS ini, "Itu adalah kewajiban saya Pak.."


"Apa? Pak?" Tosan menyela tidak setuju dipanggil dengan sapaan Pak, memiringkan kepalanya sembari mengelus dagu dengan jenggot yang mulai tumbuh kembali.


"Panggil saja saya dengan Mr. Sato, atau bisa memanggil saya dengan Boss Sato, semua orang memanggil saya begitu."


"Baik Boss." Stevan telah memiliki pilihan sapaannya sendiri.


"Saya ingin kita bicara empat mata dengan kamu di luar. Ayo ikut!" Tosan membuka pintu, berjalan duluan meninggalkan kamar rawat Via.


"Baik Boss," lalu Stevan mengikuti langkah bossnya di belakang.


"Emang Tosan mau bicara apa sih dengan dia?" celetuk Via yang sedari tadi menjadi penonton yang baik bersama ibu dan kakaknya.


"Paling masalah BOS.. mungkin mencari info atau apa gitu tentang BOS yang di sini..." jelas Kak Yudhit


"Mami juga sering dengar tentang Stevan, dia sering dibicarakan oleh agen-agen dari BOS, memuji kepiawaian nya dalam bekerja..."


"Kepiawaian?" Via masih belum nyambung, karena yang dia tahu Stevan hanya tukang buat PR untuknya.


"Iya... dia sangat telaten..." sambung Mami.


"Iya sih Mi.. PR Via selalu dapat seratus dibikinin dia... dan dia pun ngajarinnya dengan baik.. Karena itu Via selalu juara satu di sekolah.. peringkat umum."


"Sekarang kegiatannya apa?" tanya Kak Yudhit.


Via menerawang memikirkan sesuatu, "Apa ya? entah lah... Via ngga ada nanya apa-apa tuh..."


Kak Yudhit mulai memperhatikan sang adik, mulai dari kepala penuh perban, hingga kaki yang juga dalam perban, "Oh ya udah.. sekarang keadaanmu bagaimana?"


"Hmmm..." sambil berpikir menggerak-gerikan badannya..."Sepertinya masih sakit..." jawabnya enteng, tak seperti orang yang kesakitan.


Alis Yudhit terangkat sebelah, "Terus kenapa tadi langsung dibawa olah fisik? Sakit-sakit kok malah push up-an?"


Kening sang ibu seketika bekernyit, "Kenapa... kenapa...???" sela Mami.


"Itu Mi, tadi dia malah push up di pojokan taman rumah sakit ini."


"Aduuuhh Viaa.. kamu ini? Apa tidak bisa menunggu sehat dulu?" ujar sang ibu dengan gemas.


"Tapi ini nggak terlalu sakit kok," terus memutar mutar persendian tangannya...


"Aaahh, perban ini mengganggu saja.." celetuknya hendak membuka paksa.


"Jangan!!" teriak ibunya menahan tangan si gadis lincah itu.

__ADS_1


"Aduuh, sebenarnya Mami punya anak perempuan nggak sih? Ngga ada manis-manisnya sama sekali. Seharusnya anak perempuan itu kalem, penurut, dan bersikap manis. Tapi ini..?" ucalp ibunya dengan gemas.


Yudhit hanya tertawa, membenarkan apa yang dikatakan sang ibu, bahwa adiknya sekali tak memiliki sifat yang manis.


"Oh iya... Irin... aku belum lihat keadaan Irin .." tiba-tiba Via melompat dari ranjang dan menyelonong hendak keluar.


"Eeeeiiitt..kamu mau kemana?" cegat sang Kakak.


Mencoba menerobos berikade dari sang kakak, "Irin.. Irin gimana kabarnya?" memasang raut khawatir.


"Hmmm.. kami juga kurang tahu.. Kami semua juga baru sampai di sini. Kami semua langsung sibuk mencari kamu yang tiba-tiba menghilang dari kamar..." jelas Yudhit.


Via langsung meraih tangan kakaknya, dan menarik laki-laki tampan memiliki seribu pesona itu, "Kalau gitu ayo kita ke ruang rawat Irin..."


"Semoga Irin baik-baik saja..." desis Via pelan.


Yudhit menahan Via, "Kamu tunggu di sini dulu, biar kakak carikan kursi roda dulu yah?"


Via melongok ke wajah sang kakak heran, "Buat apa?"


"Biar kamu bisa duduk di sana, tinggal Kakak dorong aja kan..."


Via langsung menggeleng cepat, "Nggak usah, aku masih kuat untuk jalan kok. Aaahh.. ini biasa aja.. nggak apa-apa.. masa gara-gara ini aja aku jadi cemen..." jelas Via lagi.


"Kami jangan sok kuat terus!" sela Mami membelalakkan mata pada gadis remaja itu.


"Beneran, Via ngga apa-apa Mi," dengan nada memohon.


"Ooh.. ya udah.. kamu jalan pelan-pelan saja!" sambil memapah Via, menelusuri koridor menuju ruang tempat Irin dirawat.


Di ujung koridor tampak Stevan dan Tosan tengah membicarakan hal yang serius. Tumben dia punya tampang serius kayak gitu, batin Via. Biasanya kayak orang bego Mulu.. 😅


Tosan melihat ke arah mereka. Lalu seperti mengakhiri percakapan, dan mendekat ke arah mereka, diikuti oleh Stevan di belakang.


"Serius amat obrolannya Pak?" sindir Via.


"Ohoho.. tadi ada hal yang penting yang harus Tosan sampaikan ke Agen Stevan..."


Jidat Via mengernyit, "Agen...?? Bukannya dia tukang buat PR?"


"Iya.. seluruh anggota yang gabung, baik karyawan tetap,.maupun freelancer, tetap kita sebut dengan agen.. Jadi dia adalah agen dari BOS."


"He-he-he berasa ga cocok aja istilah itu untuk dia .." sindir Via melirik ke Stevan.


Sekarang giliran jidat Stevan yang mengernyit. Pengen mengoreksi, tapi udah sungkan duluan sama seluruh anggota keluarganya. Dia memilih untuk diam kali ini. Awas aja nanti kalau nggak ada mereka, batin Stevan gemas.


Mereka sudah sampai di depan pintu kamar Irin. Via merasa aneh dengan fasilitas yang Irin terima. Fasilitas yang sangat berbeda dengan yang dia dapat.


"Tosan, kenapa Irin tidak ditempatkan pada fasilitas yang sama dengan Via?"


Sang ayah menggaruk kepala juga merasa heran, "Waahh.. Tosan juga kurang tahu.. Nanti kita pindahkan Irin ke ruang sebelah kamu.."


"Nah gitu donk Tosan..." Via mengacungkan jempolnya kepada sang Ayah.


Irin masih masih belum sadar semenjak dirawat. Di kedua sisinya, telah berdiri cairan infus dan satu kantong darah tambahan. Irin kehilangan banyak darah. Via menggenggam tangan Irin, di belakangnya berdiri Stevan yang juga merasa sangat menyesal atas kejadian ini.


Sementara orang tua mereka tengah mengobrol. Berencana memindahkan Irin ke fasilitas VVIP di samping kamar Via.


"Terima kasih Rizal, kamu sudah membuat perubahan besar atas sikap Via," ucap ibu Via kepada teman baiknya itu.


"Ha-ha-ha, saya tidak banyak membantu. Saya sendiri merasa pusing menghadapi anak kamu yang keras kepala itu. Yang banyak berperan ialah Irin, Irin selalu mengajarkan hal-hal baik kepada Via. Via pun sangat patuh pada Irin. Jadinya mendengar semua yang disampaikan Irin dengan baik."

__ADS_1


"Waaahh...ternyata semua berkat jasa Irin, pantas Via meminta Irin diberi fasilitas yang sama dengannya. Via sangat sayang pada temannya ini rupanya..." ujar Tosan tengah mengintip aksi romantis Via menggenggam tangan Irin.


Setelah itu, Irin segera dipindahkan ke sebelah kamar Via, dan sepertinya keadaan Irin semakin membaik.


***


Via sudah diizinkan pulang setelah satu malam dirawat. Sementara keadaan Irin masih harus perlu perawatan yang intensif. Via pamit pulang, dan orang tuanya membawanya untuk menginap di hotel dulu untuk sementara.


"Enak nih, Via ngekos hotel saja gimana Tosan? nyaman banget di sini Mah..."


"Ooh No...No... ini hanya sementara kami di sini saja kita di hotel..Kalau kami sudah balik, kamu kembali lagi ke kostan..."


"Iiihh.. Bilang aja gak boleh karena takut ngeluarin duit..." celetuk Via merajuk.


"Kamu tuh masih kecil belum paham.. Nanti Tosan belikan rumah saja sekalian, daripada kamu tinggaldi hotel dalam kurun waktu yang lama..."


"Ogah ah.. rumah sendiri ngapain Tosan? Sepi... biarlah di kostan aja, rame-rame banyak teman..."


"Oohh.. itu malah lebih bagus..."


"Benar kata Tosan-mu itu. Kalau tinggal di hotel lama-lama malah bahaya buat kamu. Nanti kalau ada kasus salah masuk kamar, kamunyengah tertidur bagaimana?" sang ibu korban baca novel online.


"Emang ada yang kayak gitu?" sela Yudhit.


"Entah siiih... tapi novel-novel online yang Mami baca, banyak banget yang kayak gitu. Ngeri kalau bayangin adik kamu yang jadi pemeran nya Mah.."


"Ha-ha-ha, Mami beneran korban dunia pernovelan ini..." timpal Tosan.


Lalu mereka duduk bersama, membincangkan masalah Via ke depannya.


"Mungkin sementara waktu kamu pindah sekolah dulu ya?"


"Lha? mana boleh pindah sekolah saat mau ujian kelulusan kayak gini?"


"Hmmm...masa tidak boleh?"


"Iya, kabarnya sih nggak boleh. Takutnya bermasalah di dapodik siswa..."


"Hmmm..ribet amat masalah sekolah di negeri ini.." Tosan menggaruk dagu tengah berpikir.


"Kalau gitu kamu gak usah turun tangan dulu sampai menyelesaikan secondary school ini. Nanti setelah selesai kan masuk junior college. Nah, kamu harus bekerja dengan rahasia."


"Terus selama aku tidak bekerja siapa yang menyidik?"


"Kan banyak agen detektif yang lain. Dan Tosan sudah menemukan orang kepercayaan yang bisa memegang kendali BOS di sini..."


"Nggak jadi aku yang megang?" sela Via merasa tidak terima...


"Nanti akan pindah ke tanganmu saat kamu sudah dewasa. Sudah bisa menjaga diri sendiri dan orang lain. Baru lah Tosan akan memberikannya kepadamu secara langsung..."


Via melipat tangan dan membuang muka. Seperti dibuang dari kartu keluarga.


Sementara, keamanan untuk Via dan Irin diperketat, hingga mereka lulus SMP. Via bebas tugas dan telah merasa bosan. Terbiasa dengan kesibukannya sebagai detektif, tiba-tiba menjalani kehidupan seperti anak biasa, bukanlah gaya hidupnya.


Namun demi mengingat untuk keamanan orang-orang di sekelilingnya, dia terpaksa menjalani.


Usai dinyatakan lulus SMP, dia minta izin kepada keluarga Irin untum pindah dan hidup mandiri. Memilih hidup di ibukota dalam sebuah penyamaran. Menjadi Marni adalah pilihannya, agar semua identitas yang telah dikubur, benar-benar dilupakan oleh masyarakat, dan lawannya.


*chapter FlashBack selesai*


...*bersambung*...

__ADS_1


...JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK, LIKE, LOVE, VOTE & KOMENTAR 🥰🥲😘😘...


...terima kasih...


__ADS_2