DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
Ex.P7


__ADS_3

curhat dikit dulu ... Othor mulai senewen guys ... wkwkwkwk ... semua minta di update ... yuhuuuu ... Jangan lupa mampir di cerita CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER yaaa ... Karya itu mau Othor bawa pada lomba WANITA MANDIRI ... mohon dukungannya yaaa ...


List karya yang harus diupdate:




CEO Playboy Terjerat Nona Hacker




Duda Hot tapi Kere




Ex.P Detektif Muda




Cinta Dalam Hati




Masih ada dua lagi yang terpaksa tidak dijamah. Biar aja dulu ... Kayak orang ngga ada kerjaan saja yaa ... Padahal harus ngajar juga ... wkwkwkwkkw




Akhirnya Via yang tidak sabar menunggu hingga suaminya datang. Tanpa memberitahukan Jimmy, dia segera mencari Dokter Vano memeriksakan kebenaran dugaan suaminya.



...tok ......


...tok ......


...tok ......



"Masuk!" ucap Dokter yang berada di dalam ruangannya.



Via menarik gagang pintu itu dengan pelan. Mengintip ke dalam, tampak sang dokter tengah membuat diagnosa beberapa kasus yang tengah dihadapinya.



"Pagi Dok ...."



"Oh, Bu Direktur ...." Vano berdiri menyambut kedatangan atasannya.



Via menyalami Vano, dan beberapa mahasiswa kebidanan yang tengah praktek lapangan di rumah sakit ini.


"Ada apa Bu? Tumben sekali mampir ke poli kandungan ini?" Via sedikit kikuk menjelaskan maksud hatinya untuk datang ke bagian ini.



"Apakah Ibu mau memeriksakan diri?" tanyanya menggerakan kedua alisnya sambil nyengir penuh arti. Via mengangguk.



Beberapa calon bidan menyilakan Via untuk duduk. "Terima kasih." ucapnya.


__ADS_1


"Kira-kira kapan terakhir periode menstruasi Ibu?"



"Sepertinya sebelum nikah deh. Nah, sejak itu tamu bulanan belum datang lagi."



"Ayi, siapkan USG, Fika siapkan brangkar, Sisi periksa kesehatan Ibu Direktur kita ini."



"Baik, Dok." ucap mereka serempak.



Sisi memeriksa kesehatan Via. Mulai dari tes darah, golongan darah, hemoglobin, riwayat kesehatan keluarga, resiko-resiko yang mungkin muncul, pemeriksaan abdomen, pemeriksaan kadar gula, dan kadar protein pada Via.



"Aku tidak menyangka pemeriksaan kehamilan bisa sebanyak ini. Awalnya aku hanya mengira cukup tes urin, dan USG saja." ujar Via merasa *eksited* dengan rangkaian pemeriksaan yang dijalaninya.



"Kalau secara sederhananya memang cukup itu saja Bu. Tapi dengan pemeriksaan secara menyeluruh ini kita bisa melihat bagaimana kondisi anak saat akan lahir nanti."



"Benarkah?"



"Iya Bu ... beberapa waktu terakhir ini kami banyak sekali menemukan ibu yang hamil anak-anak yang memiliki kecenderungan kelainan saat lahir."



"Contohnya kita bisa deteksi calon bayi pengidap ***down syndrome***. Kita sudah bisa memeriksanya sedari dalam kandungan. Bahkan teknologi terbarukan sudah mampu mendeteksi calon bayi psikopat sedari dalam kandungan."



"Oh ya? Hebat sekali ternyata ya? Terus jika telah terdeteksi bayi itu psikopat, orang tuanya bersikap bagaimana?" tanya Via tertarik dengan masalah ini. Karena dia sudah mengalami sendiri betapa sulitnya menghadapi psikopat itu.




Di tempat lain, sebuah komplotan secara diam-diam melakukan hubungan kerja sama dengan mafia-mafia lokal. Kali ini mereka tengah merencanakan sesuatu yang besar. Mereka mengetahui bahwa markas besar organisasi BOS telah dipindahkan ke negara ini. Sesaat setelah mereka berhasil menewaskan Chizuru Sato.



"Kalian lihat saja, pembalasan yang akan kami berikan! Putra Buana Putra dan putri Chizuru Sato. Ternyata kalian bisa bersama tanpa ada beban?" Bruno menatap selembar poto pernikahan Jimmy dan Via.



*Nona Via, ternyata kau memilih bersama dengannya? Kita lihat apa yang akan terjadi setelah ini. Aku tak akan pernah berhenti sebelum apa yang kuinginkan bisa kudapatkan*. Oliver menatap ke penjuru kota, tengah berdiri di sebuah gedung yang tinggi.



**Di rumah sakit**



"Apa ibu tidak merasakan gejala apa-apa selama ini? Makanan yang Ibu konsumsi bagaimana?"



Via hanya menggeleng lesu melihat hasil pemeriksaan yang sangat mengejutkan. "Emang bisa ya Dok? Saya hamil dalam keadaan begini?"



"Saya juga merasa heran Bu. Malah Ibu hamil bayi kembar. Namun, ini adalah sebuah kehamilan yang beresiko. Apa Ibu yakin melanjutkan kehamilan ini?"



Air mata Via menetes tanpa bisa dia hentikan. "Kira-kira, resiko apa jika saya memilih untuk tetap melanjutkan kehidupan mereka?"



"Kita berharap semua akan baik-baik saja Bu."

__ADS_1



"Tolong jangan alihkan pembicaraan Dok. Coba bicara lah dengan lugas tentang bayangan-bayangan yang akan kami hadapi!"



"Apakah beberapa waktu terakhir Ibu tidak merasakan gejala-gejala aneh? Seperti sakit yang luar biasa saat periode bulanan ibu datang?" Vano menatap Via dengan wajah yang sangat serius.



"Ya, itu selalu. Saya cukup mengonsumsi obat pereda rasa nyeri, dan rasa nyeri itu hilang begitu saja."



"Kenapa Ibu tidak pernah mencoba untuk memeriksakan keadaan Ibu sedari dulu?"



"Ya, saya berpikir bahwa apa yang saya alami adalah hal yang biasa. Sama persis dengan gadis-gadis lain yang mengalami nyeri setiap bulan pada waktunya. Makanya saya tak pernah mengambil pusing masalah demikian."



Vano hanya terdiam, menyesalkan sikap Via yang tak acuh akan kesehatannya sendiri sedari dulu. Sehingga, saat ini sang atasan baru saja mengetahui berada pada masa yang sulit. Tepat setelah mengetahui kehamilan kembarnya.



"Apakah kondisi saya sangat buruk Dok? Kenapa kamu terlihat tegang begitu?"



"Kita sedang dihadapkan pada satu pilihan yang mungkin akan sangat sulit. Memilih bayi Anda, atau ibunya."



"Mungkin saya akan memilih bayi ini agar mereka bisa menikmati oksigen yang ada di dunia. Jika seandainya kami diberikan kesempatan untuk menikmati bersama, mungkin akan lebih baik lagi."


"Namun, aku sudah memutuskan, bila memang harus memilih, maka jadikan anak-anakku tumbuh sehat selama ada di dalam rahimku. Apa pun yang akan kamu katakan, aku akan lakukan."


"Agar mereka bisa menggantikanku menemani ayahnya. Tak apa lah kehilangan satu orang, berganti dengan dua makhluk hidup yang baru." Air mata Via menetes satu per satu.



"Apa kamu yakin? Jika Ibu memilih mereka, Ibu harus bertahan tanpa mengonsumsi obat apa pun." ucap Vano dengan wajah prihatin.


"Saya hanya bisa menyarankan beberapa multivitamin untuk menguatkan kehamilanmu."



"Tak apa, bahkan selama ini saya tak pernah sedikit pun merasakan kesakitan. Mungkin, kurang lebih akan sama seperti sebelumnya."



"Ini akan sedikit berbeda. Jika kamu dalam keadaan hamil, kamu tidak boleh mengonsumsi segala hal yang mengandung bahan kimia. Termasuk penghilang rasa sakit. Jadi, ini akan sangat berat. Bahkan berkali lipat!"


"Sekali lagi saya tanyakan padamu! Apa kamu yakin untuk terus mempertahankan calon bayimu? Apa kamu tidak memikirkan Jimmy?"



Via masih teringat akan obrolannya tentang anak bersama suaminya. Jimmy terlihat sangat menginginkan bayi ini. "Kamu jangan bicarakan hal ini padanya. Biar saja dia tahu bahwa aku tengah mengandung calon penerusnya."



Pintu tiba-tiba dibuka dari luar. "Coba katakan lagi!" ucap Jimmy yang baru saja masuk ke ruang itu.



**Ayo dukung karya baru Othor untuk lomba Wanita Mandiri yaah** ...



![](contribute/fiction/3771397/markdown/24374039/1646301740081.jpg)



Buat yang hobby bacaan 21\+, boleh mampir di karya teman Othor



![](contribute/fiction/3771397/markdown/24374039/1646301740078.jpg)

__ADS_1


__ADS_2