DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
6. Divisi Private bg.2


__ADS_3

Via duduk manis di sepeda luar biasa pemberian Big Boss.. Dia tak perlu capek untuk mengayuh, sepeda ini bisa membawanya dengan sangat cepat hingga sampai ke rumah.


Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, lampu kamarnya masih menyala. Berarti Stevan beneran datang dengan pakaian perempuan saat masuk ke kamarnya ini. Hmmm, dia pasti bakalan marah-marah.


Via membuka kenop pintu, namun ternyata ia tak melihat seorang pun di dalam kamar itu.. Tetapi aroma udara masih jelas tercium jmaroma parfum Stevan yang sudah sangat dikenal oleh Via.


"Steve.... Steve..." bisiknya agar tidak terdengar oleh penghuni kamar lain.


Lalu muncul lah seorang pria dari dalam lemari, pria tinggi berwajah bule dengan muka masam, "Panggil gue Aa!" ujarnya gemas sambil menarik kedua pipi Via.



"Iya.. iya.. maaf..." Via mengusap kedua pipi bekas cubitan tadi..


"Elo kan sudah datang, berarti waktunya untuk gue balik dulu... Gila aja? Masa gue disuruh-suruh pakai pakaian wanita. Emangnya gue banci perempatan apa?" dengusnya.. Lalu mata pria bermanik terang itu terperangah melihat sepeda yang masih didorong Via untuk masuk ke dalam kamar..


"Sayang amat sama sepedanya Neng? sampai diajak bobok bareng?" sindirnya.


"Kalo ditaroh di luar nanti malah ilang kan lebih berabe.."


"Baru sebuah sepeda aja udah se-lebay itu? Apalagi yang lain?" celetuknya, mulai memasang dress yang mungkin tadi dikenakannya saat berangkat...


"A..Aa..." cegat Via membulatkan matanya saat melihat pria pintar luar biasa dalam pikirannya itu telah bersiap-siap untuk pergi.


"Apa lagi? tugas satu Minggu punya Lo udah gue beresin kok..." masih menyiapkan semuanya, pakaian ala-ala cewek yang cukup ribet.


"Tapi tolong ajarin gue dikit dulu yaaa... Nanti gue malah pusing kalau ditanya sama guru..." pintanya sambil menangkupkan kedua tangan di depan wajahnya.


"Tapi ini sudah mau pagi Eneung cantiiikk.. Kita ini laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim, gak boleh berduaan dalam satu kamar.. Apa Lo mau sesuatu yang 'diinginkan' nanti terjadi?"


"Ingin apa sih A, aneh aaah.. Lalu gimana besok di sekolah donk?" otak Via yang masih belum sampai pada hal yang dimaksud Stevan, masih berharap agar Stevan menunggu sesaat lagi supaya pria berpostur tinggi itu mau menunda kepulangannya untuk mengajarinya materi sekolah yang semakin tinggi dibanding tingkat sebelumnya.


"Nanti gue kirim video pembahasan nya saja ya.." jelasnya dengan sabar sambil memasang Wig rambut panjang bewarna gelap.


Melihat hasil Stevan yang berubah menjadi Stevani membuat mata Via terbelalak geli, "Wkwkwkw, cantik banget Lo, A'..."


"Eeeh, sopan santun Lo beneran belum nambah sedikit pun juge ye.. mentang-mentang produk import Lo ya.. Kalo udah di sini Lo ya harus ikut budaya sini juga.. Masa sama yang tua Lo gak sopan gini.." keningnya sedikit berkerut menerima sapaan yang menurutnya tidak pas itu. Usia mereka terpaut cukup jauh memang. Via baru enam belas tahun, Stevan sudah 22 tahun.

__ADS_1


Namun orang yang dinasehati hanya merasa santai atas omelan kebapakan si cowo tinggi yang lagi cantik itu, "Abis.. Aa sendiri gak sopan tuh... Ya gue belajar dari Lo kan..."


"Eiiit... bukan 'Lo' tapi Aa!" kembali tertarik dengan sepeda yang sudah bersandar di dinding kamar Via tadi. dan memperhatikan sepeda itu dengan seksama.


"Iya.. iya. Aa...boneng .. wkwkwkw..." memperhatikan tingkah Stevan yang terlihat sangat tertarik pada benda yang baru saja dia terima tadi siang itu.


"Gimana A? Keren gak tuh?"


"Ini dapat dari mana?" mengecek-ngecek tombol dan fungsinya..


Tanpa berfikir panjang, Via merebut sepeda tersebut dari tangan Stevan. Langsung mengayuhnya, dengan ajaib roda sepeda itu menempel dengan mantap di dinding kamar. Melihat hal ini membuat Stevan kagum. Lalu via mengayuh sampai posisinya terbalik di langit-langit kamarnya. Membuat Stevan semakin tertarik pada benda yang memiliki roda dua itu.


"Sini... sini...giliran gue..!" Via menuruni dinding, lalu sepeda beralih tangan lalu dicoba oleh Stevan. Namun ternyata, dia menekan tombol yang salah hingga sepeda itu tidak tampak oleh mata awam.. Stevan tidak terlihat bersama sepedanya, namun dia sendiri tak menyadari hal itu.


"A...Aa .." panggil Via.


"Apa sih manggil-manggil.. di depan hidungnya juga!" celetuk Stevan..


"Tapi Aa tu lagi tidak terlihat..." ujar Via gemas menyentak-nyentakkan kakinya.


"???? Masa?"


"Sssttt...!" bentak Via.. "Pencet lagi tombol yang tadi!" titah gadis berambut sebahu itu.


Namun Stevan menekan tombol yang salah lagi, dan... "duuuuaaarrr...." yang keluar tembakan, dan dinding pun berlubang..


"uuppsssss..." desis Stevan makin kebingungan. Kembali mengotak-atik tombol lain agar bisa membuat dirinya terlihat lagi.


"A ak..." Via mulai tak sabar dan geram. Tak lama kemudian akhirnya Stevan sudah bisa dilihat lagi. Sementara di luar kamar itu kembali terdengar keributan warga kost yang terbangun.. Mungkin mereka terbangun karena mendengar suara tembakan tadi.


Via langsung berubah menjadi mode jelek, memakai kacamatanya, dan mengacak sedikit rambutnya keluar dari kamar. Melihat tingkah Via, Stevan terkikik sambil bersembunyi.


"Ada apa?"


"Ada suara tembakan lagi?"


"Ada suara laki-laki.."

__ADS_1


"Siapa yang tertembak?" suasana di luar kamar Via langsung ramai, penghuni keluar dar kamar masing-masing dengan muka bantal mereka.


Salah satu dari mereka langsung mendorong Via, "Lagi-lagi lu ya Gu?"


"Gu?" tanya Via heran..


"Iya... Lu si Gugu Gagu kan..." ucapnya dengan sinis..


"Maaf Kak, saya masih nonton film perang-perangan, jadi...."


"Jadi gak sengaja volumenya dikencengin lagi?" selanya untuk memastikan...


"I...i. iya.." tiba-tiba Via tersadar, dia lupa pura-pura gagap.. "Maa...maa..maaf ya Kak.."


Sepertinya Rini menyadari sedikit kejanggalan dari Via, mungkin karena tiba-tiba bangun gara-gara kaget kali ya, tepis wanita bertubuh seksi itu.



"Udah Gu, sekarang Lo tiduuurr... Tapi Lo gak bawa cowok ke dalam kamar kan? tadi ada yang bilang ada suara cowok juga.." Rini yang paling senior di rumah kost itu menggantikan tugas satpam di kostan ini.


"Eee..e..engga ko Kak. mu..mu..Ng..Ki..Ki..kin da..da..da..ri ti..ti..vinya.."


"Ya udah, sekarang semuanya tidur Sanah..! pagi nanti harus sekolah, kuliah, dan kerja bukan..." Rini membubarkan kerumunan menyuruh kembali masuk ke kamar masing-masing.


***


Akhirnya Stevan diantar pulang oleh Kapten Peter, pilot khusus yang juga tadi sengaja menjemputnya ke Bandung.


Begitu lah kira-kira, Stevan memang selalu dijemput dari kosannya di Bandung, dekat dengan kampusnya, lalu diantar lagi. Bayarannya pun sangat mahal untuk mengerjakan tugas sekolah Via sekali seminggu.


Seharusnya sih, Stevan mengajarkan dulu bagaimana teoritis, dan ilmu praktis tugas-tugas tersebut. Namun karena sudah terlalu malam, dan dia juga harus bimbingan tugas akhir saat pagi nanti, memaksa Via mengikhlaskan dia pulang tanpa mengajarinya dulu.


Seperti yang telah dijanjikannya, Stevan mengirimkan video yang dia sendiri menjelaskan masing-masing cara dan kiat mengerjakannya, dan lumayan membantu gadis itu, karena dia adalah anak yang cepat paham.


Sebenarnya dulu Stevan menolak masuk di Divisi Private, tapi karena diiming-imingkan upah yang besar, sehingga dengan rela otak cemerlangnya kembali mengerjakan tugas-tugas anak sekolahan.


"Gak apa lah.. yang penting duitnya..." ujar Stevan dalam hatinya. "Lagian yang diajarin anak yang pinter kok. Gak bikin pusing, lagian dia juga enak di pandang. Sayangnya masih bau kencur.. Kalau seandainya dia dewasa dikit lagi aja, udah aku ajak nikah..." monolognya sendiri.

__ADS_1


*bersambung*


Jangan lupa meninggalkan tanda jejak yaa.. LIKE, LOVE, GIFT & VOTE 🥰🥰🤩🤩😍😍


__ADS_2