
"Hmmm, baik lah kalau seandainya ada kendala lagi pada kamu, nanti kamu bisa langsung menghubungi saya ya. Jangan sungkan untuk mengonsultasikan kesehatan kamu pada kami!"
Via mengangguk, "Baik Dok, terimakasih banyak."
"Tunggu sebentar ya, saya akan segera menuliskan resep obat untuk Via."
"Dok," cegat sang ayah.
"Iya Pak, ada apa?"
"Tolong beri obat yang paling bagus kualitasnya, berapa pun harganya tidak masalah."
Dokter itu tersenyum, "Baik lah Pak, harap tunggu beberapa saat. Saya akan segera menuliskan resepnya."
Setelah dokter itu pergi, sang Ibu langsung mendekap pundak Via menatap netra anaknya yang semakin hari tampak semakin dewasa.
"Bukan kah kamu lagi dibebastugaskan?"
Sang ayah hanya melirik mendengar percakapan dua wanita yang ada di dalam hidupnya ini.
Sementara Yudhit, tengah mengobrol dengan Irin dan Devan. Tertarik mengorek informasi tentang kembaran yang satu lagi, yang tidak henti terus memperhatikan gerak-gerik adiknya.
"Kita duduk dulu yuk Mi, rasanya capek kelamaan berdiri begini," lalu sang Ibu memapah Via menuju bangku yang disediakan pihak rumah sakit.
"Nah, ayo sekarang jelaskan kepada kami. Kenapa selama bebas tugas ini kamu masih saja bertugas?"
"Kemarin sampai masuk ke CCTV juga, menyusup ke kantor polisi. Bahaya tau nggak? Kalau kamu tertangkap, malah ke Tosan dan BOS imbasnya lhoo?"
"Iya Mi, kan udah Via jelaskan juga. Masalahnya menimpa teman kost, Via merasa tidak tenang jika kasus itu belum juga tuntas. Makanya, yaaa.."
"Sampai dicekik?" sela ibunya menyelidik.
"Via nggak apa kok Mi."
__ADS_1
"Liat ini Tosan, anak kamu! Mami bawa pulang lagi aja gimana?"
Alis Tosan naik sebelah, mencoba memahami kata demi kata yang diucapkan oleh wanita yang dicintainya ini.
"Pulang kemana?"
"Pulang bersama kita. Mami rasa Via sudah cukup belajar nya. Nanti kalau dibiarkan terus, mami takut kita akan kehilangan dia nantinya."
Via menarik kedua tangan ibunya memasukkan dalam pelukannya, kepalanya menggeleng pelan. Dia melirik Deval, yang masih setia menunggu dan memerhatikan segala gerak geriknya. Lalu beralih pada Irin yang tengah asyik mengobrol dengan kakak nya bersama Devan.
"Via mau di sini saja."
Sang ibu ikut melirik, siapa yang diperhatikan oleh Via. Tampak anak laki-laki tadi yang terus memperhatikan mereka. Sementara Deval yang sadar tengah diperhatikan oleh ibu Via, tiba-tiba merasa malu dan menunduk.

"Hmmm… jadi ada orang yang membuatmu tak mau kembali bersama kami?"
Via terkejut, sang ibu seolah bisa membaca apa yang dipikirkannya. Saat ini dia dalam janji, untuk membantu Deval agar menjadi lebih kuat dibanding sebelumnya. Karena kejadian hari ini, terpaksa menunda latihan untuk Deval.
Sang ayah teringat akan sesuatu, dia mendapat laporan bahwa Via meminta beberapa agen untuk melatih teman-temannya agar menjadi agen hebat nantinya.
"Apa dia anak yang kamu ajak untuk latihan bersama anggota BOS?" tanya sang ayah sambil melirik Deval.
Via mengangguk, "Via sudah berjanji membantu nya untuk meningkatkan kemampuan dalam bertarung." lalu Via melambaikan tangannya pada Deval.
Deval pun melihat lambaian tangan itu, tampak Via memberi aba-aba agar Deval mendekat ke arah mereka.
Deval yang masih memegang jaket dan ponsel Via, akhirnya diberi kesempatan untuk ikut bergabung dalam obrolan, dengan segera mendekat sambil menahan rasa canggungnya.
"Tosan, kenalkan dia ini Deval, kami janji untuk latihan bersama-sama."
"Iya Om, mohon izin kan saya ikut latihan bersama Via ya Om?" masih dalam perasaan yang canggung. Apalagi sedari tadi mata elang sang ayah terus menilik dan menilainya meski tidak mengatakan apa-apa.
__ADS_1
"Apa keahlianmu hingga berani sekali mendekati anak saya?"
Pertanyaan tajam itu membuat Via kembali pusing memikirkan jawaban apa yang akan diberikan Deval. Entah kenapa pertanyaan itu yang dilontarkan sang ayah. Kayak calon mertua yang ingin menginvestigasi calon menantu.
"Dibandingkan Via, saya memang bukan apa-apa Om. Tapi ke depannya, saya akan berusaha untuk bisa lebih baik dan lebih baik lagi. Agar saya bisa memantaskan diri saya untuk menjaganya di kemudian hari."
Sang ayah mengangguk, dan melangkah terus menilik Deval dari ujung kepala hingga ujung kaki. Entah berapa kali hal ini dilakukannya, karena memang merasa curiga dengan hubungan mereka berdua.
"Saat ini anak perempuan kami masih sangat kecil, begitu pula dengan kamu. Berusahalah sekuat kamu bisa, kalau tidak bisa melebihi dia, setidaknya kamu bisa menyamakan kemampuanmu dengan dia."
"Jika itu terjadi, kamu bisa menghadap saya, dan kita lihat ke depannya nanti bagaimana."
Via merasa aneh dengan percakapan kedua laki-laki ini. Kok omongan ini sudah mengarah ke hal-hal yang belum terpikirkan sama sekali olehnya yang masih enam belas tahun.
Yang dia pikirkan hanya agar Deval bisa menyelesaikan masalah, dan kasus oleh tangan nya sendiri dengan baik. Begitu saja sudah cukup baginya.
"Baik Om.. saya akan berusaha semaksimal mungkin. Saya akan membuktikan bahwa saya pantas nantinya bersama dia."
Deval menjawab dengan mantap, netra-nya memancarkan arti yang sangat dalam berharap gadis cinta pertamanya ini bisa menjadi cinta terakhir hingga mereka dewasa nanti.
"Ha-ha-ha," sang ayah tertawa mengangguk dan menepuk-nepuk pundak Deval. "Kita akan lihat nanti, sementara saat kami jauh darinya, kamu harus menjaganya sebaik mungkin!"
"Baik Om, terimakasih sudah mempercayakan dia kepada saya."
"Tapi ingat, apabila kejadian ini terulang lagi, jangan harap saya akan melepaskan mu begitu saja!"
Deval mengangguk mantap, dan wajahnya terlihat lebih longgar. Melepaskan ketegangan yang sejak tadi dibuat oleh ayah Via ini. Dia juga bersyukur, bisa dengan lancar menjawab setiap interogasi yang diberi sang calon mertua.
Yudhit yang telah mengetahui Deval, usai bertanya dengan Irin dan Devan, hanya menyunggingkan senyuman smirk. Apa benar dia bisa menjaga Via? Atau malah sebaliknya?
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
__ADS_1
...terima kasih...