DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
Marni-ku


__ADS_3

Via terdiam mendengar pernyataan Stevan. Jimmy pun ikut mendengar dengan wajah yang tak dapat diartikan. Jimmy berdiri di pintu diam-diam memperhatikan istrinya. Bergerak cepat mengambil ponsel yang berada di tangan Via.


"Aku mau menghubungi seseorang," ucapnya cuek mematikan telepon itu dan menuju ke ruang kerja milik istrinya.


Tanpa sepengetahuan Via, nomor kontak milik Stevan langsung diblokir dan dihapus. Dari arah pintu muncul tiga orang yang berjalan beriring-iringan mirip sekali dengan pasukan bebek.


Via menengadahkan tangannya, diikuti oleh dua bocah mereka. Jimmy menatap dengan wajah penuh tanda tanya. Via menggoyangkan tangan, begitu juga dengan si kembar.


"Apa?" tanya Jimmy.


"Semua kartu atas namaku, mana Kak?"


Jimmy bergerak menuju lemari. Mengeluarkan sebuah kotak lalu menyerahkan kepada istrinya. "Kamu mau ke mana?"


"Aku mau beli hape aja Kak. Sepertinya aku sudah siap untuk bertugas kembali."


Jimmy merebut kotak itu kembali. "Bagaimana kalau kamu di rumah saja? Aku tak bisa melihatmu sakit kembali."


Via menggenggam tangan Jimmy. "Ini adalah tugasku, Kak. Sejak awal, begini lah aku. Jauh hari sebelum mengenalmu."


"Kamu ambil jabatan kepala rumah sakit lagi saja. Biar aku jadi anak buahmu sebagai dokter biasa." ucap Jimmy dengan wajah seriusnya.


"Waktu itu, aku menerima karena kamu menjabat sebagai kepala Organisasi BOS ... Sekarang, BOS udah tidak di sini lagi. Lagian rumah sakit memang lebih cocok jika dipimpin oleh kakak. Sementara aku sama sekali tidak tahu apa pun tentang kesehatan. Aku lebih nyaman berada di lapangan."


Si kembar pun ikut duduk di atas ranjang. Hyuna masuk ke dalam pangkuan Jimmy. Hyuta duduk di pangkuan Via. Mereka berdua memperhatikan apa yang terjadi pada kedua orang tuanya.


"Aku tidak sanggup jika hal seperti kemarin terulang kembali."


"Tapi, Kak? Selama aku turun lapangan kan sangat jarang hal itu terjadi. Kemarin aku dirawat hanya karena sebuah penyakit." Via berpikir beberapa waktu.


"Aku ingat, hanya satu kali masuk rumah sakit gara-gara dikeroyok ..." Via menghentikan ucapannya melihat Jimmy.


"Waktu SMP sih ... itu aja ..."


Jimmy teringat waktu Via kecelakaan akibat balapan melawan Dino. "Jadi waktu SMP juga pernah dirawat? SMA kamu juga masuk rumah sakit bukannya?"


"SMA itu bukan saat bertugas ya ... hanya gara-gara mengikuti taruhan konyol Dino aja. Oh iya, kakak yang bawa aku ke rumah sakit kan?" Via mendekat pada Jimmy dan bersandar pada bahu lebar suaminya.


"Apa saat itu kakak udah suka padaku?"

__ADS_1


"Uduh, GR--" ucap Jimmy mengelak.


"Oohh, syukur lah kalau bukan."


Alis Jimmy terangkat sebelah. "Lho, kenapa syukur?"


"Yaaa, jadi tak banyak menyakiti hati orang akunya." Via menegakan kepalanya.


"Kamu tahu, Sayang. Aku juga tidak tahu semenjak kapan sudah menyukaimu. Namun, yang pasti ... aku lebih dahulu menyukai Marni, sebelum mengenal seorang cewek detektif bernama Via."


Via menatap Jimmy dengan serius. "Masa sih? Udah jelek kucel gak berbentuk gitu juga?"


"Iya, beneran ... bagiku kamu saat itu terlihat sangat manis. Berbeda dengan cewek lain di sekolah. Saat kamu sendirian, aku ingin sekali menamanimu. Namun, kamu terus saja menghindar."


"Gombal ..." sela Via.


"Beneran ... Aku selalu bertanya pada diriku sendiri, apakah karena aku kurang tampan? Atau mungkin karena aku selalu mengerjaimu saat MOS dulu? Namun, aku tahu jawabannya setelah kamu pergi jauh. Semuanya karena hubunganmu dengan Papaku."


Jimmy menatap Via dengan dalam. "Apakah Papa yang menyebabkanmu masuk rumah sakit waktu SMP itu?"


Via memutar bola matanya. Lalu dia membelai rambut Hyuta. Jimmy bisa menilai lewat gelagat istrinya ini. Jimmy menarik Via untuk bersandar kembali padanya.


"Maafkan Papaku," lirih Jimmy sendu.


Jimmy membelai wajah Via, Hyuta pun meniru membelai wajah ibunya. "Nah, ayo ajak mereka tidur dulu. Setelah itu kita lanjutkan."


Jimmy mengangkat Hyuna turun dari pangkuannya. Lalu menarik Hyuta turun dari pangkuan Via. Mereka mengajak keduanya ke kamar dan langsung mengeloni bocah kembar itu.


*


*


*


Pagi hari Via merapikan peralatan di dalam tas suaminya. Dia dikejutkan penemuan kotak ponsel baru. Dia menunggu Jimmy menyelesaikan mandi. Via bersiap menginterogasi sang suami, mengenai ponsel baru itu.


Saat Jimmy keluar dari kamar mandi, dia disambut tatapan tajam Via dengan kotak ponsel yang baru dibelikannya kemarin.


"Ini buat siapa?" tanyanya dingin.

__ADS_1


"Oooh, itu-itu---"


"Jangan bilang kamu diam-diam belikan ini untuk Reva?" sidik Via.


"Lho? Kenapa Reva sih?" Jimmy mengambil kemeja putih yang telah disiapkan Via. Dia langsung memasangnya.


"Lalu buat siapa? Kenapa belinya diam-diam nggak kasih tahu aku?"


Usai semua kancing baju terpasang, Jimmy mengambil ponsel tersebut dari tangan istrinya. Lalu membuka kotak tersebut, ada sebuah lipatan kertas di dalamnya.


"Baca!" Jimmy menyerahkan selembar kertas tersebut.


Via membaca tulisan itu dengan baik. Tulisan suami yang sangat dia hapal.


*Teruntuk istriku, Marni ... Ibu dari anak-anakku. Mungkin apa yang aku beri ini tidak akan pernah sebanding dengan apa yang kamu beri. Namun, aku berharap kamu menyukainya.


Terima kasih sudah kembali hadir menjadi istriku. I Love you*.


"Kenapa Marni sih?" Bibirnya terulas senyuman teringat akan penampilannya menjadi gadis cupu. Meski dia tidak bisa mendalami karakter cupu itu dengan baik.


"Bagaimana pun, kamu adalah Marniku." Memamerkan kembali tato yang ada di bahunya.


Via bangkit dari posisinya dan memeluk Jimmy. "Kenapa hapenya tidak langsung diberikan padaku?"


Jimmy menggaruk dagunya. "Aku kelupaan."


"Bohong? Tadi malam aku sudah menyampaikan maksud ingin membeli hape bukannya?"


Jimmy menepuk jidatnya. Mencoba mencari alasan yang lain. "Tadi malam kita terlalu asik bernostalgia," ucapnya asal.


"Ooh, iya ... bener juga ... ya udah." Via melepaskan pelukannya membiarkan Jimmy nelanjutkan memakai pakaian. Sementara dia langsung asik dengan ponsel baru tersebut. Matanya semakin membesar menyadari nomor kontak yang disiapkan Jimmy pun adalah kontak yang sama sebelum dia koma.


"Terima kasih, Kak ... You'r the best husband." Mata Via berkaca karena merasa sangat terharu.


Jimmy mengangguk dan ikut tersenyum. Via mengaktifkan ponselnya dan langsung mencari situs BOS. Dia langsung memantau proyek yang tengah dikerjakan oleh BOS yang ada di Jepang.


Tiba-tiba, tangannya ditarik oleh Jimmy. Ternyata, suaminya telah siap dan terlihat tampan. Via segera bangkit merangkul lengan Jimmy menuju ruang makan. Sementara anak-anak mereka tengah disiapkan oleh para pengasuhnya.


Via menyiapkan dua lembar roti diisi dengan dua telor ceplok dan beberapa sayuran, ini adalah menu sarapan kesukaan suaminya. Tidak lupa secangkir kopi agar Jimmy tidak mengantuk saat bekerja nanti.

__ADS_1


Setelah menyiapkan sarapan untuk Jimmy, Via mengintip anak-anaknya yang sedang disiapkan oleh para pengasuh. Tiba-tiba dia merasa malu sendiri telah curiga kepada Jimmy, menduga suaminya itu membelikan ponsel untuk Reva.


Ini gara-gara kebanyakan drama pelakor sih ya? Aku jadi parnoan begini.


__ADS_2