
Setelah sampai di rumah, Jimmy langsung ketiduran. Sementara Via masih bekerja keras mencoba mengambil hati anak perempuannya. Meski tidak ada Jason di rumah, tetap saja Hyuna belum mau mendekat kepadanya.
Hyuta membelai pipi Via, membulatkan mulut kecilnya. "Mama nanan cediiih ... ada Uta di cini."
Via tergelak menyadari kesalahannya telah mengabaikan putranya karena sibuk mendekat kepada sang putri. Akhirnya Via pasrah pada sikap Hyuna yang tidak mau didekati olehnya. Via memilih bermain dengan Hyuta, sementara Hyuna bermain dengan pengasuhnya.
Bahkan Via pun mencoba mengajak gadis ciliknya untuk mandi bersama. Tetap saja Hyuna masih belum mau mendekat dengannya. Jimmy menyadari kesedihan sang istri mengajak Hyuna ikut masuk ke kamar mandi. Hyuta dimandikan oleh Via, sedangkan Hyuna dimandikan oleh Jimmy.
"Bagaimana Kak, mandikan anak perempuan?"
Jimmy hanya tersenyum tipis. "Apa kamu lupa, aku juga punya adik perempuan?"
"Oh, iya ... Leoni?"
"Waktu kecil aku sering mengasuh dia. Hingga mandi pun maunya sama aku. Jadi, ini bukan perkara sulit bagiku."
Via mencabikan bibirnya. "Iih, sombong."
"Ayo, sekarang giliran mamanya yang mau dimandikan." Jimmy mengusapkan busa keseluruh wajah Via. Terjadilah perang ayah ibu dan anak di dalam kamar mandi itu.
Saat malam pun mata Via masih terang tanpa rasa kantuk sama sekali. Dia sedang mengeloni Hyuta tidur dalam dekapannya. Sementara Jimmy bertugas menidurkan Hyuna. Setelah semua benar-benar sepi dan tanpa pergerakan, kini giliran Jimmy menarik Via yang terlihat merenungkan sesuatu.
Via merasa kaget karena dikejutkan oleh tarikan tangan suaminya. Wajah Jimmy menyunggingkan senyuman penuh arti. Via bangkit dan langsung diangkat oleh Jimmy. Via meronta, merasa malu.
"Kita nostalgia ke masa kita jadian dulu." ucap Jimmy.
"Kamu yang maksa-maksa dulu kan?"
"Iya ... iya ... harus aku paksa. Kalau tidak, nanti kamu direbut sama yang lain."
Via mengelungkan tangannya pada leher Jimmy menyandarkan kepala pada dada suaminya. "Aah, aku rindu berada dalam pelukan ini," gumamnya pelan.
Jimmy membawa Via ke kamar utama dan mendudukan Via di atas ranjang. Jimmy langsung naik ke atas ranjang dan merebahkan diri berbantal paha sang istri. Netra mereka saling bertemu, dan pancaran kerinduan di antara mereka terlihat begitu nyata.
"Akhirnya hari ini datang juga. Di waktu yang sudah sangat lama kuimpikan. Menua bersama melihat pertumbuhan kedua anak kita. Terima kasih, Sayang. Kamu telah berjuang untuk kembali lagi bersamaku."
Via hanya mengangguk tersenyum. Via mencium kening Jimmy. Jimmy menunjuk ke arah bibir, Via hanya memberikan senyum kikuk. Entah kenapa dia merasa canggung kembali. Padahal sebelum dia melahirkan si kembar, baginya semua biasa saja.
Jimmy menempelkan telinganya di dada Via. Terdengar degupan yang tak beraturan. "Kamu deg-degan?"
Via menutup muka dengan kedua tangannya. "Entah kenapa aku merasa malu," bisiknya.
Jimmy bangkit dan menarik kedua tangan Via. "Kamu malu?" Jimmy meletakan kedua tangan Via pada kedua pipinya.
Wajah Via terlihat merona, membuat Jimmy semakin ingin melancarkan niatnya untuk menggoda sang istri. Dengan tiba-tiba, Jimmy menarik Via hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.
Jimmy memulai mengecup Via mulai dari kening. Ini lah yang membuat Via jatuh hati berkali lipat kepada pria yang menjadi suaminya ini. Jimmy selalu lembut, selalu memperlakukannya istimewa, dan tak malu memperlihatkan rasa cintanya kepada Via.
Kecupan turun menuju kedua kelopak mata, hidung, kedua pipi, makin turun ke dagu. Mata Via terbuka, merasa ada yang kurang.
promo: pliiiss ... bantu Author untuk meramaikan karya baru ini ya.. Author bagai memiliki ujian dengan syarat, jika ramai baru bisa lolos. Ini merupakan romansa fantasi yang diberikan pihak noveltoon kepada Author. pliis... help me 🥰🥰🙏🙏
"Bagaimana ini Laura? Kamu itu seorang penulis novel, lho! Jadi, Kamu harus mampu membedakan bagaimana karakter protagonis dengan karakter antagonis. Jangan menye-menye begini nulis antagonisnya!" suara Fathan Dirgantara terdengar menggelegar memenuhi ruangan kerjanya.
"Nah, satu lagi! Pembaca itu paling seneng apabila antagonis kejam terhadap protagonisnya. Selanjutnya, ketika melihat proses perubahan protagonis yang lemah menjadi kuat, akan membuat pasaran novel kita jadi meledak. Bukan seperti ini!"
"Jadi, kamu harus mampu membedakan bagaimana karakter protagonis dan mana yang antagonis! Masa iya, antagonisnya perhatian begini pada protagonisnya?"
Laura tertunduk mendengarkan hasil kurasi dari sang editor di ruang kerja milik Fathan. Dia adalah editor yang ditunjuk penerbit untuk mengecek semua karya miliknya. Laura begitu hafal dengan watak pria arrogant ini.
"Baiklah, Mas Fathan. Aku akan merevisi naskah saat ini juga!"
Tanpa mengatakan apa-apa, Fathan menyilakan Laura mengubah beberapa jalan cerita yang baru saja diperiksa. Karena novel tersebut akan dicetak dan diperbanyak sehingga harus segera direvisi. Meski merasa tidak rela, dan hatinya menolak, Laura Marrie terpaksa mengubah jalan cerita yang telah ditatanya dengan rapi.
Setelah direvisi, Laura segera menyerahkan naskah tersebut kepada sang Editor.. Fathan memeriksa hasil revisi satu per satu dengan wajah dingin tanpa ekspresi, dalam beberapa waktu. Melihat akhir yang tragis pada tokoh antagonis bernama Rivena Claudya, yang akhirnya dihukum mati atas semua tindakan kejahatan yang ia lakukan, wajah Fathan terlihat puas.
"Siapa pun yang mengganguku, bersiaplah bertemu dengan neraka sebelum malaikat maut menjemputmu!"
__ADS_1
Fathan mengulangi ucapan Vena sang antagonis kejam yang ada di dalam novel tersebut. Wajahnya menunjukan sesuatu yang tak bisa ditebak saat membaca kalimat itu. Beberapa waktu merenungkannya, Fathan akhirnya menganggukkan kepalanya.
"Nanti akan saya hubungi kembali!"
"Lah? Itu saja?" Laura merasa tidak puas mendengar keputusan yang masih menggantung dari Fathan. Dia sudah bersusah payah mengeluarkan segala ide yang tidak sesuai dengan genre yang biasa ditulisnya. Namun, tanggapan dingin sang editor membuat hatinya panas, merasa tidak dihargai.
"Ya, Kamu boleh kembali!"
Laura yang semenjak tadi berharap mendapat pujian, ternyata hanya mendapatkan sesuatu yang tidak memuaskan. Dia keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan kesal.
"Tau begini, lebih baik aku menulis kisah anak sekolah saja! Aku kan tak suka menulis karakter jahat dalam karyaku! Aaah, siaaal amat dah!" rutuknya mencak-mencak di balik pintu ruang kerja sang editor.
Laura meninggalkan kantor penerbit tersebut dengan menggunakan mobil dari hasil kerja kerasnya sebagai seorang penulis. Dengan perasaan kesal, dia melajukan kendaraan kesayangan yang telah menemaninya hampir lima tahun dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Namun nahas, dia melupakan sebuah tikungan maut yang terkenal telah memakan banyak korban. Dia tidak menyadari dari arah berlawanan sedang melaju sebuah truk ekspedisi dengan kecepatan tinggi.
braaaaakkk
Kecelakaan hebat tak bisa dielakan. Kendaraan Laura langsung ringsek dan terus terdorong ke arah sebaliknya oleh truk tersebut. Pengemudi truk menghentikan kendaraannya. Mengetahui kondisi kendaraan yang bertabrakan dengan truk yang dibawanya dalam keadaan nahas, sang supir truk segera melarikan diri sebelum warga ramai berdatangan melihat kejadian ini.
Kondisi Laura, tengah terjepit dengan keadaan yang sangat memilukan. Kepala, hidung, dan mulutnya mengalirkan d*rah segar. Mata Laura sayup-sayup memandang moncong truk yang tepat berada di hadapannya.
"Tuhan, a-aku belum ingin kembali secepat ini kepada-Mu. Berikan lah aku kesempatan kedua. Aku masih memiliki banyak hal yang belum bisa aku gapai," ucap Laura dengan lirih. Lambat laun, mata Laura terlihat menutup dengan sempurna.
tok
tok
tok
Sebuah ketukan pintu membuat Laura tersentak dari tidurnya. Dia tertidur dalam keadaan duduk berpangku tangan di sebuah meja. Perlahan, Laura membuka mata dan menegapkan tubuhnya duduk pada sebuah kursi kerja. Laura menelengkan kepalanya ke kiri, kanan, muka, belakang.
tok
tok
tok
Laura segera memeriksa keadaan tubuhnya. Tak ada satu pun yang terluka. Padahal dia merasa sangat yakin seluruh tubuhnya telah remuk akibat kecelakaan yang baru dialaminya beberapa menit yang lalu.
Sebuah ponsel canggih, dan terkenal sangat mahal bergetar. Laura tergelak melihat ponsel tersebut sangat mirip dengan benda yang dia gambarkan menjadi milik Rivena Claudya. Seorang tokoh antagonis yang dijadikannya sebagai CEO wanita yang berkarakter sangat kejam.
Ponsel tersebut kembali bergetar. Laura menjadi penasaran ingin menengok panggilan dari siapa. Di layar terpampang sebuah nama kontak Cindy. Namun membiarkannya tanpa menjawab panggilan karena merasa bukan miliknya.
tok
tok
tok
Mata Laura mulai merambah seisi ruangan. Dia merasa tidak mengenal tempat tersebut. Mencoba untuk bangkit, tetapi langsung terjatuh karena sepatu yang dikenakan membuat kakinya sakit. Mata Laura terbelalak melihat benda di bawah kaki. Sepasang high heels dengan ketinggian mencapai lima belas senti meter, beraksen batu-batu alam, di sepanjang bagian sepatu tersebut, tengah terpasang pada kedua kakinya.
Laura langsung melepas sepatu tersebut. Menyadari hal lain yang berbeda pada kakinya. Kali ini kaki ini terlihat sangat mulus, cantik dan terawat. Padahal dia begitu hafal bahwa biasanya kaki tersebut banyak cetakan recehan akibat bawaan masa kecilnya.
"Apa kebetulan saja ya? Kenapa ini semua malah mirip dengan si antagonis yang aku tulis?" Laura bermonolog pada dirinya sendiri.
Laura segera membuka pintu yang sedari tadi diketuk oleh seseorang. Ternyata mata Laura langsung terbuka lebar melihat pria super tampan yang ada di balik pintu ini. Beberapa detik berlalu, Laura masih saja memandang pria tersebut.
"Ekheeem."
Laura terkesiap mendengar deheman dari pria ini. "Si-siapa?" Laura bingung dan merasa gugup.
Pria tersebut mendorong kasar pintu, supaya terbuka semakin lebar. Wajah tampannya terlihat sangat gusar dan marah. Dia langsung mencekik Laura, membuat nafas Laura menjadi sesak.
"A-apa yang kau lakukan?" Laura berusaha melepaskan tangan yang menekan jalur nafas yang ada di lehernya.
"Mengapa Kau memb*nuhnya?" Tanya pria yang tidak dikenal itu.
Ucapan pria itu membuat Laura teringat pada sesuatu yang telah dia hafal. Itu adalah ucapan dari pria bernama Fernando Jose, sosok aktor yang dijadikannya sebagai protagonis pria dalam novel yang ia tulis. Novel yang membuatnya kesal setengah mati kepada Fathan, sang editor.
__ADS_1
"Cepat jawab! Kenapa Kau membunuhnya?" Pria tersebut masih bergulat dengan Laura yang berusaha melepas tangan pria yang ingin membunuhnya ini. Ini begitu persis dengan adegan yang dia tulis saat Fernando Jose melabrak Vena di kantornya.
Di atas sebuah meja kerja, kembali terdengar getaran menandakan ada panggilan pada sebuah ponsel. Laura bergerak hendak memperhatikan ponsel tadi yang dia lihat.
Masih panggilan dari Cindy. Cindy adalah nama sekretaris Rivena di dalam novel yang dia tulis. Getaran panggilan tersebut membuat pria tadi melepaskan kedua tangan yang ingin menghabisi nyawanya itu.
Laura duduk di kursi putar yang ada di balik meja kerja tersebut. Dia meneguk air yang terdapat dalam sebuah gelas.
"Welcome Dunia Novel Dendam dalam Cinta, karya Laura Marrie."
Laura seperti mendengar sebuah suara. Matanya liar melirik ke segala sisi yang ada dalam ruangan itu. Namun, tak satu pun dia melihat orang biacara. Hanya ada pria yang tidak dikenal terus mengawasi tingkah lakunya dalam diam.
"Apa Anda mencari asal suara?"
Mata Laura mengintari seluruh penjuru yang ada dalam ruangan tersebut. Ada rasa takut dan cemas tiba-tiba melanda dirinya. "Siapa kau?"
Pria yang sedari tadi memperhatikannya, menjadi semakin marah. Menganggap wanita yang ada di hadapannya ini sedang berakting untuk mengelak.
"Saya adalah SISTEM … Saya lah yang memberi kehidupan kedua bagi Anda! Saya tidak terlihat, dan hanya ada dalam pikiran Anda."
"Ma-maksud Anda apa?"
"Saat ini, Anda telah dibangkitkan kembali oleh Sistem setelah kematian Anda di dunia nyata. Namun, pada kesempatan kedua ini, jiwa Anda kami bawa ke dalam dunia novel karya Anda sendiri. Anda harus menjalani misi sebagai Rivena Claudya yang menjadi antagonis dalam karya Anda!"
"A-apa? Kau jangan bercanda!" Laura menggigit jari merasa ketakutan luar biasa.
"Anda harus menjalani misi menjadi Rivena Claudya sesuai dengan apa yang Anda tulis. Mengucapkan semua kalimat langsung yang disampaikan oleh Rivena Claudya tanpa Anda ubah."
Laura masih menggigit jari. Dia teringat pada akhir hidup Rivena Claudya yang tragis atas kegelapan watak Vena yang ia tulis. Laura hanya menggelengkan kepala.
Aku tak mau menjadi seperti itu! Aku harus menghindari semua kekejaman yang aku tulis. Ini adalah kesempatan kedua bagiku, batinnya.
Laura menggelengkan kepala, berbuat seolah tidak mendengar apa-apa. Dengan perasaan was-was, Laura mendekati pria tadi. Kenyataan bahwa pria ini sebagai protagonis, membuatnya tercengang. Dia tak menyangka, hasil cipta karya tentang wajah sang aktor, begitu melampaui ekspektasi dari bayangannya.
Terdengar kembali suara makhluk yang mengaku sebagai sistem di dalam pikirannya. "Jangan lupa, ucapkan kata tegas Vena kepada protagonis pria yang ada di hadapan Anda ini!"
Laura menggelengkan kepala, lalu memilih duduk berseberangan dengan pria yang sedari tadi memperhatikan tingkah aneh yang telah ia buat.
"Apa kau benar-benar sudah gila? Atau hanya berpura-pura gila?" ucap pria dingin itu.
Laura masih bingung untuk memulai. Apalagi sikap pria itu sangat dingin bagai es. "Jadi, bagaimana menurutmu, Saudara Nando?"
"Kau telah mencoba bermain-main denganku! Mengapa Kau lakukan itu kepada orang kepercayaanku, hah?"
Suara Sistem kembali terdengar dalam pikirannya. "Cepat katakan saat ini juga!" Laura masih tegas menggelengkan kepala, menolak perintah dari Sistem tersebut.
"Jika masih Kau lanjutkan, bersiaplah untuk mendekam di penjara!"
Laura memberi aba-aba, menengadahkan kedua tangannya. "Silakan! Lakukan sesukamu!"
Protagonis yang bernama Fernando Jose tersebut bangkit, melirik ke arah Vena dengan ujung matanya. Lalu dia meninggalkan Vena diikuti suara benturan keras dari pintu ruang kerja itu.
Suara Sistem kembali terdengar, kali ini suara tersebut terdengar sangat marah. "Misi Anda gagal! Bersiaplah dengan hukuman yang akan datang kepada Anda!"
Laura bangkit menuju ke kursi kerjanya. Menekan panggilan cepat terhadap sekretaris Vena bernama Cindy. Di dalam novelnya, dia menuliskan Elsa sedang dalam keadaan bersedih usai dimarahi habis-habisan oleh antagonis Vena.
"Cindy, nanti kirimkan parcel kue kering kepada mahasiswa magang yang bernama Elsa!"
"Lhoh? Tumben, Bu? Ada apa, Bu?"
"Oh, bukan apa-apa. Saya hanya merasa bersalah sudah memarahinya tadi."
"Baik, Bu. Akan segera saya laksanakan."
Tiba-tiba, dada Laura merasa sangat sesak. Ada sesuatu yang membuatnya sakit. Dia merasakan ada yang bergejolak dari dalam sana.
"Uhuk ... uhuk ... uhuk ...."
Laura memuntahkan d*rah yang menyesak di dadanya. Matanya terbelalak menggelengkan kepala. Hal ini tidak ada dalam ceritanya. Suara Sistem kembali terdengar.
__ADS_1
"Terima lah hukuman atas ketidakpatuhan kepada Sistem yang telah membangkitkanmu untuk hidup kembali!"
Laura segera meninggalkan kantor tanpa memberitahukan Cindy, sekretarisnya.