
"Kami sekelas tadi mengumpulkan dana bantuan untuk Marni tadi Kak. Untuk membantu meringankan biaya perawatan, jika seandainya Marni harus dirawat di rumah sakit." Mengeluarkan sebuah amplop yang berisi hasil patungan teman-teman sekelas mereka yang tadi menonton perlombaan balap motor. Melihat amplop tersebut, Yudhit kembali tersenyum smirk, dan tidak habis pikir adiknya menyamar seperti apa di sekolah hingga semua kawannya bersikap seperti ini.
"Marni, ayo terima!? Kami semua ikhlas kok memberikannya," tutur ketua kelas.
Sementara yang bersangkutan bingung mesti terima uang itu apa tidak. Dia merasa sudah berkecukupan, tidak membutuhkan uang tersebut. Namun jika ditolak, nanti malah kawan-kawannya semakin menghinanya, disangka belagu dan tak tahu diri. Merasa semua menjadi serba salah.
"Ambil saja dulu," bisik kakaknya.
Lalu dijulurkan tangan, dan kawan yang lain heran melihat, kenapa tidak hitam kayak biasanya? Amplop diserahkan langsung ke tangan Via, dan gadis itu langsung kembali menyembunyikan tangannya ke dalam sarung.
"Mamamakasih," mendengar Via berbicara seperti itu, membuat Yudhit tertawa, lalu tawa itu kembali dikulum meski terdengar seperti sebuah kekehan yang tertahan.
"Hey! Lihat kami donk! Kami ini udah capek-capek ke sini buat nengok Lo," celetuk Dino.
"Gugue memeririang," ucapnya.
__ADS_1
"Oh ya udah, kalau kami mengganggu, kami kembali dulu. Lo silakan beristirahat kembali," ucap ketua kelas.
"Teteterima kakakasih."
"Moga lekas sembuh!" lalu mereka pergi, setelah mereka tidak tampak lagi, meledak lah tawa Yudhit hingga terdengar ke seluruh sudut ruang IGD itu. Dia baru mengetahui hari ini, bahwa penyamaran adiknya sebagai orang gagap dan pura-pura miskin.
Via langsung membuka sarung yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Seluruh wajahnya dipenuhi oleh keringat. Mengipasi dirinya dengan sarung tadi karena merasa sangat kepanasan kemulan di saat cuaca yang tidak dingin seperti ini.
"Tadi itu apa-apaan sih Dek?" Yudhit mengelus dan merapikan rambut adiknya yang berantakan.
"Kakak nggak bisa ya nahan tawa kayak yang lain? Lihat itu Irin dan Deval? Mereka ngga ada yang tertawa?"
"Marni..."
Tiba-tiba terdengar suara panggilan untuk Marni, seketika Via langsung masuk kembali ke dalam sarung. Hatinya bertanya, siapa yang tiba-tiba datang lagi.
__ADS_1
"Ooh, Lo Rom," terdengar suara Irin. "Ada apa?" tanya Irin.
"Gue pengen lihat kondisi Marni dulu secara langsung. Kalau tidak melihatnya langsung, padahal udah sampai di sini, gue merasa datang sia-sia ke rumah sakit," sambil terus melihat ke arah cewek yang dalam sarung. Tadi dia yakin, cewek yang pakai sarung ini bukan Marni.
"Marni, gimana keadaan Lo?"
"Gugugue memeriang."
Lho? ternyata ini memang Marni, batin Romi semakin heran. Dia menjadi semakin penasaran, rasa tidak sabar untuk menarik sarung itu, namun ditahannya.
Tak lama-lama menengok keadaan Marni, Romi cabut meninggalkan sisa tanda di kepalanya. Tadi dia merasa melihat sosok yang asing, tidak seperti Marni yang dia lihat setiap hari di sekolah, dia merasa sangat yakin wajah itu bukan milik Marni.
Sementara, Via merasa cukup was-was, atas kedatangan Romi yang mendadak barusan. Dia merasa ragu, apakah Romi sempat melihat gue ya? makanya dia memanggil Marni untuk memastikan atau bagaimana?
...*bersambung*...
__ADS_1
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...