DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
84. Masalah


__ADS_3

Stevan dengan senyuman puas, akhirnya bisa bernafas lega untuk sementara. Setelah memberikan hacking to hackers yang mencoba mengganggu keamanan sistem jaringam organisasi BOS.


Via telah sampai di kostan, masih memikirkan Deval tadi. Apa dia bisa menjelaskan dengan baik? Catatan gue kan udah rinci, moga aja dia bisa memahami dan menyampaikan kembali ke pihak berwajib. Jadi bisa menyelesaikan persoalan lainnya esok hari.


Tok..tok..tok..


Ada yang tengah mengetok pintu kamar Via, "Si-siapa?" tanyanya.


"Ini gue," itu suara Rini.


Via langsung membuka pintu kamar dan saat Rini masuk langsung dikunci kembali. Karena saat ini berada dalam tampilan aslinya.


Rini dengan tiba-tiba memeluk Via. Via gelagapan, dengan tindakan tiba-tiba dari Rini barusan. Tak lama kemudian, Rini melepaskan pelukannya dari Via.


"Terimakasih ya. Udah bantu menyelesaikan masalah gue. Nama gue juga sudah dibersihkan dari segala tuduhan. Gue tak tahu lagi bagaimana cara membalas semua kebaikan Lo ini."


"Jangan gitu kak, kita di sini udah kayak keluarga. Karena itu lah aku harus menolong kakak semampu yang aku bisa."


"Kalau begitu gue janji buat rahasiakan identitas Lo. Via kan? Gue jadi bingung harus manggil Lo siapa," ucapnya sembari terus memperhatikan gadis cantik yang berbeda dari biasa yang dia lihat.


"Marni aja lah Kak, biar nggak bingung," jawabnya dengan cengiran. 


"Lo pasti habis pergi menyelidik kan? Pasti capek banget dan mau istirahat. Kalau gitu gue balik dulu ke kamar."


"Oke kak," sebuah senyuman bahagia menghiasi bibirnya. Merasa puas akan semua kerja kerasnya yang menghasilkan buah yang manis. Rini dibebaskan dari segala tuduhan, dan Kapten I Bagus Suska pun membuka tangannya untuk menerima Via.


Tiba-tiba dia teringat akan yang disampaikan oleh Stevan tadi. Mengambil laptop, menyalakannya dan berselancar pada situs online organisasi BOS. Tampak alert yang sangat banyak, berarti serangan dalam jaringan yang beruntun mencoba menghancurkan barel pertahanan pada sistem jaringan BOS.


Kemudian, mengirim pesan pada admin yang biasa dihubungi nya.


[Bagaimana keadaan jaringan kita saat ini? Masih diserang atau sudah berhenti?]

__ADS_1


Lalu pesannya dibalas beberapa saat kemudian.


[Untuk sementara pelaku sedang dibekukan oleh salah satu hacker andalan kita Nona. Namun jika mereka masih berusaha, mungkin dalam 24 jam kemudian barel yang dibuat bisa dilumpuhkan]


Via kembali membalas.


[Apa yang harus kita lakukan? Saya kurang paham masalah jaringan ini]


Balasan dari admin


[Kita serahkan saja pada anggota Divisi Pertahanan Sistem, Nona. Ditambah beberapa freelancer kita yang bekerja dari luar]


Setelah itu Via mencoba menghubungi sang ayah. Namun, setelah beberapa kali panggilan tanpa jawaban, membuat Via menghentikan menghubungi sang Ayah, beralih menghubungi sang Kakak.


"Halo Dek," jawab yang di seberang.


"Bagaimana keadaan di sana sekarang Kak?"


Via merasa heran, mengapa kakaknya tidak mengetahui masalah yang dialami organisasi BOS. Namun, memilih tidak melanjutkan pertanyaan nya. 


"Oooh, kalau semua baik-baik saja, bagus lah Kak," hendak menutup panggilan.


"Ada apa sih Dek?" akhirnya Sang kakak kepo juga.


"Kakak belum ketemu Tosan?"


"Belum, sedari pagi Kakak belum ketemu Tosan. Kebetulan kakak lagi banyak kerjaan juga."


"Jadi Kakak masih di kantor?"


"Iya, kakak mau membereskan sedikit lagi pekerjaan buat sidang besok. Jadi terpaksa hari ini kakak lembur dulu."

__ADS_1


"Hmmm…kalau gitu lanjutkan lah pekerjaannya dulu kak. Nanti kalau udah ketemu Tosan, kabari Via ya?"


"Oke, oke, saking kangen sama si Bapak ya? Padahal baru pisah tadi pagi." Lalu terdengar kekehan Yudhit dari seberang dan telepon ditutup.


Semoga semua baik-baik saja, batin Via. Sepertinya tidak bisa muncul dengan wajah asli dalam beberapa waktu ke depan. Berarti harus selalu menggunakan masker kemanapun setelah ini.


"Marni, jelek..." terdengar suara Irin memanggilnya dari luar.


"Lo udah pulang belum?"


Tanpa memberi jawaban, Via membuka pintu kamarnya. Irin tercengang melihat wajah Via yang tampak mengenaskan. Apakah gerangan yang terjadi seharian ini?


"Lo udah makan belom?" Irin melihat Via yang sangat lesu.Tampak Via hanya menggelengkan kepalanya, lalu fokus pada laptopnya. 


"Kita cari makan dulu yuk? Sebelum kemalaman?"


Via menatap Irin, lalu bangkit. Masih tanpa bicara dia mengambil kacamata, memasang masker, dan memakai topi. Kembali Irin terlihat heran oleh kelakuan sobat seperti saudaranya ini.


"Tumben Lo pakai masker dan topi? Apa menjadi Marni saja tidak cukup?" kepala Irin sedikit miring, memperhatikan penampilan Via kali ini.


"Tadi ada yang memotret gue. Mereka dari komplotan Mafia dari Italia. Yaa, buat berjaga-jaga aja."


Mendengar kata Mafia, wajah Irin seketika langsung menegang. Kembali teringat olehnya orang-orang yang tidak memiliki hati itu. Itu baru mafia kecil di negeri ini. Bagaimana jika mafianya datang dari Italia?


"Sebenarnya gue males keluar, tapi kalau nggak keluar perut gue laper. Seandainya aja Lo bisa masak."


Irin menatap Via yang semakin lesu, "Ada masalah lain ya?"


...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...

__ADS_1


...terima kasih...


__ADS_2