
"Nak…, Maafkan atas segala kelakuan saya tadi…," tutur Mak Iroh dengan tulus, disambut oleh mata Via yang menatap Mak Iroh dengan kesal.
Deval mengelus rambut Via, dibalas dengan sebuah tatapan langsung menuju netranya, tampak Deval menggelengkan kepala, seakan mengerti apa yang akan diucapkan oleh gadis di hadapannya ini. Via menghela nafasnya dengan pasrah, lalu membasahi kapas dengan alkohol dan membersihkan bekas sayatan yang diberikan oleh Mak Iroh.
"Sekarang keadaan lo gimana?" tanya Deval tepat di depan telinga Via.
"Gue gak apa kok, yang perlu diperhatikan sekarang ini adalah keadaan lo!" Kembali melanjutkan membersihkan luka yang langsung terkena air itu.
Selanjutnya ia memastikan sayatan itu tidak terlalu fatal, Via menempelkan plester lalu membereskan kembali alat-alat miliknya.
"Setelah ini kita bawa ke rumah sakit, untuk memastikan semuanya baik-baik saja," ujarnya.
Deval hanya tersenyum tipis, "Gue baik-baik saja."
"Pokoknya nanti harus periksa dulu, kalau nggak mau nanti gue gak mau lagi kolab sama lo ya?" ancam Via.
Deval hanya memberikan senyumannya, kali ini sebuah senyuman manis yang tak pernah dilihatnya sebelumnya. Di rambut dan pakaian yang basah, membuat rona Deval tampak berbeda. Seketika degup jantung Via kembali menjadi cepat dan dirasakannya hawa panas muncul dari dalam dirinya. Sial, kenapa semakin ke sini dia terlihat semakin tampan sih?
__ADS_1
Deval tiba-tiba menempelkan tangannya di pipi Via. Mengelus pipi yang semakin lama semakin merona. "Lo semakin lucu jika begini," bisik cowok itu tepat di telinga Via. Sontak dengan refleks Via mendorong Deval yang terlalu lekat dengan dirinya. Jantungnya berdegup kencang tak karuan.
"Ekhem.." kembali Mak Iroh mengingatkan pada dua remaja yang tengah kasmaran itu, bahwa masih ada orang di dekat mereka. Lalu mereka berdua memperhatikan apa yang akan disampaikan oleh Mak Iroh.
"Saya mengucapkan terima kasih buat Adik, yang telah menyelamatkan satu-satunya harta yang paling berharga bagi saya."
"Padahal tak lama sebelum kejadian itu, saya telah menyakitimu dan ingin menghabisi nyawamu.
"Seandai saja saya tidak melakukan hal buruk terhadap warga, mungkin semua ini tidak akan terjadi.
"Hanya saja, saya sebagai ibu merasa tidak rela saat mereka selalu saja menyakiti Udin yang tidak tahu apa-apa.
Via dan Deval yang mendengar penjelasan dari Mak Iroh yang tanpa diminta, hanya bisa terdiam. Mereka berdua saling bertatapan, memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya. Jika memang benar Mak Iroh menyerahkan diri, bagaimana dengan nasib Udin? Siapa yang akan menjaganya nanti?
"Apa benar Anda menyesali segala perbuatan yang telah dilakulan terhadap warga di sini?" tanya Via yang telah merasakan satu ketulusan di hati ibu dari Udin itu.
"Iya, saya sangat menyesali semuanya. Saya bersedia menyerahkan diri kepada pihak kepolisian."
__ADS_1
"Anda memang harus mempertanggungjawabkan semuanya. Baru saja Anda mencoba membakar kami berdua hidup-hidup, dan mencoba melukai Deval. Tidak hanya itu, Anda juga harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang telah terjadi terhadap warga sekitar sini."
Tampak Mak Iroh tertunduk sembari memeluk anaknnya yang hampir saja kehilangan nyawa akibat ulahnya sendiri. "Saya akan menyerahkan diri kepada pihak yang berwenang."
Deval melirik Via, mencoba membaca apa yang ada dalam pikiran Via. Melihat anak kecil yang tengah basah kuyup usai tenggelam tadi. Memeluk sang ibu dengan wajah penuh haru, tentunya dia merasa takut sang ibu pergi meninggalkannya sendiri.
Via membalas lirikan Deval dengan menengadahkan tangannya. Deval yang tidak paham, menengadahkan kedua tangannya.
"Kemarin kan gue memberikan satu paket obat-obatan, semua itu adalah obat yang bisa menyembuhkan penyakit kulit yang dibuat oleh Mak Iroh ini. Apa hari ini Lo membawa obat-obatan itu? Mana tas yang tadi lo bawa?"
*****
Akhirnya sampai juga... Capek plus lelah. Ada yang nungguin kelanjutan Detektif Muda nggak yaa?
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
__ADS_1
...terima kasih...