
"EKHEEEMMMM…" sang Ibu berdehem melihat seorang wanita terpana melihat putra sulungnya.
"Apa tante boleh tau gadis ini siapa?"
"Oh… eehh, gadis Tan?" mencoba memastikan bahwa orang yang dibicarakan itu memang dia.
"Iya, kamu siapa? Tante baru pertama lihat kamu."
"Oh, nama saya Rini, Tante. Saya temen satu rumah kosan denga Marni."
"Puufffttt…," tiba-tiba Yudhit menahan tawa.
Aduuh, Abang ganteng. Tawanya membuat dedek meleleh.
"Oh, kamu temen satu kos Marni. Bagaimana keadaannya saat ini?"
"Dokter tadi berpesan kepada kami, supaya orang tua Marni, eh, maksud saya Via, untuk segera menemuinya di ruangan Beliau."
"Oh begitu, kalau begitu saya ke sana dulu sebentar."
"Yudhit, kamu di sini dulu. Mami mau mencari dokter dulu. Sekarang kamu yang temani dia. Kasihan yang lain udah capek jagain Via."
Yudhit hanya mengacungkan jempol, mendekat ke Irin, Stevan, dan satu makhluk dengan mata yang tak lepas mengikuti langkahnya.
"Ada yang bisa menjelaskan padaku apa yang terjadi pada Via?"
"Halooo Ganteeeng…" tiba-tiba Rini sudah menempel manja di dekatnya
"Ini siapa sih?" ucapnya dengan ketus.
"Kan tadi sudah aku bilang Bang, aku teman kosnya Marni."
"Tangannya boleh dikondisikan?" Yudhit masih nada ketus.
"Waduuh, Babang galak bener. Aku jadi tersepona…"
"Terpesona Kak!" ralat Irin.
"Sama aja," selanya.
Stevan terkekeh sendiri seolah flashback akan dirinya yang suka meralat omongan Via.
"Aku kurang tahu Kak, tapi mungkin Aa Stevan lebih tau kejadian sebenarnya," jelas Irin melirik Stevan.
"Steve!" Yudhit hanya memberi kode agar Stevan mengikutinya.
Stevan mengangguk mengikuti Yudhit. Rini melihat punggung lebar kedua pria tampan itu.
"Akkhh, kemana aja gue selama ini? Siapa orang-orang yang baru datang itu?"
"Itu ibu dan kakaknya Marni."
Rini membesarkan matanya karena terkejut, "Benar kah?" ucapnya tak percaya.
"Iya."
"Terus kemana aja mereka selama ini?"
"Mereka di sebuah tempat yang tak ada di negeri ini."
__ADS_1
"Aaahk, bisa nggak sih bicara lebih lugas? Pakai idiom-idiom tak jelas."
"Hehehe, itu rahasia keluarga mereka Kak. Bukan kewenanganku untuk mengatakannya. Kecuali mereka sendiri yang menyampaikannya."
"Huh, rahasia-rahasiaan segala."
Irin lebih memilih mendekat ke tempat Via tengah tertidur. "Aaahh, Vi…, kenapa lo begini sih? Lo harus kuat kayak biasa dong."
"Ngajak ngomong orang tidur, tiada guna." sela Rini.
"Habis dari kemarin dia gak bisa diajak ngomong. Dia terus menjauh, lalu mengunci diri."
"Apa terjadi masalah sama cowok imut kemarin?"
"Cowok imut?"
"Iya, ada cowok imut nunggu dia di depan kosan. Lalu mereka pergi berdua, kayak pacaran, tapi maskeran."
Oooh, jadi Kak Rini sempat bertemu mereka.
"Kenapa dengan mereka? Marni putus dengan cowoknya yang kalem itu?" Irin hanya menggeleng. "Lalu?"
"Cowok itu pergi Kak," jawab Irin dengan sendu.
"Pergi? Meninggalkan Marni? Waduuuhh, nggak nyangka aja anak kalem gitu bisa begitu jahat sama Marni. Padahal kelihatannya anak baik," Rini mengepalkan tinjunya menjadi marah tak jelas.
"Ssssttt..." Irin menutup telunjuknya pada bibir. "Tidak boleh ngomong begitu...!!!"
"Emang kenapa gitu? Kayak dia yang udah metong aja."
"Ssssttttt...!!!" Irin membesarkan matanya.
"Dia itu udah pergi untuk selamanya Kak!!!" bisik Irin membesarkan matanya.
Rini sangat terkejut dan seketika otot-ototnya yang tegang gara-gara marah tidak jelas tadi, langsung mengendor. "Meninggal?" tanyanya memastikan. Irin mengangguk
"Kok bisa? Kapan kejadiannya? Padahal baru lihatnya kemarin lhoo..."
"Itu kejadiannya setelah Via disangka maling sama anak-anak kost. Kejadian persisnya aku kurang tahu. Tapi tak lama setelah itu Deval meninggal."
Rini menunjukkan wajah menyesal, telah menduga yang buruk. "Maaf kan gue cowok imut. Semoga lo tenang di sana, diterima di sisi-Nya," doanya lirih.
"Amin," sahut Irin menangkupkan kedua tangan di wajahnya.
Cukup lama Irin dan Rini mengawang dalam pikiran masing-masing, tiba-tiba dikejutkan ibu dari Via mendekat dengan tergopoh dengan wajah basah penuh air mata.
"Maaf kan kami Sayang. Kami terlalu keras terhadapmu di usia yang masih sangat muda. Ayo kita kembali Nak..." sang Ibu membungkuk merangkul anaknya yang masih terlelap.
"Kembali kemana Tante? Via mau dibawa kemana Tante?" ucap Irin ikut sesak mendengarnya.
"Tante ingin membawanya kembali bersama kami. Cukuplah waktu tiga tahun itu. Tante sangat menyesali keputusan untuk berpisah dengannya."
"Lalu aku ditinggal begitu saja di sini Tan?" lirih Irin, matanya mulai berkaca-kaca.
"Kalian masih bisa bertemu setiap waktu kok. Tante hanya ingin mengganti waktu kami yang hilang."
"Tante sangat menyesali keputusan bodoh ini. Tapi tante bersyukur juga, dia sudah banyak berubah."
"Sekarang Via sudah jadi anak baik Tante, biarkan dia di sini bersama Irin, Tante. Irin sudah anggap dia sebagai saudara sendiri. Karena Irin tidak memiliki saudara."
__ADS_1
Ibu Via memeluk Irin. Irin juga tak ada bedanya dengan Via baginya. Irin banyak membantu Via selama ini. "Terima kasih ya Rin, kamu sudah selalu berada di sisi Via."
"Mungkin kali ini Via tante bawa dulu untuk penyembuhannya. Kami akan sering mengundangmu ke tempat kami kok Sayang." Irin mengangguk berurai air mata di dalam peluka Ibu dari Via.
"Tante, Marni..., eeh Via mau dibawa kemana?" tiba-tiba Rini menyela karena semakin bingung dan bertanya-tanya di dalam hatinya.
Apakah gerangan yang terjadi kepada gadis cantik yang berpura-pura jelek itu?
"Dia mau tante bawa lagi ya, ke Singapura."
"Jadi keluarga Via semuanya ada di Singapura?" tanya Rini masih menyidik.
"Iya, kami semua di Singapura. Via kami titip di sini berharap bisa menjadi lebih baik lagi. Ternyata keputusan kami itu salah."
"Enggak salah kok Tante, karena itu semua Irin bisa mengenal Via kan?" sela Irin.
"Waaahh, keren sekali keluarga Via Marni ini," mata Rini terlihat berbinar. "Apalagi kakaknya keren banget. Cocok sekali buat aku ya Tan?" kali ini Rini menempel ke ibu dari Via itu.
"Maaf ya, kalau nggak salah nama kamu Rini kan? Yudhit itu sebentar lagi akan menikah. Mungkin ada yang lain, yang lebih tepat untukmu."
"Yaaah, udah mau nikah aja ya Tan?"
"Iya, nanti kalau acaranya sudah dtentukan, orang-orang yang dekat dengan Via akan kami undang."
"Yaaahh, aku maunya namaku yang tertulis dalam undangan itu tante," dia membulatkan mulutnya penuh kekecewaan.
"Iiiihh, Kakak ini? Nggak tahan melihat cowok cakep dikit ya?" sela Irin menyindir.
"Iya, mata gue itu udah otomatis aja menangkap makhluk-makhluk ganteng yang maco, bodynya sixpack, wuuiihh... kejang-kejang duluan gue membayangkannya."
Mendengar itu ibu Via hanya merasa aneh dan heran. Untung saja Yudhit sudah diikat gadis baik-baik. Kalau dapat yang model Rini ini, bakalan pusing ibu mertuanya.
"Kejang-kejang apanya Kak?" sela Irin.
"Aaaah, lo masih bocah. Ini pembicaraan dua puluh satu plus. Yang bocah ngacir sanah!"
***
Di bandara, Irin berurai air mata memeluk Via yang masih belum mau berinteraksi dengan siapa pun. "Lo masih mau berteman dengan gue kan?" Via hanya melirik, namun masih bungkam.
"Jangan begini terus...! Lo itu sahabat gue yang hebat! Jika lo begini terus, gue bisa marah beneran sama lo!"
Kali ini Via menatap dalam netra Irin, "Lo baik-baik ya? Lebih baik lo pulang ke Bandung, berkumpul lagi bersama Ayah dan Bunda. Mungkin untuk saat ini, hal yang terbaik adalah pergi menjauh. Jika gue merasa semua suah baik-baik saja, gue sendiri yang akan mencari lo."
Stevan hanya bisa membisu, tidak bisa menahan gejolak melihat gadis yang dicintainya pergi menjauh dari semuanya, termasuk darinya.
Mungkin akan semakin sulit bagiku untuk mendapatkanmu.
Aaah, kenapa takdir begitu jahat padaku? Takdir itu kamu Thor! Kenapa tidak kamu jodohkan aku dengan Via, Thor?!
Othor: Kasih tau ngga ya...
Stevan: Jahat kali Kau Thor!!!
Othor: Lhoh? kenapa jadi drama begini Ferguso?
**Sesi 1 end, insya Allah mulai besok kita lanjut ke sesi 2. Dimana semua pemain di sesi 1 sudah menjadi makhluk-makhluk 21+
🤣🤣🤣🤣**
__ADS_1