
Via menarik kasar Reva yang terlihat telah pucat pasi. Reva tampak cukup ketakutan menghadapi sikap Via. Dia sudah bisa mengira apa yang akan terjadi sebentar lagi.
"Maaf, Bu ... maaf ... saya tak akan mengulanginya lagi."
Via menaikan alis mata dan tersenyum tipis. "Apa kamu tahu kesalahanmu?"
"Maaf, Bu ... Saya terlalu lancang. Kemarin saya kurang informasi mengenai keberadaan Anda ..."
Via mengelilingi Reva. "Jadi kalau kurang tahu boleh nyebarin rumor begitu saja? Kenapa kamu begitu yakin akan menikah dengan suami saya? Apakah sedekat itu hubungan kalian?"
Reva melambaikan kedua tangannya dengan wajah ketakutan. "Bu-bukan begitu, Bu. Bahkan Pak Jimmy pun jarang di rumah. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit."
Via melihat kedua pengasuh dengan usia yang lebih muda darinya itu bergantian. Tanpa mengatakan apa-apa, Via kembali duduk di bangku taman memperhatikan kinerja dua pengasuh anaknya ini.
Kita lihat aja bagaimana kelanjutannya. Mulai hari ini harus aku pantau dulu.
*
*
*
Jimmy baru saja menangani pasiennya yang datang dalam keadaan jantung yang bermasalah. Saat ini kondisi pasiennya telah tenang dan sedang tertidur. Setelah itu, Jimmy mengecek kondisi pasien yang lain. Setelah cukup sepi, dia kembali ke ruang yang dijadikan markas.
Semua anggota di ruangan tersebut tampak sedang berkutat dengan laptop yang ada di tangannya masing-masing. Mereka sangat fokus, sehingga tidak menyadari kehadiran Jimmy.
Romi terkejut saat menyadari Jimmy telah berada di sampingnya. "Eh, Pa? Bagaimana pasiennya? Udah di sini aja?"
"Pasien-pasien sudan dikendalikan untuk sementara waktu. Nah, bagaimana dengan pekerjaanmu?"
Romi terus berkutat dengan benda elektronik yang ada di tangannya. Dia sedang mencoba membuka kunci folder yang dirahasiakan pihak lawan. Begitu juga dengan yang lain. Ini akan memperbesar peluang meretas kunci pada folder tersebut.
"Serahkan ini kepada kami saja. Papa sebagai dokter, cukup bertanggung jawab dalam kesehatan pasien. Nanti akan saya kabarkan kembali." ucap Romi menatap Jimmy dengan serius.
"Ta-tapi ...."
Marko mendorong Jimmy keluar dari ruangan tersebut dan langsung mengunci pintu. Jimmy mendorong mencoba masuk, tetapi tidak bisa. Dia sedikit meneleng kepala heran.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Jimmy melangkah meninggalkan ruangan, dia berhenti sejenak menatap pintu yang dikunci itu kembali. Dia menggelengkan kepala dan melanjutkan perjalanan menuju ruang kerja.
Jimmy belum mendapat laporan pasien baru untuk sementara waktu. Dia memilih mengeluarkan ponsel mencari nomor rumah untuk menelepon Via.
Sepertinya aku harus membelikan dia ponsel baru.
__ADS_1
Jimmy mencoba melakukan panggilan, hanya menunggu beberapa waktu, panggilan tersebut dijawab oleh seseorang seberang.
"Haloo," ucap yang di seberang. Suara tersebut merupakan jawaban dari asisten rumah tangga mereka.
"Bi, apa istri saya ada di sana?"
"Oohh ... eeehh ...."
Jawaban tidak jelas itu membuat Jimmy menjadi curiga. "Apa ada sesuatu yang terjadi di sana. Bi?"
Suara asisten tersebut terdengar dalam kebingungan. Dia sedang melihat sang Nyonya rumah tengah memaksa salah cewek yang mengasuh anak mereka untuk melakukan suatu hal. Via tampak sangat marah, hingga ada ancaman pemecatan.
"A-anu Tuan ... Nyo-nyona ..."
Jimmy mengerutkan keningnya. Dia merasa ada sesuatu yang sedang terjadi di rumah tersebu. "Cepat katakan!" ucap Jimmy mengulangi.
"Nyonya marah-marah pada Reva."
"Apa yang terjadi?" desaknya lagi.
"Nyonya lagi marah besar kepadanya, karena mendapat informasi yang aku sendiri kurang tahu tentang apa, Tuan."
Jimmy menggaruk pelipisnya. Dia sudah tahu berapa tingkat tempramen sang istri. Akan tetapi, dia tidak akn marah jika tidak memiliki.
Jimmy menutup panggilan memilih untuk tidak ikut campur. Jimmy kembali melihat foto yang ada di atas meja. Dia sengaja mencetak foto gadis kucel berkaca mata, tengah memandang orang bermain basket. Baginya itu kenangan yang tak akan pernah bisa dilupakannya. Mendapat foto gadis yang dia suka untuk pertama kali hasil potretan Gilang.
Jimmy mengambil stetoskop, menggangtungkan di lehernya, lalu keluar mengecek keadaan pasien yang lain.
*
*
*
Saat malam datang, Stevan menghubungi Via setelah mendapat kabar dari Mami Via yang kebetulan berada di Jepang. Kabar bahwa Via telah bangun dari koma. Stevan tidak bisa menghubungi kontak lama milik Via. Dia memilih menghubungi Via lewat Jimmy, dan mencoba mengontak Jimmy.
Jimmy menjawab panggilan tersebut, sembari melihat kerepotan sang istri menatar segala yang bisa ditatarnya. Jimmy tersenyum melihat kedua anak mereka sibuk mengikuti setiap langkah Via.
"Hallooo, Pak Dokter," ucap Stevan di seberang panggilan, saat Jimmy menjawab tetapi hanya diam saja.
"Ya, Bang. Apa kabar?"
Stevan terkekeh di seberang panggilan itu. Dia merasa puas saat menyadari Jimmy masih cemburu kepadanya. "Saya mendapat kabar bahwa adikku Via sudah sadar dan kembali seperti biasanya."
Jimmy kembali melihat Via yang diikuti kemana-mana oleh kedua bocah dua stengah tahun itu. "Ya, benar sekali," ucap Jimmy dingin.
__ADS_1
"Apa saya boleh berbicara dengannya?" tanya Stevan dengan nada yang cukup membuat Jimmy tertekan.
Jimmy kembali melihat istrinya. Kali ini Via mendekat dengan wajah heran. "Kenapa, Kak? Kok wajahnya gitu amat memantau tiap langkahku?"
Jimmy baru ingat bahwa insting istrinya itu cukup tinggi. Sementara yang di seberang mendengar suara Via yang cukup dekat berkoar-koar agar terdengar oleh orang yang diharapkannya.
"Via ... Viaaaa ... Viiiaaaaaaaaaaa!"
Jimmy melepas benda itu dari telingannya. Kicauan Stevan membuat telinganya terasa sakit. Via seperti mendengar suara yang sangat dikenal, langsung merebut ponsel tersebut.
"Aa'?" Via bergerak menjauh dari Jimmy, duduk bergabung dengan anak-anaknya. Via menekan lambang loadspeaker.
"Ayo sapa Ojisan dulu!" Via mengajak anak-anaknya menyapa Stevan dengan sapaan bahasa Jepang.
"Jangan! Panggi Abang aja!" ucap di seberang setengah terkekeh.
"Iiih, kayak yang lupa umur?" cibir Via. "Aa' masih tak berubah ya? Meski udah semakin tua?" candanya.
"Stttt ... jangan bilang seperti itu. Aku baru 35 tahun. Berada di usia dengan kemapanan tingkat tinggi."
"Iiihh, udah tua ngaku aja. Uta, Una ... Ayooo sapa Ojisan! Halooo Ojisaan ...." ucap Via mendikte anak-anaknya.
Sementara Jimmy terlihat dingin dalam diamnya. Dia merasa dirinya seketika dilupakan oleh sang istri. Dia tidak menyukai keakraban Via dan Stevan. Hal ini membuat hatinya panas, memilih melangkahkan kaki menuju kamar. Jimmy mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tas nya. Sebuah ponsel baru yang sengaja dibelikan untuk sang istri saat pulang dari rumah sakit tadi.
Diberikan nggak ya? Bagaimana kalau setelah diberikan, dia makin sering menghubungi Via?
Akhirnya ponsel itu kembali dimasukan ke dalam tas kerjanya. Jimmy memilih merebahkan diri di atas kasur, menopangkan tangan di dahi memikirkan berbagai hal.
Sementara Via masih asik berbicara dengan Stevan. Stevan tidak mau dipanggil dengan Ojisan. Dia lebih suka dipanggil dengan 'Om' karena menurutnya sapaan Ojisan itu tidak cocok di telinganya.
"Sedangkan anakku saja memanggilku dengan Papa."
"Namanya siapa Aa? Di mana dia?" Via bergantian melihat kedua anaknya yang membulatkan mata memperhatikannya berbicara dengan orang yang tidak mereka kenal.
"Dia ikut ibunya ...."
"Ikut ibunya syuting?" tanya Via kembali.
"Bukan, dia ikut tinggal dengan ibunya."
Mulut Via terbuka dan mata membesar. Dia mencoba mengartikan maksud ucapan Stevan barusan, tetapi takut salah. "Maksudnya?"
"Kami berpisah ...."
Via terdiam mendengar pernyataan Stevan. Jimmy pun ikut mendengar dengan wajah yang tak dapat diartikan.
__ADS_1