DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
S2-36 Sah!


__ADS_3

Jimmy mengulum senyum tipisnya. "Menangis lah, ini adalah cobaan yang bisa kita lalui. Pasti akan ada pelangi setelah hujan." Mencium pucuk kepala Via, dan kembali membelai rambut gadis itu. Sementara matanya mengawang menatap ambulans yang membawa jasad ayahnya.


Merangkul pundak Via mengajaknya meninggalkan tempat itu. Tampak Oliver mengembangkan senyum sinisnya kepada mereka berdua. Tangannya diborgol, kaki dibelenggu. Beberapa pasukan mengiringi langkahnya menuju kendaraan tim pasukan elite.


"Ternyata ada kisah istimewa antara kalian berdua. Kita lihat nanti, apakah kisah kalian akan berjalan dengan mulus!" Dia menaiki kendaraan itu. Masih dengan senyuman sinis. "Aku tak akan mudah untuk kalian tangkap, cam kam itu!" ucapnya melirik semua anggota pasukan elite.


Jimmy makin mengeratkan rangkulannya. Aku tak akan membiarkan kau terus berbuat onar!



Tosan dimakamkan di Indonesia. Mami memutuskan untuk kembali menjadi WNI. "Untuk apa lagi Mami di sana, Tosan sudah tidak ada. Lebih baik Mami pulang tinggal bersama kamu." Isak sang ibu menangis berdua bersama Via.



"Lalu Markas Utama BOS siapa yang mengurusnya?" tanya Yudhit yang menjadi semakin pusing karena hal ini. Permasalahan BOS dalam negeri saja tidak habis-habis. Ditambah lagi Markas Utama di Singapura yang kehilangan sosok pemimpinnya.



"Via, kamu saja yang ambil alih!" perintah Yudhit.



"Mesti ya membahas masalah itu di saat seperti ini? Kita ini masih berduka Kak?" sungut Via.



"Ya harus! Kalau tidak Organisasi BOS mancanegara akan menjadi kacau. Ini sudah satu minggu Tosan pergi lhoo!" ucap Yudhit dengan sangat tegas.



"Jadi harus Singapur lagi?" tanya Via dengan muka serius.



"Ya bagaimana lagi. Markas Utama kita ada di sana."



"Tapi..."



"Bagaimana kita pindahkan ke sini?" usul sang ibu.



"Tapi itu tidak mudah Mi? Peralatan lengkap kita ada di sana semua. Masa diboyong ke sini semua?"



"Kita jual saja, lalu beli baru d sini! Kita jual saja semuanya. Pesan alat-alat yang baru untuk di sini." jelas Mami.



"Semua?" Yudhit mengernyit.



"Iya, semua. Termasuk gedung Markas Utama. Kita semua berkumpul di sini saja. Mami mau bermain dengan cucu-cucu di sini. Untuk mengurangi rasa sedih kehilanga Tosan. Di sini Mami juga bisa datang ke makam Tosan kalian setiap saat."



"Tidak hanya itu, Via juga akan segera menikah. Lebih baik kita berkumpul di sini semua." tambah sang ibu.


__ADS_1


"Jadi kita harus minta izin *big boss* lagi untuk mengurus izin pembangungan markas utama di negara ini?" tanya Yudhit dengan alis tertaut.



"Iya, harus itu!"



"Siapa yang akan bertemu dengan *big* *boss*?" Yudhit sudah was-was.



"Kakak lah? Siapa lagi? Kakak yang sewot mulu sejak tadi kan?" sungut Via.



"Aku???"



Via duduk termenung di sebuah bangku panjang di taman rumah sakit. Mengenang sedikit sisa-sisa kenangannya yang tidak terlalu banyak bersama sang ayah.


......Cup......


Tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di pipi Via. Seorang pria menggunakan jas putih telah duduk di sampingnya. Merangkul gadis itu dengan mesra.


"Sudah lama, Sayang?"


Via menggeleng, lalu perhatiannya beralih kepada Dino yang tengah merapikan tanaman bongsai di rumah sakit itu. Dino sudah banyak berubah. Seandainya saja dari dulu dia begitu. batin Via.


"Kenapa lemes begitu?" Jimmy membelai rambut seseorang yang akan segera menjadi istrinya ini.


"Huuufftt... akhirnya disetujui juga. Setelah tiga bulan proses izin mendirikan Markas Utama di sini." ucapnya dengan lesu.


"Hmmm, huufftt..." Dia tidak bisa mengatakan ada sebuah rindu kepada mendiang ayahnya.


"Kenapa masih menghela nafas?" Jimmy mengacak rambutnya.


"Aku tidak siap jika disuruh menjadi kepala Markas Utama." ucapnya asal.


"Waahh, bukannya itu hebat?"


"Sepertinya aku tidak sanggup mengemban itu semua." Via masuk dalam rangkulan Jimmy semakin dalam. Bersandar pada tubuh itu.


"Kenapa?" Melirik gadis yang menyandarkan kepala kepadanya.


"Aku tak sanggup harus bolak-balik keluar negeri menengok kantor cabang organisasi BOS yang ada di mancanegara. Sepertinya aku lebih suka menjadi ibu rumah tangga saja. Mengurus suami dan anak-anakku."


"Duuh, kok aku jadi seneng mendengarnya ya?" Jimmy menautkan kedua tangannya memeluk Via dari belakang. "Apa pun keputusanmu, aku akan selalu mendukung."


Wajah Via seketika berubah menjadi cerah. Menatap Jimmy menggelantungkan kedua tangannya pada leher pria itu. "Benar kah Kakak akan mendukungku?"


Jimmy mengangguk, "Tentu."


"Kalau begitu Kakak saja yang memimpin Organisasi BOS itu?" ucapnya dengan menatap wajah Jimmy lekat-lekat.


"Lhoh? Kenapa aku? Kakakmu kan ada?" Jimmy mengernyitkan dahinya.


"Kakak sudah angkat tangan dengan organisasi yang lebih luas. Katanya saat dulu masih menjadi cabang saja, kepalanya sudah mengalami kebotakan. Ditambah lagi dia bilang tidak berpengalaman dalam agen inteligen sekelas dunia. Terpaksa aku menerima."


"Namun, saat aku mengingat kita akan bekeluarga, aku merasa semua akan sangat sulit. Apalagi jika kita sudah memiliki anak. Semua pasti akan lebih berat lagi. Aku tak ingin nasib anak-anakku sama sepertiku dulu. Aku ingin anak-anak kita tidak kekurangan kasih sayang sedikitpun hingga mereka dewasa nanti." Via kembali menyandarkan dirinya pada Jimmy.


"Wooiiyy... Kalian jangan mesra-mesraan dulu di sini! Nikah dulu wooiiiyyy!!!" sorak Dino.


Tampak juga Jason tengah menutup matanya. Ternyata, saat mereka perhatikan kembali tampak --anak-anak dapat gede mereka-- tengah mengintip di segala sisi.

__ADS_1


"Sepertinya, kita salah lokasi." celetuk Jimmy.


Via mengangguk dan tertawa. "Seru juga punya banyak anak." ucap Via tertawa menyadari seluruh penghuni rumah sakit mengintip mereka.


"Apalagi anak kita sendiri." Jimmy tertawa membayangkan sesuatu. "Kamu sanggup ngga?"


"Apanya?"


"Punya banyak anak?"


"Sepertinya itu menyenangkan. Asal Kakak mau menjadi Kepala Markas Utama Organisasi BOS."


"Lalu rumah sakit ini bagaimana? Anak-anak yang bekerja di sini juga. Sepertinya itu sebuah perkara yang cukup sulit."


"Huuufftt... kalau begitu cukup satu saja, atau tidak usah sama sekali. Aku tak mau meninggalkan anak-anakku di saat harus ke sana ke mari." Mendorong Jimmy dan duduk menjauh.


"Diih, gitu aja ngambek." Kembali mendekati Via, menggeser tubuhnya kembali menempel pada perempuannya itu. Langsung merangkul dan membisikkan sesuatu di telinga Via. "Kalau aku mau, mau bikin berapa anak? Dua puluh dua sanggup?" Mata Via terbelalak kembali mendorong Jimmy hingga terjengkang jatuh dari bangku.


💞


💞


💞


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Jimmy Putra Buana bin Buana Putra dengan adik saya yang bernama Lutvia Megita binti Chizzuru Sato dengan maskawinnya berupa Gedung WH Medical Centre dibayar Tunaaai..."


"Saya terima nikah dan kawinnya Lutvia Megita binti Chizzuru Sato dengam maskawinnya tersebut dibayar tunai!" ucapnya satu lafaz dengan lancar.


"Sah saudara-saudara?" tanya penghulu.


"Sah!" jawab saksi dan orang-orang yang mengikuti proses.


Lalu mereka yang mengikuti serangkaian acara, berdoa dengan khusyuk. Tak terkecuali dua pengantin yang tampak anggun dan tampan duduk berdampingan. Menyerahkan serangkaian surat-menyurat kepemilikan rumah sakit. Memasangkan cincin pernikahan di antara jemari kedua mempelai yang akhirnya merasakan kebahagiaan yang hakiki.


Semua anggota White House berebutan menyalami dan berpoto dengan mereka. Irin tengah diapit oleh dua pria, Romi dan Devan. Dengan siapa akhirnya Irin berlabuh?


Akhirnya setelah sekian lama, Aa Stevan muncul bersama wanita cantik yang tengah hamil berjalan mendekat untuk memberi selamat kepada dua mempelai.


"Aa' akhirnya ke sini juga..." sambut Via dengan wajah bahagia.


"Iya dong, masa mantan kekasih hati nikah, Aa nggak hadir?" candanya.


"Ekheeemm...!" Jimmy berdehem keberatan.


"Dia bercanda kok Kak." Via mendekap lengan Jimmy.


"Diih, mau pamer kemesraan nih?" canda Stevan.


"Kalau pamer kayaknya kami udah kalah telak darimu Bang. Itu yang di dalam sebentar lagi udah mau launching." ucap Jimmy.


"Iya, kira-kira dua bulan lagi." jelas Stevan.


"Makan dulu Aa..."


"Iya tenang saja! Aku akan menghabiskan semua menu yang ada di sini. Sudah lama sekali aku tidak makan makanan ini."


"Aku sudah merasakannya. Aku tahu bagaimana rasanya," ucap Via tertawa.


Jimmy merangkul pinggang Via mendekapnya semakin erat. Stevan mengangkat alisnya sebelah melihat keanehan Jimmy.


...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...


...terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2