DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
S-21 Kebiasaan baru


__ADS_3

Maaf telat UP ya... Author lagi down aja ni. Orang pada gajian, Otor yang ini hanya bisa menyimpan air mata jatuh ke dalam. Udah capek rajin Up, tidak dikasih reward sepersen pun oleh Entun 😭😢 Padahal selama Januari kemarin Otor Up lebih dari 80K kata. Janji Entun dikasi reward tiap Up lebih dari 60K sebulan. Nangis Otor tu, Entun hanya sayang sama yang pemesh aja 😢😢 Udah reader sayangnya sama yang pemes juga aja. Udah, itu aja. Jangan lupa bantu otor buat like dan komentnya ya. Besok hari Senin ya? Bila ada yang bersedia, boleh siapkan vote untuk cerita ini ya. Biar muncul lagi semangat Otor.




"Mau main keroyokan ni? Sama orang yang udah tua?" sindir wanita tua itu.



Anggota yang sedari tadi menjadi penonton segera berlari mengejar Via bersiap dengan serangan mereka. Via segera menarik kedu tali ransel yang ada di pundak ketua bos cilik. Lalu Via memutar tali tersebut sehingga sang ketua itu berputar beberapa kali.



Kepalanya mulai pusing dan didorong ke arah kawan-kawannya yang mulai menyerang. Bagai permainan bowlling, mereka ikut rebah bersama sang ketua.



"Cuma segitu aja cah tengil?" ucap Via melipat kedua tangannya di dada.



Anak-anak tadi kembali bangkit, si ketua masih oleng karena pusing. Beberapa mencoba menangkap Via dengan bersamaan. Via yang menyadari bahwa lawan cuma preman sekolah yang tidak bisa apa-apa, memilih capuera sebagai teknik membuat mereka tumbang berjamaah.



Menumpukan satu kakinya pada tanah, lalu berputar menyandung kaki mereka secar bersamaan. Anak-anak itu rebah, dan saling menimpa. Via menarik kerah belakang pakaian anak-anak itu, lalu menyusunnya duduk berjongkok satu per satu. Mereka semua ada enam orang.



"Kedua tangan diangkat!" hardik wanita yang mereka bilang tua. Mendengar suara yang menggelegar, membuat mereka mereka terhentak segera mengangkat kedua tangannya.



"Kalian sekolah dimana?"



"SMA Bunda Kak!" ucap sang ketua tercekat.



Via langsung merasa de javu mendengar nama sekolah itu disebutkan. "Kalian tahu, saya pernah sekolah di sana? Namun tidak menemukan preman abal-abal seperti kalian."



"Kalian diajarkan tata krama nggak sih sama orang tua?"



Anak-anak itu tertunduk, "Ada Kak."



"Lalu kenapa kalian bisa sekurang ajar ini? Beraninya main keroyokan. Seenaknya bilang saya tua? Ini *skin care* saya ini mahal lho?" Via mendekatkan wajahnya dan berjongkok di hadapan mereka.



"Kamu!" Via menjentik jidat sang ketua. "Lihat saya! Apa benar saya terlihat tua?"



Sang ketua mengangkat wajahnya yang tadi tertunduk dengan ragu. Dilihatnya wajah yang tepat ada di hadapannya. Alangkah terkejutnya dia melihat mata Via yang sengaja dijulingkannya di tengah. Membuat si ketua terduduk terhenyak.



Via menyunggingkan senyum *smirk*-nya. "Huh, cetek gitu malah berani gangguin orang yang lebih tua?" Via bangkit, berjalan mengambil topi miliknya yang sempat dirampas oleh salah satu dari mereka.

__ADS_1



"Kalian tau? Ini topi yang susah payah saya dapatkan? Enak aja main rampas begitu saja?" bolak balik di hadapan mereka sembari nemutar topi itu dengan jarinya.



"Saya tak peduli kalian mau apa. Mau merokok kek, mau bolos sekolah kek, mau jadi preman kek, itu bukan urusan saya."



"Hanya saja jika ada yang berani mengganggu saya, jangan harap kalian akan selamat begitu saja."



"Kali ini akan saya maafkan karena berasal dari sekolah yang sama! Jika kalian berhasil jadi orang hebat, silakan cari saya kembali! Saya akan meladeni kalian satu per satu saat itu!" lalu pergi meninggalkan mereka. Anak-anak itu saling sikut-sikutan. Tanpa dia sadar, ada yang terkekeh memperhatikan aksinya sedari tadi.



"Marni, imut sekali," desisnya kembali mengikuti dengan jarak aman melirik anak-anak itu yang saling toyor kepala.



\*\*\*


**Rumania**



Di sebuah bandara, seorang pria yang bertubuh tegap berjalan menyusuri koridor. Dia mengenakan pakaian serba hitam. Tingginya melebihi 185 sentimeter. Di ujung lengan kemeja hitam di dalam jas-nya tampak sedikit tato, yang mungkin mengisi seluruh tangan atau tubuhnya. Melihat benda dari kertas karton yang bertuliskan namanya, lalu mendekati orang itu.



"Selamat datang Tuan Oliver, kami sudah melakukan tugas dengan baik. Tuan bisa melihat mereka secara langsung," mempersilakan Oliver menuju ke kendaraan yang telah menantinya.




"Bagaimana Tuan? Apa ada yang Anda sukai?" tanya pria yang berada di belakangnya.



"Tidak ada yang mirip," ujarnya.



Tiba-tiba orang kepercayaan Oliver berlari tergopoh. "Tuan," dia bersiap akan memberikan sebuah laporan.



"Ada apa?"



"Saya baru mendapat kabar bahwa gadis itu selama ini berada di USA."



"USA?" menggosok dagunya yang memiliki rambut tipis.



"Selama ini dia bekerja sebagai agen inteligen pada kepolisian FBI di sana."



Senyum smirk melayang pada bibir Oliver, "Nona Via, kau sungguh sangat menarik," desisnya.

__ADS_1


"Sekarang dia ada dimana?"



"Kami mendapatkan informasi dia tengah mengemban misi penumpasan game online yang dibuat mafia White House. Namun, tiba-tiba dia mengundurkan diri."



"Mengundurkan diri? Berarti dia kembali ke Sato?"



"Saya belum mendapatkan informasi selanjutnya, Tuan. Saya berusaha bekerja diam-diam, agar Tuan Bruno tidak dapat mendeteksi apa yang kita lakukan di belakangnya."



"Bagus, kalau begitu lanjutkan pekerjaanmu. Biar kan Bruno pusing sendiri memikirkan Organisasi BOS yang selalu mengincarnya. Kita cukup berusan dengan anaknya."



"Baik, Tuan!" lalu orang kepercayaanya meninggalkan tempat.



"Bagaimana dengan mereka, Tuan?"



Senyuman sinis menyelimuti bibir Oliver. "Aku akan mencoba mereka terlebih dahulu. Setelah itu kalian boleh lakukan apa pun yang kalian suka."



"Baik, Tuan!" lalu pria itu memberi kode kepada anak buahnya memilih satu yang dianggap paling cantik lalu ditarik. Gadis itu menjerit-jerit namun tertahan karena mulutnya dibekap lakban. Menangis ketakutan, namun apa daya dia tak berdaya. Menghadapi mafia-mafia berdarah dingin itu.



\*\*\*



**Indonesia**



Via sedang tiduran di atas kasurnya, tidak ada hal yang istimewa yang terjadi usai mengerjai anak sekolah tadi. Waktu menunjukkan pulul sembilan belas kurang dikit. Terdengar suara kunci pintunya dibuka dari luar. Via sedikit berlari mengejar siapa yang membuka pintu itu. Tak lain itu seorang pria dengan sebuah senyuman merekah di bibirnya.



"Waah, kamu mau menyambut kepulanganku ya?" satu tangannya disembunyikan di belakang.



Via penasaran kali ini Jimmy membawa apa, mencoba melihat ke belakang dan tetap disembunyikan oleh Jimmy. "Kakak bawa apa sih? Ayo... aku penasaran."



"Baik lah," dia menarik tangan dan setangkai mawar merah disodorkan kepada gadis itu.



Dengan wajah sumringah, Via terlihat bahagia mendapat bunga itu lalu diciumnya. Lalu dia sibuk mengambil gelas yang panjang, diisi air lalu bunga itu diletakkan di dalam gelas tersebut. Gelas disusun di sebelah gelas-gelas lain yang sudah berjejer bunga-bunga yang selama seminggu ini dibawakan Jimmy setiap dia pulang bekerja.



"Nah, bunganya udah dicium kan? Sekarang giliran orangnya," Jimmy menyodorkan pipinya kepada Via.


__ADS_1


...\*bersambung\*...


__ADS_2