
"Katakan pada kami, apa saja yang kamu ajarkan kepada Hyuta?"
"Haaah?" Yang ditanya pun merasa heran. "Maksudnya?"
Hyuta melompat memeluk kaki Jason. "Uncle ... uncle ... ayu maain."
Hyuna juga ingin turun dari gendongan Jimmy. Dia ingin rebutan memeluk kaki Jason dengan kembarannya. Via menjadi iri melihat kedua anaknya lebih sayang kepada Jason dibandingkan dengannya.
Jimmy melihat ekspresi wajah istrinya, seakan mengerti apa yang dirasakan oleh Via. Dia berjalan menuju Via, dan mengambil posisi di samping Romi. Jimmy tak rela Romi berada terlalu dekat dengan Via.
Romi memutar bola mata menyadari bahwa Jimmy sedang cemburu. Setelah itu dia pergi dengan bibir mencibir di belakang Jimmy. Jimmy merangkul Via yang terlihat sedih.
"Kamu jangan khawatir, ini hanya masalah waktu," ucap Jimmy.
Via menyandarkan kepalanya pada pundak Jimmy. "Aku berasa wow aja, bangun-bangun, anak yang dulunya aku kandung dengan bermacam kejadian, kini sudah besar begitu saja. Aku merasakan kehilangan banyak moment bersama mereka."
Jimmy membelai lembut kepala Via. "Tidak apa, sekarang kamu hanya tinggal menyambung tugas yang berikutnya. Asal kamu tahu saja, sebenarnya kamu hadir di saat yang tepat. Di mana, masa ini lah perjuangan berat dalam mengasuh mereka."
Jimmy melirik istrinya yang masih menatap panjang pada kedua buah hati mereka yang main kejar-kejaran bersama Jason. "Kamu mau mandi sendiri, apa mau aku bantu?"
"Apa aku bau?"
Jimmy terkekeh mendengar pertanyaan Via. Tiba-tiba dia merasa de javu pada masa pertama kali saat perkenalan Marni di depan kelas. Via mengerutkan kening melihat Jimmy tertawa begitu.
"Kenapa?" Via semakin mengendus tubuhnya.
"Apa kamu ingat saat pertama kali bertemu dulu? Pertanyaanmu tadi sama persis dengan yang waktu itu. Dulunya aku ingin sekali tertawa ngakak. Hanya saja aku mesti jaim, kan sebagai kakak kelas yang paling disegani."
Via pun mengingat masa itu. Dia pun ikut tertawa bernostalgia kembali pada ingatan masa SMA-nya. "Kalau begitu aku mandi dulu yah?"
Jimmy akan menemani sang istri, namun Gilang muncul menarik Jimmy karena ada kondisi pasien yang gawat darurat. Via masuk kamar mandi, menatapi dirinya yang telah banyak berubah.
"Kamu masih seperti Via yang dulu, ku kenal."
Tiba-tiba ada serangkaian kalimat itu yang dia ingat. Suara begitu jelas milik Deval. Dia berpikir keras suara tersebut berasal dari mana. Namun, tak ada jawaban yang dia dapat.
__ADS_1
Via segera membersihkan diri. Saat semua usai, dia baru ingat tidak memiliki pakaian ganti. Maka terpaksa memakai pakaian tadi sebelum mandi.
Dia kembali keluar kamar, memperhatikan dua batitanya bermain dengan asik ditemani Jason. Via tersenyum teringat akan janji Jason yang akan mengasuh anak-anaknya jika dia sedang sibuk.
Padahal aku sedang tidak sibuk sama sekali. Sekarang aku bingung harus ngapain.
"Gagu ... Gagu ...???"
Via langsung menoleh pada sumber suara. Seperti biasa itu adalah sapaan khusus milik Dino yang begitu sulit untuk diubahnya.
"Hey, Kang Kebun ..." ucap Via melirik sesuatu yang ada di tangan pria itu. Via melihat mata Dino tampak berkaca-kaca menatap ke arahnya.
"Aaaiiiyy, si nyebelin Dino nangis heeyy ..." ledek Via.
Dengan cepat Dino menghapus air mata itu. "Syukur lah, jika kamu benar-benar telah sembuh. Paling tidak, kami tidak akan melihat Papa bersedih lagi."
Dino melirik ke segala arah. Dia tampak sedang mencari sosok seseorang. Namun, tak terlihat juga. Dino menelengkan kepalanya memikirkan sesuatu.
"Kamu cari siapa sih?"
"Papa, mana? Seharusnya dia tidak membiarkan istrinya sendirian begini. Waktu kemarin aja nangis diam-diam saat kamu belum sadar juga. Giliran udah ada, dianya menghilang." Kepala Dino mencari ke segala arah.
"Oh, ya udah kalau begitu gue kerja kembali," ucap Dino permisi dan disambut anggukan kepala Via.
Via terus memikirkan bagaimana cara agar bisa dekat dengan kedua anaknya. Dia mulai bergerak mendekati bocah yang sedang bermain itu. Hyuta menyambut Via dengan hangat, mengajak ibunya ikut memainkan benda yang sedang mereka pegang. Sementara Hyuna langsung menjauh darinya dan mendekap Jason.
"Ayo Sayang, peluk Mama juga," lirih Via.
Jason tampak membisikan sesuatu kepada Hyuna. Tiba-tiba Hyuna bergerak mendekat pada Via, dan memeluk Via. Akhirnya, air mata Via pecah membalas pelukan Hyuna.
Hyuta berdiri di dekat Via, menghapus air mata mamanya. "Mama nyanan nanis ... olang besal tak bole nanis."
Via juga mendekap Hyuta dalam pelukannya. Tak beberapa lama, Hyuna minta lepas kembali. Lalu bergerak masuk pangkuan Jason yang sedang berjongkok.
"Kok sebentar aja, Sayang?" ucap Via kecewa.
__ADS_1
"Uta cama Mama. Mama ta bole nanis," ucap Hyuta lagi.
Via memeluk dan mencium Hyuta gemas. Lalu melihat Hyuna yang asik dalam pelukan Jason. "Jason, apa yang kamu bisikan kepada Una, tadi?"
Jason hanya tersenyum dan menggeleng. Via jadi merasa kecewa karena tidak mendapat jawaban. Padahal dia juga ingin mencoba jurus yang sama.
"Uncle econ biyang, kalo Una peluk Mama, nanti dibelikan escim," ucap Hyuta.
Jason mendengar bocoran dari Hyuta tertawa dan memberi aba-aba jari telunjuk di bibirnya. "Uta, kalo Uncle udah bisik-bisik kayak tadi, jangan dibocorin ya. Itu namanya rahasia," ucap Jason.
Hyuta mengangguk mantap. Entah beneran paham atau tidak. Via mengerutkan keningnya.
"Jadi, sebenarnya kamu memang tahu Uta ini istimewa?"
Jason tampak berpikir sejenak. "Aku kurang paham apa yang dimaksud dengan istimewa. Akan tetapi, Uta memang berbeda dari Una. Dia sudah bisa bicara sejak usia sembilan bulan lho? Sementara Una, sampai hari ini masih belum lancar. Aku mikirnya karena masing-masing anak berbeda aja sih."
Via mendudukan Hyuta dalam pangkuannya. "Kamu tahu tidak, bisikanmu kepada Hyuna tidak terdengar sama sekali olehku. Namun, Hyuta bisa mendengar apa yang kamu katakan kepada Hyuna tadi dengan jelas.
Jason menepuk jidat baru menyadarinya. "Oh, iya ya, Ma?"
"Uta, sekarang Mama udah wangi, belom?" Hyuta menggelengkan kepala.
"Lho? Mama udah mandi lho ..." Namun, Hyuta masih menggelengkan kepalanya.
Via baru ingat, pakaiannya belum diganti. "Kita pulang ke rumah hari ini juga ya? Kita tunggu Papa dulu," ucap Via, disambut anggukan kepala Hyuta.
Beberapa waktu mereka bermain, akhirnya Jimmy datang juga. Dia langsung memeluk Via karena sudah tidak bisa menahan rindu. Via melihat wajah Jimmy tampak sangat kuyu.
"Kakak pasti ngantuk banget ya? Sepertinya kita tunda dulu pulangnya."
Jimmy menggelengkan kepalanya. "Aku sudah minta izin untuk pulang dengan yang lain. Kita istirahat di rumah saja. Apa kamu tidak mengantuk sama sekali?"
...~~~...
Maaf ya kakak, terlambat up lagi ... Soalnya Author kemarin ngejar novel misi yang diberikan oleh Edithor. Dalam waktu 2 hari, harus menyelesaikan 10 bab. Seharusnya up kemarin, eehh .. malah disuruh publish. Jadi kemarin sibuk beresin novel yang baru.
__ADS_1
Ayuk kak ... mampir juga yaa ... Baru netas banget nii.. mohon suportnya juga ya ...