
Via dan keluarganya hendak meninggalkan rumah sakit menuju indekosnya. Namun, mereka dicegat oleh polisi yang tadi mendata kejadian kecelakaan yang menimpa Via. Betapa terkejutnya sang polisi mendapati yang sebenarnya membawa motor ugal-ugalan adalah detektif yang santer dibicarakan oleh rekan-rekan di kepolisian. Orang tua Via meminta maaf atas kelalaian yang dilakukannya hari ini. Berharap ke depannya kejadian ini tidak terulang lagi.
Mobil khusus membawa Via, telah dirombak warna dan nomor polisinya. Sebelumnya mobil mini buss itu bewarna hitam, dirombak menjadi warna silver. Namun fasilitas dan kenyamanan yang sengaja dibuat untuk Via bertugas masih sama persis. Dengan mobil itu lah Via dan keluarganya kembali ke kostan.
Via dan keluarganya hanya sekedar mengambil peralatan pribadi milik Via, untuk dibawa ke hotel. Tosan memesan hotel, sementara mereka berada di sini. Berencana kembali lagi esok pagi, sesuai dengan jadwal Via sekolah.
Keluarga Via menuju hotel, yang telah disewa dengan kelas presidential suite, yang bisa menampung mereka semua. Hari ini adalah hari nostalgia bagi mereka, setelah sekian lama tidak berjumpa.
"Yakin besok udah mau masuk ke sekolah?" tanya Mami yang masih mengkhawatirkan kondisi Via yang baru saja tadi pagi mengalami kecelakaan.
"Iya Mi, kalau di rumah sendirian, Via bingung harus berbuat apa. Mending Via ke sekolah saja."
Lalu sang ibu memperhatikan anak gadisnya ini dengan mata penuh curiga. "Jangan-jangan buat ketemu Deval?"
__ADS_1
"Bukan, bukan! Via ke sekolah agar waktu terasa tidak begitu lama. Apalagi di saat tidak ada kerjaan seperti ini."
Via menatap Tosan yang tengah sibuk membuka tablet memeriksa pekerjaan yang tersebar di berbagai penjuru negara. Tertarik dengan tindakan sang ayah, Via mengintip kasus yang tengah diurus oleh orang nomor satu di organisasi BOS ini. Matanya terbelalak, melihat di layar tablet terpampang mafia besar dari negeri Pisa.
"Tosan, Apa yang tengah terjadi? Mengapa Tosan berurusan dengan penjahat paling keji di dunia ini?"
Sang ayah melirik anak gadisnya yang tengah mengintip dari arah belakang. Tersenyum tipis, melambaikan tangan menyuruh Via masuk dalam rangkulannya. Lalu menyilakan Via untuk membaca kasus yang tengah diselidiki dan ditanganinya.
"Pencurian lukisan termahal di dunia?"
Sang ayah mengangguk, "Pihak Amerika meminta bantuan kepada Tosan untuk menyelidiki mafia Numero Uno itu. Tosan dapat informasi, bahwa pimpinan besar mafia ini sangat menyenangi lukisan-lukisan yang mengandung nilai abstrak. Mencuri benda itu dari museum pemerintah negeri white house, lalu disimpan menjadikannya sebagai koleksi pribadi. Tapi beruntung, Tosan berhasil merebut kembali benda itu dan menyerahkan kembali ke negara asalnya. Nilai lukisan itu tak tanggung-tanggung, ratusan juta dolar. Bayangkan jika diubah ke mata uang negara ini."
Via merasa terkekeh melihat lukisan paling mahal dunia itu, seperti lukisan balita yang belum bisa menggambar bentuk dengan baik.
__ADS_1
"Tapi Tosan, setahu aku mereka itu sangat kejam. Tidak akan memberi ampun bagi orang yang mencoba mengusik mereka. Aku khawatir, mereka akan mempersulit pekerjaan Tosan setelah kejadian ini."
Ketika Tosan hendak menjelaskan lebih lanjut, Via terlonjak girang ponselnya bergetar dan di layar terpampang nama Deval. Dia pamit dari sang ayah, menuju kasur yang super empuk fasilitas dari kamar mewah ini. Lalu menelepon sambil tiduran.
"Hallo…" sapanya setelah menerima panggilan yang masuk itu.
"Halo Vi, gimana dengan keadaan Lo sekarang?"
"Ya… Makin malam ternyata rasanya makin pegel…"
"Terus sekarang jadi makin sakit?" tanya yang diseberang dengan nada cemas.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
__ADS_1
...terima kasih...