
Kalian pulang lah! Jika kamu ingin menyelidiki saya, kamu hanya berbuat sesuatu yang sia-sia…"
Alangkah terkejutnya Deval pada pernyataan ibu ini. Dari mana dia tahu aku ingin menyelidiki kasus ini? Padahal dia sama sekali tidak mengatakan apa-apa pada Udin.
"Kamu heran aku tahu dari mana?"
Kembali ibu itu seolah mengetahui isi kepala Deval, membuat Deval merinding sendiri. Lalu Deval melirik Via yang hanya tampak tenang tak ada ekspresi apa pun yang tergambar dari wajahnya selain bibir tersungging miring, seakan jengah pada sesuatu.
"Sudah lah Bu! Jangan bersandiwara!" ucap Via yang tampak cuek meski keadaan ibu itu tampak begitu mengenaskan.
"Ha-ha-ha, apa maksud kamu dengan bersandiwara? Apa kamu tidak melihat sendiri bagaimana keadaanku?"
"Sudah lah Bu, jangan berlaga menjadi korban, sekarang banyak banget playing fictim, aku tahu ibu pasti mendapatkan berita bahwa kasus yang dialami masyarakat ini tengah diselidiki oleh pihak polisi dan Detektif.
Makanya Ibu sengaja kan menyuruh anak Ibu untuk menemui dan mengikuti kami akting pura-pura mencuri? Sehingga kami mengikuti anak ibu dan melihat drama mengenaskan ini?" Sembari melipat tangannya, dan menatap Udin yang sangat terkejut melihat Via yang tidak mempercayai aktingnya yang begitu apik dilakukannya tadi.
__ADS_1
Kemudian Via tertarik pada sesuatu yang terbungkus dengan plastik. Tadi dia belum memiliki kesempatan untuk mendekati benda itu. Kali ini dia telah mendapatkan kesempatan itu, lalu mendekati benda bubuk yang tengah dibungkus plastik dan terikat dengan sangat rapi. Via membuka bungkusan itu lalu Mak Iroh berteriak.
"Apa yang kau lakukan?"
Via tidak menggubris, lalu mencolek bubuk tersebut, ditilik dengan cermat, lalu dicium aromanya. Mengeluarkan plastik khusus untuk sampel dan memasukkan sebagian bubuk itu ke dalam plastik sampel dan disimpan ke dalam tas nya.
Deval hanya bisa diam dan melihat tindakan Via yang sedari tadi tampak tak peduli pada Udin. Ternyata dia memiliki asumsi tersendiri atas apa yang dia lihat, walau yang mereka lihat itu sesuatu yang sama.
"Saat ini saya tidak bisa menyimpulkan apa-apa, tapi setelah semua dperiksa dengan detail, saya pastikan akan menjemput ibu dengan orang-orang yang bisa membawa ibu ke penjara!"
Lalu Via menarik Deval meninggalkan tempat itu, tanpa memberikan kesempatan bagi Mak Iroh untuk membela diri.
"Mengapa kau bawa mereka ke sini?" teriaknya pada Udin.
"Kan tadi Mak yang nyuruh aku membawa kabur sepeda yang nantinya ada di warung yang ramai itu. Aku ya ngikut aja."
__ADS_1
Lalu Mak Iroh diam yang panjang, memikirkan akan sesuatu yang mungkin terjadi dalam cenayang akan masa depan yang dilihatnya. *Kali
Via menyuruh Deval untuk menunggu, dengan senyum smirk dia menggunakan mode menghilang dan mengayuh sepedanya menyusup kembali ke rumah Mak Iroh.
Sementara, Mak Iroh merasakan ada sesuatu yang tengah mengawasi gerak-gerik nya. Via berusaha setenang mungkin tak bergerak, sebenarnya dia ingin sekali jadi cicak merayap di dinding dengan benda ajaib ini.
Namun, dinding itu hanya terbuat dari kardus, dan dipastikan tidak akan sanggup menampung bobot dia dan sepedanya. Mak Iroh terus melirik di ujung matanya, mencoba merasakan apa yang tengah memperhatikan dirinya di dalam rumah itu.
"Hihihihi…" keluar tawa mak lampir dengan surai wajah yang mengerikan.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
__ADS_1
...terima kasih...
besok senin niii, jgn lupa tabungkan vote untuk aku yaaa 🤣🤣🤣