DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
S2-31 Otousan


__ADS_3

Sudah satu jam Via mencoba menghubungi sang ayah. Namun panggilan tak tersambung juga.


"Gimana Kak? Udah berhasil menemukan titiknya?"


Rafael masih berkutat dengan dua laptop dengan wajah lebam bekas adu jotos dengan Jimmy tadi. Di sebelahnya ada Devan yang terus memperhatikan pekerjaan orang yang dikaguminya dalam organisasi BOS.


"Mereka punya hacker yang sangat handal. Tunggu beberapa saat lagi!" ucap Rafael.


"Gak repot Bang? Biar saya handle salah satunya?" tawar Devan kepada Rafael.


"Yakin?" Rafael menaikkan alisnya sebelah.


"Coba dulu."


Dengan ragu Rafael menyerahkan satu laptop itu kepada Devan. "Kamu paham IT kan?"


"Iya, lumayan." jawab Devan menggerakkan alisnya naik turun.


Lalu mereka berdua sibuk berkutat dengan benda elektronik yang memiliki otak melebihi CP yang biasa digunakan masyarakat umumnya. Dari luar terdengar kunci dibuka seseorang. Pintu terbuka, dan Jimmy datang sambil menyeret kerah baju Romi.


"Nah, bantuin Noh!"


Romi melirik seisi bagian rumah itu, "ck" berdecak, lalu mengeluarkan laptop dari ransel yang disandangnya. Lalu ikut duduk bersama dua makhluk yang sibuk dengan laptop. Lalu mengeluarkan sebuah benda kecil, dia selipkan ke dalam perangkat yang dimodifikasi sedemikian rupa.


Irin dari dalam kamar yang tengah maskeran, berlari kecil ke ruang tengah. Dia mendengar Romi datang bersama Jimmy. Menengok cowok yang kemarin membuatnya terkesima karena roti sobek.


Devan merasa ada yang muncul dari belakang, terhenyak seolah melihat hantu yang tiba-tiba muncul. "Rin, itu kamu?" celetuknya sambil melirik Romi yang fokus pada pekerjaannya.


"Hmmm...!!!" hanya itu sahutan dari Irin. Kembali masuk ke dalam kamar, membersihkan mukanya dari masker. Setelah itu muncul kembali ke ruang tengah. Lalu mencomot makanan-makanan kecil yang memenuhi meja.


"Rin, katanya takut gendut?" sindir Via.


"Kayaknya gue pengen bentuk body juga deh." ucap Irin menikmati cemilan kentang goreng, sambil melirik Romi.


"Kenapa Romi dibawa ke sini Kak?" tanya Via kepada Jimmy yang ikut berdiri bersama Via di balkon.


"Dia bisa diandalkan."


"Terus kenapa kalian bisa berantem kemarin?"


"Itu urusan kaum pria. Yang wanita cukup jadi tukang lerai aja."


"Lerai biasa gak bisa ya? Harus se-aesteitik mungkin baru kalian berhenti." cibirnya. Mencoba kembali menghubungi sang ayah, namun tidak ada tanda-tanda masuk juga.


"Tosan kemana sih? Aku kan ingin menjelaskan hubungan kita." sungutnya.


"Heeemmm, Marni!" suara Romi mencoba mengalihkan pikiran Via dari ponsel.


"Marni muluk," celetuk Irin.


Via mendekat ke hadapan Romi, tampak wajah temannya itu terlihat sangat serius. "Ada apa Rom?"


Lalu mematahkan LCD laptopnya ke arah Via. Tampak wajah sang ayah dengan sebuah pesan berisi ancaman.

__ADS_1


Nona Via, bukan kah ini ayahmu? Cepat susul dia ke sini sebelum 1 x 24 jam. Oliver.


Wajah Via seketika menegang. "Itu kenapa kamu bisa mendapatkannya secepat itu?" Menatap Romi dengan wajah serius.


"Aku menciptakan chip sendiri. Ini kugunakan dalam operasi pekerjaan kami selama ini. Chip ini sangat-sangat dapat diandalkan." jelas Romi.


"Kak Rafael dapat apa?" tanya Via yang melihat Rafael masih terlihat sibuk dengan laptopnya.


"Sedikit lagi..."


"Van dapat apa?" Via memandang dengan curiga. Devan terlihat cengar-cengir melihat laptopnya. Via mengintip lalu menoyor kepala Devan.


"Ah, kita ini lagi serius lhoh? Kalau gak guna gini mending pulang aja deh!" ucapan yang menohok keluar dari mulut Via.


Ternyata Devan tengah menengok cewek cantik berbikini yang tiba-tiba nongkrong di jaringan yang salah dikliknya. Devan dengan segera kembali ke pekerjaannya yang seharusnya.


"Siip! Dapat!" ucap Rafael. Ternyata mendapat informasi yang sama dengan Romi. Romi mengernyitnya senyum kemenangannya. Merasa bangga mengalahkan pentolan hacker Organisasi BOS.


"Keparat itu dimana?"


"Rumania!" ucap Rafael dan Romi serempak.


Via segera menghubungi Kapten Peter. "Kap, ada jet yang standby?"


"Ada Nona!"


"Bisa ke Rumania malam ini juga?"


"Ada hal yang mendadak juga Kap. Ayo secepatnya kami ke bandara!"


"Siap laksanakan!"


***


Di Lapangan Terbang


"Kenapa ikutan semua?" Via mengernyitkan dahinya melihat pasukan milik Jimmy tiba-tiba ingin ikut bersama mereka.


"Kami ingin ikut Mama Papa kemana pun, apalagi jalan-jalan ke Eropa. Kapan lagi jalan-jalan gratis." celetuk Jason si bungsu gemesin.


"Eekkhhheeemmm," Jimmy berdehem menahan malu mendengar jawaban tersebut. "Kita ada misi, bukan jalan-jalan!"


"Mama Papa maksudnya apa Kak?" tanya Via heran. "Heh, sini kamu! Kamu yang bikin kakiku keseleo!"


Jason mendekat dengan wajah takut-takut menggemaskannya. "A-ada apa Ma?" Mendekat dengan ragu-ragu.


"Mama? Siapa mamamu?"


Jimmy melihat sosok ayahnya juga berjalan ke arah mereka. "Kenapa Papa juga di sini?"


"Papa ikut! Anggota kalian terlalu ramai. Pindah setengah pada Jet Papa."


"Gila nih, pasangan orang kaya," celetuk salah satu anak Jimmy bernama Nono.

__ADS_1


"Aku mau ikut Papa sama Mama. Yang lain ikut sama Eyang!" ucap si bungsu dengan polosnya.


"Aku bingung Kak? Ada apa ini? Kenapa bisa jadi Papa Mama, malah sekarang ada Eyang?"


"Nanti saja kujelaskan."


Lalu tampak Jason berlari dengan gembira masuk ke dalam jet milik BOS. Di dalam sudah diisi oleh Rafael, Deval dan beberapa anggota penting jagoan BOS berseragam perang khusus milik organisasi BOS. Tiba-tiba Jason mundur lagi.


"Aku nggak jadi di sini. Aku bersama Eyang aja." Kembali berlari putar arah.


Ni anak bikin malu aja, batin Jimmy.


Via dan Jimmy masuk ke dalam pesawat jet itu. Mereka menyiapkan diri duduk dan memasang sabuk. Perjalanan panjang pun mereka mulai.


***


Rumania


Via bersama gabungan pasukan BOS tengah mengintai sebuah bangunan besar, gudang yang sangat luas.


"Anak-anak perempuan itu disandera di dalam bangunan itu. Beberapa dibawa keluar untuk dijual, namun anggota kami berhasil menggagalkannya. Namun, anggota yang menggagallan diculik dan ditawan oleh mereka. Termasuk Mr. Sato yang mereka tangkap kemarin."


"Berapa anggota kita yang mereka tawan?" tanya Via serius.


"Bersama Mr. Sato menjadi enam orang."


Tiba-tiba semua orang yang ada di sana mendapat pesan yang sama. Termasuk Via. Isi pesan tersebut berbunyi:


NONA VIA, SAYA TAHU KAMU ADA DI SINI. CEPAT MASUK SEBELUM AYAHMU KUTEMBAK! SEPERTI KEJADIAN 8 TAHUN LALU!


"Kenapa ini?" Wajah Via semakin tegang. "Kenapa semua orang mendapat pesan yang sama?"


"Ini pesan lewat jaringan LAN," ucap Romi. "Jadi siapa pun yang berada di dekat sini, akan mendapat pesan yang sama. Seperti pesan yang masuk jika kita berada di sekitar warung ayam goreng itu lho."


Via hendak berjalan sendiri menuju bangunan itu. Namun dicegah oleh Jimmy. "Aku akan menemanimu!"


"Jangan! Dia hanya memintaku datang sendirian."


"Aku tetap ikut!" ucap Jimmy tegas


"Aku juga ikut!"


"Aku ikut!"


"Aku ikut!"


Sorak anak-anak ayam.


...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...


...terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2