DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
108. Berjibaku


__ADS_3

Maaf telat update yang kedua yaa.. soalnya lagi bantu-bantu kondangan tetangga.. 😅😅😙😙


"Kamu tidak apa-apa kan Vi?" Dengan refleks dia memeluk Via. Sungguh terasa sakit hatinya melihat Via dijamah oleh pria bule kurang ajar ini.


Via yang merasa tidak puas, mendorong Stevan lalu kembali menghajar Oliver. Dia memberikan tendangan yang cukup kuat pada bokong Oliver.


"BASTARD…!!! MESUM…!!!" Dia memberikan pukulan siku ke punggung laki-laki itu.


Terdengar suara lari dari arah luar, Stevan dengan sigap menarik bule yang masih kesakitan di bagian pusakanya, lalu menyekapnya. Anggota mafia yang lain telah berada di dekat mereka. Bersiap ingin menyerang Via. Stevan menodongkan pistol tepat di kepala Oliver.


"Angkat tangan!!! Menjauh lah dari gadis itu! Kalau tidak, orang ini akan kutembak!"


Mafia-mafia itu mundur sembari mengangkat tangan mereka. Sementara Via berinisiatif membuka ikatan pada tubuh Deval.


"Val… bangun Val…" Via menepuk-nepuk pipi Deval usai melepaskan ikatannya.


Perlahan, mata Deval mulai terbuka. "Via… lo di sini?" ucapnya lemah.


"Iya Val, gue di sini untuk menjemput lo… Ayo kita keluar dari tempat ini…!" Via mulai memapah Deval. 


Tiba-tiba dari arah belakang anggota mafia muncul sosok Jimmy yang mendorong dan menendang mafia-mafia itu. Jimmy berhasil menerobos mafia-mafia yang sedang tidak berani melawan, ditemani dua kawannya Kevin dan Gilang.


"Kakak, kenapa ada di sini?" Via lupa bahwa saat ini bukan sebagai Marni.


"Aku mendapat info dari Papa. Disuruh untuk menyusul melihat keadaan di sini." Jimmy membantu Via memapah Deval.


Stevan menarik salah satu tangan Oliver, lalu dipelintir ditekuk ke arah belakang. Sehingga Oliver menjerit kesakitan.


"Kalian keluar lah! Aku akan menahan orang ini hingga kalian sampai di luar dengan aman!" 


Via dan Jimmy mengangguk, sementara dua kawan Jimmy memastikan mafia-mafia itu tidak bergerak untuk menyerang. Via, Deval, dan Jimmy telah berhasil keluar dari bangunan itu. Perlahan Stevan mendorong Oliver untuk dijadikan sandera pembuka jalan baginya.


Tiba-tiba Oliver menggerakkan kakinya yang masih bebas lalu mengait kaki Stevan hingga terpekuk, lalu digulingkannya. Oliver berhasil bebas dari sekapan Stevan. Memberi kode kepada anak buahnya untuk mengejar anak-anak itu.


Gilang dan Kevin menyerang mafia-mafia yang mulai mengejar mereka. Sementara Via dan Jimmy terus memapah Deval mencari tempat yang dirasa cukup aman.


Via mendudukkan Deval di tempat yang dianggap aman, "Lo di sini dulu ya. Gue mau menjempu Aa dulu."


"Aku juga menjemput Kevin dan Gilang," menyusul Via yang tengah berlari kembali ke bangunan itu.

__ADS_1


Deval hanya bisa menatap Via yang menghilang masuk ke dalam tempat itu. Dia menyesali semua yang terjadi. Merasa menjadi orang yang paling tidak berguna bagi gadis hebat itu. Hanya selalu menyusahkannya dari waktu ke waktu.


Via dan Jimmy kembali masuk ke bangunan itu. Tampak Gilang dan Kevin tengah dihajar beramai-ramai oleh kawanan mafia. Via dan Jimmy membantu mereka.


Via melayangkan tendangan saltonya, sambil mengeluarkan alat kejut listrik yang di selipkan di pinggang celana. Langsung menempelkannya pada tengkuk algojo yang tadi tumbang kena salto. Algojo itu meregang dan tak sadarkan diri.


Jimmy memberi hentakan tendangan lututnya pada dagu salah satu dari mafia itu, lalu melompat dan memberikan pukulan siku yang sangat kuat pada punggungnya hingga algojo itu tumbang.


Tinggal dua orang lagi. Via dan Jimmy membagi mereka satu per satu. Sementara Kevin dan Gilang sedang terengah dengan wajah yang sudah bonyok.


Via melakukan serangan capoeira, karena tubuh lawannya jauh melebihi dia. Sehingga dia memilih serangan yang mengandalkan kekuatan kaki. Dia menumpukan bobot pada kedua tangan, lalu mememainkan kaki-kakinya dengan sangat apik.




Akhirnya Via berlari, melompat dan melayangkan tendangannya pada pada algojo yang jauh melebihi tingginya.



Sementara giliran Jimmy mengerahkan kemampuan taekwondonya, yang juga memfokuskan serangan pada kaki. Menendang dagu lawan, dan meninju dada kiri kanan, terakhir tepat di ulu hati. Kemudian mundur lalu berlari setelah itu melompat menumpulan lutut untuk menyerang bagian kepala. Akhirnya para anak buah berhasil dilumpuhkan.



Oliver melihat pistol yang tadi terlempar dari tangan Stevan, berlari ke arah benda itu. Stevan berusaha menghalangi, namun nahas. Oliver berhasil mendapatkan senjata api itu.


Pistol telah berada di tangannya, dan wajah pria bule itu menyeringai, meyakini akan kemenangan dirinya. Pistol diarahkan kepada Stevan, membuat bule indo itu tak berkutik.


"Angkat tangan!"


Stevan mengangkat tangannya sambil berpikir apa tindakannya selanjutnya. Ternyata dari arah belakang Oliver, tiba-tiba Via berlari dan melompat menendang tangan yang memegang senapan. Senjata itu kembali terpental. Oliver dan Stevan berjibaku mengejar benda itu.


Via berlari dan menangkap kaki Oliver sehingga manusia tinggi itu jatuh tersungkur, mendarat di dagu.


...kreekk...


Terdengar suara bergemerutuk berasal dari dalam mulutnya.Oliver berusaha mengangkat wajahnya lalu bangkit dan terduduk. Dari dalam mulutnya terasa ada yang terlepas dari gusi dan mengeluarkan cairan asin yang amis. Gigi Oliver lepas dua biji dan diludahkannya.


"Fuuuuuhhh..!" setelah itu darah di mulutnya diseka dengan lengan pakaiannya. Lalu melihat gadis yang membuatnya tergila-gila itu dengan tatapan kemarahan. Bersiap menangkap hadis itu, namun tendanga Stevan mendarat di bahunya.

__ADS_1


"Arrrggghhhtt..." kembali dia terjatuh.


Sekarang giliran Via melompat, dan mendaratkan lutut yang ditekuk ke bagian perut.


"Arrrgghhhttt..." erangnya merasakan kesakitan yang luar biasa.


"Bagaimana Tuan? Yakin masih mencintai saya?" ucapnya dengan gigi tertaut karena merasa sangat geram. Dia masih merasa sangat marah, karena laki-laki itu berani menyentuh tubuhnya.


...plaaaak...


...plaaaak...


...plaaaak...


Tak henti Via menampar wajah pria itu bergantian kiri kanan hingga Stevan menahan Via, untuk menghentikan tindakan impulsifnya pada orang yang sudah tidak berdaya.


Via menatap Stevan yang menahan tangannya. Tampak Stevan menggelengkan kepalanya pelan.


"Ayooo, kita pulang!" menarik Via yang tadinya menduduki pria kurang ajar itu.


"Tapi dia belum mampus Aa...!!!" bentaknya yang masih sangat marah.


"Kamu ingat bagaimana hukum bertarung? Jangan menyerang saat lawan sudah tidak berdaya...!"


"Tapi dia juga musuh Tosan lho Aa... Harus kita singkirkan dengan segera...!"


Kembali Stevan menggelengkan kepala dan menarik Via untuk meninggalkan tempat itu. Mereka segera melangkahkan kaki keluar. Tampak Jimmy tengah memapah kedua kawannya. Langsung dibantun oleh Stevan. Via memandang Jimmy diam seribu bahasa.


Apakah dia sudah mengetahui jati diri gue yang sebenarnya?


Lalu Via memilih tidak ambil pusing. Berjalan terlebih dahulu karena dia teringat Deval sedang sendirian berada di luar. Berlari kecil menuju tempat dimana cowok itu ditinggal.


Dari satu arah, tampak sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Bergerak dengan sangat cepat ke arah Deval yang duduk menunggu tek berdaya.


"Devaaaaaaallllll...." pekik gadis yang masih jauh berjibaku berlari ke arahnya itu.


...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...

__ADS_1


...terima kasih...


__ADS_2