DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
22. Basket


__ADS_3

Marni dan Irin berangkat sambil menceritakan bayangan-banyangan ke depan nanti bagaimana si Aa menghubungi Rini.


Sementara Stevan yang tengah tidur dengan menggenggam kertas, tanpa sadar melepas genggaman dan sobekan kertas itu jatuh ke bawah bangku. Kisah cinta yang dibayangkan dua remaja ini telah kacau duluan dari skenario yang mereka buat.


Marni dan Irin telah sampai di kelas, lalu berencana hendak ke kantin untuk membeli sepotong roti sekedar pengganjal perut di pagi hari. Bell masuk belum berbunyi, mereka duduk di koridor sambil menghadap ke lapangan basket. Tampak rombongan Dino tengah membersihkan halaman sekolah dari sampah. Ada yang menyapu halaman, ada yang tengah membersihkan ruang guru, ada yang tengah menyikat toilet, dan Dino sendiri tengah memilih-milih sampah yang berceceran.


"Lihat mereka tu!" bisik Rini sambil terkikik. "Jadi mereka sering mencoba mengganggu Lo?"


"Ya begitu lah..." bisik Marni.


"wkwkwkw.. Gue jadi ingat dulu waktu kita SMP. Ada yang mencoba mengganggu Lo, malah dia yang kena imbasnya sendiri... Sekarang ternyata ada lagi..."


"Itu lah, heran gue. Tetep jadi Via gue diganggu, jadi Marni malah makin diganggu. Kenapa hidup gue penuh gangguan kek gini ya?"


"Yaaa.. anggap aja ini ujian.."


"Kenapa gue aja yang mendapat ujian begini? Sementara Lo hidup nyaman, santai, penuh cinta, tanpa gangguan..."


"Lo lupa ya? sekali aja gue kena gangguan malah bikin orang satu kampung jadi pusing.. Nggak mau lagi lah sampai kena culik lagi. Kapok banget gue, nggak dikasih makan, dan hampir saja gue mati gara-gara kehabisan darah."


"Lupain ya.. Gue akan menjaga Lo semampu gue. Makanya sekarang kita harus lebih hati-hati aja? Lo coba deh masuk perguruan bela diri gitu? Biar bisa jaga diri sendiri saat gue nggak ada..." bisik Marni.


"Bener juga siiih... Nanti gue cari tempat yang bagus buat belajar."


Tanpa mereka sadari Dino telah berada di dekat mereka. Dino membawa keranjang sampah yang sudah dikosongkannya. Karena kesal, Dino hendak menangkupkan tong sampah di tangannya itu ke kepala Marni. Gara-gara dia gue kena hukuman, batinnya dengan penuh amarah.


Marni masih asyik bisik-bisikan dengan Irin, dan dikejutkan oleh suara garang Dino, "AWAS LO YA..GAGU SEPARAT"


Refleks Marni mengeluarkan kungfunya, menotok dada kiri kanan, dan menangkis tangan Dino kiri kanan dengan punggung tangannya. Hasilnya keranjang sampah melambung dan kembali turun tepat di kepala Dino.


HAHAHAHAHA


HAHAHAHAHA


HAHAHAHAHA


Dino kembali menjadi bahan tawa seisi sekolah yang melihat kejadian itu.


Ada sosok Jimmy yang memperhatikan dari jauh. Dia tertawa melihat aksi Marni yang tak terduga itu. Sekarang aku yakin, Marni memang lah Detektif Via yang tengah menyamar. Lalu apakah alasan yang membuat dia menyamar sampai seperti itu? Di keluarkan kacamata milik Via dari kantong celana. Lalu bagaimana caranya agar aku bisa mengembalikan ini? Ini pasti benda yang berharga baginya.


"Waaah.. kaca matanya bagus banget..." tiba-tiba Talita sudah mengambil kacamata yang dipegang Jimmy tadi. "Ini dibeli dimana?"


"Ini bukan punyaku, ini punya teman ku " jawab Jimmy kembali mengambil kacamata itu.


"Iiisss.. pelit amat siiih?"


"Kalau aku sendiri yang beli, boleh lah kamu pakai. Masalahnya ini punya orang, nanti rusak bagaimana cara aku mengembalikannya?"


"Iye..iye.. maaf..."


Marni menarik Irin beranjak dari tempat itu menuju kelas. Roti yang tadi di tangannya, lepas jatuh ke tanah saat refleks menangkis Dino. Kenapa gue sampai seceroboh ini? Padahal ingin sekali merasakan kehidupan sekolah yang tenang dan nyaman, tanpa diperhatikan siapa pun. Apa pilihan gue menjadi Marni itu sebuah keputusan yang salah?


"Marni... Lo jago banget tadi kunfunya?" ujar Yoga sambil meniru gerakan Marni tadi. Marni disambut oleh sebagian teman kelasnya.


"Belajar dimana Lo?" tanya yang lain.


"Boleh ajarin gue?" tambah yang lain.


Sementara kawan-kawan Dino berbondong-bondong menarik Marni keluar kelas.


TENG NONG NENG NONG~ Bell masuk sudah bergema.


Marni menghentakkan tangannya dengan kasar, hingga Romi sendiri ikut terdorong ke dinding. Kuat bener si gagu ini padahal kurus kecil dan dekil kayak gitu, batinnya.


Marni kembali duduk di bangkunya.


"Mereka ngapain?" bisik Irin. Marni hanya menganhkat bahu dan menggeleng tipis. Rombongan Dino masuk, Dino dan Romi menatap tajam ke arah Marni.


Guru masuk ke dalam kelas, lalu ketua menyiapkan kelas untuk berdoa dan memulai pelajaran.


***


Pada jam istirahat, Marni merasakan lapar dan kantuk yang luar biasa. Mau tidur dulu sebentar, tapi perutnya sangat lapar. Akhirnya memutuskan untuk mengejar Irin ke kantin.

__ADS_1



Marni memilih menu inomie rebus, ditambah nasi. Irin geleng-geleng melihat porsi makan Marni.


"Ngga takut gendut apa?"


Marni hanya mengangkat bahu dan melanjutkan makan kembali. Bagi dia saat ini yang terpenting perutnya terisi.


Rombongan Dino juga masuk kantin, Romi terbelalak melihat makanan yang disantap Marni.


"Wuiiiiihh... ternyata ini rahasia si Gagu bisa sekuat itu..." sambil melekat di dekat mie dan nasi milik Marni.


"Mbaak.. aku mau kayak ini juga..." sorak Romi pada penjual.


"Gue juga..." sorak Dino.


"Kenapa pada makan ini semua?" tanya anggotanya yang lain terheran.


Marni seolah tak peduli, melanjutkan makan, diiringi dengan senyuman di wajah Irin. Ni anak sama sekali gak ada takut-takutnya, batin Irin sang pengagum rahasianya.


Usai makan, mereka mengganti seragam dengan baju olah raga. Usai ini mereka akan belajar olah raga. Terpaksa Marni mengikat rambut agak tinggi agar tidak terlalu gerah. Tampaklah leher Marni yang tak singkron dengan wajahnya.


"Psstt.. psstt.." banyak yang terkikik melihat keadaan Marni itu. kata mereka saking nelongsonya Marni, sampai kulit belangnya sampai berbeda jauh dengan lehernya.


Marni yang menyadari Kembali menjadi pembicaraan, kembali melepas ikatan dan mengacak rambutnya. Serba salah gue.. batinnya.


Semua dikumpulkan dan duduk di lapangan.


"Hari ini materi kita ialah basket. Sebelumnya Bapak akan menjelaskan peraturan luas lapangan basket secara nasional dan internasional....." diawali oleh materi tentang basket. Marni yang merasa tidak tertarik menguap, matanya semakin lama semakin berat.


Semua kawan sudah bubar, Irin mengguncang Marni, namun dia tidak bangun juga.


Guru olah raga yang melihat Marni ketiduran menepuk-nepuk bahu dan membangunkan Marni. Namun guru tidak berhasil membangunkannya.


"Marni..." panggilan pertama.. masih belum bangun.


"Marni..." dengan suara yang agak tinggi, namun belum bangun juga.. Kawan-kawannya mulai memfoto dan memvideokan Marni yang tidurnya kayak kerbau.


"MAR...NIIIII..." akhirnya Pak guru mengeluarkan suara singanya dan Marni seketika terkesiap oleh Auman singa itu..


"Tuh... saking kagetnya, gagunya langsung hilang..." celetuk yang lain.


"Berarti dikagetin aja biar gagunya sembuh.." tambah yang lain.


"Marni, kenapa kamu tidur di sekolah?" tanya Pak guru. "Apa kamu tidak tidur semalam?"


"Jangan-jangan Marni lagi jualan di perempatan sana Pak..." timpal Dino.


"Emang jualan apa di perempatan malam-malam?" tanya yang lain.


"Jualan ini..." menyentuh dada dan bokongnya sendiri.


HAHAHAHA ~ kembali suara menjadi riuh.


Marni yang belum begitu On, masih nggak ngeh apa yang ditertawakan oleh kawan-kawannya. Dia hanya mengucek matanya dengan jari dan bangun dari duduknya.


"Kenapa nggak bangunin gue sih?" bisiknya pada Irin.


"Gue bangunin dari tadi lho? Lo nya yang nggak bangun-bangun.."


Marni hanya mencebik dan melakukan peregangan, tanpa memedulikan apa yang dikatakan yang lainnya.


"Da...da..da..ri pa..pa ..da ba..ba..nyak o..o..moang, Lo... se...see...mua la...la...wan gu...gu..e" tantang Marni pada kawanan Dino.


"Jadi Lo nantangin kita nih?" celetuk anggotanya.


"Nggak nyesel?" timpal Romi.


"Lo akan rasakan nanti salah nantangin kita..." tambah Dino.


"Ayooo.. Lo cari anggota! kami cukup berempat saja..." tambahnya lagi.


"Ka...ka..Lian be..be..remm..pat.. Gu..gu..e.. se..se..sen...di...ri.."

__ADS_1


UuuuuUuuuuUuuu ~ kembali suasana jadi riuh.


"Sok banget gaya si Marni itu..." celetuk kawan yang lain.


"Ini bakalan seru..." timpal yang lain.


Beberapa saat kemudian, yang berada di lapangan hanya lima orang. Sangat tidak berimbang, satu lawan empat orang.


"Permainan akan dilaksanakan dalam waktu sepuluh menit. Siapa yang mendapatkan poin paling banyak dalam waktu sepuluh menit, maka dia lah yang dinyatakan menang..." sekarang ketua kelas dijadikan sebagai wasit.


Lalu koin dilempar ke atas menentukan siapa yang akan mulai duluan.


Kesempatan pertama didapatkan oleh Marni. Dengan senyum Smirk-nya, dia melakukan bounce pass, tepat berada di garis three point, Marni melakukan shooting dicampur atraksi kungfunya, dan bola mulus masuk ke dalam ring..









"Marni dapat tiga poin, Dino zero..." ujar wasit.


Kawan-kawannya tercengang melihat atraksi si gagu barusan. Terhenimg beberapa detik lalu bersorak.. "Hebaaat Guuuu..."


Pasukan Dino juga tercengang melihat atraksi lawan singlenya barusan. "Heeh, Gagu..! Jangan kebanyakan gaya! Bisa dengan biasa aja nggak sih?" umpat Dino. Marni hanya melengus tak peduli.


Babak berikutnya, semua pemain berkumpul di tengah, menunggu wasit melempar bola dan bola dilempar, Marni terdorong saat perebutan dan terjengkang. Bola sekarang di tangan tim Dino, Marni langsung berdiri dan berlari mencoba menangkap bola. Bola terus dioper oleh tim Dino, dan akhirnya Romi melakukan shooting, dan gagal. Bola memantul langsung ditangkap oleh Marni, dan giliran Marni yang menembak, dan bola mulus masuk dalam ring.


"Marni lima poin, Tim Dino zero"


Kembali wasit melempar bola ke atas dan kembali Tim Dino berhasil merebut bola. Kali ini Tim Dino melaksanakan kerja sama tim dengan baik, dan kali ini Dino yang shooting, dan bola masuk ke dalam ring.


"Yeeee..." sorak tim mereka.


"Tim Dino dua poin, dan Marni lima poin..."


"Waktu teesisa dua menit lagi," info dari wasit..


Wasit kembali melemparkan bola ke atas, kali ini Marni melompat dengan tinggi hingga berhasil merebut bola. Tim Dino tercengang,.melihat Marni yang kecil itu bisa melompat dengan tinggi sehingga berhasil mendapatkan bola. Bola dikuasai Marni, dan Tim Dino berusaha merebut. Bahkan hingga menggunakan cara yang curang, namun bola berhasil dipertahankan Marni.


"Waktu tinggal tiga puluh detik lagi..." sorak wasit.



Marni akhirnya tepat berasa di garis three points, dan melakukan shooting... kembali bola masuk dengan mulus ke dalam ring.


"Yes..." Marni mengepalkan tinjunya puas..


"Waaahhh... Si Gagu hebaaat banget ternyata..." sorak kawan di luar lapangan.


"Time out... Marni delapan poin, dan Tim Dino dua poin..."


"Yeeeee.." Irin berlari memeluk Marni.


"Gue gak pernah ragu kemampuan Lo..."


Lalu mereka berdua melompat-lompat senang.


Jimmy yang kebetulan mendapatkan tugas dari guru, mengambil sesuatu di ruang guru, melihat aksi Marni kembali, senyuman tulus mengembang di bibirnya. "Kamu hebat..." ucapnya, lalu kembali ke kelas.


"Apa sih rahasia Lo bisa jago begitu? Lo diam-diam gitu, ternyata hebat banget..." ucap salah satu teman di kelasnya.


"Nng..nggak a..ad.. ke..ke..be..tu..tu..lan se..se..dang be..be...ru..run..tung..." ucapnya sekenanya.


......*Bersambung*......

__ADS_1


...Jangan lupa meninggalkan tanda jejak yaa.. LIKE, LOVE, GIFT & VOTE 🥰🥰🤩🤩😍😍...


...Terima kasiiiih.....


__ADS_2