DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
39. Kabur


__ADS_3

Mohon maaf lagi ya readers, dua bocah Otor sakit dan muntah-muntah, mohon doanya yaa.. happy reading..


*Notes: sebelum membaca bab ini, otor harapkan reader tidak terlalu masukkan ke dalam hati. Ini hanya hasil reka dunia pernovelan dari otor, dan hanya sekedar pandangan semata dari otor. Jadi jangan BaPer yaaa


Terdengar serine gedung kepolisian bergema. Via berusaha sekuat tenaga untuk kabur dari sana, yang sudah dikepung oleh banyak anggota polisi. Dengan gesit Via mengelak ke sana, melompat ke sini, mencoba berlari di dekat lemari.. melompat..bergelantungan di pucuk lemari, memanjat dan kembali melompat.. hap.. sampai di atas lemari.


Ada seorang polisi yang berhasil menangkap kaki Via, sehingga membuatnya jatuh tersungkur dari tempat yang cukup tinggi. aduuuhh Via meringis merasakan kesakitan di dada, pinggang dan lututnya. Setelah itu, dengan gesit mencoba melepaskan diri dengan menendang tangan polisi yang mencengkeram kakinya dan kembali mencoba untuk kabur.


Tampak sebuah jendela t, Via mengambil kursi kayu di ruangan itu, dan melemparnya ke arah jendela.


~praaaaaang~ kaca di jendela itu terurai pecah dan jatuh ke lantai


Via langsung melompat dan sudah berada di luar gedung. Berlari menuju ke arah mobil mereka yang tengah terparkir lalu segera menaikinya. Dedi telah siap siaga, segera melajukan mobil tersebut dengan kecepatan penuh.


Tampak portal penutup gerbang mulai bergerak tertutup secara otomatis. Dedi meningkatkan kecepatan laju mobilnya lalu berhasil keluar sebelum portal tidak bisa dilewati oleh mobil ukuran big tersebut.


"Huuuffftt…" mereka menarik nafas lega. Via mengusap keringat yang membanjiri wajahnya.


Ternyata kelegaan yang mereka rasakan hanya sampai di situ, pasukan mobil dan motor berserine terdengar mulai mengikuti mereka.


...klik gambar di bawah ini...



Mereka masih bisa merasa sedikit tenang, karena suara itu terdengar masih cukup jauh, dan Dedi semakin meningkatkan kecepatannya hingga semaksimal yang dia bisa. Hingga mereka mendapat umpatan dari pengendara jalan yang lain.


Dedi segera memasuki mobil tersebut ke sebuah gedung, yang masih dalam pembangunan. Mobil melaju turun memasuki basemen yang sepertinya sudah selesai dibuat.


"Hebat oomm.. hebat…mantaaaapp…" puji Via mengacungkan kedua jempol nya. Kali ini mereka berdua benar-benar bisa merasakan nafas lega.


"Kalau mau saya kasih jempol kaki juga…" canda gadis itu tersenyum puas atas kinerja sang supir yang sangat berbakat ini.


"Jempol kaki? Bau donh Non…" celetuk Dedi terkekeh.


"Wuuufftt.. tadi hampir saja…" ucap Dedi menyeka keringat dengan tissue.


"Nona tidak apa-apa?"


"Iya..saya aman.. no problem… Kayaknya kita harus segera mengganti kendaraan kita nih Om…" Via tidak menceritakan bahwa keadaan tubuhnya sedang mengalami sakit yang lumaya setelah terhempas dari atas lemari. 


"Iya, Non.. ini mobil pastinya telah ditandai dari CCTV kantor kepolisian tadi dan jalanan kota.." jelas Dedi waspada.


"Tetapi sayang sekali, mobil ini telah menemani kita sejak tiga tahun terakhir…" sungut Via tidak rela, karena sudah merasa sayang dan nyaman dengan mobil tersebut. Mobil ini sudah bagai rumah baginya, meski memiliki body yang sangat besar. Dia merasa leluasa untuk melakukan aktivitas dan beristerirahat di dalamnya.


"Gimana kita renovasi saja ya Non? Jadi hanya perlu mengganti warna dan nomor polisinya?" usul Dedi.


"Waaahg…ide yang bagus.." wajah Via kembali tampak berbinar.



Untuk sementara mereka meninggalkan kendaraan big body ini dengan ditutup oleh cover dengan sempurna, lalu mereka meminta agen lain yang berada di kota ini untuk menjemput mereka dan mengantar pulang.


Via sudah mengganti kembali pakaiannya dan mengenakan topi. Tampak pasukan dari kepolisian masih tengah mengintari kota mencari lokasi keberadaan mobil tadi. Via menatap pemandangan yang ramai itu dengan senyuman kemenangan khasnya, smirk.


Sampai di kostan, waktu telah menunjukkan pukul satu dini hari. Dalam layar ponselnya, terlihat bahwa Stevan masih online, tanpa pikir panjang dia lamgsung menekan tombol bewarna hijau. Tidak perlu menunggu nada sambung yang cukup lama, panggilan segera diangkat oleh cowok setengah bule itu.


"Masih kerja A?"

__ADS_1


"Woooii.. udah liat berita belum?" Stevan langsung menjawab dengan histeris.


"Belum, kenapa Aa? Ada berita apa?"


"Lo terlihat di CCTV tengah mencoba kabur usai mencuri sesuatu… Untung saja menggunakan masker, jadi tidak ada yang tahu bahwa cewek nekat itu adalah Detektif Via yang selalu bekerja sama dengan kepolisian.


Via merasa geli mendengar hal tersebut, dia dinyatakan sebagai pencuri di kantor polisi "Heheheh.. gimana lagi Aa.. yang kita hadapi the big monster in the government.. pasti bakalan heboh banget…"


"Tapi aksi Lo keren bangeeeet.. sumpaaahh.. sampai-sampai gue tak berkedip melihat aksi lu yang terekam di CCTV.…"


"Hehehe, biasa itu.. itu keadaan terdesak banget.. seharusnya Aa' tolong kek, matikan seluruh CCTV gedung itu, biar ngga ada yang lihat kan... tadi itu bener-bener deh...masa ribuan polisi satu gedung ngejar gue.." jelas gadis itu yang sudah mengantuk berat.


"Itu aja gue hampir terciduk, untung langsung gue bersihkan..jadi tidak ketahuan CCTV gue yang ngerjain.. Saluuut…saluuut buat gadis nakal kayak Lo…" jelas Stevan


"Wkwkwkw… Biar lah nakal..tetapi aslinya baik hati dan gak sombong…"


"Iya..iya.. gue jadi makin….." Stevan hampir saja keceplosan dan menggantung ucapannya.


"Makin apa sih… hahaha…" sela Via.


"Enggak…"


"Oh.. iya A.. gimana dengan datanya? Bisa ditemukan?"


"Iya, ini lagi proses. Gue lagi ngerjainnya sambil editing tugas akhir juga, jadi mungkin membutuhkan waktu untuk membongkar isi otak ponsel korbannya.. kamu yang sabar ya cantik…"


"Geli kuping gue di bilang "kamu" sama mulut Aa… wkwkwkwk…"


"Udah aahh.. sekarang Lo tidur sana, kan harus sekolah…"


"Iya..iya..Aa jaga-jaga kesehatan juga ya.. jangan sampai droup, kalau sakit gue sedih lhooo .." lalu telepon ditutup.


Aduuhh.. sampai kapan gue harus menahan perasaan ini…


Tetapi kenapa harus sama anak kecil seperti dia? ucapnya dalam hati, meletakkan tangan di dada menahan debaran di hatinya..



***


Di sebuah rumah sakit, terlihat ada seorang pasien yang menonton aksi Via tersebut di Utube.


"Seandainya gue yang ada di sana menemani segala aksi Lo.." ucapnya sendu melihat sang pujaan hati dikejar rombongan polisi.


"Tapi sayang, yang ada gue hanya membuat Lo semakin repot.."


"Udah malam banget, kenapa malah main hape?" tanya Mama Deval yang terbangun melihat anaknya tengah bermain dengan ponsel pintarnya.


"Tadi aku terbangun Ma, lalu tidak bisa tidur. Jadi buka laman Utube aja.."


"Tapi kenapa kamu terlihat sedih gitu?" memperhatikan wajah sulung dari kembarnya yang kalem ini.


"Enggak Ma.. hanya saja aku ingin menjadi lebih kuat lagi ke depannya.."


"Iya…. Kamu harus membentuk otot menjadi kekar seperti bule tadi malam yang sama Via itu lhoo.. pasti Via klepek-klepek sama kamu, Ini kamu itu terlalu kurus,…" 


Deval hanya diam, membenarkan apa yang dikatan sang ibu. Yang dia butuhkan adalah sosok yang bisa menjaganya. Jadi gue harus lebih kuat dan kuat lagi. Biar bisa jadi orang yang pantas untuk berada di sampingnya.

__ADS_1


"Ma, besok pagi kita pulang saja ya? Aku ingin segera masuk sekolah," pintanya.


"Lhoo.. kamu kan belum sembuh bener…"


"Nggak apa Ma, aku merasa sudah jauh lebih baik. Aku sudah muak dengan suasana di sini.."


"Baik lah, nanti Mama akan ajukan rawat jalan saja…" Deval mengangguk dengan tekat akan berusaha lebih keras lagi untuk menjadi sosok yang terbaik untuk menemani Via, sang pujaan hatinya.



***


Dan ada juga sosok lain yang tengah kagum melihat gadis bermasker tengah mencoba kabur dari kepungan polisi.


"Waaahh… Aku tak menyangka, dia bisa sehebat itu ternyata," ucap Jimmy yang tengah seru menonton aksi Via di laman Utube.


"Jadi kali ini mengenakan masker, tapi karena seperti sudah tahu wajahnya jadi tahu langsung itu adalah dia, apalagi kacamatanya itu .." masih tersenyum melihat aksi tertangkap CCTV masuk ke sebuah mobil dan kabur dari sarang polisi tersebut.


"Apakah mungkin, aku bisa memilikinya?"


Lalu mencoba mengakses informasi mengenai detektif Via. Dan hal yang mengejutkan dia dapatkan bahwa Via pernah terlibat masalah dengan perusahaan milik ayahnya.


Kemudian mencoba mencari informasi lain, namun tidak ditemukan. Dia kembali teringat ke masa beberapa bulan lalu.


*Flashback on


Tepat pukul dua belas malam, ayahnya sampai di rumah. Tak lama terdengar perdebatan dengan sang Ibu.


"Kamu dari mana saja Mas? Dari tadi pihak polisi datang ke sini menanyakan keberadaan kamu…"


"Udah, kamu jangan pikirkan aku. Yang penting kamu pikirkan Jimmy, jika dia memang ingin mengikuti langkah kamu, turuti saja keinginannya untuk menjadi dokter. Mungkin dia memang tidak cocok mengikuti langkahku di dunia hitam ini…"


"Kamu masih terhubung dengan para penjahat itu?" Terdengar suara sang Ibu.


"Jangan berkata begitu! Kalau kamu mengatakan mereka penjahat, berarti kamu juga mengatakan aku ini seorang penjahat…!!"


"Iya.. kamu memang penjahat.. dulu tega hianati aku, sekarang malah berkomplot dengan para mafia…"


"Itu aku lakukan demi kalian. Agar kalian tidak merasakan kekurangan satu apa pun.."


"Apa kamu tega membuat anakmu yang baik itu berpredikat sebagai putra mafia?"


"Sudah lah, jadikan lah dia putra kamu kalau kamu mau. Aku tak akan membawa dia ikut masuk dunia hitam sepertiku…"


"Dunia hitam?" ucap Jimmy diam-diam di balik pintu.


"Jimmy..?? Kamu menguping?" teriak sang ibu.


Jimmy langsung kabur dan masuk ke kamarnya memikirkan dan menerka-nerka apa yang tengah terjadi.


Keesokan paginya sang Papa pamit keluar negeri dengan alasan urusan bisnis. Cukup lama papanya berada di Italy, entah bisnis apa. Dan balik lagi ke Indonesia dengan mulai mengancam Om Broto menggunakan adik tirinya, Leoni.



*bersambung*


bagaimana menurut reader aksi Via tadi? udah cukup keren belum? ada masukan ngga ya? peliiiss minta komengnya... 🙏🙏🤧🤧

__ADS_1


kalau anak gak terlalu rewel, jika sempat otor up 1 bab lagi


__ADS_2