
"Kemarin kan gue memberikan satu paket obat-obatan, semua itu adalah obat yang bisa menyembuhkan penyakit kulit yang dibuat oleh Mak Iroh ini. Apa hari ini Lo membawa obat-obatan itu? Mana tas yang tadi lo bawa?"
Deval menggelengkan kepalanya, "Semuanya hilang," ucapnya dengan wajah menyesal. Tadi saat Mak Iroh tiba-tiba menyerang, tas tersebut ditarik oleh ibu itu lalu melemparnya entah kemana.
Via hanya membelalakkan matanya, semua benda penting mengenai kasus hari ini yang telah diberikannya kemarin, masa dengan enteng begitu saja dibilang hilang.
"Hilang? Cari!" bentaknya dengan kesal.
"Sekarang?"
"Ya iya lah sekarang! Masa tahun depan?" dengusnya masih dalam kesal.
"Masalah ini harus kita bereskan sekarang juga! Jika dibiarkan, ini akan semakin bertele-tele. Banyak kasus penting yang terbengkalai akibat satu kasus ini."
Apalagi hacker-hacker itu tengah meraja lela dalam jaringan, mencoba merombak data yang ada di dalamnya. Bagaimana jadinya jika mereka berhasil menembus data-data penting itu? Nahasnya lagi jika mereka mengetahui bahwa yang dicari sebagai putri dari Mr. Sato dan gadis yang ingin mereka tangkap adalah orang yang sama.
Deval yang melihat kegusaran dan kekecewaan dari wajah Via, mendekat dan menyentuh kedua pundak Via. Via hanya membuang muka karena kesal dan Deval mengikuti arah tatapan Via.
"Lo kecewa sama gue?" Via kembali membuang mukanya ke sisi lain.
"Gue janji lain kali tidak akan seceroboh ini lagi. Tunggu sebentar!" dia tampak mencari-cari sesuatu miliknya.
__ADS_1
"Kamu cari apa?" tanya Mak Iroh.
"Tas saya yang tadi kemana Mak lempar?"
"Oh tas itu?" Mak Iroh menunjuk rerumpun pohon pisang yang tidak jauh dari sana.
Mata Deval menangkap benda yang tadi ditarik dan dibuang oleh Mak Iroh. Berlari kecil mengambil sling bag yang dipakainya tadi. Tas itu kembali diselempangkan pada salah satu pundaknya, dan segera merogoh isinya, sembari berjalan ke arah Via yang sedari tadi kesal padanya.
"Ini?" Mengayunkan benda dalam genggamannya ke hadapan Via.
Mata Via menangkap benda yang ada di tangan cowok itu, yang tadi dikatakannya hilang.
"Ini tas gue tadi hilang, sekarang udah ketemu kembali."
Via mendekati Mak Iroh, "Obat-obatan ini mampu meredakan racun penyebab rasa gatal akibat dari serbuk yang Anda sebarkan kepada warga.
"Cobalah tunjukkan keseriusan Anda, jika memang Anda benar-benar menyesal."
"Saya beri satu kali kesempatan, sembuhkan lah orang-orang yang Anda sakiti, lalu minta maaflah kepada mereka."
"Saya akan melihat seberapa besar keseriusan Anda menyesali semuanya."
__ADS_1
Mak Iroh menerima satu paket obat-obatan tersebut dengan wajah termangu. Tidak menyangka, ternyata gadis itu masih mau memberikannya kesempatan, dan ketakutan akan berpisah dari anaknya menjadi sedikit berkurang.
Deval memperhatikan Via, sama sekali di luar apa yang dibayangkannya. Ternyata gadis itu masih memiliki satu empati yang tak terlintas sedikit pun olehnya. Yang dia tahu, gadis itu dengan laku badasnya yang selalu dia pikirkan.
"Hari ini saya percayakan kepada Anda, warga yang menjadi korban jampi-jampi palsu Anda.
"Tetapi bagaimana nasib warga lain yang kehilangan tempat mereka berteduh?"
Mak Iroh semakin tertunduk, hal itu sama sekali di luar rencananya. Dia lupa bahwa rumah warga sekitarnya juga memiliki bahan bertekstur sama dengannya.
Sementara Via sendiri juga sibuk dalam pikirannya sendiri. Memikirkan apa yang harus dilakukannya terhadap warga yang sudah tidak memiliki tempat tinggal. Tiba-tiba dia teringat pada sang ayah. Apa Tosan mau, mendirikannya untuk mereka?
"Via? Via?" Deval memecahkan lamunan Via yang entah memikirkan apa.
"Lagi memikirkan apa?"
Dia hanya menggelengkan kepala, dan pergi meninggalkan tempat itu diikuti oleh Deval yang bingung melihat Via seperti itu.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
__ADS_1
...terima kasih...
besok adalah hari senin, jangan lupa bagi vote untuk cerita ini yaaa 😁😁