DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
Alam bawah sadar Via 4


__ADS_3

Via memeluk Irin dari belakang. "Tak apa, Rin. Ini demi kebahagiaan lo sendiri. Sedangkan gue tidak tahu kapan akan sadar kembali, atau mungkin tak akan pernah sadar."


Irin melihat sisi kiri kanan, mengedarkan pandangannya ke segala penjuru di ruangan tersebut. Romi yang tadinya berdiri di jendela melihat seseorang yang baru menjadi istrinya ini, melihat Irin dengan tatapan heran.


"Kenapa, Hun?"


Irin menggelengkan kepala. Dia tidak berani mengatakan apa-apa, karena Romi pasti akan julid padanya. Irin bangkit dan memeluk tubuh Via yang sedang terbaring.


"Beib, kapan alatnya bisa diselesaikan?" tanya irin.


"Sabar, Hun. Ini kita lagi usaha bersama. Udah banyak banget yang habis untuk membuat alat pe rang sang otak Marni---"


"Via!" timpal Irin meralatnya.


"Ah, iya, terserah ..." Romi memeriksa peralatan yang terus bekerja memacu jantung Via agar terus berdetak.


"Huuffftt ... Kasiang Papa Jimmy ... Bangun lah!" gumam Romi, yang terus melihat Jimmy terlihat sendu saat berada di ruang rawat ini.


Tiba-tiba Via bergerak mencari sosok suaminya yang mungkin sedang bekerja. Via berkeliling rumah sakit dan akhirnya menemukan Jimmy sedang duduk merenung membenamkan wajahnya di depan sebuah taman.


"Kak ... apa kamu sudah merasa lelah?"


Jimmy menegakan kepalanya kembali melihat ke segala arah. Setelah menyadari tak ada satu pun yang terlihat, Jimmy mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sayang, cepat lah kembali seperti dulu. Aku sungguh sangat merindukanmu. Apalagi anak-anak kita masih sangat membutuhkan kehadiranmu."


Beberapa saat Jimmy menarik nafas dalam-dalam. Setelah itu nafas dihembuskan dengan pelan. "Entah kenapa aku selalu merasakan kamu ada di sisiku."


Jimmy menengadahkan kepalanya menatap birunya langit dihiasi awan putih yang tipis. "Apa kamu memperhatikan kami di sana? Jangan lama-lama berkelananya, Sayang. Betapa berat rasa rindu ingin melihat senyuman di bibirmu."


Air mata Via telah membanjiri pipinya. Sosok yang semenjak dulu diabaikannya, ternyata sangat mencintai dirinya. Via mencoba menggenggam tangan Jimmy, tetapi tubuhnya transparan tak bisa menyentuh apa pun.

__ADS_1


"Kak, aku juga sangat merindukanmu. Segala cinta yang kamu berikan, telah merasuk dalam sukmaku ini. Aku juga ingin melihat senyuman di bibirmu, Kak." Via menyandarkan kepalanya pada pundak Jimmy.


...***...


Waktu pun terus berlalu, anak-anak mereka sudah bisa berjalan. Romi terus mencoba membuat peralatan untuk bisa merang sang kinerja otak Via, agar bisa terbangun dari tidur panjangnya.


Via yang berada di alam penantian, mencoba untuk menemui keluarganyanya kembali. Saat melintasi lorong menuju dunia, tubuhnya seakan tersengat oleh listrik.


"Aaagghhh ..." pekiknya dan portal itu pun menghilang.


Dia tersadar saat Deval tengah menopang kepala Via di pahanya. Dengan refleks, Via bangun melihat semua arah. "Apa yang terjadi? Kenapa aku kembali ke sini?"


"Sepertinya batas kamu mengunjungi dunia sudah mulai menipis," ucap Deval.


"Kenapa bisa begitu?"


Deval bangkit dan mengajak Via untuk bangkit. Setelah Via berdiri dengan sempurna, Via menatap dan menanti kelanjutan apa yang akan dikatakan oleh Deval.


Via membesarkan matanya. Langsung menghitung berapa kali dia keluar masuk dunia manusia. Kadang dalam sehari, dia bisa 3x keluar masuk untuk sekedar melihat anaknya makan, mandi, dan menangis.


Via paling gemas saat Hyuta selalu mengikutinya. Hal ini membuatnya semakin menggila untuk mengajak putranya bermain. Sementara, Hyuna tidak bisa melihat keberadaannya. Jadi membuat Via secara naluriah lebih sering mendekat bermain dengan Hyuta.


"Waaah, sepertinya aku sudah tidak bisa keluar masuk ke dunia fana lagi ya?" Via tertunduk menyesali mengetahuinya dengan terlambat. Saat semua sudah lewat dari batasnya.


"Aku tidak bisa melihat mereka lagi," ucapnya sedih.


Via menatap Deval kembali. "Bagaimana denganmu? Apakah masih ada sisa jatah kembali ke dunia?" Deval mengangguk pelan.


"Kok bisa?" tanya Via heran dan protes.


"Karena aku tidak terlalu sering turun ke dunia."

__ADS_1


Via yang mendengar ucapan Deval tiba-tiba merasa sangat kecewa. Ini berarti Deval tak secinta itu kepadanya. Deval melihat perubahan pada raut wajah Via.


"Kenapa kamu sedih begitu?"


Via hanya menggelengkan kepala, berjalan menjauh meninggalkan Deval. Deval merasa heran akan sikap Via yang tiba-tiba terlihat murung. Deval mengejar Via dan berdiri tepat di hadapan Via.


"Apa yang kamu pikirkan?" Via kembali menggelengkan kepala.


"Cepat katakan! Apa yang kamu pikirkan?" Via menggeleng beranjak ke arah samping.


Deval menahan dan mendekap Via. Semua kenangan yang sudah dikubur kembali terulang dalam kepala Via. Via mendorong Deval menatapnya dengan nanar.


"Aku ini sudah menikah! Kamu jangan begini!"


"Maafkan aku, aku hanya ingin tahu alasan kenapa kamu tiba-tiba marah seperti itu?"


Via membelakangi Deval bersidekap dada melirik dari ujung mata. "Aku tak marah, yang membuatku marah ialah ketika kamu memelukku tiba-tiba seperti tadi. Aku ini bukan Marni, bukan Via yang dulu. Menangis tersedu karena kamu meninggalkan aku begitu saja."


"Aku ini, adalah Via ... istri seorang pria bernama Jimmy ... ibu dari Hyuta dan Hyuna." Semakin ke ujung, suara Via terdengar semakin sendu.


"Lalu kenapa tadi kamu tiba-tiba berubah?" Deval masih menuntut jawaban akan pertanyaan yang ada di kepalanya.


Via menghela nafas panjang, berjalan ke sebuah tepian danau saat pertama dia bangkit. "Aku juga tidak tahu kenapa aku merasa kecewa."


"Apa yang membuatmu kecewa?" Deval memilih duduk tepat di hadapan Via.


"Karena aku baru tahu, kamu tidak secinta itu, tidak seperti aku yang menderita delapan tahun saat kehilangan kamu."


...BONUS FOTO JIWA DEVAL & JIWA VIA yang berkelana (hanya fiksi ya, sebenarnya dalam Islam, ini tidak ada--hanya sebagai bumbu pemanis cerita)...


__ADS_1



__ADS_2