
Tak lama setelah itu, Devan sampai di rumah sakit milik kepolisian tersebut. Tak sengaja melihat Irin sedang duduk sendirian bermain dengan ponselnya. Devan mendekati Irin, dan duduk di sampingnya.
"Eeehh..kamu?!" ucap Irin melihat sosok cowok manis tiba-tiba duduk di sebelahnya.
"Kenapa di sini?" tanya Devan
"Via ada di sini. Ada kasus menimpa pacar kawan kosan kami.."
"Bukankah Via lagi bebas tugas?"
"Iya, hanya saja dia tidak akan tinggal diam bila ada kasus menimpa orang yang ada di dekatnya.."
"Lebih baik kamu pulang saja. Sekarang sudah malam, mungkin penyelidikannya membutuhkan waktu yang panjang.." jelas Devan.
"Memang bener siihh..ngapain juga aku bengong sendirian di sini?" seperti mulai meringis dan merinding sendiri.
"Ya udah, aku kirim pesan ke Via dulu.." Irin mengabarkan bahwa dia pulang ke Via, namun belum dibaca. Mungkin dia tengah sibuk, pikir Irin.
"Aku pulang dulu ya?" Irin bangkit hendak pulang dan memesan ojol.
"Biar aku antar..?" ajak Devan.
"Hmmmm.. Bukankah kamu akan menyelidiki kasus juga?"
"Sepertinya sudah ada Via, mungkin dia lebih ahli dalam menyelesaikan masalah ini. Paling kasusnya sama, korban bernama Dika kan?"
Irin ingat, tadi polisi bilang korbannya memang bernama Dika.
"Iya, kalau nggak salah memang itu.."
"Nah, kita serahkan saja pada Via kasus ini. Kalau begitu aku mengantarmu saja.."
"Oohh..kalau kamu tidak keberatan malah aku senang ada yang ngantar.. keselamatan lebih terjamin kan?" ujar Irin sumringah.
"Kamu sudah makan apa belum?" tanya Devan.
"Belum siih.. soalnya tadi tiba-tiba saja kami ke sini.. tanpa persiapan.."
"Kalau begitu, kita makan dulu. Setelah itu baru aku antar pulang.."
"Boleh..." jawab Irin menarik cowo manis itu.
***
Marni membuka kacamatanya, perlahan melangkah mengikuti tim autopsi, jenazah tidak ditempatkan pada brangkar khusus jenazah, melainkan pada laci pendingin khusus jenazah.
Tim tersebut menyilakan Via untuk membuka laci tersebut, dan dibuka dengan pelan. Saat menarik laci, alangkah terperanjatnya dia, melihat susunan potongan-potongan tubuh jenazah. Menutup mulut saking terkejutnya, dan langsung terbayang wajah Rini yang belum mengetahui bahwa kekasihnya tewas dimutilasi.
"Dimana lokasi penemuan jenazahnya Pak?"
"Potongan-potongan jenazah ini ditemukan di tempat yang berbeda. Tapi secara umumnya, potongan-potongan ini sengaja dibuang ke dalam bak pembuangan sampah." Bapak memperhatikan wajah Via yang tiba-tiba berubah menjadi pucat.
"Apa kamu kuat untuk melanjutkan investigasi jenazah ini?"
"Saya akan mencoba semaksimal mungkin Pak, ini adalah pengalaman pertama saya mengidentifikasi korban mutilasi… Jadi, oleh karena itu saya cukup shock melihat ini…"
"Yakin untuk melanjutkan?"
__ADS_1
Via mengangguk, "Yakin Pak…"
"Kalau begitu, mari kita bekerja sama mengidentifikasi jenazah ini. Semoga kita mendapat titik terang secepatnya.."
"Baik Pak… Tapi saya ingin menemui Kakak saya dulu. Korban adalah teman dekat kakak saya…"
"Ooh, ya udah. Lebih baik dia disuruh pulang saja. Mungkin ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit…"
"Oh iya Pak, apakah ponsel korban sudah ditemukan?"
"Nah, kalau soal itu saya juga kurang tahu. Karena tugas kami hanya mengautopsinya tubuh korban. Kalau berkaitan dengan peralatan milik korban, mungkin sebaiknya ditanyakan pada pihak penyidik…"
"Baik lah Pak, saya permisi dulu sebentar. Nanti secepatnya saya akan kembali melanjutkan penyelidikan…"
"Baik lah..kami akan melaksanakan tugas kami terlebih dahulu.."
"Baik Pak.." Via keluar, kembali mengenakan kacamata menemui Rini.
Sebelumnya menyempatkan membuka ponsel dan membaca pesan dari Irin. Marni membalas dengan,
[Bagus lah..jangan lupa selalu berhati-hati.. Gue kayaknya belum bisa pulang dengan segera]
Sampai di tempat Rini, ternyata dia telah usai diperiksa oleh tim penyidik. Dia tak hanya sendirian, wajah Rini tampak lebih kacau dari yang tadi. Rambutnya berantakan, dan bajunya terlihat sobek beberapa bagian tengah menangis tersedu.
Sedangkan tak jauh darinya tampak seorang wanita kisaran di atas tiga puluh tahunan, dan mungkin seorang yang telah berkeluarga, dengan nafas yang cepat, melirik Rini dengan marah, yaa dia sepertinya habis menyerang Rini. Dia lah penyebab kekacauan Rini.
"Aaada Aapa Kak?" tanya Marni agak sedikit ragu. Rini tidak menjawab, hanya menangis sesenggukan sambil mengeringkan air matanya dengan lembaran tissue.
"Kamu siapa dia?" tanya ibu yang tengah marah dengan nafas memburu seperti benteng bersiap menanduk lawan.
"Sasaya Aadiknya…"
Marni langsung terkesiap mendapat tuduhan barusan, "Lolonte…?"
"Iya.. apakah kamu tidak tahu? Kakak kamu itu menggoda suami saya?"
"Gue tidak pernah menggoda laki lo Nyonyah!" serebut Rini.
"Kurang ajar..!! Masih belum ngaku…" dia kembali hendak menghajar Rini. Langsung dicekal oleh dua orang polwan di sampingnya.
"Ibu..ibu.. saya harap ibu lebih tenang..!!" pinta polwan tersebut dengan nada yang sangat tegas.
"Bagaimana saya bisa tenang Bu? Suami saya tewas…!! Itu pasti karena wanita ******** ini!!"
"Nyonya jangan asal menuduh gue! Gue udah tidak bertemu dia sejak beberapa hari lalu… Lambe Nyonya jangan sembarang nyablak ya.." lawan Rini.
"Sususudah Kak.. sasabar…" Marni mencoba menenangkan Rini.
"Lagian tadi Lo ngapain sama tim autopsi tadi? Kenapa gue tidak diajak? Dia kan gak ada urusannya dengan Lo?"
"Oh..oh…hemmmm…" Marni bingung mesti jawab bagaimana.
"Jangan-jangan kamu juga pacaran sama laki saya juga?" tuduh ibu tadi.
"BuBukan.." sanggah Marni. Gila aja gue pacaran sama om-om..tambahnya dalam hati.
"Hei Nya.. sebelumnya gue gak tahu dia sudah menikah. Kami itu sudah lima tahun pacaran, sama sekali tidak tahu ternyata dia udah punya bini. Kalau gue tau, ngapain juga gue nungguin dia untuk lamar gue.. ogah gue.. nyesel gue ikut sedih atas hal yang menimpa dia…" ujar Rini dengan sarkasnya.
__ADS_1
Marni menggoyangkan tangan Rini untuk tidak melanjutkan bicaranya.
"Dasar wanita ja**Lang…" Ibu itu dengan sekuat tenaganya melepaskan diri dari genggaman dua polwan tadi. Kembali menjambak rambut Rini dan memukulkan kepala Rini ke dinding.
"Aauu.." pekiknya.
Rini membalas, mendorong tubuh wanita yang gempal itu sampai terduduk. Duduk di pangkuan dan membalas dengan mencekik wanita gempal itu..
"Lo pikir gue takut nyaa..?"
"Dasar pelakor anj****ing" umpat ibu itu yang semakin tersudut oleh serangan Rini.
Marni berusaha melerai, namun tenaga Rini yang marah seperti kuda membuat Marni tersungkur.
Orang mati aja diributin, gimana kalau dia masih hidup? Batin Marni. Kembali Marni bangkit dan mencoba menahan Rini agar tidak membabi buta lagi, dua polwan juga menahan ibu yang katanya istri dari pacar Rini.
"Kak.. pulang aja…" Marni tanpa sadar kelupaan dengan akting gagunya, terus mengeluarkan kekuatan maksimal menarik Rini dari tubuh ibu itu.
"Jangan halangi gue!! Gue ingin menyumpal mulutnya itu dengan bogem gue…" teriak Rini penuh amarah.
Ini sebenernya ada apa sih? Batin Marni bingung. Jadi ini istrinya alm Dika, dan Kak Rini sudah lima tahun pacaran dengan alm Dika.
"Bu, sudah berapa lama menikah dengan alm Dika?"
"Saya sudah dua tahun menjadi istrinya.. Ternyata dia malah main belakang, sama lon***te sialan ini…" umpat wanita itu.
"Sialan..!! Berarti Lo yang rebut dia diam-diam dari gue…" Kembali Rini hendak menghajar ibu yang gempal itu.
"Sudah..sudah.. hentikaaaaan…!!!" Teriak polwan yang dari tadi hanya menjadi figuran.
Semua terdiam, menatap polwan tadi yang tak diacuhkan oleh protagonis dan antagonis. Walaupun bingung yang mana protagonis yang mana antagonisnya.
"Pulang kak. Pulang…!!" Kembali Marni menarik Rini.
Rini yang sadar akan sesuatu menahan tarikan dari Marni, "Gu…gagu… Tunggu…" Dia mencoba mencerna apa yang terjadi pada Marni.
"Ada apa lagi Kak? Ayo pulang..!!"
Sekarang giliran Rini yang menarik bahu Marni, "Coba ngomong lagi.." pinta Rini.
Aiiissshh… Marni menutup mulutnya. Dia sadar melupakan akting gagap.
"Dek Via, bagaimana tadi hasil penyelidikan nya?" tiba-tiba saja penyidik dari kepolisian berada di samping mereka…
Aiiissshh… Ini malah nambah lagi..
"Marni jawab!! Ada apa ini? Via..?? kenapa Lo dipanggil Via?"
UPS… Polisi tadi sadar sedang melakukan kesalahan.. Marni menatap tajam pada polisi itu, lalu mendengus.
"Terus kenapa Lo diajak ikut melihat jenazah? Sedangkan gue malah diperiksa? Sebenarnya Lo tidak gagap kan? Kenapa Lo pura-pura gagap?" Rini memberondong Marni dengan banyak pertanyaan, Marni hanya bisa tersenyum Kikuk.... menggaruk pelipis kebingungan.
*Bersambung*
apakah tulisan saya menarik reader sayong? minta komengnya dunk ya.. biar otor makin cemungut untuk ngehalu nya ..
__ADS_1
😘😘