DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
86. Ped*fil


__ADS_3

Mereka terlihat sangat menyeramkan, lebih baik masuk aja lah, batinnya lagi.


"Pa, aku ke dalam?"


"Kenapa buru-buru, ini mereka ingin mengenal kamu!" cegat ayahnya. 


"PR ku banyak, tadi siang belum sempat mengerjakannya."


Lalu tampak sang ayah kembali berbincang dengan orang yang bernama Oliver itu. Lalu akhirnya mereka melepaskan Jimmy untuk masuk ke dalam kamar.


Ada apa sih? Kenapa Papa belum juga kapok berurusan dengan orang-orang bertampang bandit itu? Kenapa perasaan ku malah tiba-tiba jadi gak enak. Apa itu berhubungan denganku nantinya? Sepertinya aku harus menjauh dari orang-orang itu. Aku tak ingin berurusan dengan mereka.


Lalu dia segera mencari sang Ibu. Ternyata ibunya tengah menangis di dalam kamar. Jimmy duduk di sebelah sang ibu.


"Ma, kenapa nangis? Bertengkar sama Papa lagi?"


Ibunya memegang pundak Jimmy dan menatapnya dengan sendu. "Kamu sudah besar kan? Kamu sudah boleh memilih apa yang baik untukmu."


"Mama ngomong apa sih?" keningnya berkerut, belum memahami apa yang dimaksud oleh ibunya.


"Sekarang kamu belajar lah dengan baik. Semua keputusan, Mama serahkan padamu. Mau mengikuti kata Papa kamu, atau tidak. Kamu sudah dewasa!"


"Maksudnya?"


"Nanti Papa kamu akan menjelaskannya. Sekarang masuk lah ke kamarmu, jangan lupa kerjakan PR dan belajar."


Jimmy keluar dari kamar itu dengan wajah penuh dengan tanda tanya besar. Apa yang akan dilakukan oleh sang ayah padanya? Siapakah orang-orang tadi yang menggunakan pakaian seperti mafia-mafia di televisi itu?


***


Sementara Deval yang tadi ditinggal oleh Via merasakan kebingungan sendiri atas apa yang terjadi hari ini. Sebenarnya dia masih merasa gengsi, mengatakan apa yang sebenarnya yang dia rasakan melihat Via memiliki benda-benda canggih yang tidak dia punya.


Dia merasa rendah diri atas semua yang Via bisa, sedangkan dia tidak bisa. Sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memantaskan dirinya sebagai orang yang bisa mendampinginya, namun dia merasa terlalu jauh berada di level paling bawah.

__ADS_1


Rasa malu yang luar biasa dia terima saat tadi Via menyerah kan hasil investigasi nya dalam penyelidikan di tempat yang sama, namun hasil yang didapatkannya malah sangat jauh berbeda. 


Akhirnya, setelah Via meninggalkannya sendirian, di senja yang remang di antara gelapnya gubuk dan minimmya cahaya tempat itu, Deval memilih untuk pulang. Membatalkan rencananya untuk segera menyelesaikan masalah Mak Iroh di kampung tersebut.



Dengan perasaan kacau, mengharu biru menjadi satu, Deval tertegun duduk di pojok kamarnya. Di melihat seisi kamarnya, lalu terfokus pada sebuah foto anak perempuan kecil berkepang dua, mengenakan seragam sekolah dasar, yang terlihat sangat cantik dengan senyumannya. 



"Via, apakah takdir ini bisa mengantarkan kamu kepadaku?" Aah, kenapa gue gak bisa berkata seperti itu padanya? Kenapa canggung sekali rasanya mengubah panggilan Lo gue, menjadi aku kamu?


Lalu dia bangkit melangkahkan kakinya ke tempat dimana bisa melihat foto gadis kecil itu lebih dekat. Siapa pun orang yang bisa dapatkan kamu, pasti dia orang yang beruntung. Tak terkecuali jika orang itu aku. Aku yang masih jauh dari kata sempurna untuk bisa mengejarmu. Maafkan atas sikapku tadi yang aku sendiri tidak bisa mengendalikannya.


Huuff.. kenapa rasa ingin lebih tinggi darinya itu belum juga berkurang? Padahal aku tahu, aku tak akan bisa melebihi dari apa pun yang kamu miliki. Aku hanya bagai punguk yang merindukan bulan. Saat kesempatan yang kamu berikan pun tidak bisa aku manfaatkan.


Deval dilanda galau tingkat dewa, hingga sisi romantis yang selama ini disembunyikan keluar dan kembali hanya bisa dikatakannya pada sebuah foto. Foto yang telah dia miliki sejak tiga tahun lalu. 


***


Via mengambil ponsel, mencari kontak Deval. Entah kenapa dia tiba-tiba merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.


***


Kembali ke rumah Jimmy, dimana Buana Putra tengah menyiapkan minuman beralkohol bagi tamu-tamu bulenya. Sementara Oliver tengah asyik mengotak-atik ponsel. Memperhatikan foto gadis lincah yang sangat menarik perhatiannya. Tiba-tiba Buana Putra sudah berada di sampingnya, tertarik akan tingkah Oliver yang tengah terfokus pada benda pipih di tangan bule itu.


"What's up Bro?" tanya Buana Putra mengintip kegiatan dan tampak di layar datar benda pipih itu terpampang sebuah foto seorang gadis yang sangat dibencinya.


"Mengapa kamu punya foto dia?" tanya Buana Putra kepada Oliver.


Oliver terkejut mendapatkan pertanyaan itu, dan merasa jalan untuk mendapatkan informasi lebih banyak tentang gadis yang membuatnya penasaran itu semakin besar.


"Apakah kamu mengenal perempuan muda ini?"

__ADS_1


Buana Putra tertawa dengan sangat garang, dengan wajah penuh kebencian. Masih teringat jelas di otaknya tentang ulah yang dilakukan oleh anak ini. Kata-kata yang diucapkan oleh anak ini selalu menyakiti hatinya.


"Kamu pernah mendengar bukan, saya punya musuh kecil, menghancurkan perusahaan kami tahun lalu, dia lah anak tengik yang melakukan semua nya pada perusahaan kami."


Oliver sangat terkejut dengan informasi yang diberikan oleh Buana Putra barusan. Kembali di tengoknya gadis kecil yang manis itu tengah bermain dengan sepeda yang bisa menghilang. Dalam pikirannya menari-nari untuk segera menangkap anak itu sekaligus menjadikannya sebagai miliknya.


"Waah, ternyata benar juga kata orang-orang bahwa dunia ini sangat sempit Mr. Buana Putra. Ternyata Anda mengenal dia. Kalau boleh saya tahu, siapa nama gadis kecil ini?"


Buana Putra mendelik melihat Oliver. Mengapa Oliver seperti tengah kasmaran pada gadis yang selalu dia kutuk setiap hari ini?


"Oliver, jangan sampai jika kau bilang…" Buana Putra memberi tanda petik dua jari di kedua tangannya.


Oliver hanya menyunggingkan senyuman miring, tidak membantah apa yang dituduhkan Buana Putra terhadapnya.


"Dia itu masih terlalu muda, bahkan dia lebih kecil dibanding anakku Jimmy," jelas Buana Putra seolah tak percaya dengan apa yang langsung dihadapinya ini. Menemukan seorang yang memiliki kelainan yang sangat mengerikan. Ped****fil.


"Kamu tahu nama dia? Sebutkan lah, siapa dia?!" Oliver bertanya dengan seringai yang mengerikan. Seperti benar-benar akan melahap gadis kecil yang pernah membuatnya terpuruk itu. Namun jika diserahkan kepada Oliver, gadis itu pasti tidak akan bisa lepas dari kejarannya. Bruno pernah menceritakan bahwa tangan kanannya ini tidak akan pernah berhenti mengejar sesuatu yang dia inginkan sebelum didapatkannya.


Tiba-tiba muncul perasaan kasihan jika gadis itu benar-benar ditangkap oleh Oliver. Bahkan usianya lebih muda dibandingkan Jimmy. Jiwa kebapakannya muncul mencoba menghindari pembicaraan itu.


"Mari kita kembali bersulang!" Buana Putra menyerahkan gelas yang berisi sampanye kepada Oliver. Menyilahkan anggota gangster lainnya untuk mengambil minuman itu sendiri. Lalu mereka semua mengangkat gelas dan bersulang.


Oliver menyadari bahwa Buana Putra mencoba mengalihkan perhatiannya, namun dalam diamnya dia merencanakan sesuatu.


...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...


...terima kasih...


Visual Oliver


__ADS_1


__ADS_2