
"Baik lah, pelajaran hari ini kita cukupkan sampai di sini. Namun, jika masih ada yang masih yang belum paham akan materi hari ini, boleh ditanyakan pada Ibu," semua siswa memperhatikan Bu Ratih guru matematika mereka. Raut wajah mereka sudah tampak keriting karena seharian dihajar mata pelajaran eksakta. Namun ada siswa yang tidak memperhatikan gurunya, sibuk melihat ke sisi Marni. Dia Dino, sedari tadi memerhatikan Marni yang sama sekali tidak bergerak dari bangkunya.
~Flash back on~
Dino dan kawan-kawan berandalannya memastikan Marni sedang membaca buku dengan serius di perpustakaan. Lalu tergesa-gesa menuju kelas, dan mengarah ke bangku Marni.
Semua anggota Dino mengeluarkan permen karet yang tengah mereka kunyah, lalu menempelkannya pada kursi Marni.
"Hahaha, kita lihat nanti hasilnya..." lalu mereka tertawa. Lalu kembali melanjutkan istirahat mereka keluar kelas.
Tak lama Marni masuk kelas, dan heran. Kenapa kursi yang tadi disusun dengan rapi berubah posisi? Tampak beberapa permen karet terletak di atas bangkunya. Dia tersenyum sinis, sudah menebak siapa yang melakukannya. Kalau mengerjai orang itu, jangan bodoh kayak gini, batinnya sembari mengeluarkan tissue basah yang selalu disediakannya. Mencabut permen tersebut satu persatu lalu membersihkan bangkunya.
Kemudian Marni membuka tasnya, "Sudah gue bilang, kalian salah menangkap mangsa, yang ada kalianlah yang akan gue jadikan mangsa" bicara pada diri sendiri, lalu mengeluarkan lem super kuat tak tampak oleh mata, karena bening. Kalian rame-rame buat ngerjain gue, gue cukup membalas pada satu orang. Ya, cukup Dino dulu..tersenyum Smirk..
~Flash back off~
Pelajaran usai, dengan gampang Marni berdiri dan melihat Dino yang sedari tadi memerhatikan ya. Dengan senyum Smirk menghiasi bibirnya, melambaikan tangan pada Dino dan kawan-kawan yang tengah heran.
"Kenapa gak terjadi apa-apa?" tanya Romi.
Yang lain hanya megedikkan bahu, karena juga tak tahu alasannya.
"Ya udah deh, kita cabut yuk..." Dino menarik tas dan mencoba berdiri. Waduh, kenapa gue nempel di bangku?
"Ayolah Bro...lambat amat sih?" ujar Romi yang sudah berdiri di pintu..
"Tapi...tapi..." Dino terus berusaha melepaskan diri dari bangkunya.
"Kayaknya Dino lagi ada masalah.." timpal yang lain kemudian berbondong-bondong menuju bangku Dino..
"Kenapa sih? Goyang dombret kayak gitu?"
"Ini...gue nempel di bangku. Gak mau lepas..." Dino sudah berkeringat karena panik. "Tolong gue donk!" ujarnya dengan wajah memohon.
"Gimana caranya? Atau lu lepas aja celananya!"
__ADS_1
"Ogaaaahh... cepat lah tolong gue?" melambaikan tangannya minta ditarik.. Lalu kawan-kawan nya menarik Dino bersama-sama dan .. ~kreeeekkkk~ celananya sobek, dengan ukuran yang lumayan lebar.
Mereka semua saling bertatapan, lalu tertawa terbahak-bahak, kecuali Dino memasang muka geram.
"Ini pasti kerjaan si gagu..." geramnya dengan nafas berat. Lalu pulang dengan menutup lubang d pantatnya dengan tas. Tetap ketahuan sama yang lain kalau celananya sobek, dan jadi bahan tawa seisi sekolah yang hendak pulang.m
***
Sorenya Via dengan beberapa pasukan dari kepolisian tengah mengepung sebuah rumah. Dia mendapat perintah untuk menyelamatkan gadis kecil yang tengah diculik. Diculik saat pulang dari sekolah taman kanak-kanak.
Tengah memutar-mutar focus dari teleskop yang digunakannya. Tampak gadis kecil berpakaian sekolah TK, tengah bermain dengan seorang pria, yang mungkin penculiknya. Tapi sang anak tampak sangat bahagia bermain dengan pria itu. Pria yang berpakaian sangat rapi, mengenakan jas berdasi.
"Pak, tampaknya penculik adalah orang dekat dengannya?" ujar Via kepada komandan Adi. Yang memimpin misi penyelamatan kali ini.
"Kenapa begitu Dik Via?"
Via menyerahkan teleskop tersebut, dan benar tampak suasana akrab antara penculik dan korban. Via mengotak Atik tablet mencari informasi data sang penculik. Tak lama Via mendapat informasi yang sangat mengejutkan.
"Apakah korban itu merupakan anak angkat dari keluarganya yang sekarang?" tanyanya kepada komandan Adi.
"Pria itu sepertinya ayah kandung dari anak itu," menyerahkan informasi yang didapatkan tadi kepada komandan Adi.
"Bukankah dia Presdir Buana Putra?" komandan Adi memastikan.
"Iya, benar sekali. Dia seorang CEO sekaligus mafia yang sangat terkenal di dunia hitam..." ucap Via nanar dengan pelan. Karena Via pernah berurusan dengan dia, yang pernah menculik Sabrina. Sejak itu lah Via ingin melepaskan diri dari keluarga Sabrina, karena tidak ingin mencelakai sahabat yang sudah seperti saudaranya sendiri itu.
"Mafia?"
"Eh...bukan..bukan..." Via gelagapan, dia tak ingin berurusan lagi dengan Buana Putra. "Tapi kenapa dia menculik anak kandung yang telah dia telantarin lagi? Apa ada hubungannya dengan keluarga angkat korban?"
Kemudian komandan Adi menghubungi kantor, Via masih mengawasi Buana Putra dan anak yang diculiknya itu.
Komandan Adi berjalan ke arah Via, "Benar seperti spekulasi yang Dik Via katakan. ternyata secara diam-diam beberapa waktu terakhir pihak Buana Putra selalu melancarkan ihtikad buruk kepada Bapak Subroto, ayah angkat korban. Penculikan ini pun bukan hal yang pertama kali dilakukannya. Sebentar lagi Pak Subroto akan datang dan kita tunggu informasi yang akan beliau sampaikan... Sementara kita awasi dulu dari jauh, selagi korban dilakukan dengan baik..."
Tak lama Pak Subroto datang secara mengendap-endap ke arah Via dan pasukan polisi. Pak Subroto mengisyaratkan agar tetap tenang tanpa bersuara.
"Sebenarnya ada kejadian apa Pak dengan dia?" cetus Via sedikit dingin
__ADS_1
"Kami sedang bersaing dalam bisnis Dik Via, kali ini kembali Leoni yang dijadikannya tameng agar aku mengalah..." ucapnya sendu dan khawatir ..
"Sebelumnya maaf ya Pak Subroto..."
"Panggil Om Broto saja!" selanya memutus ucapan Via
"Oh iya Om, ini sedikit ke masalah pribadi. Mengapa dia menculik anak kandungnya sendiri?"
Wajah Om Broto langsung menegang, "Dari mana kamu tahu Leoni adalah anak kandung dia?"
"Saya melihat hubungan mereka cukup akrab..."
"Benar, mereka sangat akrab. Karena itu Leoni merasa sama sekali tidak takut pada Buana keparat itu. Padahal dia sendiri yang memberikan Leoni kepada kami. Tapi saat kami telah menyayanginya bagai anak kandung kami sendiri, malah dimanfaatkan untuk melumpuhkan kami..." ucapnya nanar, dengan mata berkaca.
"Saya tau dia penjahat kejam, tapi tak menyangka dia sampai sekejam itu, menyerahkan anaknya sendiri untuk dimanfaatkan demi kepentingan pekerjaannya.."
Om Broto mulai mengendur dan lesu, "Jadi bagaimana cara kita harus menyelamatkan putri kami Leoni?" tak lama phonsel Om Broto berdering dan matanya terbelalak melihat nama kontak yang muncul di layar. Benar, dia adalah Buana Putra. Layar diusap dan berdehem...
"Kapan akan kau lepas anak ku?"
"Anak mu? Leoni juga anak ku," kata Buana Putra di seberang.
"Diam kau!! Kalau kau memang menganggapnya anak, tak seharusnya kau terus menjadikan dia tameng untuk memperalat ku!"
"Aku tahu kau bersama rombongan polisi dekat sini..." wajah Om Broto dan Via menegang.
Via langsung mulai khawatir, dia melupakan di sini adalah kawasan Buana Putra. Pasti banyak CCTV di sini...dan dia juga tahu aku juga di sini ..
"Aku juga tahu Detektif Via juga ada di sini," terdengar suara Buana Putra secara speaker phone dengan sinis.. "Masih berani ikut campur dia dengan urusanku..." tambahnya lagi.
Wajah Via semakin menegang.
...*bersambung*...
...Jangan lupa meninggalkan tanda jejak yaa.. LIKE, LOVE, GIFT & VOTE 🥰🥰🤩🤩😍😍...
...Terima kasiiiih.....
__ADS_1