
"Aa'……" pekik Via melihat Stevan tengah kesakitan.
"Kejar dia!!" perintah Stevan.
"Tapi Aa'?"
"Gue masih bisa mengatasi ini..sepertinya bukan air mendidih, tenang aja..!" masih mengelak, padahal sekujur kulit ditubuhnya terasa perih.
Dengan segera Via melompat ke dalam lewat jendela dan mengejar pelaku yang mencoba untuk kabur. Via menaiki lantai dua, dan saat di tangga sebuah lemari di dorong oleh pelaku hingga lemari meringsut turun dan Via melompat dan bergelantung di gagang pinggir tangga.
Sementara Stevan yang tengah meringis kesakitan akibat luka bakar, mencari sumber air yang bisa membuat kulitnya segera menjadi dingin. Tampak sebuah keran di bagian pojok, diputarnya lalu ditembakkan air yang meluncur ke seluruh tubuhnya menggunakan selang.
…Braaaaaak… Lemari mendarat dan menghempaskan seluruh isi yang ada di dalamnya. Kembali Via melompat dan mengejar pelaku. Pelaku masuk ke sebuah ruang lalu mengunci pintu. Via mencoba mendobrak pintu tersebut, namun ternyata dia tak kuasa.
"Ibu… Ibu… Ayo segera serahkan diri ibu!!!" teriak Via terus mencoba memukul-mukul pintu itu.
"Pergi kalian!! Jangan ganggu kami…!!!" pekik wanita itu.
"Ibu dengan siapa di dalam?? Ayo kita periksakan diri ibu ke psikolog!!"
"Pergiiiiiiii!!" Teriaknya.
Kemudian Via mengeluarkan alat berupa linggis dan palu dari dalam tasnya, untung gue bawa ini buat jaga-jaga, batinnya. Lalu disiapkan juga suntik bius dalam kantong celana. Untuk menangkap wanita yang tengah kehilangan jati dirinya.
Via mulai mencongkel kunci dan dipukul dengan palu.. Tak lama pintu terbuka, Via melangkah hati-hati tak tampak seorang pun dan tiba-tiba ….duuuk…. tengkuk Via dipukul oleh wanita itu dengan balok, membuat Via meringkuk kesakitan dan nyaris tak sadarkan diri.
Usai merasa sedikit reda, rasa perih akibat air panas, Stevan menyusul masuk ke dalam. Menaiki tangga dan melihat pintu terbuka. Tampak oleh matanya, Via tengah dicekik oleh sang pelaku.
"Bu…ibu.. apa yang ibu lakukan…?"
"A…Aa…" ucap Via lirih mencoba melepaskan cekikan sang pelaku. Namun, tenaganya benar-benar kuat.
"Kenapa kalian mengusikku? Siapa kalian?" masih tengah mencekik Via.
__ADS_1
"Bu… lepaskan anak itu.. Bu… sadar lah…!" Stevan melangkahkan kaki satu per satu mendekat ke arah mereka.
"Ibu… Ibu… Emangnya saya ibu kamu?" masih terus berusaha mencekik Via dengan sekuat tenaga. Via tampak mulai lemas.
"Bu, lepas… Sebelum saya bertindak…" ancam Stevan.
"Beraninya kalian mengusik keluargaku? Ini adalah hukuman bagi kalian!!" ucap wanita itu geram, Via sudah mulai kehilangan kesadaran.
Lalu Stevan melirik apa pun yang bisa digunakan. Tampak balok yang tadi digunakan wanita itu untuk memukul Via tadi.
"Jangan salah kan saya berlaku kasar pada Anda…" lalu Stevan memukul pundak wanita, namun dia sangat kuat, hal itu tak membuat dia oleng.
Namun, membuatnya semakin marah. Wanita itu dengan tatapan tajam, nafas memburu, melempar Via dan mulai menyerang Stevan.
Via yang telah terlepas, meraup nafas sebanyak mungkin..howeeekkk.... uhuk…uhukk… "Syukurlah gue masih hidup," desisnya.
Dengan langkah sedikit gontai, dia mencoba membantu Stevan. Stevan bertubi-tubi dipukul menggunakan kursi. Untuk menangkap wanita itu yang tengah dikuasai oleh kekuatan ajaib yang entah datang dari mana, tenaga yang sangat luar biasa. Pantas suaminya bisa tewas begini, batin Via.
Via mendapat kesempatan untuk menahan salah satu tangan wanita gempal itu, disambut satunya lagi oleh Stevan.
Mereka memelintir dan mengunci tangan wanita itu hingga tidak bisa bergerak. Stevan merebut tangan satu lagi dari Via, menyuruh Via untuk membius wanita itu.
Langsung dikeluarkan dari kantong, dan disuntikkan di bahu wanita yang seperti kerasukan se**Tan. Beberapa waktu dia masih mencoba untuk melawan, dan lama kelamaan akhirnya tubuhnya mengendor lemas dan bius mulai bereaksi, dia tertidur.
"Tak usah pikirkan gue… Gue baik-baik saja.. Lo bagaimana? Kerongkongannya masih sakit?" bekas cekikan masih terlihat di leher putih milik Via.
"Gue baik-baik saja. Nanti Aa harus segera dibawa ke rumah sakit, untuk penanganan lebih lanjut…"
"Lo juga…" sela Stevan.
"Sebaiknya dia harus segera kita ikat. Dan kita bawa ke kantor polisi. Kita serahkan pada kepolisian, biar mereka yang menindaklanjuti…"
Via mengangguk, mencari sesuatu di dalam lemari kamar itu yang bisa mengikat wanita bertubuh padat ini… Akhirnya menemukan sprei, diikat pada seluruh tubuh si pelaku,yang disisakan hanya bagian kepala.
"Gimana cara kita bawa dia ya?"
"Mas Dedi gimana?"
"Nah itu, mobil biasa lagi kita rombak akibat kejadian tadi malam. Jadi sekarang belum bisa digunakan…"
__ADS_1
"Ada agen lain yang tugas sekitar sini nggak?" tanya Stevan.
"Oohh.. iya.. aku hubungi BOS dulu.. minta dikirim agen lokasi terdekat dengan kita.."
"Ya, hubungi lah. Gue nungguin ibu ini.. takutnya malah sprei ini tidak tarlalu kuat untuk menahan dia."
"Cari yang lain A'! Tambah aja ikatannya untuk jaga-jaga…"
"Ooh.. benar juga…" Lalu Via menghubungi BOS dan Stevan menambah ikatan pada wanita yang tengah dalam pengaruh obat bius itu.
Via telah selesai dengan tugasnya, Stevan juga telah selesai menambah ikatan pada wanita itu.
"Ini dosisnya untuk berapa lama?" tanya Stevan.
"Nggak lama siih.. dua atau tiga jaman…"
"Ooh.. itu cukup untuk membuatnya tertidur hingga nanti sampai di kantor polisi.. Gimana? Siapa yang ke sini?"
"Kak Kenzo A'!"
"Ooh… Dia bagus lah… Gue ke sana dulu.. nyari-nyari kotak pe tiga ka..."
"Oke.. gue yang jaga di sini.."
Via duduk di samping wanita itu. Melihat dia tidur dengan tenang. Kasihan sekali dia. Dia mungkin terlahir dari keluarga yang kaya, namun mungkin keluarga nya lah yang membuat dia jadi begini. Karena karakter psikologis seseorang terbentuknya karena didikan keluarga.
Sementara keluarga yang harus bertanggungjawab, menutup mata atas segala tindakan yang dilakukannya. Namun, hukum harus ditegakkan.. biar pihak kepolisian yang memutuskan tindak lanjut atas ibu ini.
Tak lama, agen yang ditunggu datang juga. Bergotong royong membawa wanita itu masuk ke dalam mobil, dan dibawa ke kantor kepolisian.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE & KOMENTAR...
...terima kasih...
DID
__ADS_1
Gangguan identitas disosiatif, sebelumnya disebut gangguan kepribadian ganda, biasanya merupakan suatu reaksi terhadap trauma sebagai cara untuk membantu seseorang menghindari kenangan buruk.