DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
94. Menang seperti kalah


__ADS_3

"Ma-mana yang ma-mau gu-gue ba-bantu?"


Semua telah usai acara makan, seperti yang sudah direncanakan, tugas untuk hari ini adalah membantu Dino dalam membahas PR untuk hari esok. Materi esok yang akan dibahas adalah fisika.


"E-ene-nergi ki-kine-tik ru-ru...," Marni belum selesai menjelaskan, langsung disela oleh Dino.


"Gu, bisa nggak sekali-sekali Lo nggak pakai gagu? Gue malah jadi tambah pusing kalau Lo ngajarinnya kayak gitu." Dino merengut karena bicara Marni yang tidak normal itu, malah membuatnya semakin tidak mengerti.


"La-lalu gi-gima-mana donk?" Di tengoknya cowok yang kalem diam semenjak tadi. Dia siswa jurusan sosial, tentu tidak paham dengan materi ini. Dia seperti ketiduran, dan terkaget bangun lalu menyugar rambutnya untuk menghalau rasa kantuk.




Marni melongo melihat tingkah Deval yang cukup konyol itu. Dia merasa Deval imut sekali tanpa suara ternyata sedang ketiduran.


"Lo kerjain aja, jadi nggak usah dibahas. Malah makin Lo bahas, gue makin bingung caranya jawabnya. Atau Rin, Lo tau gimana caranya ini?"


Irin menggeleng dengan cepat. Padahal baru beberapa waktu lalu dia merasa tidak cocok masuk jurusan sains ini. Jika ada yang bertanya materi ke dia, itu sebuah kesalahan yang akan menjerumuskan si penanya untuk masuk ke jurang. Irin mencoel Marni yang asyik melongo memamdang Deval.


"O-ogah gu-gue, ka-kalau e-emang gak ma-mau ka-kami ca-cabut."


Dino mengibaskan tangannya dengan lemas. Dia merasa tidak ada gunanya belajar dengan Marni. "Hei, cowok pura-pura culun, Lo bisa nolongin gue nggak?"


Joko yang sedari tadi hanya memperhatikan hanya melipat tangan dan mengedikkan bahunya. "Lo bertanya pada orang yang salah," ucapnya memainkan alis.


Marni hanya terkekeh, dan merasa bersyukur dengan akting pura-pura gagunya untuk hari ini. Bisa menyelamatkannya dari situasi merepotkan, untuk mengajari Dino belajar.


"Kalau begitu gue bawa Marni ya?" Deval mulai bangkit dari posisinya, dan Dino dengan wajah pasrah tapi tak rela, melepaskan mereka untuk pergi dan absen dari tugas kacung hari ini. Marni dengan cekatan merapikan peralatan milik Deval, dan memasukkan nya ke dalam kantong tadi. Lalu ikut bangkit diikuti Irin setelah itu pergi meninggalkan Dino.


"Padahal gue menang, tapi kok tetap berasa jadi yang kalah ya?" Dino menopang dagunya lalu merenung dengan kesal.


"Jadi kita ke rumah Mak Iroh?" mereka berjalan menuju kostan Marni. Deval sudah mencoba mengambil kantong peralatan makannya tadi, namun dicegah oleh Marni. Dia ingin membersihkannya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Iya, langsung aja kita ke sana."


"Ya udah, gue salin baju dulu ya? Tunggu sebentar ya." Joko hanya mengangguk, menyimpan kacamatanya dan kembali menjadi Deval.


Marni menyerahkan kantong berisi kotak makan kosong itu kepada Irin. Alis Irin naik tanda protes, "Katanya Lo yang bersihin?" protesnya.


"Lo kan banyak waktu, sedangkan gue harus beres-beres buat kerjaan. Simpan aja dulu sampai kami balik."


Irin hanya merengut memonyongkan bibirnya. "Tapi mengingat perut gue kenyang karena kalian, gue ikhlas bersihin kalian!" bicara kepada peralatan makan itu lalu masuk ke dalam kamarnya.


Marni yang berada di dalam kamarnya, segera mengganti pakaian yang kira-kira bisa menyamarkan identitasnya.


Menggunakan jaket untuk keamanan. Tapi gaya dikit dulu, Poto dulu sebelum beraksi, batinnya. Kebanyakan gaya nggak sih ya?



Setelah itu menyiapkan peralatan yang dibutuhkan dan segera menyandang ranselnya. Teringat tadi Deval masih belum ready dengan penampilan, dicarikannya sebuah topi kupluk dan kacamata hitam.


Marni kembali mengenakan kacamata, dan topi bersiap untuk cabut bersama Deval. Membawa sesuatu untuk cowok yang masih butuh banyak belajar yang berdiri di depan kostan. Terdengar suara agak rusuh dari arah depan. Marni segera mempercepat langkah, ingin melihat apa yang tengah terjadi di sana.


Saat melihat Stevan, dia ingin segera dekat dengan Stevan. Kali ini menemukan cowok manis nan imut Deval, tapi dengan wajahnya dingin.


Nah tuh, Rini. Dari ujung rambut, hingga ujung kakinya saja terlihat sangat sexy. Deval hanya tertegun diam melihat Seorang wanita dewasa baru datang dan menggodanya.


"Hey, cowok imut. Kok diem aja sedari tadi gue tanya. Nama Lo siapa? Mau cari siapa?"


Deval hanya melihat wanita ini seperti tante-tante girang yang sedang bercanda. Dia hanya diam memainkan ponselnya.


"Aduuh, kok gue gemes ya, sama yang kalem-kalem kayak gini..."


Marni mendekat ke arah sumber keributan. Rini terkejut melihat dandanan Marni kali kali ini. Mengintari Marni sesaat, tumben sekali akhir-akhir ini dia sering memakai topi.


"Mau kemana Neng?" lalu melihat ke arah lelaki remaja yang dari tadi hanya diam saat dia tanya.

__ADS_1


"Kalian mau pergi bareng?" Lalu menunjuk Marni dan lelaki muda itu bergantian beberapa kali. Karena belum mendapat jawaban dalam beberapa saat, pertanyaan diulang kembali, "Kalian mau pergi bareng?"


Marni hanya menyunggingkan senyuman dan mengangguk. Lalu menyerahkan benda-benda yang disiapkannya untuk cowok itu. Dia hanya mendelik, heran. Mengapa harus menggunakan ini?


"Pakai saja, untuk lebih aman...!"


Lalu Marni memasang Masker, agar semuanya benar-benar tertutup. Rini yang sedari tadi memperhatikan, membuat isi kepalanya dipenuhi oleh banyak pertanyaan kepada Marni. Tapi setelah melihat persiapan yang dilakukan gadis yang telah dianggap kayak adiknya itu, akhirnya dia melepas gadis manis yang selalu berpura-pura jelek.


"Lo ada kerjaan ya Neng?"


Marni mengangguk, dan memeriksa kembali kelengkapan peralatan untuk digunakan mengakhiri penyelidikan di rumah Mak Iroh.


"Kalau Lo sibuk banget, gue masuk aja deh. Gak enak banget dikacangin sejak tadi," gerutu Rini yang dianggap tidak terlihat oleh kedua orang ini. Yang satu sibuk dan menyibukkan diri dengan ponsel, yang satu sibuk memeriksa benda-benda di dalam tas. Dikacangin itu rasanya sakit sist...


"Maaf Kak, soalnya kami buru-buru. Jadi pikiranku terfokus pada satu hal. Jadi maaf kayak cuek sama kakak."


"Sedari dulu ngomong kayak gini Napa? Ini seneng banget pura-pura gagu. Apa tidak capek?"


"Hehehe, itu karena suatu hal Kak..." setelah merasa semuanya oke, Marni melotot karena Deval masih belum menggunakan benda-benda yang diberikannya.


"Ya udah, gue masuk ya. Good luck yak... selalu hati-hati!"


Marni mengangguk, "Baik kak, doain kami yak..."


Rini mengacungkan jempolnya, dan segera masuk ke dalam rumah kost yang besar itu.


"Cepat pakai topinya!" titah gadis itu ke Deval yang masih belum bergerak sedari tadi.


"Di sini?" alisnya terangkat keberatan.


"Ayo buruan!" bentak gadis itu...


...*bersambung*...

__ADS_1


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...


...terima kasih...


__ADS_2