DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
Ex.P-10


__ADS_3

Via yang merasa ada yang tengah memantaunya di suatu tempat merasakan sebuah pergerakan yang mencurigakan. Belum sempat menghajar, tiba-tiba tengkuk Via dipukul. Dia rebah tak berdaya.


Sebuah senyuman licik tersungging di bibir pria itu. Via tengah berada dalam pelukannya tak sadarkan diri.


"Jika kamu begini sejak dulu, mungkin semua ini tidak akan terjadi, Nona ... ehmm ... maksudku Nyonya."


Oliver mengangkat dan membawa Via meninggalkan tempat itu. Menekan sebuah tombol bewarna merah. Waktu mundur lima menit dari sekarang. Hampir seluruh bagian gedung ini telah dipasang bom waktu.


Ledakan pertama itu sengaja digunakan untuk memancing seseorang agar segera datang. Ternyata, dalam waktu singkat dia sudah berada di tempat ini. Baginya ini sebuah keberuntungan yang luar biasa.


Jimmy mencari-cari keberadaan istrinya. Hingga melihat bayangan yang menghilang lewat pintu belakang. Jimmy langsung mencurigai sesuatu dan mengikuti bayangan itu. Sampai di pintu belakang tampak sebuah mobil melintas. Di dalam mobil itu terlihat istrinya tersandar di jendela yang tak tertutup tengah lunglai tanpa kesadaran.


Melihat itu, Jimmy langsung menaiki motor yang ditinggal oleh pemiliknya. Namun motor itu tidak memiliki kontak. Membuat dia mengeluarkan ilmu terpendam yang tak ahli sama sekali.


Membongkar kontak dan mencoba menyambung sebisa dia mampu. Saat menyatukan masing-masing kabel bodi dari kontak motor, terdengar suara motor menyala. Jimmy mencoba memutar gas motor sport itu.


...bruuummm...


...bruuummm...


...bruuummm...


Suara motor sudah terdengar garang. Jimmy segera menaiki motor tersebut. Melesat tanpa babibu mencoba mengejar bayangan mobil tadi.


...duuuuaaarrr...


...duuuuaaarrr...


...duuuuaaarrr...


Bangunan itu hancur berkeping-keping sesaat Jimmy telah melaju. Hamburan puing-puing bangunan mengiringi kepergian Jimmy meninggalkan tempat itu. Jimmy mempercepat pergerakannya karena takut akan ada ledakan berikutnya.


"Sayang, aku akan segera menyelamatkanmu dengan anak kita!" Jimmy meningkatkan kecepatan hingga ke batas maksimal. Jalanan dipenuhi oleh warga yang berhamburan dari gedung yang baru saja meledak itu.


Macet panjang tak terelakan. Jimmy melihat kendaraan yang membawa kabur istrinya. Menguarkan sebuah senjata yang diam-diam selalu dibawanya untuk berjaga-jaga. Dunia yang mereka hadapi sangat keras. Apalagi semenjak menjadi pimpinan Organisasi BOS.


Jimmy turun dari motor, lalu segera mengejar mobil tersebut. Membuka pintu mobil itu. Namun tidak tampak seorang pun di dalamnya. Jimmy mengedarkan pandangannya pada seluruh sisi, dan tampak seorang pria bule tengah berjalan sambil nenggendong seorang wanita di antara pejalan kaki lainnya.


Jimmy berlari mengejar pria bule itu. Menarik pakaiannya dari belakang. Sedari jauh terdengar lagi ledakan-ledakan dari lokasi lain.


"Heh, kau! Apa yang kau lakukan pada istriku?"

__ADS_1


Dengan segera Jimmy merebut wanita yang masih tidak sadarkan diri. Namun, kaki panjang Oliver dengan mudah menerjang dada Jimmy. Jimmy terpental dengan segera dia bangkit kembali mengejar Oliver.


"Aaagghhhttt ...."


Warga yang memenuhi lokasi tersebut menjerit mendengar ledakan kembali. Ledakan dari lokasi berbeda kembali.


Suasana kaos yang sudah mencekam, menjadi semakin mencekam. Masyarakat mulai berlarian ke sana ke mari tak menentu. Jimmy masih berjibaku merebut istrinya yang tengah hamil dari manusia yang tidak memiliki perasaan ini.


Jimmy mencoba kembali merebut istrinya. Kali ini Oliver mengaitkan kaki panjangnya pada kaki Jimmy. Kembali Jimmy jatuh terjengkang.


"Kemana kemampuanmu dulu? Hanya segitu kah kemampuan orang yang telah membuatku tertangkap oleh pasukan gabungan internasional?"


Jimmy tidak berani menghajar Oliver bukan karena kemanpuannya yang semakin lemah. Namun memperhitungkan keadaan istrinya yang tengah dalam dekapannya.


Via yang merasa tubuhnya terus tergucang, akhirnya mulai sadar. Matanya langsung membesar, saat menyadari dia tengah dalam dekapan pria yang bukan suaminya. Seakan melupakan bahwa dirinya tengah hamil, dengam segera mengakat kakinya, mengaitkan pada leher Oliver. Menarik badannya kebah, memutar hingga Oliver jatuh menyerunduk aspal.


Via berhasil bebas dari pria kejam itu. Jimmy segera memeluk dan melayangkan ciumannya kepada sang istri.


"Kamu tidak apa kan Sayang?"


Via mengangguk, melihat kepala Jimmy yang masih dalam ikatan yang dibuatkannya tadi. Via memeluk suaminya. "Tiba-tiba aku sangat merindukanmu."


"Oho ... mesra sekali kalian?" ucap Oliver menghapus darah di sudut bibirnya.


"Apa yang terjadi Kak? Kenapa semua terlihat sangat kacau?"


"Sepertinya mereka memasang bom di banyak lokasi. Aku ingatkan, kamu jangan beratraksi kayak tadi. Bahaya buat kandunganmu. Setelah ini serahkan semuanya padaku." Mengeluarkan senapanny, mengarahkan kepada Oliver.


"Sepertinya keputusanku yang tidak langsung melenyapkanmu dan bruno saat itu adalah sebuah kesalahan. Namun, kali ini aku berjanji tak akan memberikanmu kesempatan untuk menikmati dunia ini lagi!"


Jimmy mengokang senjata api yang ada di tangannya. Langsung mengarahkannya tepat pada kepala Oliver. Saat Jimmy menarik pelatuk ....


dooorr


Sebuah tembakan belum membuatnya mati. Dia menarik salah satu masyarakat yang tengah panik sebagai perisai untuk melindungi dirinya dari tembakan yang dilayangkan Jimmy.


Setelah itu, Oliver mendorong tubuh yang meregang ke arah Jimmy lalu kabur menyelip diantara warga yang tengah lari tunggang langgang.


"Maafkan saya Pak," tangis Jimmy di dalam hati, menyesali sikap bodohnya yang tersulut emosi asal menembak tanpa mempertimbangkan hal lain.


"Psikopat keparat itu masih saja melakukan hal yang sama." geram Via, melihat orang yang tak bersalah menjadi korban. Jimmy mulai mengejar Oliver.

__ADS_1


Dari kejauhan terdengar kembali sebuan ledakan yang besar. "Berapa tempat mereka pasang bom?" tanya Via yang hanya bisa berjalan dengan cepat.


"Aku tidak tahu Sayang. Namun aku berharap, semoga anak-anak sudah turun tangan tanpa perlu komando dariku.


Di beberapa sisi lain, anggota White House yang berpencar telah membantu mengevakuasi masyarakat keluar dari titik-titik berbahaya. Masyarakat tengah tumpah ruah turun ke jalanan memilih berjalan kaki menghindari kemacetan.


Pasukan gabungan dari BOS, TNI, Polisi, dan Pasukan elite baret merah turut turun tangan untuk mengevakuasi masyarakat.


Keadaan kota saat ini sungguh sangat kacau. Kembali terdengar ledakan besar di titik yang lain. Membuat wajah Jimmy dan Via seketika menegang.


Via menggenggam jemari Jimmy yang terus menggenggam tangannya mengejar Jimmy. "Kamu percayakan saja semuanya kepada anak-anak. Kali ini tugas kita adalah mengeksekusi Oliver biadab itu." Jimmy tak melepaskan tangan istrinya.


"Kamu udah capek Sayang?" Kembali, Jimmy menyiapkan punggungnya untuk dinaiki oleh istrinya.


Via menggelengkan kepalanya. "Jangan, kita jalan masing-masing saja! Kalau Kamu menggendongku, malah memberi kesempatan manusia jahanam itu terlepas kembali."


"Kamu lagi hamil muda. Aku tak mau terjadi apa-apa pada mereka!"


"Mereka akan tumbuh kuat berada di dalam. Kamu jangan khawatirkan itu! Kali ini kita tidak boleh membiarkannya lepas kembali!"


Jimmy mengangguk, mereka masih dalam pengejaran mencoba menangkap Oliver. Dia begitu licin. Sekian kali ditangkap, dia kembali terlepas.


Anak-anak White House berhasil mengosongkan area titik bahaya dari masyarakat yang berada di sana.


Sementara ada satu anggota yang kabur dari tugasnya. Melihat kondisi masyarakat yang sangat ramai adalah sesuatu yang luar biasa baginya. Memantau masyarakat yang lari tunggang langgang tidak jelas.


Jason melihat sosok yang dulu pernah ditemukannya di Rumania. Sosok itu yang memerintahkan snyper untuk menembak Jimmy. Akhirnya, Eyang, Buana Putra tewas demi melindungi putra yang tengah menghajar Bruno.


Jason mengeluarkan card gun. Dia membeli pistol mini yang ukurannya hanya sebesar kartu kredit. "Eyang, sepertinya aku mendapat kesempatan untuk membalas dia demi Eyang." gumamnya mulai membidik.


"Semoga Tuhan mengerti bahwa kali ini aku hanya melenyapkan salah satu monster di bumi ini." Jason mulai membidik kepala pria yang tengah menari-nari dalam suasana yang kacau ini.


...dooorrr...


Seketika Bruno tertelungkup. Kepalanya mengeluakan darah yang sangat banyak. Tampak beberapa anak buah panik dan heran melihat penjahat besar itu langsung meregang nyawa.


Lalu Jason berpindah lokasi lain. Dimana kali ini dia melihat Oliver berlari dengan tunggang langgang dikejar oleh Papa dan Mama mereka.


"Melenyapkan satu lagi seperti dia, aku rasa Tuhan akan mendukungku. Membunuh monster berdarah dingin."


Kembali Jason membidik pria yang terus berlari seperti kesetanan. Jason membidik dengan seksama, menunggu waktu dimana Oliver terlepas dari banyaknya penduduk yang ada di dekatnya.

__ADS_1


...dooor...


Tembakan dilayangkan oleh Jason. Ternyata hanya mengenai bahu Oliver.


__ADS_2