DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
58. Latihan


__ADS_3

Usai pulang sekolah di kamar Via, Irin terus mengoceh dan mengeluh..


"Gila aja si Deval itu, Lo dipepet terus hingga kemana-mana? Yang satu kucel, yang satu cupu. Malah jadi hot news di sekolah? Katanya nggak mau cari perhatian? Ini malah mengundang perhatian seluruh isi sekolahan?"


Via mendengar dengan diam, cukup lama tidak bersuara hingga Irin melotot meminta jawaban, "Hmm, lalu gue mesti gimana?"


"Ya jangan terlalu menampakkan kedekatan kalian lah kalau di sekolah!"


"Ha-ha-ha, giliran gue, Lo larang-larang. Dulu aja Lo pacaran ninggalin gue, gak ada larangan?" 😏😏


"Masalahnya ini beda…" 


"Beda dimana?"


"Kali ini Lo malah menimbulkan sensasi bagi sekolahan. Beda dengan gue dulu! Tetap anyep sama siapa aja gue pacaran!"


😏😏 "Hmmm, yeee laah? Gue bilang dulu ke orangnya…" Via langsung berselancar di sosial media laman chat langganannya bersama Deval.


"Vi…" 


"Hmmmm??" masih asik chatting-an dengan Deval.


"Besok kan rencananya pakai motor Deval?"


"Ya, lalu?"


"Yakin besok untuk lombanya?"


"Yaaa, sesuai jadwal. Emang kenapa?" masih sibuk dengan gawainya.


"Terus bisa bawa motor sport?"


"Ya lumayan, kan dulu pernah belajar sama Om Dedi."


"Untuk tanding belum pernah lhooo?"


"Iya. Kita lihat aja nanti!"


"Heeeii? Lihat gue ngomong donk?" protes Irin.


Via mengangkat wajah melirik Irin, tampak wajah Irin tengah manyun, mulutnya mancung.


"Kenapa sih dari tadi uring-uringan Mulu?"


"Habis Lo sibuk terus sama Deval…" ☹️


"Eeehh iya? Sorry sorry! Ini dia lagi nanyain siapa yang bisa latih dia. Jadi gue lagi ngontak markas BOS dulu."


"Gue juga mau ikut."


"Udah dari dulu gue ajakin, Lo nya yang banyak alasan."


"Kali ini gue mau! Minimal buat jaga diri sendiri."

__ADS_1


"Nah, gitu donk! Sekalian ajak Devan aja!"


"Waah iya iya. Gue chat dia dulu." 


Akhirnya sore itu juga mereka memulai latihan, latihan yang mereka mulai, ialah yang paling gampang. Ditemani oleh Kak Suzy.



Setelah itu pengenalan dasar-dasar ilmu beladiri yang biasa digunakan oleh agen-agen yang bernaung dalam organisasi BOS.


"Organisasi BOS ini dibentuk untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam bidang kriminal yang terjadi di berbagai negara.


"Kebetulan sekali negara ini telah berdiri cabang organisasi BOS sejak beberapa tahun lalu.


"Adik-adik ini adalah teman-teman baik dari Via bukan?


"Berhubung kalian ini merupakan teman yang istimewa bagi Via, jadi karena itu saya bersedia untuk memenuhi permintaannya, memberikan didikan khusus beladiri bagi kalian semua.


"Apakah kalian dapat bertanggung jawab untuk menjaga kerahasiaan organisasi ini?"


"Kami janji Kaaak!!" sorak Irin.


Sementara Devan dan Deval masih mencerna apa yang disampaikan oleh Suzy tadi. Seistimewa apa kedudukan Via sebagai Detektif Muda pada organisasi ini? Sehingga membuat senior-senior pada organisasi ini bisa setunduk itu dan mau menuruti permintaan Via?


Suzy kembali melanjutkan teoritis mengenai keanggotaan dari tim agen yang disebar di lapangan. Membuat Deval dan Devan terperangah saat mengetahui bahwa mereka rata-rata berpangkat tinggi saat berada di naungan pemerintah.


"Kak, apa saat saya tamat sekolah nanti bisa diterima pada organisasi BOS?" tanya Devan.


"Kamu? Coba berdiri dulu!" perintah Suzy. Devan berdiri dengan cukup percaya diri.


"Tinggi kamu saat ini udah 175 ya? Mungkin nanti bisa lebih dari ini bila tamat kan? Dari wajah boleh laah."


Lalu memeriksa postur, "Hmmm, kalau nanti dibentuk boleh laah." setelah merasa cukup, Suzy menyilakan Devan untuk duduk kembali.


"Menurut saya, kamu cukup berpotensi. Semoga kamu bisa melewati serangkaian tes yang diberi jika ada perekrutan nanti, tetapi organisasi kami tidak menerima tamatan SMA yaaa."


Seketika kening Deval dan Devan berkerut. Tidak menerima tamatan SMA? Lalu kenapa Via sudah bekerja di sana sejak SMP? Lalu kedua saudara kembar itu serempak melirik Via. Irin terkekeh memahami apa yang mereka pikirkan.


Via hanya menyunggingkan senyuman smirk. Tidak ada niat untuk menjelaskan dirinya siapa. Lalu pura-pura buang muka, menghindari tatapan kepo dari dua orang dengam wajah sama.


Setelah itu, mereka belajar ilmu dasar-dasar beladiri asli dari negara ini, yaitu pencak silat. Memberikan sedikit materi tentang dasar-dasar pencak silat, setelah itu memperagakan sikap yang digunakan, lalu menyuruh mereka mengikutinya.





***


Keesokan pagi Via sudah siap dalam mode Marni. Hari ini adalah hari balap motor dengan Dino. Marni mengunci pintu menuju kamar Irin. Irin membuka pintu kamar dengan wajah nelangsa.


"Nah, lo mau kemana?" tanyanya lemas.

__ADS_1


"Lo lupa ya? Hari ini gue mau tanding sama Dino? Muka lo kok lemes begitu?"


"Beneran jadi tandingnya? Nggak usah ikut aja ya? Gue punya feeling buruk."


"Lo kenapa sih? Ini udah tau orang sekota gue mau tanding juga." masih belum mendapat jawaban dari Irin. Irin tampak terus mengernyit dan meringis.


"Lo kenapa?"


"Gilak? badan gue pegel semua! Hal ini yang membuat gue malas latihan sejak dulu."


"Tubuh lo lagi adaptasi, nanti lama kelamaan enakan lagi. Tapi latihannya jangan dihentikan."


"Gue mikir ulang buat lanjut." dia menggeleng.


"Vi, lo nggak usah berangkat tanding ya? Lo belum terlatih bawa motor sport untuk lomba. Gue khawatir nanti terjadi apa-apa pada lo di jalan."


"Gue udah janji lho? Tensin lah membatalkan rencana ini di hari H?"


"Gak apa, yang penting kan lo nya baik-baik aja?"


"Jadi mau ikut nonton nggak sih?" bentak Via mulai merasa kecerewatan Irin sudah masuk pada level emak-emak.


"Please Vi, dengerin gue! Batalkan!" Irin masih ngotot melarang Via.


"Ya udah lah, gue berangkat sendiri aja kalau lo nggak mau menonton!" Via berangkat meski perasaannya sendiri terasa cukup tidak nyaman.


***


Di tempat yang telah dijanjikan, anggota kelas Marni sudah berkumpul. Termasuk Dino dan kawan-kawan telah berada di lokasi. Ya hanya Dino yang begitu bersemangat menyambut pertandingan ini.


Berbeda dengan lawannya, Marni meringkuk memeluk kedua kakinya di bawah sebuah pohon sendirian. Menunggu Joko membawa motor yang telah dijanjikannya, namun hatinya merasa tidak tenang, akibat pertengkaran kecilnya dengan Irin.


Tak lama, suara cewek-cewek teman kelasnya terdengar histeris ketika melihat sesosok yang asing. Seorang Cowok yang kira-kira seusia mereka, membuka helm membuat kawan-kawan kelas Marni ketar-ketir melihat wajahnya. Semua teman Marni mendekat, ingin tahu siapakah gerangan? Sosok cowok manis nan imut yang berhenti di sini?




Cowok yang tengah menjadi perhatian itu tidak memedulikan mata-mata yang terus memantau nya dengan penasaran. Netra nya hanya terfokus pada sosok yang tengah meringkuk di bawah pohon, yang tengah menunggu seseorang. Dia terus melangkahkan kaki, pada sosok gadis kacamata yang tampak Kumal di mata teman sekelasnya.


Marni yang menyadari ada yang datang mendekat, mengangkat kepalanya yang sedari tadi dibenamkan dalam pelukannya. Marni tersenyum pada sosok tersebut, menengok ke sekeliling cewek di kelasnya tengah kejang melihat sosok yang baru saja sampai.



"Jo..jo..Ko ma..ma..na?" sindirnya.


Sosok itu hanya tersenyum mengulurkan tangan pada Marni, membuat seluruh kawan kelasnya yang perempuan menjerit. Marni dengan setengah malu tapi mau menyambut uluran tangan itu dan segera bangkit dari posisinya tadi.


"Aiiihh… mencari Marni ternyata…"


"Siapa sih?" celetuk yang lain.


...*bersambung*...

__ADS_1


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE & KOMENTAR...


...terima kasih...


__ADS_2