
*Notes: sebelum membaca bab ini, otor harapkan reader tidak terlalu masukkan ke dalam hati. Ini hanya hasil reka dunia pernovelan dari otor, dan hanya sekedar pandangan semata dari otor. Jadi jangan BaPer yaaa
"Siap untuk mendengarkan rekamannya?"
Via mengangguk…
"Ini tadi sebelum ke sini udah gue cek dan gue pisah partisi sesuai waktu terekamnya."
Jadi kita mulainya dari tujuh hari sebelum dia dinyatakan meninggal.. Lalu Stevan menekan Enter..
Pada H minus tujuh tidak terdengar aktivitas yang mencurigakan..karena merasa bosan, Via minta untuk dilompat pada hari keenam.
Pada hari keenam, pagi harinya korban masih bersama sang istri, lalu siangnya terdengar menelepon Rini mengajak jalan.
"Ckckck.. udah beristri, masih saja?" celetuk gadis itu yang sok paham.
Berselang beberapa waktu, terdengar percakapan mesra antara Rini dan korban saat mereka bertemu.
"Bang, kapan kamu menikahi aku? Aku bosan kayak gini terus… Umurku sudah makin tua. 29 tahun itu bukan usia yang muda lagi untukku."
"Sabar ya Dek, Abang masih berusaha untuk ngumpulin dana untuk kita kawin…"
"Bang, aku ini sudah tidak perawan lagi. Ini semua perbuatan Abang, Abang janji nikahin aku secepatnya. Tetapi hingga saat ini Abang masih belum juga menunjukkan niat untuk melamar aku."
__ADS_1
Stevan melirik Via, melihat ekspresi Via saat mendengar percakapan tersebut. Via masih tampak tenang meski tadi sedikit kaget mendengar ucapan -tidak perawan lagi- namun dia kembali mendengarkan dengan tenang.
"Sabar sayang, Abang janji tahun ini kita akan menikah."
"Hah, udah lah. Abang janji-janji mulu. Sengaja menodai aku terlebih dahulu kan? Biar aku tidak lari dari kamu kan?"
"Bukan begitu sayang, ini semua kita lakukan juga karena kita suka sama suka. Kamu jangan khawatir, Abang pasti akan menikahimu!"
"Tapi Bang? Kalau tidak ada kepastian begini, lebih baik aku cari pria lain saja. Karena kamu sama sekali tidak menunjukkan rencana pernikahan yang pasti!"
"Kan Abang sudah janji, tahun ini kita menikah…"
"Tetapi itu masih belum jelas. Aku tuh mau Abang segera menemui keluargaku di kampung, melamarku langsung kepada mereka. Tapi Abang selalu saja punya alasan untuk mengundur pertemuan dengam orang tuaku.
"Abang kan harus mengumpulkan modal untuk kita berdua nantinya, kamu kenapa selalu mendesak Abang kayak gini sih?"
"Iya..iya… Eehh.. sayang..kamu mau kemana?"
"Jangan temui aku dulu! Sebelum Abang menentukan waktu yang pasti untuk mengunjungi orang tuaku dan melamarku di hadapan mereka…"
"Rini… Rini…" tak ada lagi suara Rini yang terdengar.
"Aaahh.. siiiaall.. dia malah ngotot minta nikah lagi."
__ADS_1
"Bagaimana gue bisa nikahi dia? Sementara anak gue masih bayi…" rutuknya.
"Hmmm…" Via berguman dan manut-manut.
Terdengar suara bising, mungkin sedang dalam perjalanan, menaiki kendaraan.
Lalu terdengar aktivitas pekerjaan dan ngobrol dengan rekannya.
"Skip…skip…." perintah Via.
"Aa' udah mendengarkan ini?"
"Hanya sekilas.. gue juga lagi sibuk kan.. jadi hanya bagian awal tadi yang gue dengar…"
"Mau skip sampai mana?"
"Coba skip ke malam hari.. Mungkin orangnya sudah pulang dari kerjaan.."
Stevan segera menggeser kursor perkiraan malam hari.
Terdengar suara tangisan bayi. Namun tidak ada yang membantu untuk menenangkan bayi tersebut. Mungkin sang ibu tengah mandi atau kegiatan yang lain.
...*bersambung*...
__ADS_1
...JANGAN LUPA TINGGALKAN TANDA JEJAK, LIKE, LOVE, VOTE & KOMENTARNYA YAAA...
...terima kasih...