
Setelah kejadian itu muncul banyak komentar komentar dari masyarakat yang tinggal di sana tentang kejadian ini.
"Itu anak gadis, sok jagoan sekali! Ugal-ugalan di tempat sempit! Ini bukan jalan raya."
"Itu polisinya gigih banget ngejar yak, sampai jalan sempit gini masih aja ngejar?"
"Anak zaman sekarang ada-ada aja. Orang tua nya gimana sih membiarkan anak gadisnya menggunakan motor gede untuk dibawa ugal-ugalan?"
Lalu sang orang tua yang tengah sibuk dengan pekerjaannya, bersin, "Ha..ha..hat…ciiimmm…"
Perasaan Maminya seketika berubah menjadi tidak tenang, lalu segera menghubungi sang suami.
Setelah dihubungi istrinya, Tosan pun turut merasa tidak tenang, setelah itu mencoba menghubungi anaknya yang cantik, yang ditinggal jauh oleh mereka, agar menjadi pribadi yang kuat dan mandiri, seperti harapan sang ibu.
***
Kawan-kawan kelas yang masih menunggu Marni yang belum muncul, akhirnya mendapat kabar bahwa dia mengalami kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit.
Hal itu sontak membuat kawan-kawannya heboh dan saling menyalahkan. Wajah Deval yang tengah cemas berubah seketika menjadi kalut. Untung saja Devan membawa mobil dan mereka segera menuju rumah sakit.
Jimmy dan kawan-kawan masih dimintai keterangan oleh seorang polisi mengenai identitas gadis yang mengalami kecelakaan tadi. Jimmy yang tengah memegang jaket Marni, merasakan ada getaran dari jaket tersebut. Dicari benda yang bergetar itu, ternyata ada yang tengah menelepon di layar terpampang tulisan Tou-san
Jimmy tidak mengangkat panggilan tersebut, masih sibuk mengira-ngira siapa yang dimaksud Tou-san ini. Kevin dan Gilang terbelalak melihat benda yang tengah dipegang Jimmy. Mereka tidak menyangka Marni memiliki benda mahal edisi terbatas itu. Kembali kontak yang sama masuk ke dalam panggilan Marni. Akhirnya terpaksa diangkat oleh Jimmy.
"Moshi-moshi, Kireina Via-chan?" sapa yang diseberang. *Halo Via yang cantik*
Jimmy bingung harus menjawab apa, dan tidak paham apa yang dikatakan orang yang diseberang. Karena belum juga mendapatkan jawaban dari putrinya, kembali sang ayah menyapa.
"Kon'nichiwa?" *Haloooo*
"Eehhmmm…." Jimmy bingung untuk berkata apa, mungkin ini orang asing, pikirnya. Sementara sang ayah yang merasa baru saja mendengar suara laki-laki, kembali berbicara.
"Who are you?"
"I am Jimmy," jawabnya dengan ragu-ragu.
__ADS_1
"Jimmy? Who's Jimmy…are you Via's friends?"
"Yes, i are. She's my friends."
"Ooh temannya Via? Kenapa gawai anak saya ada di tangan kamu?" suara berat seperti sedang kumur-kumur yang biasa di dengar apabila orang Jepang mencoba menggunakan bahasa Indonesia.
Apakah ini ayahnya Via? Orang Jepang? Berarti via berdarah Jepang? Jimmy memilih beranjak dari kawan-kawannya. Ia berusaha agar tetap menjaga kerahasiaan identitas Via.
"Via kecelakaan Om."
"Apa? Kapan?"
"Sekitar setengah jam yang lalu."
"Apa yang terjadi hingga dia mengalami kecelakaan?"
"Dia tengah mengikuti lomba balap motor Om, tetapi sesuatu terjadi saat dia berkendara. Hingga terjadi kecelakaan."
"Waduuh.. Dia masih saja belum berubah. Baik lah. Terima kasih atas informasi yang kamu berikan. Kami akan segera terbang ke sana."
"Singapore. Sementara saya minta tolong, titip Via dulu hingga kami sampai di sana?!"
"Babaik Om," Jimmy menelan salivanya, merasa mendapat tugas yang berat, dan telepon telah ditutup.
Menyisakan keheranan dalam kepala Jimmy. Memahami mengapa Marni alias Via ngekost dekat sekolah. Orang tuanya berada di luar negeri meski hanya negeri tetangga.
"Siapa Bro?"
"Orang tua Marni."
"Apa? Orang tua Marni? Pakai English gitu ngomongnya?" kaget Kevin.
"Ooh, tadi iseng aja mungkin?" jawab Jimmy asal lalu melirik temannya itu manut-manut entah percaya entah tidak.
Deval, Irin, dan Devan akhirnya sampai di rumah sakit ini. Matanya melihat Jimmy tengah memegang jaket yang tadi dipasangkannya kepada Marni. Lalu Deval segera mendekati Jimmy.
__ADS_1
"Ini punya Marni tadi kan?"
Jimmy menyerahkan jaket dan ponsel milik Marni. "Iya, ini tadi diserahkan perawat, lalu barusan orang tuanya menelepon, dan katanya akan segera ke sini."
Deval mengangguk dan mengucapkan terima kasih, dengan wajah kalut mondar-mandir menunggu hasil pemeriksaan Marni. Dia hanya bisa menyesali atas apa yang terjadi, menyesali dirinya yang membiarkan Marni ikut pertandingan yang tidak berguna itu.
Di sisi lain, Irin yang tengah duduk di sebelah Devan, juga merasa bersalah yang luar biasa. Dia tidak bisa menghentikan niat Via yang terus ngotot untuk mengikuti pertandingan yang tidak jelas ini. Padahal tadi dia sudah melarang, namun gadis keras kepala itu tetap pergi bahkan meninggalkannya sendiri di kostan dalam tubuh yang pegal luar biasa.
Irin kembali fokus pada sosok Jimmy. Kenapa dia ada di sini? Apakah dia yang membawa Marni ke sini?
Lalu dokter cantik yang telah selesai memeriksa Marni kemudian menemui Jimmy. Irin dan Deval ikut mendekat mendengarkan keterangan hasil pemeriksaan yang disampaikan oleh dokter cantik itu.
"Secara keseluruhan, dia tidak mengalami luka luar yang berarti. Namun karena dia mendapat benturan di tubuhnya, membuat beberapa bagian tubuhnya mengalami luka dalam yang harus mendapatkan perawatan."
"Jim, bukannya dia itu gadis yang beberapa hari lalu ke sini?" tanya dokter itu. Jimmy mengangguk, lalu dokter itu menggelengkan kepalanya.
"Apakah dia sejenis anak yang tidak bisa duduk dengan tenang di rumah?" tanya dokter itu lagi. Irin langsung meringis, membenarkan apa yang ditanyakan dokter cantik tersebut.
Tunggu dulu, tunggu dulu, Apa Marni sudah berobat pada dokter ini sebelumnya, dan Jimmy mengetahui hal itu? Kapan Marni berobat dengan dokter ini? Kenapa gue tidak tahu? kening Irin berkerut melirik Jimmy.
Jimmy yang sadar Irin terus memperhatikan nya dengan memasang wajah penuh curiga, mencoba menghindar dan pindah dengan senyum kikuk, kembali duduk di bangku sebelah Gilang.
"Dok, apakah kami sudah bisa menemuinya?"
"Orang tuanya ada dimana?"
"Sepertinya dalam perjalanan ke sini Dok," jelas Deval.
"Kalau begitu, untuk sementara dia boleh dilihat sebentar, tapi masuknya satu persatu saja ya?" titah sang dokter.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...
__ADS_1