DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
S2-27 Marni, You'r My Destiny


__ADS_3

"Jangan-jangan seluruh anggotanya kawan-kawan alumni sekolah kita?" Via mulai dengan nadanya yang menyidik.


"Eehhmmm..." Jimmy tercekat, dia tidak memungkiri apa yang dituduhkan oleh Via. Memilih meraih tangan Via dan menggenggamnya.


"Masih mau marah, Sayang?" Jimmy menatap netra bewarna hitam kecoklatan milik gadis itu. "Aku sangat mencintaimu."


"Sayang? Cinta? huh, nyatanya Kau menipuku." cibirnya. "Kakak lihat sendiri! Kakiku lama sembuhnya karena mereka."


"Aku tidak menipumu. Masalah kakimu, itu sebuah kejadian di luar dugaan. Aku sangat menyesali kejadian itu. Aku sengaja melakukan ini semua, agar kamu mencari kami semua. Ternyata itu berhasil." Menarik kedua tangan gadis itu, lalu menciumnya. "Syukur lah jika Kamu sudah tidak marah lagi."


Mendapat tindakan yang demikian, akhirnya Via benar-benar luluh. Saat ini dia sudah memiliki rasa yang sama kepada Jimmy. Terharu menyadari perjuangannya selama ini untuk mencari dirinya hingga seperti itu. Tiba-tiba dia teringat kakinya yang pernah menjadi korban.


"Aku masih punya urusan sama orang yang membuat kakiku cidera itu. Gara-gara dia, aku terkurung lama gak bisa keluar dari rumah."


"Dia anggota yang paling kecil. Maafkan Jason ya?" bujuk pria dengan pesona penuh cinta itu.


"Maaf, maaf, dia yang harus minta maaf langsung dong?"


"Baik lah, nanti aku akan menyuruhnya menemuimu secara langsung. Jika itu membuatmu merasa puas."


Via melihat keseriusan di wajah Jimmy. "Kapan Kakak ada waktu?"


"Waktu? Aku akan selalu ada waktu untuk kamu. Untuk bertemu Jason?"


"Bukan. Aku ingin berkenalan dengan orang tuamu."


Kembali senyuman sumringah mengembang di bibir Jimmy. "Benarkah?" Via mengangguk. "Apa sekarang Kamu yakin benar-benar sudah mencintaiku?" Gadis itu kembali mengangguk.


"Kalau begitu, aku akan menelepon mereka sekarang juga. Jadi, besok sore aku akan menjemput Kamu." Membelai pipi Via yang mulus itu.


"Oiya Kak, bisa nggak menghilangkan nama Marni dari mulutnya?"


"Kenapa begitu? Aku suka."


"Nama itu membuatku selalu mengenang masa lalu." ucapnya sendu.


"Aku suka masa lalu. Karena masa lalu itu lah, saat ini aku bisa bersama dengamu."


"Hmmm..." Via hanya bisa bergumam.


"Baik lah Sayang, jika kamu tidak ingin lagi dengan nama itu. Aku cukup memanggilmu dengan 'Sayang'." Mengacak rambut Via, lalu membenamkannya di dalam rangkulannya. Kali ini kembali Via teringat tato kecil yang ada di bahunya.

__ADS_1


"Kak, kamu tulis apa di bahumu?"


"Tato ya?" Jimmy tersenyum tipis. "Jadi karena itu sedari tadi kamu gagal fokus?"


"Jujur, pemandangan kalian berempat tadi membuat aku jadi...--" panas dingin, dilanjutkan di dalam hati.


Tiba-tiba Jimmy menarik sedikit kerah oblongnya. "Coba lihat sendiri!"


Via melongok semakin dekat, tertulis sebuah kalimat yang membuat jantungnya berdegup dengan cepat. Di bahunya tertulis kalimat seperti ini. Marni, You'r My Destiny ❤ dibentuk sedemikian rupa menjadi gambar hati.


Jimmy menarik dagu Via. Sempat muncul hasrat ingin mencicipi bibir gadis itu. Namun diurungkannya, beralih mengecup kening gadis itu dan memeluknya.


"Aku makin gak sabar untuk segera mengajak kamu ke KUA." Mengacak-acak rambut gadis itu.


"Ekhem...," Irin keluar dari kamar berjalan ke arah mereka. "Hmmm... jaga jarak aman!" Irin memisahkan mereka dan duduk antara mereka. Irin bergantian melirik mereka berdua dengan wajah menantang. "Kalau lebih dari ini nanti aku akan larang Kak Jimmy masuk ke sini!"


***


Saat ini Via tengah perjalanan ke rumah orang tua Jimmy. Jimmy menggenggam erat jemari Via yang tengah dilanda rasa gugup akan bertemu calon mertua. Apalagi calon mertua itu musuh yang dulu membuat seluruh tubuhnya remuk dihajar oleh anak buah sang Buana Putra.


"Tenang lah Sayang! Papaku sudah tidak seperti dulu lagi. Nanti juga ada Om Subroto dan keluarganya juga." jelas Jimmy yang terus menggenggam tangan Via.


drrrtttt...


Ponsel Via bergetar, di layar benda elektronik pipih itu tertulis bahwa ada panggilan video dari sang ayah. Panggilan diangkat, terlihat wajah Tosan yang baru saja bangun.


"Moshi-moshi Tosan. Masih pagi di sana?"


Sang ayah masih terlihat menguap. "Moshi-moshi Via-chan. Iya, di sini masih pagi. Baru saja Tosan menelepon Mami. Katanya sekarang kamu pacaran sama Jimmy yang dulu waktu kamu kecelakaan." Via hanya tersenyum malu, mengingat orang yang dibicarakan ada di sampingnya tengah membawa kendaraan.


Muka Tosan tampak memperhatikan sesuatu. "Kamu lagi di dalam mobil?" Via kembali mengangguk. "Siapa yang bawa?" Via memalingkan ponselnya ke arah Jimmy, dan Jimmy melambaikan tangan.


"Halo To-Tosan..." Jimmy masih tercekat dengan panggilan itu.


"Kamu Jimmy?" tanya sang camer.


"Iya Om, aku Jimmy. Apa kabar Om?" jawab Jimmy masih setengah fokus berkendara. Lalu segera menepikan kendaraannya.


"Wah, akhirnya kamu yang menjadi calon suami anak saya. Bagus, bagus."


"Tosan, nanti saya akan membawa Via ke orang tua saya. Apa boleh, nanti kami telepon lagi saat berada di sana? Sekedar berkenalan terlebih dahulu lewat video call?" tanya Jimmy sedikit sungkan.

__ADS_1


Tosan mengangguk dan tertawa. "Tentu, tentu saja boleh. Saya merasa sangat dihargai bila itu terjadi."


"Terima kasih Tosan, kami akan melanjutkan perjalanan ke rumah orang tua saya dulu."


"Baik lah. Kamu hati-hati berkendara! Jaga lah gadis kesayangan Tosan dengan sebaiknya."


"Baik Tosan, percayakan dia kepada saya." Tosan mengangguk, dan memutuskan panggilan.


"Keluarga kamu semuanya baik," celetuk Jimmy, merasa Via sangat berbeda dengan seluruh anggota keluarganya.


"Baik? Aah, Kakak hanya tidak mengenalnya saja. Tosan itu sangat arogan, dan tukang paksa."


"Masa? Tetapi tadi sama sekali tidak terlihat seperti itu." Jimmy kembali melajukan kendaraannya.


"Mungkin masih ngantuk," celetuk gadis itu.


Kembali tangan Jimmy meraih tangan Via. Via hanya memalingkan wajahnya pura-pura melihat ke arah luar. Perasaan gugup kembali menyeruak di hatinya. Mencoba memikirkan bagaimana sikap sebaiknya terhadap musuh yang tiba-tiba menjadi camer.


Tiga puluh menit kemudian, mereka memasuki sebuah rumah bak istana yang pernah diintipnya dulu. Banyak pengawal memakai jas hitam berada di sekitar rumah itu. Hal itu membuat Via kembali de javu akan masa lalunya semasa SMP. Via menggenggam jemari Jimmy semakin erat.


Jimmy menyadari Via merasa sangat gugup, membelai pipi gadis itu. "Tenang lah Sayang. Semua akan baik-baik saja." Via hanya tersenyum kikuk.


Jimmy mengajak Via masuk, tiba-tiba kaki gadis itu terasa kaku dan berat. Jimmy mengait tangan Via, dan kembali menariknya.


Dari arah dalam, tampak seorang wanita yang masih terlihat cantik di usia yang semakin senja. Dia adalah ibu dari Jimmy. Berjalan dengan elegan menyambut kedatangan mereka.


"Waah, kamu Via dulu kan? Gadis yang di rumah sakit dulu kan?" sapa ibu Jimmy itu dengan ramah penuh senyuman.


Via menyambut tangan ibu Jimmy dan menciumnya. Tak lama seseorang yang dulu meminta bantuannya muncul bersama istri dan anaknya yang telah memasuki usia remaja.


Menyalami Via dengan tersenyum sangat ramah. "Waah, Om tidak menyangka kalian benar-benar menjadi sedekat ini."


"Aku juga tidak menyangka Om," Via tersenyum kikuk. Bergantian menyalami istri Om Broto. Setelah itu, matanya menangkap gadis manis mirip Jimmy yang dulu dikenalnya saat masa sekolah.


"Waaah, gadis kecil ini sudah makin besar ya?" ucapnya mengelus pucuk kepala adik Jimmy.


"Iya Kak," ucapnya sumringah.


"Akhirnya kalian datang juga." Terdengar suara bariton menggelegar dari arah sebuah pintu.


...*bersambung*...

__ADS_1


...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...


...terima kasih...


__ADS_2