DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
64. Perasaan Mami bg.1


__ADS_3

Belum selesai rencana Via untuk mengenalkan seluruh keluarga pada kedua kembar, ternyata beberapa perawat menghampiri mereka.


"Ada apa ini? Kenapa ramai sekali?" tanya salah satu perawat itu.


"Ooh, ini saya tadi yang kecelakaan sus," jawabnya dengan kalem.


"Lhoh? Kok udah turun aja dari ranjang? Terus kenapa di sini banyak orang?" melirik tiga orang dewasa yang memiliki wajah memesona semua. Terus mendarat di satu pria yang terlihat lebih muda.


"Mereka ini keluarga saya Sus, wajar ramai begini."


"Bapak, Ibu keluarga pasien. Kami berharap demi kenyamanan pasien, agar jangan membuat suasana IGD ini menjadi terlalu ramai. Selain akan mengganggu pekerjaan petugas, juga mengganggu pasien lain yang membutuhkan penanganan cepat," kembali melirik pria cuek di antara tiga orang itu.


Mami segera menarik dua pria dewasa itu keluar. "Maaf kan kami Sus, kami merasa sangat khawatir pads anak kami yang telah lama tidak kami jumpai. Kalau begitu, sekarang kami keluar saja."


Sang ayah menahan langkah kaki sang ibu, mengeluarkan dompet dan menyerahkan sebuah kartu bewarna hitam, pada perawat itu.


"Siapkan kamar VVIP sekarang juga!" dengan nada dingin dan tatapan menindas.


Sang perawat mengernyitkan dahi melihat gadis manis itu dalam keadaan baik-baik saja, lagi pula itu bukan pekerjaannya menangani masalah biaya rumah sakit.


"Tapi jika pasien sudah sehat begini, melihat dia bisa berjalan ke sana ke mari sendirian, kami rasa pasien tidak perlu dirawat di sini Pak?"


"Apakah anak kami sudah bisa dibawa pulang Sus?" tanya sang ibu merangkul tubuh anaknya.


"Tunggu sebentar ya Bapak, Ibu? Saya akan menanyakan kepada dokter yang menanganinya tadi."

__ADS_1


Perawat kembali melirik pria muda nan tampan dengan mata sedikit sipit itu. Pemuda yang dilirik pun akhirnya menantang mata perawat yang dari tadi tampak ingin melahapnya. 



"Yudhit, jangan godain perawat lagi!" celetuk ibunya. Takut anak sulungnya ini melakukan hal seperti yang sudah-sudah. Setelah membuat mereka jatuh hati, lalu dijatuhkan lagi makin dalam ke dasar bumi.


Perawat itu tersenyum bersama kawannya yang sama-sama tengah bertugas di ruang gawat darurat ini. Mencari dokter yang dimaksud, yang tak lain dan tak bukan merupakan ibu dari Jimmy.


Tak lama, dokter cantik itu menghadap kedua orang tua Via. Dengan senyum ramahnya, menyalami orang tua gadis cantik itu.


"Bapak Ibu orang tua dari gadis ini?" tersenyum menahan rasa terkejutnya melihat gadis itu sudah bergerak seperti biasa. Setahunya apabila usai kecelakaan, rata-rata pasien belum bisa bergerak dan turun tiga hingga empat hari ke depannya.


Sementara gadis cantik Ini sama sekali tidak terlihat dalam keadaaan kesakitan. Teringat kejadian beberapa waktu lalu, dia habis dicekik oleh seseorang, namun tidak mengalami kendala yang berarti.


"Iya Dok.. ini anak kami…" ucap sang ibu yang tampak sangat anggun dan bersahaja.


"Bener banget Dok, susah banget untuk menyuruhnya duduk manis. Ada-ada saja yang dilakukannya dari dia bangun hingga dia tidur," jelas sang Ibu.


"Berarti anak Bapak Ibu tumbuh dengan baik ya? Selalu bersemangat setiap harinya," dia ingat sekali, bahwa Jimmy tengah menyukai anak perempuan mereka.


"Oh iya Dok, apa boleh kami membawanya pulang?" tanya sang Ibu.


Melihat kondisi si gadis yang seolah tidak tampak kesakitan itu, dokter langsung bertanya kepadanya, "Kalau tidak salah ingat, nama kamu Via kan?"


Via menyadari bahwa dokter ini, adalah dokter saat dia berkonsultasi dengan Stevan beberapa waktu yang lalu. Dokter ini adalah ibunya Jimmy, dan istri dari Buana Putra.

__ADS_1


Apakah orang tuanya perlu tahu juga? Via menepis rasa itu, biar lah orang tua nya tidak mengetahui hal itu.


Apalagi jika sang ayah yang tahu, pasti ayahnya akan melakukan hal nekat, membuat ibu dari Jimmy ini diberhentikan dari pekerjaannya saat ini. Ibu Jimmy ini tidak ada hubungannya dengan suaminya yang jahat itu.


"Benar dok."


Lalu dokter tersebut tersenyum penuh arti. Melirik sambil menggelengkan kepalanya, mungkin sangat heran dengan tingkah laku Via, gadis cantik yang tidak bisa duduk manis seperti gadis-gadis lainnya.


"Kamu itu lincah sekali ya?" ucap dokter cantik itu. Via hanya tersenyum kikuk, karena dia sendiri juga membenarkan apa yang dikatakan dokter itu.


"Kamu nanti saya izinkan pulang, tetapi harus menebus beberapa obat untuk meringankan lebam yang kamu dapatkan ini. Nanti lain kali, kamu lebih hati-hati lagi yaaa? Kemarin baru habis kena cekik kan?"


"Apa dok? Anak kami habis kena cekik?" reaksi terkejut dari sang Ibu. Nanti saja dibahas setelah tidak ada orang lain di sekitar. Jika dibahas sekarang, nanti seisi rumah sakit bisa heboh, dan malah bisa merembet ke seluruh negeri.


"Iya, katanya demikian. Kena cekik oleh orang yang mengidap penyakit jiwa. Kalau nggak salah kemaren sama kakak kamu yang bule kan? Hmmm, Stevan.. iya Stevan."


Sang ibu hanya bisa menggelengkan kepala lagi, menghembuskan nafasnya dengan kasar. Rasanya ingin dibawa saja anak gadis kecilnya ini pulang dan berkumpul bersama. Mungkin dia sudah cukup memahami bagaimana kebudayaan negeri ini. 


"Kenapa Ibu sendiri tidak tahu, anak ibu mengalami hal semacam itu?"


"Saya juga sangat merasa sedih anak kami mendapatkan hal-hal berat seperti itu dok. Mungkin ini salah saya membiarkan nya tinggal di sini sendirian. Seharusnya di usianya yang remaja ini, saya lebih menjaganya dengan baik. Namun,.." penjelasan sang ibu terhenti.


Via memeluk ibunya, dia tidak ingin sang ibu terus menyalahkan diri seperti ini. Sementara dia sendiri sudah menikmati hidup di negeri ini, di tambah lagi ada dia, melihat Deval yang tak henti beralih sedikit pun menatapnya. 


...*bersambung*...

__ADS_1


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...


...terima kasih...


__ADS_2