DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
56. Pasangan culun


__ADS_3

Di lihat ke arah belakang, wajahnya yang tadi curiga seketika berubah menjadi sebuah senyuman.


Irin ikut melihat siapa yang membuat rona wajah Marni tiba-tiba berubah seperti itu.


"Aduuh, ternyata si jelek satu lagi," celetuk Irin.


"Kalau gitu gue duluan ah!"


Namun Marni segera menautkan tangannya ke tangan Irin. "Bareng aja!"


"Hai!" sapa cowok culun itu yang telah tepat berada di hadapan mereka.


"Jalan kaki aja?" tanya Marni.


"Aaaaiihh, Gue jadi obat nyamuk, obat nyamuk, obat nyamuk!" kali ini Irin yang bernyanyi gaje.


"Kok semakin hari Lo semakin mirip Aa?" celetuk Marni. Irin hanya meringis.


"Tadi gue diturunin Devan di ujung jalan," ucap Joko. Padahal dia yang sengaja minta diturunkan di sana, biar bisa ketemu Marni di jalan. Ternyata memang ketemu beneran.


"Lo kenapa cemberut gitu Rin?" timpal Joko.


"Ini ni!" menunjukkan dekapan Marni.


"Kalian mau mesra-mesraan berdua, dianya malah larang gue duluan."


"Mesra-mesra apaan?" elak Marni sembari melotot pada Irin.


"Kita jalan bareng aja," tambah Joko yang bersahaja dengan wajah culunnya.


"Gimana tangan Lo?" tanya Marni melihat gips yang kemarin menumpu tangan laki-laki itu sudah tidak digunakan lagi.


"Iya, udah baikan, jangan khawatir!"


"Obat nyamuk, obat nyamuk, obat nyamuk." kembali Irin bernyanyi tak jelas.


"Woooy!! rombongan cupu!"


Marni, Joko, dan Irin serempak menengok ke arah sumber suara. Dino dan kawan-kawan juga berjalan kaki menuju sekolah. Marni kembali memilih tidak banyak bersuara.


"Jangan lupa, besok kita tanding di jalanan!!" ucapnya.

__ADS_1


Joko mengernyitkan dahi, "Tanding apa sih?"


"Wahahaha, kalian cocok sekali? jelek sama culun?" ledek Dino.


Kayak yang ganteng aja dia. Padahal dia sendiri udah kayak buntelan lusuh.. batin Marni.


Joko tiba-tiba menggenggam tangan Marni, Dino membelalakkan mata melihat aksi narcis dari cowok kaca mata itu.


"Kenapa? Masalah?" ucap Joko ketus. Lalu menarik Marni, dan Irin pun ikut terseret.


Ini situasi apaan sih? batin Irin. Melihat ini pasti Aa bakalan patah hati hancur berkeping-keping... lagian kenapa gue malah kayak kambing congek di antara dua makhluk jelek ini..rutuknya dalam hati.


Lalu mereka bertiga berjalan seperti robot yang saling seret. Dipimpin Joko dengan pede menggenggam tangan Marni, diikuti Marni mengekor seperti robot, dan Irin ikut terseret dengan wajah kesal.


Ada sosok yang memperhatikan tiga orang ini berjalan. Jimmy yang tengah melintas terus menengok ke arah mereka. Saat telah lewat pemadangan tersebut, dilanjutkan lewat kaca spion.


Bahkan kali ini bergandengan tangan, batinnya. Jimmy sampai di parkiran, langsung melepas helm dan turun. Dengan perasaan yang tidak menentu dia segera menuju kelasnya.


Hampir sampai gerbang, Marni melepaskan tangan Joko. Wajah merona Marni sama sekali tak tampak karena riasan hitam di mukanya. Namun Irin tahu, temannya itu dalam mode salah tingkah karena perbuatan Joko.


Sementara Joko sendiri juga heran pada dirinya, atas aksi refleks yang ia lakukan tadi. Joko mengantarkan Marni dan Irin sampai ke depan kelas, setelah itu menuju kelasnya sendiri.


Dari bibir Marni, tak henti tersungging sebuah senyuman.


"Alah! Nggak usah nyinyir dulu! Cari sarapan yuk?" bisik Marni.


"Kayaknya gak perlu," celetuk Irin melihat sosok membawa kotak makan, tengah berdiri di pintu masuk.


"Kenapa?"


"Tuh, lihat aja sendiri!"


Marni menoleh dan langsung berjalan ke arah sosok culun itu. Joko membawa bekal dari rumahnya. 


"Lo pasti belum sarapan Kan?" Marni mengangguk.


"Ayo ajak Irin juga! makan sama-sama!"


"Dimana?" bisik Marni.


"Di bangku taman aja, biar enak!"

__ADS_1


Marni mengangguk lalu kembali ke meja dimana Irin tengah memperhatikan mereka dengan wajah manyun. Tanpa aba-aba Marni hanya menarik Irin.


"Kemana?"


"Mamamakan!!!"


Sementara seisi kelas melihat Marni jelek tengah dekat dengan cowok culun  merasa geli dan asik ngejulid dengan kelompok masing-masing.


Dino yang terus memperhatikan kedekatan dua makhluk cupu itu ikut merasa panas. Masa yang jelek aja punya pacar, sementara gue yang gemoy ini ngejomblo akut? rutuknya dalam hati.


Di taman.


"Hmmm…kebetulan tadi bibi di rumah membuatkan makanan banyak banget, jadi sekalian gue bawa aja. Gue ingat kalian kan ngekos, pasti susah buat masak sarapan."


Irin dan Via makan dengan lahap. Sudah lama sekali mereka tidak makan masakan rumahan. Masak malas, jadi mereka selalu beli. Sehingga mendapat makanan rumahan berasa mendapat surga dunia yang jarang sekali mereka rasakan.


"Lo nggak ikut makan?" tanya Marni.


"Tadi udah di rumah. Sengaja bawa aja untuk kalian."


"Waaahh, enak nih, bisa makan enak kita tiap hari," celetuk Irin dengan wajah sumringah.


"Kalau kalian suka, nanti gue minta bibi masak lebih setiap hari."


"Jangan! jangan! Gue tidak enak merepotkan elo!" tolak Marni.


"Kalau gue sih demen!" celetuk Irin nyengir melanjutkan makan.


"Ini kan sekalian aja kok, makanan lebih dibagi pada fakir miskin dan anak-anak terlantar," canda Joko. Sontak membuat Marni tersedak. Joko langsung memberikan air sambil tersenyum simpul.


"Sejak kapan Lo bisa ngelawak garing kayak gitu?" tanyanya.


...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE & KOMENTAR...


...terima kasih...


berhubung otor mendapat surat cinta dari noveltoon.. otor minta kawan-kawan reader ikut singgah di karya otor yang udah tamat yaa..karyanya sepi aja..tapi malah dapat rekomendasi dari noveltoon


__ADS_1



__ADS_2