
Via sedang berbicara lewat video call dengan maminya yang sedang stay di Jepang menemani anak-anak Yudhit dan Rini. (Rini adik dari Reza -- CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER *promo teruuus ๐๐๐)
"Waah, cucu Oma udah besar ... Hayooo, siapa yang namanya Hyuna?" tanya Mami.
Namun, yang ditanya tidak menjawab sama sekali. Hyuta menarik tangan Hyuna. "Oma bicala ... ayoo bilang cama Oma ..." Hyuta melirik pada seseorang yang berada dalam layar. "Oma ... ini Una," ucap Hyuta heboh.
"Duuuh, dah pinter ya Hyuta ngomong? Papa kamu di mana, Sayang?"
"Papa kelja Oma ... Papa nyari uang buat Mama, buat Uta, buat Una, buat Uncle Econ, Uncle Maco, Om Omi---"
Via menutup mulut bocah itu. Jika dibiarkan, semua anggota yang dikenalnya akan disebutkan seluruhnya dan tentu tak akan ada habisnya. Hyuta sudah menghafal semua orang yang ada di sisi ayahnya.
"Duuuh, kasihan Hyuta ... mulutnya disumpal sama Mama ya?" Hyuta mengangguk dengan lugu.
"Aduuuh, lucu banget cucu Oma. Nanti Oma akan tinggal di sana bareng kalian ya?"
"Aaaaciiiikkk .... Hoolleee ... Mama ke ciiini ...," sorak Hyuta.
"Mi, aku turun lapangan lagi ya?" sela Via diantara obrolan anaknya dengan sang ibu.
"Bagaimana tanggapan suamimu?"
Via sedikit menggeleng. "Dia maunya aku di rumah saja. Mami tahu kan, aku ini tidak betah jika hanya duduk manis begitu saja."
Mami memainkan jari telunjuknya gerak kiri kanan. "Kamu jangan pernah membantah kata suami, dosa."
"Tapi, Mi ...?"
"Jika kamu beneran ingin kembali bekerja, harus bener-bener setelah mendapat izin dia dulu."
Raut wajah berubah dengan seketika. "Hmmm ... padahal dia udah tau pekerjaanku seperti ini semenjak dulu. Kalau mau cari istri yang di rumah doang, ya jangan cari istri yang berkarier."
"Apa pun yang kamu katakan pada Mami, gak akan berguna. Bagaimana pun, jika kamu menjadi istri, kamu minta izinnya sama suami kamu. Ini berarti ya pada Jimmy."
Dari layar ada tanda panggilan baru yang masuk. Tanda panggilan dengan foto Stevan di dalamnya. "Mi, ada panggilan dari Aa Stevan. Aku angkat dulu ya?"
Belum ada jawaban dari Mami, Via langsung menjawab panggilan tersebut. "Waaahh, kebetulan sekali Aa. Aku lagi nyari kontak Aa."
"Kamu tahu tidak, tiap hari aku ngabsen mencoba manggil ke kontak ini. Aku kaget banget lihat kontak kamu berlabel 'online' langsung aku hubungi saja."
"Ooh, hobby ngegombalnya belom ilang ya, Om?"
"Dibilangin beneran malah nggak percaya. Tadi malam aku belum selesai bicara tau nggak? Tiba-tiba sambungan teleponnya sudah ilang aja."
__ADS_1
"Oooh, itu ... maaf, suamiku katanya ada kerjaan membutuhkan hape. Jadinya gitu, telepon Aa ditutup."
Beberapa waktu Stevan diam. Karena setelah panggilan ditutup, dia kembali mencoba melakukan panggilan kembali. Namun, panggilan tersebut tidak nyambung sama sekali. Sudah berkali-kali dicobanya, tetapi tidak tersambung juga.
Sepertinya, dia sudah memblokir kontakku.
"Aa, kenapa diam aja?"
"Apa dia mendengar obrolan kita tadi malam?"
"Hmmm, tadi malam sepertinya dia di kamar deeh. Nggak tau juga dia dengar atau tidak."
"Sepertinya dia mendengar saat aku mengatakan telah berpisah dengan Sumire."
Sepertinya, dia cemburu. Jadi ingat saat mereka menikah dulu. Saat bersama dengan Sumire saja, dia masih saja begitu. Apalagi jika kami berpisah.
"Aa, beneran berpisah dengan Sumire?"
"Maksud aku pisah, sih karena dia lagi ada kerja di luar negeri, bukan pisah cerai. Namun, saat mau menjelaskan ternyata panggilanku sudah ditutup oleh pihak seberang. Ternyata ulah suami kamu tah?"
Mendengar penjelasan barusan, membuat Via tertawa ngakak, kedua kembar ikut nyengir meski tidak paham apa yang sedang terjadi. Via merasa puas atas ketepatan dugaan mengenai kecemburuan suaminya.
"Lepas amat tawanya, Boss?" ucap yang di seberang.
[Siapa nama anak perempuanmu?]
"Hana Makaira, kami biasanya memanggil dengan Hana."
"Oiya, salam buat Onesan (kakak) dan Hana ..."
"Okay ... babay ..."
Via melihat foto Jimmy yang dijadikan sebagai wallpaper. Senyum tipis mengulas bibir Via. "Siapa yang mau ikut latihan sama Mama?" tanya Via.
"Uta, ituuut."
"Una, ugaaa ..."
Via mengajak kedua bocah itu menuju halaman depan rumah mereka. Dia merasa seluruh otot tubuhnya menjadi kaku, karena sudah sangat lama tidak bergerak. Via mulai melakukan peregangan. Dia mulai latihan ringan menjelang seluruh tubuhnya kembali terbiasa dengan gerakan otot yang dulunya menjadi makanan sehari-hari.
__ADS_1
"Duuuh, kok Uta pinter banget latihannya? Siapa yang ajarin?" tanya Via terheran melihat bocah cilik itu luwes dengan kaki dan tangannya yang pendek.
"Ini cama Mama. Uta itut gelakan Mama ..."
Via melanjutkan meregangkan semua ototnya. Setelah semua usai, tanpa mereka sadari waktu telah beringsut menuju sore hari. Via menyiapkan anaknya menyambut sang kepala keluarga pulang dari pekerjaannya.
*
*
*
Di negara sakura, tampak seorang pria paruh baya, dengan setelan jas yang sangat rapi baru saja kembali dari pekerjaannya. Pria tersebut bekerja dalam instansi pemerintahan Jepang. Namun, semua orang tahu bahwa dia lah pimpinan gangster yang terbesar di negara tersebut.
ใฒใจใใไฝใใฆใใฎ
"Hito-san nanishiteruno?"
[Hito, apa yang kamu lakukan?]
Pria yang berada di depan layar CP segera bangkit dan bersujud di kaki pria paruh baya itu.
่ฆใใฆใใพใใ๏ผ
"Oboete imasu ka?"
[Apa Anda ingat, Tuan?]
ๆ่ฟใไฝใใ็งใใกใฎใใธใในใๆฉใพใใฆใใพใใ๏ผ
"Saikin, nanika ga watashitachi no bijinesu o nayama sete imasu ka?"
[Ada yang mengganggu bisnis kita akhir-akhir ini?]
Pria paruh baya itu menelengkan kepalanya. Mencoba mengingat kembali ada laporan bahwa bisnis mereka diganggu oleh bisnis yang sudah terlebih dahulu dari mereka. Sehingga, dia memustuskan untuk mengutus hacker bernama Hito itu untuk sekedar memberi peringatan.
Tanpa sepengetahuannya, hacker tersebut telah membuat usaha milik Jimmy tidak bisa dikendalikan. Sehingga membuat pria bernama Kathasi marah. Merasa kebaikannya sekedar peringatan ringan telah dikhianati oleh pihak lawan.
็ ดๅฃ๏ผ
"Hakai!"
__ADS_1
[Musnah kan!]