
"Apa? Marni ke Jepang?" tanya Jimmy di dalam panggilan selular.
"Iya Boss. Begitu lah yang gue tangkap dalam obrolan pegawai organisasi itu." jelas Romi.
"Lo denger alasan kenapa dia ke sana nggak?"
"Semacam sekolah ilmu penyelidmikan kalau tidak salah."
Sial, padahal aku sudah berencana ambil spesialis di Singapura. Dia malah pergi semakin menjauh. Jimmy menggenggam jemari, tengah merenung di dalam kamarnya.
"Kamu kenapa Jim?" Buana Putra masuk ke kamar sang anak.
"Pa, apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian?"
"Dengan siapa?" Buana Putra kembali menautkan alisnya.
"Dengan gadis detektif itu."
"Detektif muda yang sontoloyo itu?" gumam Buana Putra mendengus.
"Pa, ceritakan lah. Agar aku tahu bagaimana bersikap dengan dia saat kami berjumpa kembali."
"Apa yang kamu pikirkan? Bagaimana kamu bisa menyukai dia? Hubungan kami itu sangat lah sulit."
"Tak ada alasan tertentu untukku bisa menyukainya. Sesulit apa? Ceritakan padaku. Aku ingin tahu."
"Kamu masih ingat masalah dengan perusahaan kita beberapa tahun yang lalu? Dia lah biang kerok membuat perusahaan turun temurun kita berada di ambang kehancuran."
"Apa yang perbuat padanya?"
"Ehmm ... kamu kenapa?"
"Aku sangat merindukannya. Aku cinta padanya."
"Ekeeemmm ... kenapa harus dia? Cari saja wanita lain!"
"Tidak bisa, aku tak bisa merubah perasaanku begitu saja."
"Tapi kami itu musuh! Apalagi masalah Oliver yang telah menewaskan teman dekatnya. Oliver itu sengaja Papa bawa ke sini untuk menangkap dia. Papa tidak yakin dia bisa menerimamu begitu saja."
Jimmy kembali berpangku tangan, merenung kan masa depan. Memikir kan bagaimana cara bisa menemukan seseorang yang jauh.
__ADS_1
"Kamu benar-benar menyukainya?" Jimmy tak menjawab. Hanya menghela nafas dengan panjang. "Sekarang bagaimana kabar dia? Sudah lama sekali Papa tidak mendengar kabar dia." Jimmy kembali menghela napas yang panjang.
"Kamu kenapa sih?"
Jimmy kembali menghela napas ....
...***...
Di kampus, Jimmy sedang praktikum memeriksa kesehatan bagi lansia. Jimmy yang dipercaya sebagai assisten dosen memberi penjelasan kepada teman sejawatnya. Agar tidak mengalami kesalahan diagnosa jika suatu saat nanti harus turun ke lapangan.
Sementara beberapa pengagum rahasia hanya bisa melirik Jimmy. Tidak bisa menyampaikan perasaan kagum kepadanya, takut malu, dan takut ditolak. Jimmy yang selalu berperilaku sopan terhadap siapa pun, dengan sangat mudah mengambil hati seseorang.
Banyak di antara mahasiswi mematokan Jimmy adalah tipe ideal bagi mereka. Namun, saat sang gadis menyatakan perasaan, Jimmy selalu mengatakan di hatinya sudah diisi oleh orang lain. Padahal kenyataan yang mereka lihat, tak pernah melihat Jimmy jalan berdua dengan gadis mana pun.
Romi sering menemui Jimmy ke kampusnya. Itu pun atas permintaan calon dokter itu. Mereka sering terlihat berdua, bercanda satu sama lain. Sehingga setelah banyak penolakan yang diberi Jimmy, muncul isu bahwa Jimmy bukan lelaki normal. Namun, tetap saja yang memilih untuk menyukai Jimmy diam-diam.
Berbeda dengan Romi, meski di dalam diamnya menyukai Marni, dia memilih untuk menjalani masa mudanya selayaknya lelaki muda yang normal. Setiap ada yang menyatakan perasaan, dia langsung menerima tanpa berpikir panjang. Namun, di masa sang pacar mengajak kencan, Romi selalu memberi alasan.
Hal itu dilakukan karena keuangan yang tidak memadai. Bahkan tak jarang, sang pacar yang membayarkan segala hal untuknya. Beruntung memang, Romi memiliki wajah tampan dan terkesan kalem. Sehingga tak ada yang sadar, dia telah memiliki banyak pacar.
Selanjutnya, bagaimana dengan nasib Dino? Dino tidak melanjutkan pendidikan tinggi seperti Romi. Namun, Buana Putra mengajaknya untuk ikut bekerja dengannya. Sehingga dia sering diajarkan ilmu beladiri oleh para algojo milik Buana Putra. Setelah belajar cara tarung yang benar, Dino menjadi pribadi yang lebih dewasa. Apalagi yang dia temui setiap saat ialah orang-orang dewasa bertampang garang.
Selama berkuliah, Romi mencoba merakit sendiri perangkat gadget-nya. Menciptakan chip yang bisa mempercepat kinerja suatu perangkat lunak hingga seratus kali lipat. Oleh karena itu, alat yang diciptakannya mampu bekerja lebih cepat dalam meretas sesuatu yang dikunci oleh sistem tertentu.
Waktu terus berlalu, Jimmy terus memandang foto yang sama. Foto dimana Marni tengah memandangi siswa yang sedang bermain basket. Foto yang ditangkap oleh Gilang secara tidak sengaja.
"Kamu dimana? Sampai kapan kamu akan lari seperti ini? Kembali lah! Aku merindukanmu ...."
Waktu terus bergulir, Romi menyelesaikan perkuliahannya, Jimmy menyelesaikan spesialisnya. Gilang telah kembali dari kuliah di luar kotanya. Kevin pun telah bekerja di sebuah perusahaan. Semua anggota mereka dalam satu perkumpulan akhirnya bertemu.
Romi menginformasikan bahwa menemukan informasi tentang Marni. Dia mendapatkan infomasi bahwa Marni telah bergabung dengan FBI sejak satu tahun setelah keberangkatannya ke Jepang.
"Berarti tahun ini adalah tahun keempat Marni bekerja di sana." jelas Romi.
"Waduh, gile ... gue gak nyangka si gagu bisa sehebat itu." celetuk Dino.
"Sebenarnya dia memang sudah hebat dari awal. Hanya saja lo terlalu menganggap dia remeh." cetus Romi.
__ADS_1
"Niatnya mengerjai Marni, malah dia yang kena imbas. Selalu saja terjadi senjata makan tuan!" timpal yang lain menertawakan masa muda mereka.
"Saya akan mendirikan rumah sakit. Siapa yang mau gabung?" tawar Jimmy. Semuanya menunjuk tangan.
"Semuanya kuliah, gue aja yang nggak kuliah. Jadi kerja gue apa dong Boss?" celetuk Dino manyun.
"Ada, tenang aja. Lowongan tukang kebun masih kosong!" timpal Jimmy.
"Whaaaat?????"
...****...
Di rumah sakit yang baru berdiri, semua masih sepi. Begitu juga dengan pasien. Jimmy memutar otak menyuruh Romi mencari sesuatu yang bisa mendatangkan uang. Karena tidak mungkin biaya operasional terus berjalan, tetapi sumber pemasukan belum juga ada.
Romi memiliki ide yang sangat mengenjutkan. "Bagaimana kalau kita buat game online yang meraut keuntungan banyak?"
"Maksudnya? Gue kagak ngarti ...." ucap Dino.
"Kita buat sistem kerja kelas dunia. Buat game kita ini memonopoli keuangan para pemain. Setiap mereka minta game naik level, kita atur agar mereka mengisi top up terlebih dahulu. Saat mereka top up, kita bisa menghisap saldo mereka secara otomatis, bisa dua kali lipat, bahkan sepuluh kali lipat."
"Jika kita buat permainan ini secara global ini tentu bisa meraup keuntungan yang luar biasa. Bayangkan berapa orang masyarakat di dunia ini. Berapa orang yang akan menggunakan aplikasi ini. Berapa penghasilan yang kita peroleh." jelas Romi dengan menggebu-gebu.
"Ini kinerja para mafia ...." timpal Jimmy. "Tapi boleh kita coba! Siapa tahu akan membuatnya datang ke sini!" Jimmy menggesek kedua telapak tangannya ikut menggebu dan tidak sabar.
"Jika ingin sampai ke FBI, kita harus kerja sama dengan perjudian di Texas. Maka akan sangat cepat terendus oleh mereka!" tambah Romi lagi.
"Oke, semua yang ada di sini secara diam-diam kita resmikan permainan monopoli keuangan lewat game online. Sekalian kita bentuk Mafia yang menaungi game ini. Romi, saya angkat kamu sebagai center untuk pengendali. Yang lain ikuti arahan Romi. Sementara dua orang ini, Gilang dan Kevin sebagai pengawas." jelas Jimmy.
"Apa? Gue jadi satpam?" ucap Kevin "Gue yang seorang magister administrasi negara lho?" Kevin menggeleng tak percaya.
"Lu baru itu, gue ini dokter lho? Malah jadi satpam?" sela Gilang tak mau kalah.
"Nanti kita akan rekrut pegawai besar-besaran jika bisnis kita ini lancar. Mumpung rumah sakit kita ini masih sepi. Kita bisa leluasa bekerja dua puluh empat jam!" Jimmy melanjutkan penjelasannya.
"What? Dua puluh empat jam?"
Otor lagi kebut up ex-part ... Soalnya mau fokus pada lomba yang baru. Nanti jangan lupa dukungannya yaaa ... 😉😉😉
...*bersambung*...
...*Jangan lupa*...
__ADS_1
...LIKE, LOVE, GIFT, VOTE, & COMMENT...