DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
S2-14 Jimmy lebih dominan


__ADS_3

Keluar dari rumah Via, Jimmy menggenggam dadanya. Dia sendiri tidak menyangka bisa senekat itu mencium pipi Via. Meski terlihat tenang, jantungnya berdegup dengan kencang.


Untung saja tadi tidak melakukan kesalahan, lalu senyuman simpul menghiasi bibirnya. Masih terasa olehnya aroma tubuh Via yang seperti bayi. Menunggu di depan lift masih dengan hati berbunga-bunga, akhirnya bisa memilikinya. Pintu lift terbuka, Jimmy yang hendak masuk berbenturan dengan Romi yang hendak keluar.


"Rom, mau kemana?" Jimmy menaikkan alisnya sebelah.


"Eeeh, enggak... ternyata saya salah lantai," lalu masuk lagi ke dalam lift, Waduuuhh, malah ternyata ada dia, batin Romi.


Mereka melanjutkan naik ke satu lantai lagi, tempat Jimmy memaksa membeli satu rumah di sana. Sepanjang langkahnya, bibir Jimmy tak henti mengeluarkan senyuman. Hal itu tertangkap oleh Romi.


"Ada hal yang baik Pa?"


"Hmmm, saya sedikit buru-buru. Jadi obrolannya kita lanjutkan nanti." Mereka masuk ke dalam rumah yang sudah dipenuhi para anak bujang yang tengah mantengi laptop.


"Bagaimana pekerjaan hari ini? Lancar?" tanya sang papa kepada anak buahnya. Mereka sedang mantengi kurs pendapatan hasil menjadi mafia perjudian online.


"Lumayan Pa, kita bisa kaya jika begini terus!" sahut Dino.


"No, lanjut kerja!" ujar Kevin menjadi satpam.


"Romi, kamu cek lagi jika anak-anak ada kendala. Saya mau mengobati Mama kalian dulu.


Semua yang memiliki mata di rumah itu melihat dengan arti penuh tanda tanya menatap Jimmy. Biasanya Jimmy masih mengatakan bahwa Via adalah calon Mama. Ternyata kali ini berbeda. Jimmy mengerti arti tatapan itu.


"Kalian sudah resmi punya Mama, semoga berlanjut hingga punya KK," ucapnya diplomatis.

__ADS_1


"Yuuuuhuuuw!!!" sorak sorai para bujang butuh Mama di tempat yang telah sesak gara-gara mereka itu. Kecuali Romi, Dino memperhatikan ekspresi Romi.


Romi baru saja memutuskan hubungan dengan keempat pacarnya, setelah pura-pura mengaku menjadi pacar Marni tadi. Dia benar-benar baru menyadari perkelanaan cinta ini dilakukannya untuk menutupi kegelisahannya memikirkan Marni.


Sekarang Marni telah ada di sini. Tadi siang hampir saja ketahua tengah mengawasi dari jauh. Sengaja memilih waktu siang hari kabur dari rumah sakit. Agar Papa tidak bisa mencarinya karena sibuk bekerja.


Mengganti kendaraan mobil menjadi motor agar tidak mudah dicurigai. Dia sudah mengetahui Marni memiliki kendaraan dinas yang baru sehingga diikuti hingga memana pun. Bahkan teriakan Marni terdengar oleh telinganya saat gadis itu dipijit. Mengikuti lagi melihat gadis itu duduk di alun-alun kota.


Jimmy membawa kotak berisi peralatan kesehatannya, "Saya ingin merawat Mama kalian dulu. Jadi saat saya tinggal, kalian bekerja lah dengan baik!"


"Siip Pa! Titip salam buat Mama!" celetuk anggotanya yang bungsu.


Jimmy berjalan menuruni tangga, sebuah senyuman tidak habis menghiasi bibirnya. Kembali menekan-nekan angka pasword pintu rumah Via. Ditemukan Via masih duduk di posisi yang sama saat ditinggalkannya lagi.


"Waaaw, sudah lancar sekali Tuan bolak balik keluar masuk rumah orang lain ya?" Via menatap Jimmy dengah nanar.


Via menatap pria yang tiba-tiba saja menjadi pacar, tetapi tidak mau tiba-tiba diputuskan. Pria itu kembali mencari es batu untuk mengompres kaki Via yang belum juga sembuh.


Jimmy membawa baskom berisi air es, dan handuk kecil, berjongkok duduk di lantai dengan santai. Sejenak keningnya berkerut melihat hasil lilitan perban baru yang terlihat sangat hancur.


"Kamu tadi habis ke tukang pijit?" Jimmy mulai melepas lilitan itu, dan akhirnya sekesai juga. Kembali dilakukannya ritual mengompres kaki Via dengan tenang.


"Nanti kalau kamu mau pergi pijit, panggil aku ya? Biar aku yang temenin?" Via hanya membulatkan bibirnya, merasa tidak setuju.


"Atau kamu mau mencoba pijitanku? Biar aku pijitkan semuanya!" dia mengucapkan itu tanpa merasa bersalah. Kaki Via yang satu lagi sudah melayang menendang, namun ditahan oleh Jimmy.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, tidak sekarang kok! Nanti setelah kita menikah," meletakkan kaki Via dengan baik.


"Menikah? Aku tidak mencintaimu!" balas Via mencibir.


"Aku akan membuatmu mencintaiku."


"Coba saja kalau bisa!"


Jimmy yang tadinya fokus kepada kaki Via, menatap mata Via dengan dalam. Dia berdiri mendekatkan wajahnya kepada Via. Via yang ditatap seperti itu menjadi merasa tidak nyaman, matanya berputar-putar melihat sisi lain. Setelah itu kembali dilihatnya Jimmy yang masih menatapnya dengan dalam. Hal itu membuat jantungnya berdegup tidak karuan, dan sesak. Akhirnya muka Jimmy didorong menjauh dari wajahnya.


Jimmy kembali mendudukkan dirinya di atas lantai, melanjutkan perawatan penuh cintanya kepada gadis itu.


Via merasa semakin terancam, apalagi kondisinya sangat tidak baik. Sepertinya, Jimmy telah menjadi sangat kuat. Mungkin aku bisa KO jika melawannya dalam kondisi seperti ini. Aduuh, jantungku. Tenang lah!


"Kamu tidak usah takut denganku. Aku berjanji akan menjagamu. Baik dari orang lain, maupun dari diriku sendiri. Seperti yang telah aku katakan, aku sangat mencintaimu."


......ddegh......


Mendengar tuturan Jimmy yang tulus itu, membuat jantung Via melompat-lompat tak karuan. Perasaan kali ini malah melebihi saat bersama Deval. Saat bersama Deval, dia lah yang dominan dalam hubungan itu. Sekarang Jimmy, terlalu jauh memimpin permainan cinta membuat dirinya keok.


Usai kaki Via dikompres, kembali dikeringkan lalu dipasang perban yang baru. "Jika kamu telah mencintaiku, katakan saja dengan jujur padaku. Aku akan segera menemui orang tuamu ke Singapura."


...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...

__ADS_1


...terima kasih...


__ADS_2