DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
35. Kasus dadakan


__ADS_3

Setelah semua selesai, Marni dan Irin kembali ke kostan. Marni mencoba membuka buku pelajaran dan PR yang telah dikerjakan oleh Stevan. Dia ingin mempelajarinya kembali.


"Oiya, dia gimana kabarnya ya?" Marni yang sudah kembali menjadi Via, teringat pada sosok yang tengah sakit, dengan tatapan tajam tadi malam.


Mencoba-coba membuka ponsel, siapa tau ada kontak dia terselip, pikirnya. Di geser terus atas ke bawah, bawah ke atas, ternyata memang belum ada dia menyimpan kontak Deval.


Masih jelas teringat olehnya, Deval meminta untuk tidak bertemu dulu. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang membuat dia merasa ingin sekali menjumpai cowok arogan itu. Kenapa ya? 


Tiba-tiba Dia bangkit, "Apa gue ke sana aja ya?" Tetapi dengan perasaan gelisah dia duduk lagi, "Tapi gue belum bisa menerima perasaan dia. Gue takut, kejadian seperti Irin akan menimpa dia nanti.."


Via kembali mengambil kacamata, menjadi sosok Marni lalu berjalan keluar kamar dan duduk di taman depan kostan. Kedua kakinya digoyang bergantian, dan pikiran menerawang entah kemana.


Irin yang tertarik melihat Marni tengah dilanda kegalauan yang tidak jelas memilih untuk duduk tenang di samping Marni.


"Kenapa Neng?"


Pertanyaan Irin barusan membuat dia kembali dan menoleh ke arah Irin, goyangan kakinya terhenti fokus kepada orang yang duduk di sampingnya ini, "Eh…. Elo… Sejak kapan di sini?"


"Lo ngelamunin apa? Eiya, salep yang dilasih dokter kemarin masih dioleskan pada memarnya kan?" Marni mengangguk pelan. Marni masih terlihat gelisah.


"Lo kenapa sih?"


"Hmmm.." tiba-tiba Marni teringat Irin kemarin cukup dekat dengan Devan. "Lo punya kontak Devan nggak?"


"Punya…"


Langsung seketika wajah Marni berubah menjadi lebih cerah, "Beneran punya? Kirim ke gue dong!?"


"Buat apa?" Irin langsung mengeluarkan sebuah benda pipih dari dalam kantong celananya. Langsung sibuk menekan-nekan layar benda elektronik tersebut.


Marni kembali menggoyangkan kakinya, "Gue pengen tahu keadaan Deval…"


"Kenapa nggak nanya ke orangnya langsung?"


"Nah itu, gue tidak punya kontak dia.."


Tak lama Marni merasa tergelitik karena ponselnya bergetar, pesan dari Irin mengirim kontak Devan.


"Weeeii… pasukan bocaaahh…." tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kedatangan Rini yang baru saja pulang dari pekerjaannya.


"Kenapa nih? Tampaknya lucu aja dua bocah bicara serius kayak gitu?" tanyanya ikutan nimbrung duduk di sebelah Marni yang masih kosong.


"Kakakak babaru pupupulang kekekerja?" Marni kembali masuk pada pengaturan mode gagap.


"Iya nih. Oh, iya.. Kebetulan gue beli gorengan nih. Mau nggak?" membuka kantong kresek berisi berbagai jenis gorengan, lalu menyodorkannya kepada dua gadis yang dikatakan bocah itu.


Kedua gadis ini, memasang wajah gembira karena merasa sudah cukup lama tidak membeli makanan dengan minyak yang banyak ini. Irin dan Marni mengambil satu gorengan sesuai dengan selera mereka.


"Gimana Kak? cowok tadi sudah menghubungi Kakak?" tanya Irin sambil menggigit bakwan yang gurih ditambah dengan gigitan kecil untuk si rawit.


Marni memilih menyimak, merasa sedikit repot makan sambil bicara dengan mode gagap. Dia tengah menyantap pisang goreng kesukaannya.


"Belum…" raut wajah Kak Rini seketika berubah sedikit sedih, karena kecewa pada kenyataan yang di luar ekspektasi.


"Mungkin dia merasa aneh kali ya,. tiba-tiba ada kertas dalam genggamannya, lalu dibuang begitu aja?" tambahnya, membuang harapan punya pacar seorang bule.


"Hehehe, sabar Kak… Jodoh tak akan lari kemana…" tambah Irin menenangkan. Padahal di dalam hatinya tengah merasa geli, mengetahui Stevan sedang menyukai gadis jelek yang duduk di tengah mereka.


"Udah tertutup pintu jodoh gue sama dia. Soalnya langka banget ada bule nyasar di mari kan…"


"Bule?" Irin dan Marni bertatapan, lalu terkikik geli, namun memilih tidak menceritakan tentang Stevan lebih lanjut lagi.


"Iya, tadi tu bule nyasar, padahal gue sempat berpikir bahwa dia takdir gue."

__ADS_1


Irin dan Marni kembali cekikikan, menahan tawa yang lebih lebar.


"Kekekenanapa kakakak susuka dia?"


"Apa Lo nggak lihat? Tadi tu dia ganteng banget lhooo? Tidurnya pun tenang sekali. Aduh… Otak gue udah traveling pengen tidur di samping…." lalu Rini teringat anak-anak di sampingnya itu masih di bawah bau kencur.


"Kalian tidak akan paham apa yang gue rasakan…"


Irin dan Marni tersenyum, menebak ngebetnya Rini untuk menikah. Mengingat Rini adalah orang yang bagai satpan di kostan ini karena usianya paling senior di tempat ini. Rini sudah berada di usia yang sangat matang untuk menikah. Apalagi pekerjaannya sebagai sales promotion girl di salah satu departemen store yang tak jauh dari tempat mereka tinggal, menuntut dia selalu berpenampilan cantik dan seksi.


Tapi sayang, cowok itu sudah memikirkan cewek lain kak, Irin menjawab harapan sia-sia dari Rini di dalam hati.


"Kakak udah punya pacar belom?"


"Sebenarnya gue punya siiih.. Tetapi, siapa tau ada jodoh lebih baik dari laki-laki itu. Apalagi dia seorang bule yang langsung ngajak gue nikah.. hmmm..gemes duluan gue mikirnya..." matanya mengawang menatap langit, dengan senyuman tipis.


"Kakkak jajangan gigitu! kan uudah pupunya papacar. Haharus sesetia!"


Rini menatap Marni dan tertawa, "Ha-ha-ha, kok gue merasa lucu kalau ada anak kecil menasehati gue untuk setia ya?" Marni hanya tersenyum kikuk.


"Nah itu laah, gue udah nunggu dilamar, tapi dia belum juga berani melamar gue. Ini saja sudah beberapa hari belum menghubungi, gue hubungi pun kontaknya lagi nggak aktif, gue bingung mesti nyari kemana. Bikin kesal aja kan dia? udah bikin gue mati pajak hingga akhir angka dua puluhan, dia masih belum juga ngajak kawin…"


"Menikah kakak.." ralat Irin.


"Sama aja…!!"


"Bebeda.." sela Marni.


"Apa bedanya aahh.. toh sama aja maksudnya…"


"Bebeda Kak. Memenikah iitu pepengesasahan sesesuai aagama dan nenegara."


"Kakalau kakawin iitu kakayak iitu…" menunjuk sepasang kucing yang tengah melakukan proses reproduksi.


"Anak kecil tak akan paham hasrat orang dewasa…" lalu mencabikkan bibir melirik pada dua bocah yang ada di sampingnya ini.


Terserahlah Kak, batin Marni.


"Masih mau gorengan lagi?" tanyanya kembali menyodorkan kresek gorengan tadi.


Mereka hanya menggeleng cepat, Rini bangkit dan bersiap untuk menuju kamarnya, "Ya udah, gue mau bersih-bersih dulu…" lalu beranjak menuju kamarnya.


"Kasihan juga dia, sampai mikir pria lain untuk diajak nikah. A' Stevan lagi yang mau diajaknya…" celetuk Irin.


Marni membenarkan posisi kacamatanya yang semakin melorot, "Ya… Hmmm.. sebenarnya Aa' tu bisa dibilang udah dewasa dan mapan. Tapi kayaknya beda usia mereka cukup jauh.. Mau nggak ya Aa' sama Kak Rini?"


"Ha-ha-ha, kayaknya nggak mau.." jawab Irin cepat, "Aa' kayaknya suka yang muda tuh,…"


Marni menurunkan kembali kacamatanya tadi ke hidung, membulatkan matanya menyelidik apa yang dimaksud oleh Irin. "Kalian pacaran?"


"Aaaiiihhh… Kenapa gue sih? Masa Lo nggak paham sendiri?"


"Mana gue paham mah isi hati orang, kalau ada bukti baru gue bisa membaca. Karena bukti merupakan hal yang autentik, yang bisa dinilai kenyataannya. Kalau hati mah, susah ditebak. Kecuali dia memang sudah terbukti kalau bersalah, maka baru bisa melihat isi hatinya, dari ekspresinya…"


"Sudah banyak buktinya tuh, Lo aja yang nggak sadar-sadar…"


"Apanya?" tanya Marni heran ..


Belum sempat Irin berbicara, tiba-tiba Rini berlari ke luar dengan air mata yang memenuhi wajahnya.


Dikejar oleh Marni dan Irin, "Ke..ke..ke..Napa Kak?" masih mengikuti Rini, berhenti di pinggir jalan depan kostan. 


"Kenapa Kak?" sekarang Irin mengulang pertanyaan.

__ADS_1


"Tunggu…tunggu .." tampak dia tengah memesan taksi online,. Setelah pesanan, dia mendapat telepon yang mungkin driver taksi onlinenya. 


"Iya bang, sesuai aplikasi… Baik lah.. jangan lebih dari lima menit.." lalu telepon selesai, tampak semburat wajahnya cemas dan kalut.


"Kekenanapa Kak?" kembali Marni bertanya, dari tadi belum mendapat jawaban yang jelas.


"Pacar gue, pacar gue Gu…" *Gagu


"Kekenanapa dia?"


"Barusan polisi menelepon gue. Katanya menemukan kontak gue di seluler dia. Menyuruh gue ke rumah sakit kepolisian untuk mengecek apa benar dia itu orang yang gue kenal…"


"Kekenanapa papacar Kakak?"


Kembali air matanya mengucur… "Dia ditemukan tewas, di suatu tempat…"


Apa? Insting Marni langsung mencuat mendengar kata tewas, pembunuhan…


"Sasasaya boboleh iiikut?"


"Aku juga mau ikut," pinta Irin.


"Baiklah…temani gue ya…"


Marni dan Irin mengangguk, tak lama taksi online datang mereka semua langsung naik ke dalamnya. Sepanjang perjalanan, air mata Rini tak berhenti mengalir, cemas, kalut, dan putus asa. Orang yang diharapkan untuk menikahinya, telah pergi untuk selamanya.


Tak lama, mereka sampai. Tampak banyak sekali polisi lalu lalang di sana, dan banyak korban kriminal yang dibawa ke rumah sakit ini. Lalu Rini bertanya ke bagian informasi, dan diminta untuk menunggu. Karena polisi yang akan menjemput mereka.


Tampak seorang polisi menghampiri mereka, "Apa benar saudari ini Rini teman dekat almarhum Dika?"


Mendengar kata 'almarhum' membuat air mata Rini semakin deras.


"Kalau begitu, mari ikuti saya, dan adik-adik berdua ini, cukup tunggu di sini saja karena belum cukup umur…"


Tiba-tiba Marni mendekati polisi tersebut. Mengajak untuk beranjak menjauh dari Rini, menunjukkan kartu identitasnya sebagai detektif Via dari BOS. Polisi itu sangat terkejut, karena baru pertama kali bertemu Via, dalam mode penyamaran.


...*Otor belum jago ngedit 😂



...


"Saya boleh ikut melihat kondisi korban kan Pak?"


"Bila ternyata kamu adalah detektif yang terkenal yang sering dibincangkan dalam kepolisian itu, tentu saja saya tak bisa melarang. Malah mungkin kami akan semakin terbantu untuk cepat menyelesaikan kasus ini…"


Via dalam mode Marni mengangguk, dan kembali ke Irin. Meminta Irin mencari tempat yang nyaman untuk menunggu. Irin mengangguk lalu pergi.


Marni merangkul lengan Rini, dan mengajaknya untuk mengikuti langkah polisi tadi.


"Katanya tadi Lo nggak boleh, kenapa tiba-tiba dibolehkan?" melirik Marni dengan tatapan menyelidik.


"Sasaya Pupunya rarayuan maut.." jawab Marni asal.


"Jangan bercanda, gue lagi ngga bisa diajak bercanda…" mereka terus mengikuti langkah polisi tadi.


"Ma..ma..maaf…" ucap Marni terus menggandeng Rini, hingga polisi berhenti di depan sebuah ruangan, yang tertulis dengan frasa Kamar Mayat. Di sana tengah berkumpul beberapa polisi, penyidik, dan tim autopsi. 


Polisi tadi tampak sedang berbincang, mungkin menjelaskan mengenai identitas siapa Rini dan Marni. Rini didekati oleh tim penyidik, sementara Marni didekati oleh tim autopsi. Sejenak Rini heran, mengapa Marni malah dibawa oleh rombongan yang mengenakan jas putih ke dalam kamar mayat itu? Sedangkan Rini diinterogasi oleh tim penyidik.


...*Bersambung*...


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN TANDA JEJAK YAA.. LIKE, LOVE, VOTE, & KOMENTARNYA 😍😍🥰🥰😘😘...

__ADS_1


...terima kasih...


__ADS_2