
Penghuni rumah sakit kita mau aksi ni guys... Maaf rambutnya warna-warni. Anggap aja preman pasar. Yang tidak suka visualnya boleh skip. Ada yang ketemu Papa di dalamnya?
"Jika ramai-ramai begini malah bahaya," ujar Via.
"Kita harus menyusun rencana dengan baik!" ucap Jimmy.
"Marko, ayo! Kamu jago dalam perencanaan!"
"Kevin, buatkan peta seperti apa yang lo lihat secara umum."
"Gilang, lo jadi satpam jagain anak-anak ini berbelok dari rencana awal! Penyusunan rencana ini harus beres dalam lima menit!"
"Baik Pa!"
Sementara Via berkontribusi dengan anggota-anggota BOS gabungan. Via satu tim dengan Kenzo, Devan, Suzy, Rafael, ditambah dua orang dari anggota BOS negara ini. Tim lain bersiap mengepung dari sisi lain.
Sementara Buana Putra memilih bekerja sama dengan para cucu. Mengikuti alur yang dibuat oleh cucu-cucu. "Jadi Eyang nanti sama tim siapa?" tanyanya.
"Eyang jaga Jason saja, nanti dia lari-lari tidak jelas kan gatot semua." jelas Marko.
"Nah, Lo Sarimin, eh maksud gue Nana, lo kan ahli manjat. Nanti manjat di sana noh!---" Marko menjelaskan ke semua anggota mereka tugas masing-masing.
Via sudah mulai berlari masuk ke area itu. Semua peralatan yang dibutuhkan telah disiapkan dengan sedemikian rupa. Mulai lah aksinya.
Saat berlari, ada yang datang mengejarnya. Via menyiapkan pisau yang diselipkan di pinggangnya, langsung dilemparkan pada salah satu pasukan mafia itu, tepat menancap di jantungnya dan langsung jatuh.
Via melanjutkan lari, menyusup memasuk ruangan-ruangan luas, dikejar oleh beberapa musuh. Via melompat bergelantungan di pintu, lalu melayangkan tendangan di kedua kakinya.
buuugh...
baaagghh..
Dua orang berhasil dilumpuhkan, dan tinggal dua orang lagi diberi semprotan ajaib yang bisa membuat mata buta. Via melanjutkan masuk ke tempat yang lebih dalam.
***
Jimmy mengokang senjata apinya. Menyelipkan ke pinggang, memilih masuk dari arah atas. Memanjat bersama Nono dan Nana. Semua anggota Jimmy memilih masuk arah jalur belakang dan bagian atas. Mereka membagi sesuai lokasi yang telah digambar oleh Kevin.
Sementara Buana Putra asik menjaga cucunya yang bungsu. Masih abege, yang terlalu labil asik ke sana ke mari suka-suka hati.
Anggota satu tim Via mengikuti di belakang dengan jarak aman. Jadi, bila sesuatu terjadi, mereka bisa saling membantu.
Via menyelinap masuk, namun ternyata Oliver sedari awal telah memantaunya lewat ratusan CCTV yang dipasangnya.
__ADS_1
Dari arah luar, Romi mempunyai firasat buruk adanya sebuah kejanggalan. Mengapa semua terlihat begitu mudah? Padahal jika sekelas mafia besar, pasti begitu banyak anggota yang dimiliki oleh mereka.
Romi mulai kembali membuka laptop dan memasang kembali Chip ajaib yang dirakitnya sendiri. Membobol keamanan CCTV, dan dia sangat terkejut semua anggota mereka dan BOS terpampang dalan ratusan CCTV yang tersebar. Romi kembali mengotak-atik laptopnya, mencoba mematikan sistem kinerja seluruhnya dalam kurun waktu yang cukup lama.
Enter...
Lampu CCTV gedung itu mati satu per satu dan layar dimana Oliver memantau pun hanya terpampang warna gelap.
Sebuan senyum miring, menyungging di bibir Oliver. "Ternyata mereka memiliki penyelinap jaringan yang hebat," ucapnya dan berdiri. Masih teringat dalam benaknya, dimana posisi gadis delapan tahun lalu yang sempat menghajarnya.
Semua pasukan Oliver mulai bergerak. Karena CCTV sudah tidak bisa dikendalikan. Oliver menyuruh semua anggotanya berpencar dan menyebar.
Tiba-tiba saja, gelombang pasukan musuh datang ke arah mereka dengan begitu banyak. Via dan anggota satu timnya mulai melakukan perlawananan.
Sementara anggota Jimmy yang sedari tadi tiada bertemu musuh satu pun, tiba-tiba menghadapi ratusan musuh yang datang dari berbagai arah. Bahkan muncul dari arah atas juga.
Pertarungan pun tidak terelakkan. Semua anggota yang diboyong ke sarang musuh, seolah tidak sebanding dengan jumlah lawan mereka. Baku hantam lima lawan satu pun terjadi.
Di bagian dalam Via dan tim pun tengah memberikan perlawanan sengit. Di mana-mana yang terdengar hanyalah suara pukulan, tendangan, dan tumburan.
Via mengeluarkan alat eletrik dengan tegangan lumayan. Memukul mereka, lalu menyentrum hingga tak sadarkan diri. Berlari, melompat lalu melayangkan tendangannya.
Musuh yang tidak habis-habis, memaksa Via mengeluarkan sekaligus dua senjata apinya. Kedua tangannya menembakkan peluru-peluru itu dengan memutar tubuhnya.
doorrr...
dooorrr...
Semua anggotanya pun memutuskan mengeluarkan senjatanya. Sekarang terdengar suara saling berbalas tembakan. Via menemukan sebuah ruangan dengan pintu terbuka.
Didapatinya di dalan ruangan yang luas itu beberapa buah jeruji raksasa yang berisi wajah-wajah remaja awal khas melayu.
"Apa kalian tidak apa-apa?" tanyanya.
"Kakak orang Indonesia?" tanya salah satu gadis itu berdiri menggenggam besi jeruji itu dengan kedua tangannya.
"Kalian tenang dulu, kami akan membawa kalian kembali pulang." Via mengedarkan pandangannya mengintari seluruh bagian ruangan. Namun tidak terlihat sosok ayah yang dicarinya.
Siial, dimana mereka menyembunyikan Tosan?
Via mengeluarkan alat-alat untuk bisa membuka kunci jeruji besi itu.
plok...
__ADS_1
plok...
plok...
Sebuah tepukan tangan menghentikan kegiatan Via dalam merusak kunci itu. Via melihat ke asal suara.
"Ped*fil sialan!!!" umpatnya. Berdiri dengan lantang berhadapan dengan manusia tak berhati itu.
"Wwwoooowww.. Sekarang Kau terlihat begitu luar biasa Sayaang!" Dia masih bertepuk tangan menggeleng takjub.
"Dimana Kau sembunyikan ayahku Sialan?"
"Ohhooo... Kata-katamu selalu terdengar manis Sayang. Kau membuatku semakin tergila-gila!"
cuuuhhh...
Via meludah mendengar ucapan menjijikkan dari mulut penjahat kelas kakap itu. "Kau hanya membuatku muntah, Bastard!"
Oliver mengeluarkan sebuah remote dari kantong celananya. Menekan dan sebuah monitor raksasa menyala. Dalam layar itu tampak tawanan yang mungkin saja merupakan anggota Organisasi BOS negara ini. Mereka semua tampak sangat lusuh penuh luka dan lebam.
"Kau apakan mereka bangsad?"
"Hmmm, hanya sekedar tanda perkenalan dari kami saja."
Mendengar itu membuat Via semakin naik pitam. Melihat ayahnya diperlakukan tak manusiawi oleh orang-orang tak obah berhati hewan. Via berlari sekencangnya. Melompat salto, bertumpu kepada tangan dan memberikan tendangan maut pada wajah Oliver.
plak...
Oliver berhasil menangkisnya. Lalu mundur beberapa langkah. Via kembali memberikan pukulannya, namun tangannya yang tampak kecil bagi Oliver bukan lah sesuatu yang menakutkan dan menyakitkan. Dengan mudah Oliver menangkap pukulan itu, dan tak dilepaskannya lagi.
"Nona, hanya segini kemampuanmu?"
Menarik Via sehingga tubuh Via menempel pada tubuhnya. Mengaitkan kedua tangan Via bersilang, sehingga dia saat ini dia tepat berada di belakang Via. Tangan Via ditarik berlawan arah, sehingga Via tidak bisa berkutik.
"Kau lupa bahwa kau itu hanya seorang gadis kecil Nona?" Mulai mencium rambut Via. "Rambutmu sungguh sangat wangi," bisiknya di telinga Via.
"Sialan!" Via meronta, namun membuat tubuhnya merasa sakit karena tangannya dijadikan senjata oleh Oliver agar dia tidak bisa bergerak.
Jimmy yang sejak tadi berjibaku melawan anak buah Oliver yang banyak itu, terus berusaha mencari Via. Tampak pasukan yang satu tim dengan Via. Namun, dia tidak melihat Via.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...
__ADS_1