DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
21. Bule tertidur


__ADS_3

Hmmm...sudah pagi, tadi anak itu menggedor-gedor pintu pukul tiga. Berarti baru pulang jam segitu. Waduuh, katanya kacamata itu belum ditemukan, pasti dia sangat sedih. Kemudian Irin membereskan buku-buku masuk ke dalam tasnya, menyesuaikan mata pelajaran dengan materi hari ini. Memeriksa kembali tugas yang telah dikerjakannya tadi malam.


Hmmm.. tugas Via udah selesai belum ya? Irin melihat jam di ponselnya, menunjukkan waktu pukul enam pagi. Anak itu sudah bangun belum ya? Irin sudah siap dengan seragamnya. Membuka pintu hendak mengecek Via sudah bangun atau belum.


Irin melangkahkan kaki, tak sengaja melihat mobil yang biasa dibawa Om Dedi masih berdiri di depan kosan. Lho? Om Dedi belum pulang? Lalu Irin mendekati mobil tersebut, tak ada pergerakan dan tanda-tanda kehidupan. Suasana sangat sepi dan sunyi di dalam mobil itu.


Irin mencoba mengintip lewat kaca jendela mobil. Lalu mobil sedikit bergoyang dan jendela dibuka dari dalam.


"Aa? Belum pulang?" Irin setengah terkejut melihat sosok Stevan dengan mata merah, wajah udah sayu, dan bayangan hitam menggantung di bawah mata.


"Aa tidak tidur semalaman?"


Dia menggeleng dan membukakan pintu. Irin masuk dan tampak beberapa buku masih terkembang berserakan di dalam mobil itu.


"Aa lagi ngerjain tugas Via?"


"Iya nih... Kalau diserahkan dari kemarin kan sudah beres semuanya..." celetuknya kembali sibuk dengan buku-buku tugas milik Via.


"Iya... abis kemarin kami langsung cabut sepulang sekolah A. Belum sempat pulang. Tapi karena ada accident jadinya malah terlambat pulangnya.."


"Gimana kacamata Via A? Katanya belum ketemu..."


"Iya, dah capek ke sana malah nggak ketemu..."


"Terus gimana? Dia sedih donk?"


"Iya, dia kepikiran terus. Nanti lah aku cek lagi lewat CCTV mall-nya... Aku mau beresin ini dulu..."


"Masih banyak tugasnya?"


"Tinggal dikit lagi kok? Kamu udah cek tu Nona udah bangun apa belum? Nanti telat sekolahnya lhoh?"


"Oh iya yah, tapi mungkin dia sudah bersiap-siap juga. Biasanya menyetel alarm dia... A..a..."


"Hmmm... kenapa?" masih sibuk menulis di buku mirip tulisan Via.


"Gimana sama Via? Ada kelanjutan?"


"Gimananya gimana tu?"


"Aku tahu kok, Aa tu suka sama dia..."


Lalu Stevan mendongak ke arah Irin? "Kamu tahu dari siapa?"


"Yaaa.. tahu aja... Ada perkembangan nggak?"


"Yaaa gitu-gitu aja... Lagian dia kayak nggak anggap aku sebagai lelaki..."


"Wkwkwkw... lalu kayak banci?"


"Nah itu... aku kurang tahu juga.. Oh iya, tadi malam kita ke rumah sakit..." Kembali Stevan melanjutkan menulis.


"Rumah sakit? Ngapain lagi? Mencari Deval lagi?"


"Tadi rencananya nyari kacamatanya di sana. Ternyata nggak ada juga. Oh iya, siapa Deval itu?"


"Kenapa tadi malam? Ada sesuatu antara Via dan Deval?"


"Yaaa.. kayak yang aneh aja dia lihat aku... tatapannya kayak mau membunuhku..."


"Wkwkwkw... dia cemburu berarti tu..."


"Kenapa? Apakah dia yang pacarnya Via?" kembali menatap dengan menyelidik.


"Gimana ya? Pacaran sih enggak. Tapi Deval tu suka banget sama Via..."


"Ooohh.. pantess... terus Via-nya gimana?" kembali menulis.


"Entah lah A.. dia orangnya sangat tertutup. Tapi sekilas tampak sih, kayak merona gitu saat dekat sama Deval..."


"Hmmm...???" Seketika Stevan kembali fokus pada Irin. "Dia suka sama anak lemah kayak gitu?"


"Nah itu... aku juga kurang tau A.. dia sama sekali tidak menceritakan isi hatinya. Ya aku kurang tahu... Kenapa? Aa cemburu ya?"


"Wahaha... masa aku yang dewasa ini cemburu sama anak kecil? ckckck..." kembali melanjutkan menulis.. "Ini tinggal dikit lagi. Kalau sudah beres, tolong kamu kasih ke Via ya. Aku mau tidur dulu sejenak. Udah ngantuk berat..."


"Oke A... aku mau mengecek anak itu dulu. Semoga aja dia sudah siap-siap."

__ADS_1


"Tunggu... tunggu..." Stevan mulai merapikan buku-buku tadi. Memisahkan mana buku materi, dengan buku tugas. Lalu menyerahkannya pada Irin. "Ini, semua sudah beres untuk satu Minggu ke depan. Tolong serahkan ke dia ya.. Aku udah ngantuk banget soalnya... Mau tidur dulu..."


"Oke Aa.. mau tidur dimana?"


"Tidur dulu di sini dulu.." mengambil bantal yang tersedia, langsung merebahkan badan di bangku panjang yang empuk itu, tak lama dia sudah hilang dari dunia.


Irin turun, dan menutup kembali pintu mobil itu. Kasihan juga si Aa.. kalau gue sih setuju Via sama Aa.. mereka kayak saling melengkapi. Tapi itu kembali sama Via nya sih, batinnya.


Irin telah berdiri di depan pintu kamar Via. Tok...tok...tok....


"Hmmmm" sahut yang di dalam. Beneran udah bangun orangnya.


"Ini gue...." tak lama pintu sudah dibuka. Via sudah dalam mode Marni.


"Udah siap?" Lalu menyerahkan buku-buku milik Via. "Tadi Aa nitip ini..."


"Mana orangnya?" meraih buku-buku itu.


"Tuh, tidur di mobil.. kecapean banget orangnya...kasian..."


"Nyantai aja.. itu memang tugasnya kok," lalu Via yang sudah dalam mode Marni tertawa jahat tanpa ada raut rasa bersalah.


"Iiissshhh.. nggak punya hati ni anak," celetuk temannya mengernyitkan kening.


"Lhaaa... terus gue musti gimana gitu? Dia kan direkrut memang untuk itu..."


"Yaaa kasian kek, atau sedikit care kek... Ini malah nanggapin kayak biasa aja..."


Marni kembali menengok Irin dengan tatapan menyelidik, "Lo suka sama dia ya?"


Irin menepuk jidatnya dan menggelengkan kepala, "Wkwkwkw... Lo ni kalau bekerja, instingnya tajam banget. Giliran masalah hati, kok tumpul gini ya?"


Seketika Via menoyor kepala Irin, "Asyeeemm..." lalu memilah-milah tugas untuk mata pelajaran hari ini. Dilihat dan dipelajari sejenak.


"Temuin sana orangnya...!"


Marni melirik orang di hadapannya, "Siapa?"


"Aa..."


"Tadi katanya dia lagi tidur... Ya bagusnya malah dibiarin aja.. Dia butuh istirahat..." masih mempelajari materi tugas yang dibuatkan Stevan... Setelah merasa cukup, Via memasukkan ke dalam tas dan menyandang tas tersebut.


"Iya..iya.. tunggu bentar. Nggak sarapan dulu?"


"Nanti aja di sekolah beli roti aja..."


"Oooh ya udah.. tunggu ya...?" Irin segera menuju kamarnya, menyiapkan segala yang diperlulan untuk ke sekolah.


Marni menutup pintu lalu mengunci kamar dan menuju tempat mobilnya terparkir sejak tadi dini hari. Menuju bagian depan mobil, tampak Dedi masih tertidur. Lalu mengetuk kaca jendela mobil tersebut.


Dedi terkesiap, "Ada apa Non? Mau dianter ke sekolah?" sembari mengucek matanya.


"Bukan, ini sekolah kan deket banget, nggak sampai seratus meter kok. Nanti kalau Kaptem Peter udah jemput Aa, Om pulang aja ya? Mungkin selama seminggu ini jika tidak urgent, saya tidak akan memanggil Om. Nanti saya minta pada Tosan untuk kasih bonus lembur buat Om dan Aa.."


"Waaahh.. terima kasih Non.. Jadi seminggu ini saya mesti ke markas BOS?" agak ragu sedikit keberatan. Karena markas besar BOS posisinya sangat jauh, di sebuah pulau yang tidak berpenghuni.


"Nggak usah Om! Om boleh beristirahat dan bersama keluarga."


"Waaah.. beneran Non? Saya dibolehkan istirahat sejenak?" Via mengangguk.


"Terima kasih ya Non..."


"Ehm...." Via tersentak tiba-tiba ada orang dari belakang Via muncul, warga kost-an yang hendak melaksanakan aktivitasnya masing-masing. Ada yang mau pergi kerja, mau ke kampus, dan mau sekolah.


"Siapa tuh?" tanya Rini, penghuni kostan yang sangat senior.


"I...i..ini Om a..aku Kak."


"Supir?" tanyanya dengan nada meremehkan.


"I..i..ya Kak..."


Rini mendongak kan kepala, melihat ke bagian kursi penumpang. Tampak cowok ganteng tengah tertidur pulas.



"Narik dari mana tadi Mang?" tanya Rini kepada Dedi.

__ADS_1


Dedi membulatkan mata mencoba mencerna arah pembicaraan Rini.


"Mamang ini supir travel kan?" masih mendongak melihat ada yang tengah tertidur dengan wajah ganteng.


Marni menutup mulut menahan tawa.


"Itu penumpangnya mau ke mana Mang? Habis dijemput dari mana? Dari luar kota?"


Dedi menggaruk kepalanya bingung, melihat ke Via tengah mengode untuk menyesuaikan dengan yang ditanya orang ini.


"Tadi abis saya jemput dari Bandung Dek.." jawab Dedi.


"Penumpang yang itu mau diantar kemana Mang?"


"Waduuh, kemana ya? soalnya saya lupa. Saya mau nengok ponakan dulu di sini. Jadi sambil nunggu Mas itu bangun, saya ke sini dulu. Nanti kalau orangnya udah bangun, baru saya anter ke tujuan nya."


"Ke..ke..ke..na..na...pa Kak sa...sa..ma pe..pe..pe..nu...num...pangnya?" sela Marni.


"Ganteng banget sumpah.. lucuk aja bule naik travel..." Marni juga mendongak memperhatikan Stevan. Oiya ya.. dia memang blasteran Finlandia dan Bandung. Maknya bule, bapaknya Bandung. Apa benar dia seganteng itu sampai Rini langsung tertarik sama dia?


"Boleh saya bangunin bentar nggak Mang?"


"Buat apa Dek?"


"Yaaa.. siapa tau boleh minta kontak dia kan..."


"Saya kurang yakin sih Dek, takutnya malah marah kalau dibangunin..."


Asyeeemm juga si Rini ini.. Niat banget sampai mau bangunin orang dari tidurnya, batin Marni.


Rini berjalan ke arah pintu penumpang, Ternyata pintu dalam keadaan terkunci. "Mang, buka kuncinya!"


Dedi melihat ke Marni menanyakan pendapat, Marni hanya mengangguk. Dia juga penasaran bagaimana reaksi Stevan saat dibangunin dari tidurnya yang hanya beberapa saat.


Kunci dibuka, dan Rini membuka pintu penumpang dan naik. Ditatapnya Stevan dalam diam.


"Hey... Marni.." Irin sudah muncul, "Ada apa?" tanyanya heran.


"Tuh, Kak Rini mau kenalan sama Aa..." bisik Marni.


"Lhaaaah kok?"


"Kayaknya dia langsung suka sama Aa, pas lihat Aa tengah tidur..."


"Terus kenapa dia sampai ikut naik ke dalam?"


"Rencana dia mau bangunin, mau minta kontak dia katanya..." lalu mereka berdua cekikikan. Irin ikut penasaran dengan kelanjutannya. Berhasil apa tidak dia mendapatkan kontak Aja.


Rini masih memerhatikan Stevan yang tengah tidur. Kemudian dia kembali turun mendekat ke Marni dan Irin.


"Gu...Gagu... minta sedikti kertas dan pinjam pulpennya donk..." Masih saja dia memanggil Marni dengan si Gagu.


"Bu..Bu..buat a..apa Kak?"


"Lihat aja... ayo buruan...!"


Marni pun buru-buru merobek sedikit bagian buku dan mengeluarkan pulpennya. Lalu Rini menuliskan namanya dan kontaknya di potongan kertas itu. Setelah itu Rini mengembalikan pulpen, masuk lagi ke mobil dan menyelipkan potongan kertas itu ke genggaman Stevan. Lalu kembali turun dan menutup pintu mobil itu.


"Ng..Ng...nggak ja..ja..di ba..ba..ba..ngu..ngu..ngu..nih?"


"Dia tidur dengan pulas gitu, kasian gue kalo bangunin dia.. Nanti bangun moga dia hubungin gue..."


Marni dan Irin saling berpandangan dan mengangguk.


"Daaahh.. anak kecil sekolah dulu Sanah! Nanti terlambat..!!"


Irin dan Marni mengangguk.. Lalu mereka menuju sekolah dengan terkekeh.


"Kalau mereka jadian pasti lucu banget tuh..." bisik Marni.


"Paling lucu lagi kalo Aa jadian sama Lo..." Irin kembali terkekeh.


Marni mencubit pinggang Irin. Irin meringis dan mengelus bekas cubitan itu.


...*Bersambung*...


...Jangan lupa meninggalkan tanda jejak yaa.. LIKE, LOVE, GIFT & VOTE 🥰🥰🤩🤩😍😍...

__ADS_1


...Terima kasiiiih.....


__ADS_2