
...Bab ini mengandung bawang, buat yang baperan tidak disarankan membacanya, karena akan membuat kepikiran, dan mewek di pojok rumah....
Stevan menemukan Jimmy sedang berguling lalu meringkuk di atas rerumputan, wajahnya melepuh dan rusak. Stevan meminta Dedi untuk membantunya membopong Jimmy masuk ke dalam mobil.
"Hati-hati Mas, ini cairan keras!" Dedi kembali ke mobil mencari sesuatu, lalu balik lagi. Menyerahkan sarung tangan kepada Jimmy, dan mereka langsung memakainya. Memapah pria muda itu, yang terus meringis menahan kesakitan yang luar biasa. Mereka membawa Jimmy ke rumah sakit.
"Dasar Psikopat...! Sungguh tak punya hati dia!" ringis Stevan melihat kondisi Jimmy yang sangat mengenaskan.
Dedi tidak bisa berkomentar, hanya terus melajukan kendaraannya menuju rumah sakit.
***
Via terduduk merenung di antara bangku-bangku rumah sakit. Dengan tubuh dipenuhi darah, dia membisu mengingat saat terakhir kali seluruh tubuh Deval titutup selembar selimut dibawa ke kamar mayat.
Tak beberapa lama, kedua orang tua Deval sampai dengan wajah keruh, penuh air mata. Saat tidur lelap jelang dinihari pihak kepolisian memanggil mereka untuk segera ke rumah sakit. Mengabarkan bahwa sulung dari kembar telah meninggal dunia akibat luka tembak.
Sang ibu mendapati Via tengah merenung tanpa gairah. Tiba-tiba amarah ibu dari Deval ini membuncah, mengingat Deval tengah berada bersamanya. Sang ibu menarik Via yang tidak menyadari kedatangan mereka karena sibuk meratap di dalam hati.
"Heh, kamu!"
PLAAAK...
Ibu Deval menampar wajah Via. Saat itu lah Via baru tersadar bahwa saat ini benar adanya bahwa Deval pergi untuk selamanya.
"Apa yang kamu lakukan pada anakku? Kau yang membunuhnya?!" sang ibu menggungcang tubuh Via karena amarah. Kakak dari Devan yang kalem mirip suaminya.
Sang suami menarik istrinya melakukan tindakan impulsif itu. "Ma, sadar Ma! Dia dibunuh oleh penjahat! Jangan menyalahkannya!"
__ADS_1
Via melirik ayah dari Deval. "Benar kata Tante, Om. Aku lah penyebab Deval...-"
Kembali ibu dari Deval menari kerah baju Via. "Apa kau bilang? Coba katakan lagi! Kau yang membunuh anakku!"
Tiba-tiba Irin berlari ke arah mereka, memeluk sahabatnya yang tengah berduka, namun disalahkan oleh keluarga Deval.
"Ada apa ini Ma?" Devan baru sampai menjemput Irin.
"Wanita itu lah penyebab kematian saudaramu Van! Dia harus bertanggung jawab atas semua ini!" mencekik Via dan mengguncangnya kembali.
Sang suami dan Devan mencoba menahan wanita yang tengah dipenuhi oleh amarah itu. Irin berusaha membuka cekikan dari ibu si kembar. Via menahan tangan Irin.
"Ayo bunuh aku Tante! Biarkan aku ikut mati bersamanya."
Seketika air mata Irin jatuh terurai melihat kondisi sahabatnya tengah down hingga ke dasar.
"Jangan bilang begitu," isaknya memeluk Via.
"Via, sadarlah!" sekarang giliran Irin yang mengguncang tubuh Via. Via hanya mematung, matanya hampa seolah sukma tengah pergi ke tempat lain.
Irin menarik Via duduk ke bangku, Via hanya patuh namun matanya masih menerawang. Duduk dalam diam yang panjang. Orang tua Deval tengah mengurus jenazah Deval yang masih di dalam kamar mayat, tengah proses mengeluarkan peluru yang bersarang di dalam tubuhnya.
"Sayang sekali, dia anak yang sangat tampan. Namun takdir hanya memberikan kesempatan hidupnya sangat singkat," ucap tim autopsi yang mengerjakannya.
***
Sampai di rumah sakit, Stevan berlari lalu menarik brangkar dan membawanya ke koridor depan, dimana Dedi memarkirkan mobilnya. Dedi dan Stevan meringis melihat kondisi wajah Jimmy yang sangat mengenaskan. Melihat ada pasien darurat, para perawat membantu mendorong brangkar menuju ruang penanganan cepat.
__ADS_1
"Apa yang harus kita lakukan pada anak itu Mas Stevan?" tanya Dedi dengan wajah khawatir.
"Kita harus menghubungi keluarganya, Buana Putra."
Lalu tampak Kevin dan Gilang tengah dipapah oleh orang tua mereka masing-masing. Stevan mendekati mereka.
"Apa kalian punya kontak keluarga Jimmy?"
"Ada Bang, kenapa dengan Jimmy Bang? Bukan kah tadi ia baik-baik saja?"
"Saya minta tolong agar kalian segera menghubungi mereka. Keadaan Jimmy sangat darurat."
"Baik Bang, akan segera kami hubungi."
Gilang sibuk dengan ponselnya, sementara Kevin memperhatikan Stevan yang menyandarkan diri ke dinding. Kevin mendekati Stevan.
"Bang, hemm... Cobalah temui cewek jagoan tadi. Cowok yang kena tembak tadi akhirnya tidak bisa diselamatkan."
Seketika Stevan tersentak karena terkejut. Tidak menyangka Deval meninggal karena peristiwa tadi. Langsung terbayang bagaimana reaksi Via mendapati cowok saingan beratnya itu pergi untuk selamanya.
"Terima kasih atas infonya. Saya serahkan Jimmy ke kalian dulu hingga orang tuanya datang ya?"
"Baik Bang. Biarkan Jimmy kami yang handle."
Hari ini Senin, jangan lupa tambahkan Vote nya yaaa.. bantu semangati Author yaa.. Ini cerita Author bawa dalam event lomba Yang Muda Yang Bercinta.
...*bersambung*...
__ADS_1
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...