
Usai sarapan cinta yang dibawakan Joko, tak habis senyuman tersungging di bibir Marni. Dia tidak menyangka ternyata rasa ini begitu indah. Rasa yang sempat dia takutkan mengisi bayang-bayang masa lalu apabila dekat dengan orang yang baru.
"Kok gue merasa sebel ya," celetuk Irin.
"Kenapa?" bisik Marni.
"Melihat Lo cengengesan gak karuan. Udah kayak orang gila?" lalu mencebikkan bibirnya.
"Ha-ha-ha, kalau iri bilang boss!" Marni mencibir membuat raut wajah Irin makin sebal.
"Jangan begitu lah sista! Lo seharusnya seneng lihat gue seneng!" bisiknya.
"Lo enak, ketemu orangnya bisa setiap hari di sekolah. Kalau kalian pacaran terus gue ditinggal bagaimana?" kembali manyun, ada perasaan tak ikhlas jika dia membayangkan sahabatnya ini akan sibuk pacaran, dan tidak memedulikannya lagi.
"Haha, nggak sampai pacaran kok! Kita mau jalani kayak gini aja dulu. Gue masih takut Rin."
"Apa tu nggak pacaran, udah gandengan juga kayak tadi pagi. Jadi kalian mau sobatan tapi cinta gitu? Korban selanjutnya dalam ikatan friendzone?"
"Entahlah? Gue juga bingung. Gue sendiri juga kaget, dia sampai begitu."
"Lo kayak menikmatinya tuh," Irin masih mode nyinyir.
"Ha-ha-ha, udah laah! Jangan cemberut gitu. Gue kan ga pernah ninggalin Lo," Marni mulai jurus bujukannya.
"Iya, tapi masa gue harus jadi obat nyamuk terus?"
"Ssstttt!!!" kawan-kawan mereka mulai masuk ke kelas. Tampak juga rombongan Dino yang terus memantau Marni. Dino memberikan gerakan dua jari meneropong matanya lalu dua jari itu diarahkan ke Marni.
Marni hanya mencebik, menantang Dino. Guru pun akhirnya masuk ke kelas, dan pelajaran dimulai dengan tenang dan tegang. Menghadapi pelajaran eksak dari pagi hingga pulang. *salah sendiri ambil jurusan sains*
Saat istirahat, Dino yang merasa mumet habis digempur pelajaran hukum newton, mendekat ke bangku Marni dan Irin. Dua orang sahabatan yang sibuk bisik-bisikan, tampak kaget melihat wajah teler Dino.
"Jangan lupa besok kita tandingnya!"
"Aaapaan sih lo? Bibibikin kikikita kakaget!" mendorong wajah Dino yang terlalu dekat posisinya dengan muka Marni.
Lalu Dino menyunggingkan senyuman liciknya, "Barangkali aja lo lupa dengan rencana esok gara-gara sibuk pacaran kan?"
"Ya eeeengenggak laaaaaah!!!!!"
"Lo punya motor buat tanding besok apa kagak?"
"Gugugue pupupunya sesesepepeda!"
"Yang gue tanya lo punya motor apa enggak? Bukan nanya sepeda elo!" Marni hanya menggeleng.
__ADS_1
"Bisa melajukan motor?" Marni mengangguk.
"Bisa bawa motor sport?" Marni mengangguk.
Huuh, sok banget lagak si gagu ini? batin Dino yang kesal tak tau kenapa.
"Teteterus gugugue boboleh papapakai sesepepeda?"
"Ini kita balap motor sport! Bukan balap sepeda!"
"Sepeda Marni ini keren lhoo! Kalah motor sport yang lo punya!" sela Irin. Lalu Irin dan Marni sambil kode-kodean angkat kedua alis dengan senyum licik.
"Nggak peduli! Gue maunya pakai motor sport! Masa iya gue pakai motor lo ngayuh sepeda? Udah dihujat netijen duluan gue dibilang curang?"
Aaahh.. lo aja yang nggak tau, bakalan kalah duluan sama sepeda gue, Marni memperbaiki posisi kacamatanya."Jajajadi momotor gugue gigimana?"
"Kalau belum punya, ya terpaksa gue carikan dulu punya anak-anak."
"Gue punya! Motor Marni biar gue yang nyiapin!" tiba-tiba Joko muncul dengan ajaibnya.
"Oke lah culun, besok Lo yang nyiapin motor buat dia," lalu Dino minggat, Joko duduk di bangku di depan posisi Marni.
"Ya elah? Baru dua jam pisah udah kangen-kangenan lagi?" celetuk Irin kembali cemberut.
Irin mencabikkan bibirnya, "Gue kan ngenes liat kalian?" 😑
"Apa perlu gue minta Devan pindah ke sini juga?" Joko langsung ikut menyela.
"Hhmmm…emang gampang, pindah sana pindah sini gitu aja?" masih mode manyun.
"Hihihihi, Sabar Rin! Gue gak akan tinggalkan elo sendiri kok! Takut aja ni anak ini mah?" masih mode berbisik.
"Bisik-bisik terus?!" timpal Joko.
"Iya, susah gagu-gaguan, repot!" masih dalam mode berbisik.
Joko hanya bisa menahan senyum melihat Marni. Masih membandingkan yang asli dengan yang palsu. Sedangkan kawan kelas yang lain asik dengan julitan mereka.
"Lihat tu si gagu, lagi deket sama si culun?" bisik salah satu dari genk julid.
"Kenapa gitu? Biarin aja! Kan nggak mengganggu." timpal yang lain.
"Haduuuhh Irin lihat, ngenes sendirian diantara makhluk bucin itu!"
"Iya kasihan?! Ayo panggil aja dia ke sini biar nggak jadi obat nyamuk, cian gue liat tampangnya."
__ADS_1
"Iya, iya, ayo dipanggil dulu!"
"Rin!"
Irin menoleh ke sumber suara, "Apa?" jawabnya memelas.
"Ngapain di situ? Ayo gabung ke sini!"
Waaahh, pas banget niih, batinnya. "Gue ke sana aja ya," Irin langsung bangkit bergabung dengan kawannya yang lain.
Nah, gitu donk! batin Joko ikut merasa lega. "Kalau istirahat gini biasanya Lo ngapain?"
"Apa ya? Kadang ke perpus, kadang makan di kantin, kadang nontonin orang main basket, seringnya ya duduk di kelas aja sambil baca buku."
"Sekarang laper nggak?"
"Tadi makan yang Lo kasih kan udah gue embat sampai habis. Jadi sekarang belum laper kok. Atau mungkin Lo yang lagi laper?"
"Hmmm, iya sih!"
"Mau gue temenin?"
"Kalau Lo nggak keberatan?"
"Ayoo! Gue temenin!"
Mereka jalan dan menjadi tontona seluruh warga sekolah. Mereka hanya bisa berjalan menunduk, kesel iya, malu iya. Ada satu lagi sosok yang memperhatikan mereka dari koridor seberang, di balik lapangan basket. Anak kelas dua belas, yang menatap mereka dengan nanar, ditemani oleh Kevin dan Gilang.
"Udah bro! Ngapain diliatin terus? Lo bakalan makin sakit hati!?"
Lalu mereka bertiga berlalu masuk kembali ke kelas. Jimmy membenamkan wajahnya di atas meja.
***
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE & KOMENTAR...
...terima kasih...
berhubung otor mendapat surat cinta dari noveltoon.. otor minta kawan-kawan reader ikut singgah di karya otor yang udah tamat yaa..karyanya sepi aja..tapi malah dapat rekomendasi dari noveltoon
__ADS_1