DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
23. Stevan Story


__ADS_3

Stevan tidur dengan sangat pulas, namun karena takut malah ditanya-tanya lagi oleh warga kostan Nona Via, Dedi terpaksa membawa Stevan ke rumahnya. Memarkir kan mobil berbodi besar itu di halaman rumah. Karena Stevan masih dalam keadaan tertidur, Dedi membiarkan AC mobil tetap menyala, dan dia sendiri melanjutkan tidur di dalam kamar.


Setelah enam jam tidur di dalam mobil, Stevan perlahan bangun. Masih belum On, dia bangkit untuk duduk. Menggaruk kepala yang sedikit gatal, menguap, dan garuk-garuk bagian dada.


Menengok ke kiri dan kanan, Ini dimana ya? pikirnya. Lalu membuka kunci layar ponsel, mengecek di Map.. Hmmm.. mungkin ini rumah Mas Dedi, batinnya.


Stevan pindah ke bagian setir mobil, lalu mematikan mesin mobil yang sengaja dinyalakan untuknya. Membuka pintu lalu melihat rumah yang pintunya tengah terbuka.


Tok...tok..tok...


Tampak dua anak yang tengah menonton televisi. Kira-kira usia lima dan dua tahunan.


"Halooo Dek..." sapa Stevan pada kedua anak kecil itu.


"Om nyari siapa?" tanya yang besar dengan polos.


"Ayah adek dimana?" ikut jongkok menyamakan tinggi dengan bocah itu.


"Ami bukan adek. Adek yang itu..." ditunjuknya bocah laki-laki berusia dua tahunan.


"Jadi nama kamu Ami?" bocah itu mengangguk.


"Ayah Ami dimana?"


"Ami nggak punya Ayah..." Ooh.. apakah aku salah kira ya?


"Terus panggil orang tua Ami siapa?" Stevan berusaha mencari sesuatu.. Sesuatu yang mungkin bisa ditujukan pada bocah ini. Tampak foto Mas Dedi yang tengah memakai seragam loreng. Ooohh, berarti dulunya Mas Dedi ini TNI toooh...hmmm..


"Nah, yang pakai baju tentara itu siapa Ami?"


"Itu Daddy..."


😂 tiba-tiba Stevan terkikik, membayangkan anak-anak ini memanggil Dedi dengan Daddy...


"Daddynya Ami ada dimana?"


"Ooohh.. Daddy.. lagi di kamar Om..."


"Boleh Om minta tolong?" gadis kecil itu mengangguk.


"Tolong panggilkan Daddynya, bisa?" lagi-lagi gadis kecil ini mengangguk, langsung berlari masuk ke sebuah ruang, yang mungkin kamar yang dimaksud.


Tak lama gadis kecil itu muncul kembali, "Tunggu ya Om..."


"Oke... terima kasih anak manis..." Gadis kecil itu tersenyum dan kembali menonton TV.


Sementara Stevan memilih duduk di teras menunggu Dedi. Di jalan tampak ada ibu-ibu yang tengah berjalan berdua lalu melihat ke arah Stevan. Pembicaraan mereka terdengar jelas sampai ke kupingnya.

__ADS_1


"Waaahh... di sana ada bule yang lagi duduk. Itu rumah Dedi kan? Bule itu siapa ya?"


"Iya.. waduuhh.. seger banget wajah bulenya.. Nanti kita tanya ke Fifin yuk, dia itu siapa. Siapa tahu mau dikenalkan ke anak saya?"


"Jangan buat anak Ibu, buat anak saya aja? Kan lumayan punya mantu bule, biar cucu-cucu saya nanti ikutan jadi bule juga..." I


Stevan tersenyum pada Ibu-ibu tersebut, lalu Ibu-ibu itu membalas senyuman Stevan sambil berlalu dan masih membicarakannya. Mungkin mereka tidak menyangka, Stevan memahami apa yang mereka bicarakan.


Kejadian ini bukan lah hal yang baru bagi Stevan. Dia sudah terlalu sering menjadi obrolan para ibu-ibu. Ingin mengangkat dia menjadi menantu. Jadi bagi dia itu adalah hal yang biasa yang tidak perlu diambil hati.


"Ohooo.. Mas Stevan..." akhirnya Dedi muncul juga sambil sarungan. Mukanya masih basah, mungkin baru saja mencuci mukanya.


"Udah istirahat Mas?" tanya si bule pada Dedi.


"Udah Mas.. sekarang udah agak segeran. Mas Stevan sendiri gimana keadaanya? Udah enakkan setelah begadang sepanjang malam?"


"Udah lumayan Mas. Tadi Via menanyakan saya nggak?"


"Oooh, tadi bukan Non Via yang nanyain Mas, ada satu mbak-mbak girang yang sibuk ngintipin Mas. Dia mau minta kontak Mas Stevan, katanya. Tapi karena Mas tidurnya pulas banget, dia nggak jadi bangunin Mas..."


Stevan hanya bisa menyunggingkan senyum kikuk, "Waduuuhh... padahal saya lagi tidur di dalam mobil ya.. Kok bisa ada yang lihat saya ya?"


"Tadi kebetulan Non Via mengajak saya ngobrol, pintu mobilnya saya buka. Jadi kelihatan ada cowok ganteng yang tengah tidur katanya..."


"Wkwkwkwk, Mas ini ada-ada aja. Masa saya dibilang ganteng terus. Nanti saya jadi besar kepala lhooo.."


"Hehehe, beneran kenyataannya gitu kok Mas... Oiya, Mas Stevan pasti sudah lapar kan? Tadi Fifin, istri saya sudah masak. Ayo kita makan dulu .."


"Nanti aja, makan dulu! Stelah itu mukanya dicuci dulu, baru balik ke Bandung."


Sebenarnya perut dia sudah sangat lapar, melewati waktu sarapan, dan sekarang sudah waktunya makan siang. Akhirnya dengan malu-malu Stevan menerima ajakan makan dari Dedi.


Stevan mengintari pandangan ke seluruh sudut rumah.


"Istrinya ada dimana Mas?"


"Oh istri saya sedang bekerja. Jam segini belum pulang..."


"Jadi Mas dan istri sama-sama bekerja. Kalau Mas juga lagi kerja, anak-anak gimana?"


"Ooh, kan ada nenek mereka. Jadi dititip dulu sama nenek sampai saya atau istri pulang duluan." Stevan manut-manut membayangkan nantinya mungkin akan begitu juga.


"Mari makan Mas.." menyilakan Stevan mengambil makanan, Stevan mengangguk dan mengambil nasi dan lauk yang tersedia.


"Maaf ya Mas, seadanya... tadi istri saya buru-buru..."


"Ngga apa Mas, ini sudah enak kok..."

__ADS_1


"Ami dan Azi makan yang banyak yaa.. Biar bisa tinggi dan cakep kayak Om Stevan ini lhoo.. Om Stevan jadi begini karena banyak makan, benar kan Om?"


"Uhuuukk.." Stevan jadi tersedak mendengar bujukan makan yang seperti itu.


***


Stevan sudah sampai di Bandung, tadi dijemput oleh Kapten Peter ke rumah Mas Dedy yang kebetulan memiliki halaman rumah yang cukup luas. Sehingga helikopter bisa mendarat agak sejenak di sana. Kemudian dia langsung mengecek tugas akhir yang tengah dikerjakannya.


Beberapa jam berkutat dengan TA, dia putuskan untuk mencukup-kan pekerjaannya dulu, dan mencetak lembaran hasil yang dikerjakannya.


Setelah itu mengecek salinan CCTV kemarin yang telah disimpannya. Mengecek tanggal kemarin, "hmmm.. di lantai satu, hmmm di koridor utama... Yak.. ini dia..."


Kemudian Stevan mempercepat video hingga tampak Via muncul bersama Irin dan lhooh? itu bukannya Deval kemarin ya? Katanya Deval lagi sakit? Kenapa dia ada di sini? Atau dia kecelakaan habis ini kali ya?


Kembali mengecek, menukar-nukar CCTV yang memperlihatkan Via, berarti harus terus mengganti posisi CCTV. Cukup repot memang, tapi ngga apa lah demi dia, *korban bucin*


Akhirnya dia tertinggal oleh Irin dan Deval, asyik dengan ponsel, dan ada cowok yang datang dari arah berlawanan yang juga asyik dengan ponselnya. Lalu mereka tabrakan.


Tampak ada yang terlempar, kemudian dia mengulang lagi adegan itu memperbesar gambarnya. Ternyata kacamatanya hanya digantungin di neck kaos dalamnya. Pas jatuh, kacamata tersebut terpental. Via tampak buru-buru meninggalkan orang tersebut, dan cowok itu memungut kacamata Via.


Cowok itu mengejar Via hendak mengembalikan, Stevan beralih CCTV.. tampak Via kembali kabur melihat cowok itu. Padahal cowok itu ingin mengembalikan kacamata tersebut.


Kenapa Via kabur ya melihat cowok muda itu? Apakah mereka saling mengenal?


Lalu diperbesar wajah cowo yang mengambil kacamata itu. Lalu dilacak data anak itu berdasarkan gambar yang dia dapat.


Keluarlah profil cowok yang masih muda itu



Nama: Jimmy Putra Buana


Umur: 18 Tahun


Pendidikan: SMA Bunda


Tinggi: 180 cm


Orang tua: Buana Putra (Ayah)


Rita Sugianti (Ibu)


Ohmmm... dia anak dari Buana Putra. Otak yang menculik Irin dulu. Dan dia sekolah di tempat yang sama dengan Via. Oooh, pantas lah Via berusaha untuk terus kabur dari dia. Kenapa dia tampak keren banget?


Lalu Stevan kembali teringat akan kejadian enam bulan yang lalu.,.


...*bersambung*...

__ADS_1


...Jangan lupa meninggalkan tanda jejak yaa.. LIKE, LOVE, GIFT & VOTE 🥰🥰🤩🤩😍😍...


...Terima kasiiiih.....


__ADS_2