DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
37. Menebak hati Via


__ADS_3

Setelah usai makan berdua, Devan mengantar Irin pulang menggunakan mobil yang tadi dibawanya.


"Emangnya boleh bawa mobil? Bukannya usia kamu belum cukup untuk mendapatkan SIM?" tanya Irin.


"He-he-he, pakai SIM tembak kan bisa. Tinggal ditambahkan umur dikit, dah jadi deh SIM-nya…" terang Devan menyerahkan SIM yang dimilikinya.


Tertera nama, -Devano Jokyala- dan umurnya yang tertera pada kartu izin memgemudi itu adalah delapan belas tahun. "Nama panjang Deval siapa?"


"Devala Jokyano."


"Ooohh.. berarti nama kalian dibolak balik aja ya…" sindir Irin sambil senyum tipis-tipis.


"Yaaa… Bisa jadi… Namanya juga kembar, suka-suka otornya yang bikin nama…" ujar Devan.


Irin hanya tersenyum tipis, "Oiya, ada yang dari tadi kangen sama Deval. Gimana keadaanya sekarang?"


"Siapa yang kangen? Via?" tebak Devan.


Irin memasang raut wajah heran, "Lhooohh.. kok kamu tahu?"


"Yaa.. aku hanya menebak aja.. dia kayak yang suka sama Deval sejak pertama kulihat…" jelas cowok yang tengah konsentrasi menyetir itu.


"Darimana kamu tahu dia suka sama Deval? Kenapa tidak suka sama kamu? Kalian itu mirip bagai pinang dibelah dua lho.."


"Entah, aku juga bingung.. kenapa Via merona sama anak dingin kayak gitu…"


"Hmmm… Berarti Via beneran suka sama Deval ya.. bakalan ada yang patah hati nih kalau dia tahu…" Desis Irin pelan.


"Siapa yang cemburu?" sela Devan kepo.


"Oohh.. tidak.. kamu gak kenal… Tapi kenapa sukanya sama Deval?" Irin bersungut, seolah tidak rela jika hati sahabatnya jatuh pada Deval yang dari cerita Devan sejenis orang yang menyebalkan.


"Sebenarnya tidak apa juga kalau mereka jadian. Ternyata mereka suka sama suka kan?" ucap Devan.


"Kan aku sudah pernah cerita, Deval itu sudah suka sama Via sejak pertama bertemu Via dulu.."


"Berarti mereka sama-sama cinta pertama donk ya?"


"Kenapa gitu?" tanya Devan.


"Sejak awal kenal Via, baru pertama kali ini lihat dia sampai suka sama lawan jenis. Tetapi dia terus berusaha untuk menutupinya…" Irin mematap lurus pemandangan jalanan di malam hari.


"Kenapa mesti ditutupi, dia tahu kok Deval suka sama dia…"


"Masalahnya Via itu trauma, takut terlalu dekat dengan banyak orang. Tentu pastinya dia juga takut untuk memulai sebuah hubungan, apalagi itu percintaan."


"Kenapa sampai segitunya?"


"Yaa..karena pekerjaannya.. bisa dibilang dia memiliki banyak musuh. Orang terdekatnya bisa mendapat masalah lewat musuh-musuh dari masa lalu… Karena itu, dia takut untuk lebih dekat lagi dengan Deval. Apalagi Deval belum memiliki sesuatu yang lebih untuk menjaga dirinya sendiri, lalu bagaimana caranya untuk menjaga Via nanti?"


"Hmmm.. ternyata begitu.. Sejak semalam, Deval terlihat murung selepas kalian pulang. Mungkin dia sudah menyatakan perasaannya, namun mungkin udah ditolak oleh Via…"


"Sebenarnya aku udah punya kandidat sendiri untuk dipasangkan dengan Via. Bisa dibilang lebih bisa diandalkan untuk menjadi partner bagi Via. Tetapi hati tidak bisa dipaksakan, ya kembali lagi kepada orangnya sih.."


"Iya, kita lihat saja nanti endingnya bagaimana? Di dunia pernovelan ini, jodoh itu berada di tangan otor…"


Irin terkekeh mendengar ucapan Devan, "Otor..otor.. Mulu dari tadi…"


"Ha-ha-ha" 😂🤩

__ADS_1


Sementara yang dibicarakan tengah bersin dengan serempak..


"Ha..ha..hat..chimmmmm" lalu mereka menyeka hidungnya yang geli.


"Siapa yang ngomongin gue nih?" ucap Via dan Deval serempak.


***


Huuiffttt… Akhirnya Kak Rini pulang juga. Susah banget tadi menyuruhnya pulang. Sampai maksa-maksa minta jelaskan gue siapa, batin Via membuka kacamatanya kembali melakukan autopsi bersama tim tadi.


Via menghimpun informasi yang didapat, baik dari saksi, maupun dari penyidik. Tersangka belum ditemukan, bisa jadi ini adalah pembunuhan berencana dari orang-orang terdekatnya.


Hmmm… Istrinya, tampak dari keluarga yang berada. Mungkin karena itulah dia menikahi wanita tadi secara diam-diam, sehingga menggantungkan hubungan dengan Kak Rini ke arah yang tidak pasti.


Tapi bagaimana cara dia dibunuh? Apa alasannya, dan siapa orang itu? Kemudian Via menyelidiki kejadian tersebut, terpaksa kembali memanggil Dedi untuk diajak bolak-balik ke TKP dan tempat potongan tubuh korban tersebut dibuang.


"Maaf ya Om, terpaksa memanggil Om lagi. Ini masalahnya menyangkut Kak Rini yang tadi itu lho Oom…"


"Iya, gak apa Non. Memang tugas saya untuk mengantarkan Non Via untuk bertugas." Padahal tadi saat dipanggil oleh Via, dia tengah menikmati liburan bersama keluarga nya. Keluarganya tengah perjalanan menuju puncak, dan terpaksa putar balik dan kembali ke rumah mengantar keluarganya untuk pulang.


"Ooom… Kenal hacker handal di BOS ngga?"


"Hmmm… Kenapa Non?"


"Aku sedang butuh orang hebat untuk melacak wajah lewat CCTV.."


"Siapa Non..?"


"Orangnya sudah meninggal sih.. tetapi siapa tahu bisa dilacak balik ke beberapa hari yang lalu. Ke waktu dimana korban masih hidup…"


"Sebenarnya kita punya orang yang paling diandalkan oleh BOS dalam hacking jaringan dan data kok Non. Dan bahkan Nona Via sering bertemu dengan dia…"


"Nah, tepat sekali Non. Saat ini dia adalah hacker yang sangat diandalkan oleh organisasi BOS .."


"Hacker? Sejak kapan dia jadi hacker? Bukannya dia sebagai agen di divisi private?" masih merasa heran.


"Sejak kapan ya? Cukup lama kayaknya…"


"Oohh.. ya udah… Aku telepon dia dulu…"


Ternyata orang yang tengah dibicarakan muncul di layar telepon genggamnya. Stevan tengah melakukan panggilan terhadapnya.


Diusapnya tanda hijau ke atas, "Hallo A…"


"Hallo Vi…" sapa yang di seberang panggilan.


"Waaahh.. panjang umur banget…baru juga dibicarakan.. ternyata malah langsung nelpon…"


Stevan menaikkan alisnya sebelah, ada perasaan GR jika memang Via tengah membicarakannya. "Ini, gue mau nanyain kacamata Lo udah dibalikin sama anak Buana Putra apa belum?"


"Lhooh? Kok Aa tau kacamata gue di tangan dia? Kenapa nggak bilang-bilang dari tadi?"


"Iye, gue lupa.. sorry.. soalnya terlalu banyak gawean. Lagian kelihatannya dia mau mengembalikannya kok…" jelas sang bule tampan itu.


"Iya, kacamata nya udah di tangan gue kok. Diserahkannya lewat Irin. Katanya dia inget gue temenan sama Irin.. Jadinya dia nitip ke Irin…"


Tiba-tiba Stevan tertarik menanyakan tantang yang dikatakan Via tadi, "Oohh iya.. Pantas aja gue tiba-tiba pengen nelpon. Ternyata gue sedang digosipkan ya…"


"Iiihh.. bukan gosip, hanya aja tadi gue lagi nyari hacker BOS. Tapi Om Dedi bilang Lo itu .."

__ADS_1


"Aa…." kembali Stevan meralat ucapan Via.


"Iya..iya.. Aa… Katanya Aa' itu hacker organisasi BOS juga, Sejak kapan jadi hacker?"


Stevan hanya terkekeh, karena memang tidak pernah mengatakannya pada gadis itu, "Lhoooh? Emangnya Lo baru tahu ya?"


"Abisnya gue taunya Aa' tukang bikin PR aja…" ucapnya dengan jujur.


"Tukang bikin PR? Divisi private! Biar keren dikit bunyinya!" kembali meralat ucapan Via.


"Iya, sama aja…" celetuk gadis itu.


"Terus Lo mau gue bantu apa nih?"


"Mencari aktifitas orang yang telah almarhum.."


"Lhooo? Almarhum itu udah meninggal maksudnya?"


"Iya, tadi tiba-tiba gue menyelidiki kasus mutilasi kan A', tetapi susah banget nyari bukti. Soalnya potongan-potongan tubuh korban, ditemukan terpisah-pisah. "


"Lalu…?"


"Gue mau Aa' mencari tahu flashback ke waktu seminggu lalu. Tapi bisa ngga ya hanya dengan modal foto almarhum saja?"


"Ya bisa.. dalam dunia IT itu segala kemungkinan bisa ditemukan, bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sulit kayak gini juga… Terus habis itu gimana lagi?"


"Aa' cari orang-orang yang bertemu dengan dia hingga dia dinyatakan tidak bernyawa lagi."


"Hmmm… Sulit juga. Soalnya bisa aja dia berada di lokasi yang tidak terjangkau oleh CCTV…"


"Sebenarnya lebih mudah lagi kalau Aa' bisa melacak dia lewat ponselnya kan?" sela Via..


"Oohh iya, itu bisa juga… Kita bisa melihat aktifitas dia lewat ponsel yang dia gunakan… Kamu pintar sekali, jelek…" Stevan menjadi teringat sesuatu yang tengah diujinya. Stevan memiliki penemuan sendiri, melacak blackbox pada telepon genggam.


"Udah dipuji, lalu dihina lagi.. uuhhh.. Tapi bisa nggak ya dilacak ke beberapa hari lalu …"


"Kalau ponselnya ada, gue pastikan bisa membantu. Ada barangnya nggak?"


"Ooh iya, gue lupa tadi nanyain ke kapten I Bagus Suska, dia yang memimpin penyidikan kali ini."


"Kalau gitu coba temui dia dulu, kalau bisa barang buktinya dipinjam sebentar, itu akan lebih baik lagi…"


"Nah, itu pasti sulit sekali, mana bisa meminjamkan barang bukti begitu saja, dia terkenal sangat pelit informasi…"


"Sebentar aja, asal Lo pasangkan USB hubungkan ke CP yang terhubung online dengan gue aja udah cukup…"


"Ooohh gitu.. gue ke kantor polisi dulu. Nyari kapten I Bagus Suska, pinjam ponsel korban…"


"Baiklah.. gue tunggu kelanjutannya.."


"Oke…" telepon pun ditutup.


"Om, kita ke kantor Poltabes sekarang!" Titahnya pada Dedi.


"Siap laksanakan…!!!" dengan suara semangat luar biasa.


...*Bersambung*...


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN TANDA JEJAK YAA, LIKE, LOVE, VOTE, & KOMENTAR 🥰🥰🥰😍😍😍😘😘😘...

__ADS_1


...terima kasih...


__ADS_2