
Deval mengejar Via yang terus berjalan tanpa memedulikannya, dia terus mengikutinya di belakang tanpa bersuara. Dia memilih diam meski merasa heran.
Kenapa dia masih marah? Bukankah benda-benda itu sudah ditemukan?
Tiba-tiba Via berhenti. Deval yang masih sibuk dengan pikirannya pun menabrak Via dari belakang. Gadis garang itu hampir oleng dan langsung ditahan oleh Deval.
"Kenapa berhenti tiba-tiba?"
"Lo sendiri kenapa hanya diam?"
"Ya, karena lo diem aja."
"Tak ada niat mengajak gue bicara? Masalah tas lo yang dilempar Mak Iroh tadi?"
"Gue gak tau mesti ngomong gimana," Deval tiba-tiba meraih jemari Via, menautkan ke dalam jemarinya yang ukurannya lebih besar dari tangan Via.
"Lo masih kesel sama gue?"
Via menunduk melihat tangan Deval yang kembali menggenggam jemarinya. Teringat kembali saat tadi dilanda kecemasan melihat sungai, Deval memeluknya dengan hangat. Dia meraih tangan Deval dan mengangkatnya tepat di hadapannya.
...abaikan saljunya😂
...
"Jika lo bersikap lebih manis lagi dari ini, mungkin gue bisa meleleh. Padahal gue selalu heran sama sikap lo yang suka nomaden gak jelas."
"Bila saja tiap hari begini, tanpa marah-marah nggak jelas, gue pasti seneng banget."
"Emang menurut lo selama ini gue gimana?" Deval terus menggenggam tangan Via. Selain itu, waktu yang mulai beranjak dengan ufuk barat mulai berubah menjadi jingga. Pakaian yang basah seluruhnya, ditambah semilir angin senja, membuat dia mulai merasa kedinginan.
"Lo itu aneh!?"
"Tadi contohnya, dengan gampang aja bilang semua yang gue titipkan kemarin hilang. Itu semua jerih payah yang gue usahain agar lo segera menyesaikan kasus secepatnya."
Via mulai merasakan getaran dari jemari Deval. Apa dia grogi, gue pegang seperti ini?
"Tapi kan udah ketemu," Deval tak bisa membantah. Walau sebenarnya semua ini bukan murni kesalahannya. Dia sendiri hampir terbunuh karena peristiwa barusan. Dia memilih diam, menggenggam tangan Via dengan kedua tangannya. Tangan Via terasa cukup hangat.
"Marah aja! Jika itu membuat lo lebih lega."
Via menatap Deval cukup dalam. Teringat kejadian kemarin bahkan sampai ingin memikirkan kembali perasaan dan menata hatinya. Tetapi kejadian manis yang mereka lewati berdua entah kenapa semakin bertambah juga.
__ADS_1
"Seandainya saja Val, bisa dewasa sedikit lagi, gue pasti..."
Deval segera memotong ucapan Via, "Katakan lah, dewasa dalam pikiran lo itu seperti apa? Biar gue mencoba menjadi seperti apa yang lo mau."
"Gue tahu, setiap orang itu punya karakter khusus di tiap pribadinya. Tapi bisa nggak Val, lo buang jauh-jauh sifat introvert lo itu di hadapan gue? Sebenernya gue itu selalu mikirin lo. Keingat lo terus tau nggak? Namun, banyak hal yang membuat sifat kita itu bertolak belakang."
Deval tertunduk memahami apa yang disampaikan oleh Via. Di bibirnya tersungging senyum tipis, mengetahui isi hati Via yang sebenarnya. Dia memgangguk pelan, "Baik lah. Gue akan berusaha."
Satu lagi tangan Via mengelus kedua tangan yang telah menggenggam salah satu tangannya.
"Gue bahagia Vi, ternyata lo juga memiliki rasa yang sama terhadap gue. Gue udah janji sama ayah lo untuk menjaga lo. Besok kalau tidak sibuk, kita latihan lagi yuk?"
Via kembali teringat bahwa sebenarnya dia memiliki misi untuk mengusut orang-orang yang telah mengganggu organisasi BOS. Namun, melihat keseriusan Deval untuk latihan membuatnya tak tega untuk menolak permintaan cowok manis yang kalem itu.
Deval tiba-tiba menarik tangan Via, "Udah makin gelap. Gue kedinginan." Deval dengan baju yang masih basah, menarik Via lalu memesan taksi online untuk pulang.
Ternyata dia kedinginan, gue pikir dia lagi gugup, batin gadis itu merasa konyol dengan apa yang dipikirkannya.
Via turun tepat di depan rumah indekosnya. Diikuti oleh Deval yang tengah kedinginan karena bajunya yang kuyup membuat dia semakin lama semakin menggigil.
"Gue ingin memastikan lo sampai dengan selamat masuk rumah…" ucapannya terhenti karena matanya memangkap dua sosok yang tengah memperhatikan mereka berdua.
Via turut melihat arah bola mata Deval, tampak Stevan dan Irin terdiam melihat mereka berdua yang tampak kacau. Via dengan wajah penuh baretan hitam akibat dari wilayah bekas kebakaran, Deval dengan wajah pucat pasi karena kedinginan.
Stevan dengan percaya diri melangkahkan kaki di hadapan mereka. Menarik pipi Via meski Deval menatapnya dengan tajam.
"Lo dari mana sih Neng? Dari tadi gue nunggu tau nggak?" Membersihkan sesuatu yang entah beneran menempel di rambut Via atau tidak.
"Iih, ada yang nempel?" Via melirik Deval, "Kenapa nggak ditolongin buang dari tadi? Malah diem aja? Huh..." lengusnya membuang muka.
"Ini kan udah Aa yang menolong mebersihkannya," sela Stevan tersenyum jahil memainkan rambut Via melirik Deval yang hanya membisu.
"Gue kedinginan, gue balik ke kosan,"Â kembali dengan suara dingin, dan berlalu.
Via hanya mengangguk, masih terheran dengan sosok cowok yang aneh itu. Dia sudah berubah lagi, kenapa lagi sih? Dia yang terlalu pasif, membuat Via yang harus lebih banyak aktif menghadapinya. Via melihat punggung Deval yang semakin menjauh.
"Neng, segitu amat melihat si cowok autis menyebalkannya?" Stevan mengayunkan tangannya tepat di depan mata Via.
"Iya, dia nyebelinnya gak abis-abis," celetuknya membalikan badan berjalan memasuki halaman kosan. Dia melihat Irin tengan duduk di bangku halaman, Stevan mengiringi di samping dengan ekspresi yang tak dapat diartikan.
"Aduuh Viii... kok kacau banget?"
__ADS_1
"Marniiiiii…" desisnya menyumbat mulut Irin.
"Mandi dulu sanah! Bau asap tau nggak?"
"Ooh, ya udah. Kebetulan gue juga tidak merasa nyaman nih. Lengket semua gara-gara bekas keringat."
"Oh ya udah, kami tunggu di sini." Marni mengangguk dan berlalu menuju ke kamarnya.
Irin kembali memperhatikan ekspresi wajah Stevan, yang tampak ada semburat kesedihan, memperhatikan langkah Via.
"Aa' kenapa?"
Stevan gelagapan, tengah dibuyarkan dalam renungannya, bahkan ketika Via sudah tidak tampak sekalipun.
"Oh, tidak apa." Dia tersenyum kecut.
"Aa' cemburu kah?"
"Sejak kapan mereka semakin dekat seperti itu?"
"Tenang A'! Aa itu yang terbaik buat Via kok. Hanya saja dia belum menyadarinya."
Senyuman tipis tersungging di bibir Stevan, "Ya, aku harap memang aku lah orang terakhir itu." Tiba-tiba dia tersadar, melirik Irin yang tengah tersenyum jahil.
"Kamu juga anak kecil, sok-sokan menasehati orang tua pula?" Stevan tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Yaaa, santai aja Aa, aku udah tahu kok Aa itu suka banget sama dia. Hanya saja aku juga tahu, Aa itu takut dibilang gila kan sama dia? Secara jarak kalian udah kayak om sama keponakan," lalu Irin tertawa lepas. Stevan ikut tertawa lepas.
"Mungkin aku harus segera beralih mencari wanita dewasa aja kali ya? Merasa sia-sia masa mudaku, menunggu anak kecil yang entah kapan dewasanya."
"Itu A', ada Kak Rini yang siap menggantikan Via di hati Aa." Stevan hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Kenapa sebut-sebut nama gue?"
Kedua mata mereka langsung menangkap sosok Rini yang mengenakan baju tidur usai mandi, yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Stevan seketika menelan saliva untuk kembali masuk ke ke tenggorokannya.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...
hari Senin gaeesss... ada yang bersedia bagi-bagi Vote untuk cerita ini???
__ADS_1