DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
Promo event lomba Rumah Tangga


__ADS_3

Seperti yang Author katakan ya kakak readers semua, Author tipikal nulis buat event lomba aja. Kecuali kayak kemarin Aku Bukan Antagonis Kejam adalah novel misi. Namun, misinya gagal. Jadi dihapus oleh editor. Nanti itu mau dibawa lomba pada periode Agustus aja. Kali ini mau nulis event rumah tangga dulu. Ayuk mampir ya kak?



cuplikan:


"A-apa ini? Se-se-trong rasa pome granat."


Tanganku bergetar, menemukan sebuah bungkusan plastik, bewarna hitam bermerek 'Setrong.'


Meski aku hanya gadis bodoh yang baru merasakan hidup beberapa bulan di kota, tetapi aku tahu bahwa benda ini disebut dengan kon *dom. Aku pun tahu benda ini merupakan sebuah alat pencegah kehamilan yang orang bilang kontra *sepsi.


Namun, kenapa dia memiliki benda ini? Benda ini pun sudah kosong. Ini menandakan bahwa isinya sudah dipakai oleh yang empunya. Air mata, jatuh tanpa sempat terbendung. Tubuhku bergetar mencoba menduga-duga mengapa bungkus kon *dom tersebut bisa berada di dalam kantong celananya.


"Ayo ikut Ibuk!"

__ADS_1


Aku angkat gadis kecil yang tadinya tengah asik bermain air di dalam baskom. Gadis kecil berusia satu setengah tahun ini kami beri nama Elena.


"Hek ... hek ... hek ...." Dia langsung menangis saat aku angkat dari dalam wadah air tempat dia bermain tadi.


Kakiku terasa berat, getaran tubuhku terasa hebat. Salah satu tanganku menggenggam bekas wadah alat kontra *sepsi yang aku temukan di dalam kantong celana Bang Alan, suamiku. Secara perlahan, kulangkahkan kaki menuju kamar.


Makin dekat dengan kamar, suara dengkuran Bang Alan terdengar semakin jelas. Suara dengkuran itu sama persis seperti dengkuran bapakku yang berada di dusun. Sangat aneh bukan? Pria muda berusia 21 tahun tidur mendengkur?


Langkah kaki ini, semakin mendekati suami yang katanya lelah pulang bekerja saat subuh tadi. Selama ini aku tak pernah mempermasalahkan apa pun pekerjaan yang dilakukan saat malam hari. Bagiku, yang penting dia bisa membawakan aku uang, berapa pun itu.


Dia hanya mengatakan bekerja di sebuah *klub malam. Dia baru mendapatkan pekerjaan tersebut semenjak tiga bulan lalu. Sementara kami sekeluarga telah memutuskan hijrah dari dusun untuk tinggal di kota semenjak enam bulan lalu.


Jika tetanggaku bilang, aku adalah pelaku pernikahan dini. Banyak anggapan buruk yang kudengar tentang keadaan diriku yang menikah dalam usia sekolah.


Namun, tak sedikit juga yang merasa prihatin akan keadaanku yang belia ini, bekerja tunggang langgang memenuhi kebutuhan keluarga kecil kami.

__ADS_1


Mereka mengira aku hamil di luar nikah, sehingga, aku terpaksa putus sekolah dan menikah di usia belia. Padahal itu tidak benar sama sekali. Aku menikah resmi dan sah, tanpa embel-embel bocor duluan.


Kembali kupandangi cermin yang memperlihatkan betapa buruknya penampilanku saat ini. Tubuhku terlihat sangat kurus, kulitku kering bersisik, dan wajahku terlihat sangat kusam. Padahal, saat aku masih sekolah di jenjang SMP dulu, aku dikenal sebagai gadis cantik, layaknya kembang desa.


Kepalaku berputar sembilan puluh derjat. Kali ini aku melihat Bang Alan, suamiku tengah tidur pulas dengan dengkuran yang keras. Keadaannya sungguh berbanding terbalik dengan diriku.


Dia tampak gagah, dan semakin terlihat perkasa. Namun, semenjak bekerja di klub malam, yang memaksaku melepas dia bekerja di malam hari, membuat dia tidak pernah lagi menyentuhku. Dia bekerja malam, tentunya siang hari dia habiskan waktu untuk tidur. Bahkan untuk membantuku mengasuh Elena pun dia tidak mau.


Hahah, lucu bukan? Sudah tiga bulan Bang Alan tidak melepaskan has *ratnya kepadaku. Aku lihat kembali bungkusan kon *dom yang ada di tanganku. Apakah karena ini, dia tidak pernah lagi menyentuhku?


Jadi, dia sudah bermain di belakangku? Air mataku kembali terbendung di pelupuknya. Bibirku kelu, tak mampu memanggil dan membangunkannya.


"Hek ... hek ... hek ..."


Elena kembali menangis, teringat kesenangan bermain airnya tadi telah aku rampas. Volume tangisannya semakin waktu menjadi semakin tinggi. Hatiku dilanda pilu dengan segala dugaan menatap Bang Alan dengan uraian air mata di pipi.

__ADS_1


Bang Alan terlihat mulai bergerak. Secara perlahan, matanya terbuka dan duduk menatapku. Wajahnya terlihat heran, sembari mengucek sebelah mata. Dia menepuk tangan mencoba membujuk Elena. Anakku pun berhenti menangis melihat sang ayah yang menghiburnya.


"Dek, kenapa berdiri di situ?"


__ADS_2