DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
85. Melihat dari jauh


__ADS_3

Mendengar kata Mafia, wajah Irin seketika langsung menegang. Kembali teringat olehnya orang-orang yang tidak memiliki hati itu. Itu baru mafia kecil di negeri ini. Bagaimana jika mafianya datang dari Italia?


"Sebenarnya gue males keluar, tapi kalau nggak keluar perut gue laper. Seandainya aja Lo bisa masak."


Irin menatap Via yang semakin lesu, "Ada masalah lain ya?"


Via hanya menggelengkan kepala, lalu menarik Irin untuk segera mencari makan. Dia sedang malas menceritakan kelakuan Deval, apalagi dari gelagatnya, Irin terlihat jelas tidak menyukai Deval.


Kali ini mereka memilih warung angkringan, bebek goreng. Via makan dengan sangat rakus, Irin yang memperhatikan hanya menggelengkan kepala.


Orang-orang tak akan menyangka tubuh ramping begitu, ternyata makannya sangat banyak dan lahap. Tidak ada kata jaim sama sekali.


Tak menyadari ada sosok di pojok warung itu memperhatikan Via makan sudah seperti orang puasa tanpa berbuka selama seminggu, sosok di pojok itu adalah Jimmy dan kawan-kawannya.


Jimmy tersenyum melihat cara Marni makan, menebak gadis itu mungkin baru pulang melakukan sesuatu atau pekerjaan. Baginya wajar, Marni dia terlihat makan begitu lahap. Sementara, kawan-kawannya yang ikut memperhatikan terperangah melihat kerakusan Marni.


"Yakin Lo suka sama dia? Rakus bener?" celetuk Kevin.


Gilang yang tanpa komentar, hanya tersenyum simpul melihat Jimmy yang terus tersenyum memperhatikan Marni dari jauh. Entah seperti takdir apa membuat mereka sering kali berjumpa.


"Kalau suka, samperin! Kami sudah ikhlas kok, Lo suka sama dia. Apalagi kenyataannya dia anak orang kaya," ucap Gilang membuat Jimmy yang tadi sedang menyeruput es tehnya langsung tersedak. 


"Maksudnya?" tanya Jimmy sembari membersihkan bekas air yang keluar dari mulutnya dengan serbet yang tersedia.


"Ponselnya aja limited edition tuh, dan gue terka kemarin yang pakai jas rame-rame itu keluarga Marni semua kan? Siapa kemarin kalau nggak salah Vi, Vi, opp...,"


Jimmy menyumpal mulut Gilang dengan tempe goreng yang masih tersisa. Gilang mengangkat salah satu alisnya, dan semakin mencurigai akan satu hal.


"Apa Lo sudah menyadari dia memiliki rahasia tertentu?"


"Makan! makan sana! banyak tanya amat?" kembali Jimmy memasukkan suapan terakhir, nasi yang sudah digado dengan sambal terasi.

__ADS_1


Gilang yang paham dan memastikan tidak akan mendapatkan jawaban yang diinginkan kembali memperhatikan sosok yang tidak tampak cantik oleh matanya itu.


Tapi rasanya aneh sekali kenapa dia tampak jauh berbeda dengan keluarganya? Sangat jauh dari kata cantik, sementara keluarganya bagaikan orang-orang yang ada di istana kerajaan semua.


Seorang ibu yang sangat cantik meski mungkin sudah paruh baya, dan ayahnya masih tersirat wajah yang gagah, dan pria muda yang mungkin anak dari ibu dan bapak paruh baya itu terlihat sangat keren dan ganteng. Masa iya ya, Marni jelek sendiri?


Kembali diperhatikan ekspresi Jimmy yang masih asyik senyum sendiri memperhatikan Marni sedari jauh. Padahal beberapa waktu lalu tampak sangat sedih dan kecewa karena Marni jalan dengan cowok culun kelas sepuluh di sekolah mereka.


"Lo suka banget ya sama dia? Diliatin terus sampai segitunya," celetuk Kevin yang membuat Gilang terkekeh. Mereka bertiga sudah menyelesaikan makannya, tapi Jimmy masih belum tampak ingin bangkit dari posisinya. Dia masih menikmati memperhatikan Marni makan dengan tambahan piring ketiga.


"Udah aah makannya! Nanti jadi gendut malah makin jelek lho?" terdengar ucapan dari kawannya yang Jimmy tahu dia itu bernama Sabrina.


"Gue masih lapar tau nggak, tadi kerjaan gue banyak banget, gilak!" Berbicara dengan nasi masih penuh di dalam mulut.


Gilang dan Kevin tertegun mendengar cewek yang biasanya gagu ini berbicara dengan sangat lancar. Mereka berdua melirik ke arah Jimmy, dan Jimmy memberi kode jari di bibirnya untuk ikut merahasiakan apa yang baru saja mereka ketahui.


"Jadi Lo udah tahu dia sebenarnya bukan makhluk gagu?" tiba-tiba Gilang geram mengetahui rahasia yang disimpan Jimmy dari mereka.


"Kalian pura-pura tidak tahu aja, okey!" ucap Jimmy masih memperhatikan Marni yang sepertinya telah menyudahi acara isi perutnya.


"Heiiy, tau nggak kali ini Lo persis banget kayak penguntit?" ucap Kevin yang selalu saja mengatakan kata-kata pedas.


"Diam Lo, gue hanya bisa begini!"


Melihat sosok Marni dan Irin sampai hilang di gelapnya malam. Setelah itu dengan wajah sumringah, dia menuju ke tempat mereka memarkirkan motor.


"Kok seneng sampai segitunya sih?" masih celetukan Kevin yang terheran Jimmy sangat menyukai gadis jelek itu.


"Biar aja lah! Dia lagi merasakan jatuh cinta pertama kali, ya memang gitu."


"Lo jatuh cinta pertama kali kapan Lang?" tanya Kevin masih terheran ada yang baru jatuh cinta pertama kali di usia delapan belas.

__ADS_1


"Gue dulu udah cinta-cinta monyet sejak kelas satu SMP malah " Gilang terkekeh mengenang masa lalunya. "Lo sendiri kapan Vin?"


"Gue juga waktu SMP, kelas dua kalau nggak salah. Gue heran lihat dia tu, kenapa baru sekarang jatuh cintanya?"


Gilang hanya mengangkat bahu, "Biarin aja! Kita lihat aksi serangan cinta berikutnya dari dia. Apakah berani untuk menikung si culun, atau malah kayak orang bego sendirian kayak gitu?" masih tampak di bibir Jimmy sebuah senyuman yang tidak habis-habis sedari tadi.


Lalu kawan-kawannya itu mendekati Jimmy, "Aduuuh, Beruntung bener si jelek Marni bisa dapatin hati pangeran perfek ini?" kembali Kevin menggoda Jimmy.


"Enggak, orang yang dapati hati dia lah yang paling beruntung," balas Jimmy.


"Dasar bucin!" sindir Kevin lagi dan Gilang menggelengkan kepala agar Kevin menghentikan tindakannya yang terus menggoda Jimmy.


Mereka pulang ke rumah masing-masing, dan alangkah terkejutnya dia menemukan rumahnya sedang dipenuhi oleh tamu asing berwajah seram. Ibunya tidak tampak hadir untuk menyambut tamu sang ayah. Dia tahu ayahnya baru balik dari Eropa tadi siang. Mungkin orang-orang asing ini ikut bersama ayahnya ke negeri ini.


Sang ayah yang mengetahui anaknya telah pulang, langsung melambaikan tangan dan menyuruh Jimmy mendekat. Jimmy tergidik ngeri melihat orang-orang bule dengan tubuh kekar itu.


"Jim, ini semua rekan bisnis papa dari luar negeri. Mereka penasaran ingin bertemu denganmu.."


"Oliver, he is my son, Jimmy!"


Orang yang bernama Oliver itu melambaikan tangan kepada Jimmy, disambut lambaian tangan kikuk dari Jimmy.


"He is looks so great.."


"Bruno must be love'it…"


Bruno? Siapa lagi Bruno itu? batin Jimmy.. Kenapa sampai menyukai aku? 


...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...

__ADS_1


...terima kasih...



__ADS_2