
Pintu tiba-tiba dibuka dari luar. "Coba katakan lagi!" ucap Jimmy yang baru saja masuk ke ruang itu.
"Aku beneran bakalan punya penerus?" tanyanya sumringah.
Via cepat-cepat menghapus air matanya. "Iya, kita akan jadi orang tua!" ucapnya berusaha mengembangkan senyumannya di bibirnya.
Jimmy memeluk Via, lalu mengangkatnya dengan penuh cinta. "Terima kasih Sayang. Kamu benar-benar memberiku keturunan. Love you." Jimmy memberikan kecupan pada bibir Via berulang kali.
Via menahan rasa takut yang tengah melanda hatinya. Melihat Jimmy yang begitu bahagia, membuat tekatnya semakin bulat untuk mempertahankan bayi mereka. "Love you too."
"Kamu tahu Sayang? Aku hamil anak kembar!" Memeluk leher suaminya. Menitikan air mata membendung sesuatu yang akan mendatanginya beberapa bulan ke depan.
"Waaah, benar kah?" Jimmy tertawa dengan lepas. "Apa benar yang dikatakan oleh bini gue Van?"
"Yap ... benar, Papa." ucap Vano. Namun wajah Vano menatap kebahagiaan Jimmy dengan datar. Lalu melirik Via, yang berusaha menahan tangisnya.
Lalu Jimmy menurunkan Via dengan hati-hati. Melirik Vano, "Thanks ya udah membantu memeriksa istri gue." Dengan wajah datar, Vano hanya memberikan jempolnya kepada calon orang tua itu.
Jimmy merangkul Via meninggalkan ruangan itu.
"Dok, bagaimana nanti dengan mereka?" tanya Ayi, salah satu calon bidan yang sedang praktek.
"Semoga, kita bisa melakukan yang terbaik buat mereka."
...***...
"Yuhuuu ... Kita bakalan memiliki adek bayi nih." sorak Jason kepada anggotanya yang lain.
"Waaah, Papa dan Mama ... selamat ya? Sekarang kalian bener-bener menjadi orang tua sungguhan." ucap Nono dengan cool.
"Terima kasih ... Tolong doanya ya?" ucap Jimmy kepada seluruh pengurus perjudian online mereka.
Dari semua yang tertawa bahagia menyambut kehadiran calon penerus mafia ini, ada dua orang yang lebih memilih diam seribu bahasa. Mereka adalah Via, dan yang satu lagi Romi.
Romi menguping pembicaraan Via saat di ruang pemeriksaan tadi. Segera menghilang saat melihat sosok Jimmy datang mendekat. Romi melihat seseorang yang cukup lama singgah di sebagian hatinya. Merasa Via mengambil keputusan yang salah, ke depannya.
Seandainya, ada yang bisa mentranspalasi nyawa, mungkin aku yang akan berada di barisan pertama. Hanya saja, aku belum bisa menciptakan alat seperti itu. Oh ya, aku akan coba. Siapa tahu, aku akan jadi orang pertama. Menciptakan alat yang membunuh sel kanker tanpa kemoterapi.
__ADS_1
Romi bergegas meninggalkan tempat. "Rooom?" Jimmy memanggil dengan wajah heran. Romi hanya melambaikan tangan dan berlalu.
Ada apa dengannya? Apa yang sedang dia pikirkan? batin Jimmy mencurigai sesuatu.
Jimmy melihat, istrinya tak tampak sebahagia dirinya. Via terlihat sibuk memikirkan sesuatu yang sangat berat. Dia duduk berlutut di hadapan sang istri.
"Apa yang kamu pikirkan Sayang? Apa kamu tidak bahagia dengan kehadiran calon penerus kita?"
Via tersadar dari lamunannya. Berusaha mengembangkan senyuman, meski hatinya terasa kacau balau. Merasa kasihan membayangkan jagoan yang tengah dalam rahimnya, akan langsung kehilangan sang ibu saat mereka menghirup oksigen di dunia yang bebas.
Kasihan sekali kalian, kesayangan Mama ... Maafkan Mama jika hanya bisa menemani kalian di saat kalian masih berada di dalam. Mama berharap, kalian bisa menjadi anak-anak hebat ya Sayang. Tiru lah sifat Papa kalian yang baik. Jangan tiru sifat Mama yang keras kepala.
Jimmy hanya memperhatikan sang Istri. Pikiran Via sama sekali tak ada di sini.
Sebenarnya apa yang terjadi?
...***...
Di tempat lain, Bruno sedang mengumpulkan pasokan persenjataan yang mereka kirimkan melalui perjalanan laut. Dengan senyuman licik, Bruno dan Oliver mengomandokan pasukan mafia untuk segera memindahkan letak senjata-senjata itu ke dalam sebuah mobil suv yang mereka gunakan.
"Kita lihat saja nanti! Mereka akan bermain di tengah kehancuran negara ini." Bruno memegang sebuah bom waktu rakitan.
Di labor digital milik Romi, beberapa peringatan muncul di beberapa perangkat miliknya. Peringatan mengatakan kondisi beberapa bagian kota tengah dipengaruhi oleh alat-alat yang berbahaya.
Romi memeriksa lokasi, serta CCTV yang ada di titik-titik yang ditandai dalam map. Akhirnya Romi menemukan jejak, wajah-wajah yang pernah dilihatnya saat di Rumania.
Romi bergegas hendak mencari Big Papa mereka. Namun, sang Papa dan Mama dikabarkan telah pergi menuju rumah mereka.
"Mama terlihat sangat lelah tadi." ujar Marko.
"Apa hanya perasaan gue aja ya? Gue merasa Marni, eh, maksud gue Mama seperti tidak bahagia mendapat berita kehamilannya." ucap Dino.
"Ssstttt! Lo jangan memancing emosi gitu deh No. Kalau Papa mendengar lo bicara kayak gitu, bisa dipecat lo dari profesi tukang kebun kesayangan Papa!" pungkas Dery.
"Rom ... Lo kenapa diam aja sedari tadi? Seharusnya lo ucapkan selamat kek, kepada calon orang tua baru itu." ucap Dino.
Mungkin saat ini masih belum bisa melanjutkan membuat alat itu. Kondisi kota saat ini sungguh sangat kacau.
__ADS_1
"Gue harus mencari Papa. Ada sesuatu berbahaya tengah mengintai kota ini."
Semua wajah penghuni rumah sakit ini menegang.
"Maksudnya?"
"Berbahaya gimana?"
"Berbahaya kenapa?"
Anggota White House mulai rusuh. Berita yang disampaikan oleh Romi masih setengah-setengah.
"Tadi, alarm gue menyala. Awalnya gue membuat program otomasi sebagai pengingat untuk diri sendiri. Apa pun yang terjadi dalam kota ini, jika itu adalah sesuatu yang berbahaya, maka alaram gue akan berbunyi."
"Nah, berita buruknya adalah: begitu banyak bom rakitan yang mereka sebarkan ke seluruh penjuru kota. Kita tidak tahu berapa lama waktu yang mereka setting. Jadi kita harus bergegas dengan secepat mungkin. Menyisir titik-titik tersebut dari masyarakat awam yang berada di beberapa titik itu."
Wajah semua anggota white house berubah menjadi tegang. Bagaimana mungkin mereka menyisir lokasi-lokasi itu dalam waktu sekian menit.
"Kita butuh kerja sama anggota-anggota organisasi BOS. Mereka memiliki banyak personel. Makanya kita harus segera menghubungi Papa. Jangan biarkan orang-orang tak bersalah menjadi korban oleh perbuatan keji mereka." jelas Romi lagi.
"Dino, lo dah pinter ngebut kan? Cepat susul Papa dan Istrinya. Biar kita bisa mengerahkan kerja sama dengan anggota-anggota organisasi BOS!"
"Tapi gue merasa sedikit ragu. Apakah organisasi BOS mau bekerja sama dengan kita? Kita tahu, bagi organisasi BOS kita ini adalah musuh." jelas Dino lagi.
"Udah! Kita tak ada waktu. Sebelum waktu pada bom tersebut meledak secara berurutan, kita harus segera melapor pada Papa! Papa kita saat ini menjadi pimpinan besar. Mereka pasti akan menurut. Apalagi kita sudah pernah bekerja sama saat di Rumania dulu." jelas Nana yang memiliki wajah ganteng nan manisnya.
"Dino, cepat susul Papa!" perintah Romi lagi.
"Kenapa harus disusul? Bukankah tinggal kita telepon?" celetuk Dino lagi.
"Masalahnya, sejak tadi sudah melakukan panggilan, namun tidak ada yang masuk!"
"Cepat No ... Lo harus segera menyusul Papa segera!!!!" bentak Romi yang masih melihat Dino bertele-tele semenjak tadi.
*Maaf banyak typo. Lum sempat revisi usai ditulis. Otor udah terlanjut ngantuk banget
Mampir ya guus ... bantu meriahkan karya Othor yang berikutnya ... Karya buat lomba Wanita Mandiri 🙏🙏😇😇
__ADS_1