
*teng nong neng nong*
Bell tanda pelajaran telah berakhir pun berbunyi, seluruh siswa tak ingin menunda-nunda untuk mengemasi peralatan masuk ke dalam tas. Usai guru meninggalkan kelas, siswa X sain A dengan gesit membuat kelas mereka menjadi arena panco. Menyiapkan satu pasang kursi panas beserta meja tepat berada di tengahnya.
Kembali sang ketua kelas diampu menjadi wasit.
"Seperti pada umumnya kita ketahui, bahwa panco merupakan olahraga untuk menjatuhkan tangan lawan sampai ke meja. Jadi lomba ini hanya terdiri atas satu ronde saja, siapa yang berhasil dia yang menang...." jelas sang wasit..
"Woooyyy Bray...lama amat mulainya..." salah satu penonton menyela.
"Kagak usah dijelasin, gua udah paham...ayo mulai...." sahut yang lain.
"Kebanyakan gaya ni wasit...." tambah yang lain...
"Tenang kawan-kawan... gue tahu Lo-Lo pada gak sabaran... Tapi kita tunggu dulu para pemainnya menyiapkan diri..." jelas wasit.
Tampak Marni tengah melakukan peregangan, melemaskan sendi-sendi lengan biar tidak kaku. Sementara Dino memerhatikan Utube tentang pertandingan panco.
Sepuluh menit kemudian, mereka sudah berada di kursi panas, Marni melemaskan jari-jarinya, dan Dino hanya sibuk memperhatikan apa yang dilakukan Marni. Pasti dia takut, batinnya.
"Woooyy.. lo ngga melakukan peregangan juga? tanya Romi..."
"Gue melakukan peregangan atau tidak, otot gue udah regang kok..."
"Lo terlalu meremehkan lawan No...gue nggak ikut nonton aaahh..." celetuk Romi keluar dari kerumunan itu.
"Lo terlalu khawatir aja Bro..." teriak Dino pada Romi.
"Kalian sudah siap....?" tanya wasit kepada kedua peserta.
Marni mengangguk mantap.
"Siap dooonk..." jawab Dino santai, kayak di pantai.
"Sekarang kalian tautkan kedua tangan, ..." titah sang wasit.
Lalu Marni sudah menyiapkan kepalnya, disambut Dino dengan tangannya juga. Marni sengaja tidak menguatkan kepalannya, hingga Dino main-main menggoyangkan tangan Marni ke kiri dan ke kanan..
"Lihat ni.. loyo kayak gini..." sindir Dino. Marni hanya menyunggingkan senyuman smirk-nya.
"Mari kita hitung...lomba dimulai pada hitungan ke tiga..yak....satu...dua...tiga...."
Tiba-tiba otot Marni berubah sekeras baja. Waduuuh... kok tiba-tiba jadi sekeras ini? Batin Dino.
Marni tanpa Gaya dan Daya, dia menikmati reaksi wajah Dino yang berusaha menjatuhkan tangannya, tiba-tiba terlintas buat mengerjai Dino, pura-pura hampir tumbang. Dino dengan sekuat tenaga menekan tangan Marni hingga Marni merasakan otot Dino mulai melemah, dan dengan gampang Dino ditumbangkan dengan teriakan...
...
kira-kira seperti yang baju hitam ekspressi Dino...
"Aaaarrrggghhhttttttt...." teriakan dari mulut Dino, kesakitan.
"Kenapa No?" tanya wasit.
Dino memijit bagian persendian di lengannya...
"Woooyy.. Lo sengaja ya?" menuduh Marni dengan muka masam. "Kayaknya gue keram..." mencoba mengangkat tangannya yang menegang kesakita.
"Ba...ka.." desis Marni pelan.
"Apa???" tanya Dino makin marah. Dia paham arti bahasa Jepang 'baka' itu...'bo-doh'
"Jejejelas mamau papapanco mamalah titidak persisiapan..."
"Iye...Lo juga songong banget.." timpal wasit..
"Ayo kita ke UKS dulu..." ajak wasit lagi.
Dino diboyong oleh kawan-kawannya menuju UKS.
"Masih berlanjut ngga tu pertandingannya?" tanya yang lain.
"Entah lah... itu kondisinya di awal lomba aja dah kayak gitu. Gue seperti bisa menerawang hasil ke depannya..." ujar yang lain.
Sementara rombongan Dino mendapat teguran oleh dokter yang berjaga di UKS.
"Kalian ini apa-apaan sih? Pakai main panco sembarangan? Nah begini hasilnya?" sembari mengolesi pergelangan Dino dengan krim pereda sakit di otot.
"Iya nih Dok, ini juga anaknya juga bego.. jelas mau tanding, malah tidak melakukan peregangan. Sementara lawannya melakukan peregangan dengan maksimal..." tutur Romi.
__ADS_1
"Siapa lawannya?" tanya Dokter merasa tertarik.
"Itu lho Dok, Marni..."
"Marni... yang mana ya?"
"Itu, yang item,.kucel, butek, gagu, pakai kacamata..."
"Lhooo? lawannya cewek yang tubuhnya kecil ternyata..." sang Dokter kaget.
"Kecil-kecil gitu tenaganya kuat lho Dok..." tambah Romi.
"Lo udah tau dia kuat, Napa nggak bilang-bilang aaahh.." Dino meringis..
Romi menoyor jidat Dino, "Udah seribu kali gue ingatin malah. Lo-nya yang budeg..."
"Udah..udah... sekarang nggak boleh lagi di sekolah ini main panco-pancoan. Nanti saya akan lapor ke kepala sekolah..."
"Jangan pak..jangan... Nanti kami semua akan dihukum kepala sekolah..."
"Saya tidak mau tahu.. Ini akan jadi pelajaran berharga bagi kalian...!!!"
Dino dan kawan-kawan menelan saliva... -glek-
***
Di kelas Marni dan kawan-kawan masih menunggu kabar dari Dino. Menunggu informasi apakah hari ini bakalan lanjut lomba menyusun rubik atau ditunda dulu.
Tak lama Dino dan kawan-kawan kembali, melihat tangan Dino masih dalam keadaan tidak baik, mereka menyangsikan akan ada lomba lanjutan.
"Bagaimana No? Mau dilanjutkan atau ditunda?" tanya sang wasit.
"Lanjut..." jawab Dino enteng.
"Yakin Lo No?" tanya wasit untuk memastikan.
"Tapi bukan gue yang main..." jawab Dino membuat seluruh kawannya bertanya-tanya.
"Siapa yang gantiin?"
"Romi..." jawab Dino singkat.
Orang yang dibilang langsung mengernyitkan kening, "Gue?" tanyanya seolah tak setuju.
"Tapi ..gue.. lawan Marni...."
"Kenapa? Lo takut?" sela Irin.
"Lo aja deh yang gantiin Marni..." tukas Romi.
"Tapi gue...."
Marni memberi kode anggukan, artinya, "ya... terima aja.."
"Baik lah... gue yang jadi lawan Lo..." ujar Irin pasrah. Padahal dia sama sekali tidak paham rumus rubik. Tapi kalau Marni sudah menyerahkan tugas begitu, berarti Marni sudah siap kalau mereka kalah untuk Ronde kali ini.
Romi dan Irin sudah memegang rubik masing-masing.
"Peserta dinyatakan menang apabila menyelesaikan menyusun rubik terlebih dahulu. Permainannya peserta harus ditutup mata dan telinga agar tidak terpengaruh dengan hal lain yang mengurangi konsentrasi para peserta. Baiklah tak lama-lama mari kita mulai.." lalu sang wasit mulai mengomandoi.." Satu... Dua...Tiga..."
Langsung dengan cekatan Romi menyusun balok yang tengah teracak.
klak...klak...klakkk... bunyi ritme yang dibuat Romi sangat beraturan.
Sementara Irin hanya sambil bingung menyusun, malah makin hancur..
Tak lama, Romi menyelesaikan permainan nya dan dia dinyatakan menang oleh wasit.
"Yeeee....hebat Rom..." tutur Dino bangga.
"Paling Marni nya sengaja mengalah..." celetuk kawan kelas.
"Sengaja tu..." tambah yang lain..
"Enak aja kalian. Yang penting kali ini kami menang..." cibir Dino.
"Seperti yang telah kita lihat, Marni menang di babak pertama, dan Dino yang diwakili oleh Romi menang di babak kedua, jadi nilai mereka saat ini seri. Nah, babak selanjutnya, kita akan mengadakan lomba balap. Tidak mungkin kita laksanakan di sekolah, pasti akan dilarang oleh sekolah juga. Jadi nanti kita susun lagi jadwal yang tepat menunggu kondisi Dino membaik..."
"Huuuu... Lama ..." ujar penonton kecewa lalu membubarkan diri.
"Awas Lo .. pasti gue kalahin..." ujar Dino dengan kebencian.
__ADS_1
Dari arah yang berlawanan muncul Jimmy dan kawan-kawannya melihat heran karena semua sudah pada bubar. Jimmy mendekati Marni dan Irin. Irin seketika merasa ketakutan, Marni memegang pergelangan tangan Irin untuk menyuruhnya tenang. *hebat sekali mereka berkomunikasi dengan bahasa isyarat.. 😂
"Kenapa udah bubar aja?" tanya Jimmy.
"Siapa yang menang?" tanya kawannya.
"Be..be..be..Lum se...se..Lee..sai Kak.."
"Lalu kok pada bubar?" Jimmy.
"So...so...Al..nya tu..tu..tu..Ng..gu.. wa .wa..k..tu Di..Di...no se..se..hat Du..Du..lu.."
Jimmy mengernyitkan kening, "Kenapa dia?" melihat ke arah rombongan Dino, tampak Dino memapah tangannya dengan tangan yang lain.
"Ke..ke ..ke..ram pas pa..pan..co.."
Tampak Jimmy menahan senyuman, sudah membayangkan Dino dikalahkan oleh Marni.
"Ooohh.. kalau gitu aku ada urusan dulu dengan teman kamu, Irin..."
Irin seketika terkejut, "Aku? Ke..kenapa Kak?" jawabnya gugup.
"Ada urusan sebentar, kita ke sana dulu..." menunjuk pojok sekolah.
Irin makin ketakutan, masih teringat jelas dia sengaja ditabrak oleh pasukan mafia suruhan ayahnya.
"Di sini saja lah kak..." pintanya.
"Ada hal penting, ayo lah..." desak Jimmy.
"Jangan-jangan dia takut Bro..." timpal Gilang terus memerhatikan Irin yang cantik dan ayu.
"Jangan takut, ini penting banget..hanya sebentar kok.."
"Kalau Dedek takut, biar babang yang nemenin.." tambah Gilang.
"Enggak, ini kita berdua aja.. yang lain gak usah ikut .."
Irin melihat ke arah Marni, mengharapkan untuk ditemani. Namun Marni hanya mengangguk kepala pelan menyuruh Irin ikut. Dengan perasaan berdebar Irin mengikuti Jimmy sampai pojokan.
Sementara Gilang dan Kevin terus memerhatikan Marni dari atas ke bawah. Bagian mana yang menarik dalam diri Marni hingga Jimmy seperti kepincut sama ni anak.
Marni yang sadar tengah diperhatikan oleh dua teman Jimmy ini merasa risih.
"Ke...ke ..na..na..pa kak?"
"Enggak..." jawabnya tergidik, menahan tawa mendengar Marni bicara dengan gagap.
Tak sampai lima menit, Irin sudah kembali sambil membawa kantong yang isinya entah apa.
"Ya udah, kami cabut dulu yaaa.." Jimmy melambaikan tangan, Kevin dan Gilang mengikuti.
"Dah Dedek cantik..." Goda Gilang mengedipkan mata pada Irin.Irin hanya meringis melihat nya.
"Yakin beneran suka sama Marni?" tanya Gilang mulai mepet pada Jimmy.
"Emang kenapa sih? ada yang salah gitu?"
"Kayak ngga ada cewek yang lain aja?"
"Biarin..." lalu mereka meninggalkan sekolah.
"Rin itu apa?"
Irin menyerahkan kantong tersebut, lalu Marni langsung memeriksanya.
"Kacamata gue..." Marni histeris senang.
"Katanya ketemu usai tabrakan kemarin. Lalu pas mau dikembalikan malah kita kabur. Katanya karena lihat gue di sana, dia minta dikembalikan pada cewek kemarin..."
"Jadi sama dia.. Untung nggak hilang .. Dia nggak curiga ke gue kan"
"Entah lah, bisa jadi iya, bisa jadi engga . Tadi ngga ada bahas-bahas Lo sih..."
"Hmmm..kita waspada aja..."
Irin mengangguk.. dan mereka pun kembali ke kostan..
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YAAA.. LIKE, LOVE, VOTE, & KOMENTAR! 🥰🥰🥰😘😘😘...
...terima kasih...
__ADS_1