
......klik gambar...
...
Stevan terus menarik Via untuk berlari meninggalkan tempat itu. Rombongan algojo yang terdiri dari lima orang terus mengejar mereka.
Tampak satu tempat untuk bersembunyi. Sebuah pipa gorong-gorong besar yang tidak terpakai. Via merayap mundur masuk ke dalam, dan Stevan merayap maju. Posisi mereka menjadi saling berhadapan. Mereka bersembunyi di sana. Engahan napas mereka saling memburu berebut oksigen dam membuang karbondioksida pada tempat yang sempit itu.
Terdengar derap langkah banyak kaki, yang semakin lama semakin mendekat. Langkah kaki ke sana ke mari mencari sesuatu yang tiba-tiba menghilang.
Salah satu algojo itu berinisiatif untuk memgecek ke dalam lubang gorong-gorong. Terdengar suara panggilan dari ponsel salah satu algojo itu.
"Hallo Oliver, …, ya kami masih mencari mereka. Mereka berlari sangat cepat, …, Oh, jadi tidak perlu mencari mereka lagi? …, Ooh, kalau begitu baik lah. Kami akan segera kembali."
Sementara algojo yang sudah berjongkok hendak mengintip, menghentikan aksinya karena sang atasan sudah memanggil mereka untuk kembali. Oliver mengabarkan bahwa pasukan gabungan sudah mendekat. Mereka harus cepat menyingkir. Tak lama, mereka langsung meninggalkan tempat itu.
Via dan Stevan menghembuskan napas lega. Stevan mengacak rambut Via yang hanya beberapa senti tepat berada di depan wajahnya. Via tertawa dengan aksi mereka kali ini yang tak ada bedanya bagai tikus got yang bersarang di gorong-gorong yang terbengkalai.
Stevan mulai beringsut mundur menguarkan tubuhnya dari tempat itu. Setelah itu membantu menarik Via untuk keluar lebih cepat. Seketika tubuh Via merasa lemas, duduk di tanah bersandarkan gorong-gorong tadi. Perasaan tegang tadi membuatnya merasa sangat lelah.
"Kenapa kita bisa langsung ditemukan?" tanyanya sambil menghirup udara segar sebanyak-banyaknya.
"Aku rasa video virus tadi hanya sebagai pengalih agar kita lengah. Bisa dibilang umpan."
Aku? Via merasa heran. Oh iya, dia mau panggilan aku kamu tadi ya? Beneran langsung lancar seperti itu ya?
"Oh iya, tadi tiba-tiba saja anak Buana Putra muncul. Sepertinya mereka saling mengenal," ucap Stevan sembari menatap langit malam yang begitu suram tanpa bulan maupun bintang.
"Entah lah, gue juga kurang paham. Namun selama gue mengenalnya, ternyata dia orang yang baik. Hanya saja…-"
"Dia putranya Buana Putra," sela Stevan.
"Iya, sayang sekali," Via menyandarkan punggungnya pada gorong-gorong itu. Terdengar dari kejauhan derap langkah kaki yang semakin lama semakin mendekat.
Stevan bangkit bersiap mengambil posisi berada di depan Via. Saat mengetahui siapa yang datang, posisi Stevan sedikit mengendur.
"Apakah ini milikmu?" Jimmy berjalan semakin mendekat. Seketika Via bangkit dari posisi santainya tadi.
"Iya, ini milik saya," ucap Stevan menerima benda keramat miliknya itu.
"Kemana orang-orang itu?" tanyanya.
"Sepertinya mereka semua pergi meninggalkan tempat ini," terang Jimmy.
"Huuffttt…," terdengar hembusan nafas lega dari Via, sembari mengusap keringat dengan tangan kotornya hingga meninggalkan noda di wajahnya.
Jimmy merogoh sesuatu dari kantong celananya, menemukan sehelai sapu tangan dan membersihkan kotoran itu lalu memberikannya kepada Via.
"Pakai lah ini! Tanganmu kotor."
__ADS_1
Lalu Jimmy pergi tanpa bicara apa-apa menyisakan tanda tanya besar bagi dua orang itu.
Via dan Stevan saling berpandangan, menerka-nerka mengapa Jimmy bisa sampai di sini.
"Aku rasa dia sebenarnya tahu siapa kamu," ucap Stevan kepada gadis yang tengah melamun itu.
"Eeeh, Neng…" Stevan mencoba membuyarkan lamunan gadis itu.
"Kenapa Aa?" tanyanya.
"Ya udah, nggak jadi. Kita cabut aja yuk?" Lalu Stevan mendekap pundak Via mengajaknya meninggalkan tempat itu.
"Sumpah Aa, gue heran plus bingung sama Jimmy itu. Kenapa dia baik banget yak?"
"Udah, jangan dipikirkan!" Padahal di batinnya, Stevan yakin bahwa Jimmy mengenal gadis ini dan sangat menyukainya. Memilih memendamnya sendiri seperti apa yang telah dilakukannya selama ini.
Saat mereka sampai di kafe tadi, ternyata tempat itu telah ramai oleh pasukan gabungan, baik Polri, TNI, Resque maupun BOS. Tampak salah satu anggota BOS mendekat ke arah mereka.
"Nona Via, apa Kamu tidak apa-apa?" Ternyata itu Kenzo. Sang koordinator lapangan di kota ini.
"Kami berdua tidak apa-apa Kak. Tapi aku lihat banyak masyarakat yang terluka gara-gara mereka."
"Benar sekali Nona, tetapi Nona tenang saja! Tim Resque sudah membawa korban terluka berat, dan merawat korban luka ringan."
"Ooh, syukur lah Kak."
***
Di kosan Deval, dia tengah meriang karena tadi terlalu lama menggunakan pakaian basah tanpa diganti. Di bawah selimut hatinya tengah kalut mengingat saat ini Via sedang berdua dengan sang bule.
"Haaatciii… srruukk…" Deval menyapu ingus yang tiada henti mengalir dari hidungnya.
Bukankah Via berkata, bahwa dia hanya memikirkanku?
Zzzttt… zzzttt…
Ponsel Deval bergetar, tampak di layar tertulis panggilan dengan nama kembarannya Devan. Panggilan pun diangkat.
"Halo…"
"Hey Val? Lo baik-baik aja?" yang di seberang jaringan langsung menyerobot berbicara.
"Iya, gue baik-baik aja. Ada apa?"
"Beberapa waktu ini CCTV rumah kita menangkap dua mobil tengah mengintai rumah kita. Mama merasa khawatir pada lo yang tiba-tiba meminta ngekos."
"Hmmm, ya lalu?"
"Mama meminta lo balik aja ke rumah. Biar Papa menyewa beberapa bodigat untuk berjaga-jaga."
"Ya bilang ke Papa itu ide yang bagus. Tapi gue tetap di sini. Untuk sementara gue belum bisa ke rumah. Ternyata mereka masih mengintai."
__ADS_1
"Maksud lo, sebenarnya mereka mencari lo?"
"Bisa dibilang begitu, kebetulan gue terbidik oleh mereka dekat dengan Via. Jadi untuk sementara gue tidak bisa pulang."
"Sekarang keadaan lo gimana? Suara lo kok beda gitu?"
"Ooh gue gak apa."
"Bener?"
"Iya! Bilang ke Mama, semuanya mesti berhati-hati."
"Baik lah."
Telepon ditutup, teringat lagi olehnya kejadian tadi malam dikejar mafia-mafia itu, "Ternyata mereka masih menungguku," desisnya.
Lalu Deval menyibak selimutnya, menurunkan kaki satu per satu. Dia ingin sekali menemui Via saat ini juga. Dipasang hoddy untuk menghangatkan tubuhnya yang menggigil, lalu keluar dari kamar mengunci pintu dan melangkah menuju kosan Via.
Lokasi kosan mereka yang tidak terlalu jauh, membuat Deval tak perlu berjalan kaki terlalu lama. Saat ini dia tepat berada di depan rumah kos Via. Suasana malam tidak terlalu kentara, masih banyak penghuni kos hilir mudik beraktifitas keluar masuk bangunan itu.
Dia sudah pulang belum ya?
Deval mengeluarkan ponselnya menghubungi Via. Tak lama nada sambung berbunyi, langsung diangkat oleh gadis itu.
"Halo Val…" suara Via terdengar cukup lesu.
"Siapa?" suara pria yang mungkin ada di dekatnya.
"Iih.. kepo!" jawab Via membuat Deval tersenyum tipis.
"Lagi dimana?" tanya cowok dengan wajah pucat itu.
"Gue lagi di luar. Ada apa Val? Lo baik-baik aja?" serobot Via mendengar suara Deval yang sedikit berbeda.
"Gue baik-baik aja. Lo lagi sibuk? Lo hati-hati ya?!"
"Lo sehat kan?"
"Iya, gue baik-baik aja."
Dengan perasaan kecewa, Deval hendak kembali pulang ke kosannya. Namun, sebuah mobil berhenti. Beberapa orang keluar, tampak gelagat yang mencurigakan, Deval langsung berlari.
...PROMOSI...
...Mari mampir juga di karya teman saya ya......
...*bersambung*...
__ADS_1
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...